TIGA TINGKATAN KAUM MUSLIMIN, GOLONGAN MANAKAH KITA?

Oleh
Ustad Muhammad Ashim Musthofa
http://almanhaj.or.id/content/3376/slash/0/tiga-tingkatan-kaum-muslimin-golongan-manakah-kita/

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ
فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ
بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur`ân)
itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat
(keadaan) hamba-hamba-Nya.[Fâthir/35:31]

AL-QUR`ÂN MERUPAKAN KEBENARAN DARI ALLAH AZZA WA JALLA
Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Al-Qur`ân yang diwahyukan kepada
Rasul-Nya adalah kebenaran. Itu karena terdapat muatan al-haq di
dalamnya. Hingga seolah-olah kebenaran itu hanya terbatas di dalamnya
saja. Maka janganlah kalian merasa sempit dengannya. Muatan kebenaran
yang terkandung di dalamnya memberikan pengertian bahwa seluruh
perkara dan urusan yang telah ditunjukkan olehnya, dalam masalah
ilahiyyat (aqidah tentang Allah Azza wa Jalla ), perkara-perkara ghaib
dan lainnya akan persis dengan kenyataan yang sebenarnya.

Al-Qur`ân membenarkan kitab-kitab dan para rasul sebelumnya. Para
rasul juga telah mengabarkan akan datangnya Al-Qur`ân. Oleh sebab itu,
tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab tersebut, akan
tetapi mengingkari Al-Qur`ân. Pasalnya, pengingkarannya kepada
Al-Qur`ân bertentangan dengan keimanannya kepada kitab-kitab
sebelumnya. Bahwa berita tentang Al-Qur`ân telah termuat di dalam
kitab-kitab tersebut. Ditambah lagi, keterangan-keterangan kitab-kitab
sebelumnya bersesuaian dengan apa yang ada di dalam Al-Qur`ân.

Misalnya, Allah memberi kepada masing-masing umat sesuatu yang sesuai
dengan kondisinya. Dalam konteks ini, syariat-syariat yang berlaku
pada zaman dulu tidak relevan kecuali untuk masa dan zaman mereka.
Oleh karena itu, Allah senantiasa mengutus para rasul, sampai akhirnya
ditutup oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan aturan syariat yang
relevan untuk setiap tempat dan masa. Demikian ringkasan keterangan
Syaikh as-Sa'di tentang ayat pertama.[1]

TIGA GOLONGAN KAUM MUSLIMIN

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ
فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ
بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di
antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya
diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di
antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan
idzin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
[Fâthir/35:32]

Allah Azza wa Jalla mengabarkan betapa agung kemurahan dan
kenikmatan-Nya yang telah dicurahkan kepada umat Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Pilihan Allah Azza wa Jalla kepada mereka, lantaran
mereka umat yang sempurna dengan akalnya, memiliki pemikiran terbaik,
hati yang lunak, dan jiwa yang bersih.[2] Secara khusus, Allah
Subhanahu wa Ta’ala mewariskan kitab yang berisi kebenaran dan hidayah
hakiki (Al-Qur`ân) kepada mereka. Kitab suci yang juga telah memuat
kandungan al-haq yang ada dalam Injil dan Taurat. Sebab, dua kitab
tersebut sudah tidak relevan untuk menjadi hidayah dan pedoman bagi
umat manusia, lantaran telah terintervensi oleh campur tangan
manusia.[3]

Allah Azza wa Jalla mengklasifikasi orang-orang yang menerima
Al-Qur`ân, yaitu kaum muslimin menjadi tiga macam. Golongan pertama
disebut zhâlim linafsihi. Golongan kedua disebut muqtashid. Jenis
terakhir bergelar sâbiqun bil-khairât. Berikut penjelasan singkatnya.

