KEKELIRUAN MUNCUL SAAT BERPALING DARI BIMBINGAN WAHYU
http://almanhaj.or.id/content/3381/slash/0/kekeliruan-muncul-saat-berpaling-dari-bimbingan-wahyu/
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى
مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ {6} وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللهِ
لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ
اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ
وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ
هُمُ الرَّاشِدُونَ {7} فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَنِعْمَةً وَاللهُ عَلِيمٌ
حَكِيمٌ {8}
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu
bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu
sekalian dalam beberapa urusan benar-benarlah kalian akan mendapatkan
kesusahan, tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan
menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci
kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang
yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari
Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [al Hujurat/49 :
6-8]
SEBAB TURUNNYA AYAT YANG PERTAMA
Imam Ahmad meriwayatkannya dalam hadits yang panjang, di antara
isinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus al Walid bin
'Uqbah Radhiyallahu anhu untuk menemui al Harits (bin Abi Dhirar al
Khuza'i dari Bani Musthaliq) untuk mengambil zakat yang sudah
dikumpulkan. Tatkala al Walid telah menempuh beberapa jalan, ia takut
dan pulang, kemudian menjumpai Rasulullah seraya berkata: "Wahai
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , al Harits menghalangiku
untuk mengambil zakat dan berusaha membunuhku," maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan pasukan menuju al Harits. Al
Harits datang bersama teman-temannya (menuju Madinah). Delegasi (Nabi)
menjumpainya dan mengetahuinya : “Itu al Harits”. Ketika al Harits
sudah mendekati delegasi tersebut, ia bertanya: “Kalian diperintahkan
pergi kemana?” Mereka menjawab: “Kepadamu (wahai al Harits),” ia
bertanya : “Apa sebab?”Mereka menjawab : “Sesungguhnya Rasulullah
telah mengutus al Walid bin 'Uqbah kepadamu. Menurutnya, engkau
menghalanginya mengambil zakat dan ingin membunuhnya,” ia (al Harits)
menampik : “Tidak, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan al haq, aku
tidak pernah melihatnya, ia tidak pernah mendatangiku”. Ketika
kemudian al Harits menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
beliau berkata : “Engkau menolak membayar zakat dan ingin membunuh
utusanku?” Ia menjawab : “Tidak, demi Dzat yang mengutus Muhammad
dengan al haq, aku tidak pernah melihatnya, ia tidak pernah
mendatangiku. Dan tidaklah aku datang (sekarang ini), kecuali karena
utusan Rasulullah tidak muncul. Aku khawatir kalau hal itu (ketidak
hadiran utusan beliau untuk mengambil zakat, Pen) karena adanya
kemurkaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya,” maka turunlah
ayat ini.[1]
PENJELASAN AYAT
Sebagai penjelasan ayat pertama, kami kutipkan penjelasan dari Syaikh
as Sa'di yang menyatakan :
“Ini juga (merupakan) beberapa adab yang harus dipenuhi dan digunakan
oleh orang-orang yang berakal. Yaitu, apabila ada seorang fasik yang
datang dengan membawa berita kepada mereka (kaum Muslimin), hendaknya
mereka melakukan tatsabbut (klarifikasi) terhadap beritanya, tidak
dengan serta merta mengambilnya begitu saja. Karena tindakan ini bisa
mengakibatkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam perbuatan dosa.
Jika beritanya dianggap seperti kabar yang dibawa orang jujur lagi
adil, dan dilaksanakan kandungannya, maka akan timbul lenyapnya jiwa
dan harta tanpa alasan yang dibenarkan, lantaran isi dari berita (yang
tidak benar) itu, yang akhirnya menimbulkan penyesalan.
Yang wajib dilakukan terhadap berita orang fasik adalah tatsabbut dan
tabayyun (klarifikasi dan konfirmasi). Kalau ada bukti dan kondisi
yang menunjukkan kejujurannya, maka bisa dilaksanakan dan dibenarkan.
Namun apabila mengindikasikan sebuah kedustaan belaka, maka harus
diingkari dan tidak perlu diikuti”.[2]
Ayat ini, kendatipun turun berkenaan dengan sebab tertentu, hanya saja
kandungannya umum dan menjadi prinsip dasar penting. Maka kewajiban
seseorang, komunitas, negara, tidak boleh menerima sebuah berita yang
sampai kepada mereka dan tidak melaksanakan substansinya, kecuali
setelah tatsabbut dan tabayyun yang tepat. Karena dikhawatirkan akan
menimpakan keburukan kepada seseorang ataupun masyarakat tanpa alasan.
(Jadi) memegangi prinsip tatsabbut dan tabayyun dalam menyeleksi
berita dari seseorang adalah wajib, yang berguna untuk menjaga
kehormatan individu-individu dan pemeliharaan terhadap jiwa dan harta
mereka.[3]
واعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللهِ
(Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah)
Firman Allah Azza wa Jalla di atas, maknanya, seperti dikatakan Imam
Ibnu Katsir rahimahullah : “Ketahuilah bahwa di tengah kalian ada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Agungkan dan muliakanlah
beliau. Bersikaplah dengan penuh etika saat bersamanya. Tunduklah
kalian pada perintahnya. Sebab beliau orang yang paling mengetahui
tentang maslahat bagi kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada
diri kalian sendiri. Daya pertimbangan beliau tentang kalian lebih
sempurna dari pemikiran kalian, seperti makna firman Allah Azza wa
Jalla :
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri
mereka sendiri. [al Ahzab:6]
Syaikh Abu Bakar al Jazairi di dalam tafsirnya menyatakan, Allah ingin
mengarahkan pandangan kaum Muslimin (para sahabat, Pen) pada sebuah
substansi penting yang mereka lalaikan. Yaitu, tentang keberadaan
Rasulullah di tengah-tengah mereka, dengan wahyu yang turun kepada
beliau. Kondisi ini menuntut mereka untuk senantiasa bertutur kata
jujur dan bertindak elegan. Kalau tidak, niscaya wahyu akan membuka
kedok (kesalahan) mereka secara langsung, jika mereka berdusta.[4]
لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ (Kalau ia
menuruti (kemauan) kamu sekalian dalam beberapa urusan benar-benarlah
kalian akan mendapatkan kesusahan).
Tentang ayat di atas, Imam at Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan
dengan sanadnya dari Abu Nadhrah rahimahullah , dari sahabat Abu Sa'id
al Khudri Radhiyallahu anhu. Tatkala sahabat yang mulia ini membaca
ayat di atas, ia berkomentar :
هَذَا نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوحَى إِلَيْهِ
وَخِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ لَوْ أَطَاعَهُمْ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْأَمْرِ
لَعَنِتُوا فَكَيْفَ بِكُمْ الْيَوْمَ
Ini nabi kalian, diwahyukan kepada beliau wahyu. Dan mereka (para
sahabat) adalah orang-orang (yang) terpilih (dari kalangan) kalian.
Seandainya beliau mengikuti mereka dalam banyak urusan, niscaya mereka
akan terjerumus dalam kesulitan. Bagaimana dengan kalian sekarang? [5]
Artinya, kalau beliau mentaati mereka dalam setiap perkara yang mereka
pandang (baik) dan mereka usulkan, niscaya mereka akan terjerembab
dalam berbagai permasalahan yang menyeretnya kepada beragam kesulitan
yang tidak terpikul, atau bahkan tidak menutup kemungkinan pada
dosa-dosa yang besar. [6]
Hal ini seperti kandungan firman Allah Azza wa Jalla : [7]
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ
وَاْلأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن
ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah
langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami
telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka
berpaling dari kebanggaan itu. [al Mukminun : 71].
Manusia, meskipun fitrahnya lurus, ia sangat membutuhkan bimbingan al
Kitab dan Sunnah untuk mengetahui kebaikan. Sebab, ada saja yang tidak
diketahui olehnya, sehingga suatu kebaikan dianggap sebagai kejelekan
dan sebaliknya. Akhirnya penilaian pun keliru.
Di dalam Shahihain, dari sahabat Huzhaifah Radhiyallahu anhu,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan masa
mendatang :
فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُونَ فَلَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي
الْأَمَانَةَ فَيُقَالُ إِنَّ فِي بَنِي فُلَانٍ رَجُلًا أَمِينًا
وَيُقَالُ لِلرَّجُلِ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا أَظْرَفَهُ وَمَا أَجْلَدَهُ
وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ
Orang-orang nantinya akan saling melakukan transaksi jual-beli.
Hampir-hampir tidak ada seorang pun yang amanah. Sehingga akan
didengungkan “di kalangan Bani Fulan ada orang yang amanah,” maka
orang itu dipuji : “Alangkah cerdas, beruntung dan kuat dirinya,”
padahal ia tidak memiliki kadar keimanan seberat biji sawi
sekalipun.[8]
Bagaimanapun ketinggian ilmu dan keshalihan seseorang, ada saja
kebaikan yang tidak diketahuinya. Ketidaktahuan semacam ini juga
terjadi pada generasi terbaik, generasi sahabat. Bagaimana dengan
generasi lainnya? Tentu sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu,
merujuk kepada al Kitab dan Sunnah menjadi keharusan bagi setiap
muslim.
Syaikh Abdul Malik Ramdhani mengatakan[9] : “Firman Allah (yang kedua)
di atas, redaksinya mengarah kepada sebaik-baik orang yang beribadah
kepada Allah dan memahami syariatNya (para sahabat, Pen). Seandainya
mereka dibiarkan begitu saja tanpa diberi penjelasan dari al Kitab dan
Sunnah, niscaya pilihan mereka dalam banyak hal benar-benar akan
mengandung kesulitan bagi mereka sendiri. Bagaimana dengan orang yang
kualitasnya di bawah mereka?”
Sebagai contoh, ada sebagian sahabat yang mengira, kalau meninggalkan
wanita secara mutlak itu menggambarkan sifat 'iffah dan kesempurnaan
dalam beribadah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
melarangnya, karena ada unsur kesulitan yang timbul, selain karena
bertentangan dengan fitrah.
Dari Sa'd bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu , ia berkata :
رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ وَلَوْ أَذِنَ لَهُ
لَاخْتَصَيْنَا
Rasulullah menolak tabattul[10] dari 'Utsman bin Mazh'un. Andai beliau
membolehkannya, niscaya kami akan mengebiri diri kami. [Muttafaqun
'alaih]
Atau riwayat lain yang menceritakan bahwa Mu'adz Radhiyallahu anhu,
tatkala pulang dari Syam, ia sujud di hadapan beliau. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ
يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي
أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا
أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ
تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Apa-apaan ini, wahai Mu'adz?” Dia menjawab,”Aku baru datang dari
Syam. Kedatanganku menepati mereka (orang-orang di sana) sedang sujud
untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Maka aku ingin melakukannya
kepadamu,” beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Janganlah
kalian lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud,
maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” [11]
Dalam hadits di atas, Mu'adz Radhiyallahu anhu ingin sujud kepada Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk penghormatan. Namun Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dan menjelaskan tindakan
yang ia anggap baik itu berseberangan dengan prinsip paling penting
dalam Islam, yaitu tauhid. Maka oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dibatalkan.
Maka, tidak diragukan lagi, penghormatan kepada orang-orang yang besar
dengan cara bersujud mengandung unsur kesulitan yang besar. Di tambah
lagi adanya penyimpangan dalam syariat sehingga merubah tatanan nilai.
Realita yang ada, percampuran lelaki dan perempuan tidak dipandang
masalah, pembatasan anak disebut sebagai wujud kesadaran ekonomi,
saling bersalaman usai shalat fardhu dan kebiasaan-kebiasaan lainnya
yang bertentangan dengan aturan agama disangka sebagai bagian dari
agama. Sehingga keberadaan wahyu mutlak diperlukan oleh setiap
manusia.
وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي
قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
(Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan
iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan)
Tetapi karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing
kalian dan Allah Azza wa Jalla telah menjadikan kalian cinta kepada
keimanan dan menjadikannya indah di hati-hati kalian, lantaran Allah
memasukkan kecintaan kepada al haq dan mengutamakannya pada
kalbu-kalbu kalian. Dan juga lantaran tegaknya bukti dan petunjuk bagi
al haq yang menunjukkan kebenarannya, hati yang mudah menerima, serta
taufikNya bagi kalian untuk berinabah (kembali) kepadaNya.
Dia menjadikan kalian benci kepada al kufru dan fusuq, yaitu dosa-dosa
besar, serta 'ishyan, yaitu tingkatan dosa yang di bawahnya melalui
rasa benci yang Allah letakkan di hati-hati kalian dan tiadanya
kehendak untuk mengerjakannya, juga melalui tegaknya dalil dan bukti
mengenai keburukannya, serta karena fitrah manusia tidak
menerimanya.[12]
أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (Mereka itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus)
Mereka itu (para sahabat Rasulullah, Pen) berada di atas jalan yang
lurus, mendapatkan petunjuk menuju akhlak yang baik, tidak menyimpang
lagi tidak tersesat. [13]
فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَنِعْمَةً وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (Sebagai
karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana)
Karunia yang dianugerahkan kepada kalian merupakan keutamaan dan
kenikmatanNya kepada kalian. Allah Maha Mengetahui orang yang berhak
mendapatkan hidayah dan manusia yang pantas tersesat. Demikian juga
Allah Maha Bijaksana dalam setiap firman, tindakan dan aturan
syariatNya, serta takdirNya. [14]
Hidayah yang didapat para sahabat merupakan keutamaan dan anugerah
dari Allah bagi mereka. Allah Maha Mengetahui niat dan kehendak yang
ada pada mereka. Allah Maha Bijaksana dalam pengaturanNya, dengan
menjadikan para sahabat sebagai manusia-manusia yang pantas menerima
kebaikan, dan menjadikan mereka sebagai umat yang paling baik secara
mutlak [15]
BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT
Dari ayat-ayat di atas, bisa mengambil beberapa pelajaran penting,
sebagai berikut : [16]
Pertama : Kita memahami, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memiliki kedudukan yang tinggi.
Kedua : Wajib bagi kita melakukan tatsabbut dalam menyikapi
berita-berita penting yang bisa mengakibatkan timbulnya gangguan atau
bahaya atas diri seseorang berkaitan dengan berita yang kita dengar.
Ketiga : Diharamkan bersikap tergesa-gesa yang dapat mengakibatkan
seseorang menghukumi sesuatu dengan dasar persangkaan belaka, sehingga
pelakunya nanti akan menyesal di dunia dan akhirat.
Keempat : Di antara kenikmatan besar yang diraih seorang mukmin, bahwa
Allah menjadikannya cinta terhadap keimanan kepadaNya, dan menjadikan
(iman itu) indah di hatinya.
Kelima : Allah menjadikannya benci kepada tindakan kekufuran,
kefasikan dan maksiat. Dengan itu, seorang mukmin menjadi insan yang
paling lurus setelah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam .
Washallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.
Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427/2006M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR Ahmad, al Musnad (4/279), ath Thabrani dalam al Kabir (3/339).
Ibnu Katsir berkata (4/212): “(Kisah ini) telah diriwayatkan dari
berbagai jalur periwayatan. Dan di antara yang terbaik, riwayat yang
dibawakan Imam Ahmad. As Suyuthi mengatakan dalam ad Durr : “Sanadnya
jayyid”. Kutipan dari at Tafsiru ash Shahih (366-367).
[2]. Taisiru al Karimu ar Rahman, hlm. 800.
[3]. Aisaru at Tafasir, hlm. 1260. Perihal tersebut sesuai dengan
sebuah kaidah dalam ilmu ushul tafsir : al Ibrah bi 'umumi al lafzhi
la bi khushusi as sabab (dasar penilaian adalah keumuman lafazh, bukan
sebabnya yang khusus).
[4]. Aisaru at Tafasir, hlm. 1260 dengan sedikit ringkasan.
[5]. Sunan at Tirmidzi (5/388-389) kitab at Tafsir, bab surat al
Hujurat, hadits no. 3269, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam
Shahih Sunan at Tirmidzi. Nukilan dari at Tafsir ash Shahih (4/368).
[6]. Aisaru at Tafasir, hlm. 1260.
[7]. Tafsiru al Qur`ani al 'Azhim (4/214).
[8]. HR al Bukhari (6016, 6559) dan Muslim (206).
[9]. Raf'u adz Dzulli wa ash Shaghari 'an al Maftunina bi Khuluqi al
Kuffar, hlm. 54.
[10]. Tabattul, artinya membujang tanpa menikah dengan alasan untuk
lebih konsentrasi dalam beribadah kepada Allah k .
[11]. HR Ibnu Majah (1853) dan dishahihkan al Albani.
[12]. Taisiru al Karimi al Mannan, hlm. 800.
[13]. Aisaru at Tafasir, hlm. 1261. Zadu al Masir (4/146)
[14]. Tafsiru al Qur'an al 'Azhim (4/214)
[15]. Aisaru at Tafasir. hlm. 1261
[16]. Aisaru at Tafasir, 1261
------------------------------------
Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/