Golongan Pertama: ظَالِمٌ لِنَفْسِه (zhâlim linafsihi).
Makna zhâlim linafsihi merupakan sebutan bagi orang-orang muslim yang
berbuat taqshîr (kurang beramal) dalam sebagian kewajiban, ditambah
dengan tindakan beberapa pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan,
termasuk dosa-dosa besar.[4] Atau dengan kata lain, orang yang taat
kepada Allah Azza wa Jalla , akan tetapi ia juga berbuat maksiat
kepada-Nya. Karakter golongan ini tertuang dalam firman Allah Azza wa
Jalla berikut:[5]

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ
سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
رَحِيمٌ

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang
buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [at-Taubah/9: 102].

Golongan Kedua: الْمُقْتَصِدُ (al-muqtashid).
Orang-orang yang termasuk dalam istilah ini, ialah mereka yang taat
kepada Allah Azza wa Jalla tanpa melakukan kemaksiatan, namun tidak
menjalankan ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah
Azza wa Jalla . Juga diperuntukkan bagi orang yang telah mengerjakan
perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan saja. Tidak lebih
dari itu.[6] Atau dalam pengertian lain, orang-orang yang telah
mengerjakan kewajiban-kewajiban, meninggalkan perbuatan haram, namun
diselingi dengan meninggalkan sejumlah amalan sunnah dan melakukan
perkara yang makruh.[7]

Golongan Ketiga: سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (sâbiqun bil-khairât).
Kelompok ini berciri menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah Azza
wa Jalla dan menjauhi muharramât (larangan-larangan). Selain itu,
keistimewaan yang tidak lepas dari mereka adalah kemauan untuk
menjalankan amalan-amalan ketaatan yang bukan wajib untuk mendekatkan
diri mereka kepada Allah Azza wa Jalla.[8] Atau mereka adalah
orang-orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban, amalan-amalan sunnah
lagi menjauhi dosad-dosa besar dan kecil.[9]

Adalah merupakan sesuatu yang menarik, manakala Imam al-Qurthubi
rahimahullah mengetengahkan sekian banyak pendapat ulama berkaitan
dengan sifat-sifat tiga golongan di atas. Sheingga bisa dijadikan
sebagai cermin dan bahan muhasabah (introspeksi diri) bagi seorang
muslim dalam kehidupan sehari-harinya; apakah ia termasuk dalam
golongan pertama (paling rendah), tengah-tengah, atau menempati posisi
yang terbaik dalam setiap sikap, perkataan dan tindakan.[10]

JANJI BAIK DARI ALLAH AZZA WA JALLA KEPADA TIGA GOLONGAN ITU
Kemudian Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dia Azza wa Jalla
menjanjikan Jannatun-Na’im terhadap tiga golongan itu, dan Allah Azza
wa Jalla tidak memungkiri janji-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ
ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

(Bagi mereka) surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka
diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara,
dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. [Fâthir/35:33]

Janji Allah Azza wa Jalla berupa Jannatun-Na’iim kepada semua golongan
tersebut, digapai pertama kali – berdasarkan urutan pada ayat – oleh
zhâlim linafsih. Hal tersebut menunjukkan bahwa ayat ini termasuk arjâ
âyâtil-Qur`ân. Yaitu ayat Al-Qur`ân yang sangat membekaskan sikap
optimisme umat yang sangat kuat. Tidak ada satu pun seorang muslim
yang keluar dari tiga klasifikasi di atas. Sehingga ayat ini dapat
dijadikan sebagai dasar argumentasi bahwa pelaku dosa besar tidak
kekal abadi di neraka. Pasalnya, golongan orang kafir dan balasan bagi
mereka, secara khusus telah dibicarakan pada ayat-ayat setelahnya
[Fâthir/35 ayat 36-37].

Syaikh'Abdul-Muhsin al-Abbâd hafizhahullah berkata tentang ayat di
atas: "Allah Azza wa Jalla mengabarkan tentang besarnya kemurahan dan
kenikmatan dengan memilih siapa saja yang Dia kehendaki untuk masuk
Islam dengan mencakup tiga golongan secara keseluruhan. Setiap orang
yang telah memperoleh hidayah Islam dari Allah Azza wa Jalla , maka
tempat kembalinya adalah jannah, kendati golongan pertama akan
mengalami siksa atas perbuatan kezhaliman yang dilakukan terhadap
dirinya sendiri”.[11]

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi Ahlul Kitab. Mereka hanya
terbagi menjadi dua kelompok, yakni golongan yang muqtashid dalam
beramal, dan kedua golongan –yang secara- prosentase, kebanyakan
adalah orang-orang yang amalannya buruk. Allah Azza wa Jalla
berfirman:

مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

… Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah
buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.
[al-Mâ`idah/5:66].

MENGAPA ZHÂLIMUN LINAFSIHI DIDAHULUKAN PENYEBUTANNYA DALAM AYAT?
Mengapa golongan zhâlim linafsihi dikedepankan dalam memperoleh janji
Jannatun-Na’iim dibandingkan dua golongan lainnya (al-muqatshid dan
sâbiqun bil-khairât), padahal merupakan tingkatan manusia yang
terendah dari tiga golongan yang ada?

Para ulama telah mencoba menganalisa penyebabnya. Sebagian ulama
berpendapat, supaya golongan pertama itu tidak mengalami keputusasaan
dari rahmat Allah Azza wa Jalla , dan golongan sâbiqun bil-khairat
tidak silau dan terperdaya dengan amalan sendiri. Sebagian ulama lain
menyatakan, alasan mendahulukan golongan zhâlimun linafsihi lantaran
mayoritas penghuni surga berasal dari golongan itu. Sebab, orang yang
tidak pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat jumlahnya sedikit. Ini
berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :

وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

… Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat
sedikitlah mereka ini… [Shâd/38:24]

Secara lebih luas, Imam al-Qurthubi rahimahullah telah memaparkan
pendapat-pendapat ulama yang lain dalam kitab tafsirnya.[12]

PELAJARAN DARI AYAT
1. Tingginya kemuliaan umat Muhammad dengan memperoleh anugerah kitab
Al-Qur`an yang memuat kebenaran dan hidayah kitab Injil dan Taurat.
2. Luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla bagi umat Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
3. Kaum muslimin terbagi menjagi tiga tingkatan dalam beramal.
4. Pentingnya berlomba-lomba dalam kebajikan.
5. Orang yang berbuat dosa selain kufur dan syirik tidak kekal di neraka.
6. Penjelasan mengenai kenikmatan penghuni surga. Wallahu a'lam

Marâji`:
1. Aisarut-Tafâsîr, Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri, Maktabah 'Ulum
wal-Hikam, Madinah.
2. Adhwâ-ul Bayân fi Îdhâhil-Qur`ân bil-Qur`ân, Muhammad al-Amin
asy-Syinqîthi, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Mesir, 1415 H – 1995 M.
3. Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu 'Abdillah
Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq
al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-'Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.
4. Jâmi'ul-Bayân 'an Ta`wil Ay Al-Qur`ân, Abu Ja'far Muhammad bin
Jarir ath-Thabari, Dâr Ibnu Hazm, Cetakan I, Tahun 1423 H – 2002 M.
5. Kutub wa Rasâ`il, Min Kunûzil-Qur`anil-Karîm, 'Abdul-Muhsin al-Abbâd al-Badr.
6. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma'îl bin 'Umar bin
Katsîr al-Qurasyi, Dârul Hadîts Kairo 1426H-2005M.
7. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, 'Abdur-Rahmân bin Nâshir as-Sa'di,
Dârul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII/1431/2010M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, 689.
[2]. Ibid., 689.
[3]. Al-Aisar, 2/1061-1062.
[4]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm (6/568), al-Aisar (1062).
[5]. Adhwâul Bayân (6/164).
[6]. Adhwâul Bayân (6/164).
[7]. Tafsîrul-Qur`ânil-'Azhîm, 6/568,
[8]. Adhwâul Bayân (6/164)
[9]. Al-Aisar, 2/1062.
[10]. Silahkan lihat al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân, 14/302-303.
[11]. Kutub wa Rasâ`il, Min Kunûzil-Qur`anil-Karîm, 1/282.
[12]. Silahkan lihat al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân, 14/304.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke