RUKUN-RUKUN HAJI
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
http://almanhaj.or.id/content/1071/slash/0/rukun-rukun-haji-hal-hal-yang-diwajibkan-dalam-haji/
Haji Adalah Salah Satu Ibadah dari Sekian Banyak Ibadah, Mempunyai Rukun,
Hal-Hal yang Wajib dan Hal-Hal yang Sunnah
II. Rukun-Rukun Haji
1. Niat
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...” [Al-Bayyinah: 5]
Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” [1]
2. Wukuf di ‘Arafah
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
اَلْحَجُّ عَرَفَةُ.
“Haji adalah wukuf di ‘Arafah.” [2]
Juga berdasarkan hadits ath-Tha-i, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Muzdalifah ketika beliau keluar
untuk shalat, aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku datang dari
gunung kembar Thaya, tungganganku telah kubuat lemah, dan diriku juga telah
lelah, demi Allah aku tidak meninggalkan satu gunung pun kecuali aku berhenti
di sana, apakah aku mendapatkan haji?’ Beliau menjawab.
مَنْ شَهِدَ صَلاتَنَا هَذِهِ وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ
بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلاً أَوْ نَهَارًا فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ وَقَضَى
تَفَثَهُ.
“Barangsiapa yang mengikuti shalat kami (di Muzdalifah) lalu bermalam bersama
kami hingga kami berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di
‘Arafah pada malam atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah
menghilangkan kotorannya.”[3]
3. Menginap di Muzdalifah sampai terbit fajar dan shalat Shubuh di sana
Berdasarkan sabda beliau kepada ‘Urwah pada hadits tadi, “Barangsiapa yang
mengikuti shalat kami (di Muzdalifah), lalu bermalam bersama kami hingga kami
berangkat, dan sebelum itu dia benar-benar telah wukuf di ‘Arafah pada malam
atau siang hari, maka hajinya telah sempurna dan ia telah menghilangkan
kotorannya.” [4]
4. Thawaf Ifadhah
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“...Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu
(Baitullah).” [Al-Hajj: 29]
Dan dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Shafiyah binti Huyay
mengalami haidh setelah merampungkan thawaf Ifadhah.” Lalu ia berkata lagi,
“Kemudian hal tersebut aku beritahukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, beliau pun bersabda, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?”
“Wahai Rasulullah, ia telah thawaf Ifadhah, ia telah thawaf mengelilingi Ka’bah
lalu haidh setelah thawaf Ifadhah,” jawabku. Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Kalau begitu kita berangkat.”” [5]
Sabda beliau, “Apakah ia akan menghalangi kita (untuk pergi)?” Menunjukkan
bahwa thawaf ini harus dikerjakan, thawaf ini dapat menghalangi kepergian orang
yang belum melaksanakannya.
5. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Berdasarkan sa’inya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sabda beliau:
اِسْعَوْا، إنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ.
“Kerjakanlah sa’i, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.” [6]
III. Hal-Hal Yang Diwajibkan Dalam Haji
1. Berihram dari miqat-miqat
Yaitu dengan melepas pakaian dan mengenakan pakaian ihram, kemudian niat dengan
mengucapkan:
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ بِعُمْرَةٍ.
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah ‘umrah.”
Atau:
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ حَحَّةً وَعُمْرَةً.
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.”
2. Bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermalam di sana.
Beliau memberi keringanan bagi pengembala unta di Baitullah, mereka melontar
pada hari Nahr (hari raya kurban), sehari setelahnya, lalu dua hari setelahnya
dan pada hari mereka menyelesaikan ibadah haji (nafar).[7]” Rasulullah memberi
keringanan kepada mereka, ini merupakan dalil akan wajibnya hal ini bagi yang
lainnya.
3. Melempar jumrah secara tertib
Yaitu dengan melempar jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr menggunakan tujuh kerikil,
lalu melempar ketiga jumrah pada hari-hari tasyrik setelah matahari
tergelincir, setiap jumrah dilempar dengan tujuh kerikil, dimulai dengan jumrah
Ula kemudian jumrah Wustha dan diakhiri dengan jumrah ‘Aqabah.
4. Thawaf Wada’
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma: “Telah diperintahkan kepada
manusia agar mengakhiri ibadah hajinya dengan thawaf di Baitullah, namun diberi
kelonggaran bagi wanita haidh.” [8]
5. Mencukur rambut atau memendekkannya
Mencukur dan memendekkan rambut disyari’atkan, baik dalam al-Qur-an, as-Sunnah
maupun ijma’.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ
الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ
وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran
mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesunguhnya kamu pasti akan memasuki
Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala
dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut...” [Al-Fath: 27]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam berdo’a:
اَللّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا: وَالْمُقَصِّرِينَ، يَا رَسُوْلَ
اللهِ؟ قَالَ: اَللّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا:
وَالْمُقَصِّرِيْنَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَللّهُمَّ ارْحَمِ
الْمُحَلِّقِيْنَ، قَالُوْا: وَالْمُقَصِّرِيْنَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ:
وَالْمُقَصِّرِيْنَ.
“Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka
berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau
berdo’a lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (gundul)
rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai
Rasulullah?” Beliau berdo’a lagi, “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang
mencukur (gundul) rambutnya.” Mereka berkata, “Dan orang-orang yang memendekkan
rambutnya, wahai Rasulullah?” Beliau berdo’a lagi, “Dan orang-orang yang
memendekkan rambutnya.”
Jumhur ahli fiqih berselisih pendapat akan hukum mencukur atau memendekkan
rambut ini. Sebagian besar dari mereka berpendapat hukumnya wajib, orang yang
meninggalkannya wajib membayar dam, sedangkan ahli fiqh madzhab Syafi’i
berpendapat mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu di antara
rukun-rukun haji. Faktor yang membuat mereka berselisih pendapat adalah karena
tidak adanya dalil yang menguatkan pen-dapat yang pertama maupun yang kedua,
sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh kami, al-Albani.
Syarat-Syarat Thawaf •
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
اَلطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُوْنَ
فِيْهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهِ فَلاَ يَتَكَلَّمُ إِلاَّ بِخَيْرٍ.
“Thawaf mengelilingi Ka’bah seperti shalat, namun dalam thawaf kalian boleh
berbicara. Barangsiapa yang berbicara ketika thawaf hendaklah ia berbicara
dengan perkataan yang baik.” [9]
Jika thawaf itu seperti shalat, maka disyaratkan hal-hal sebagai berikut:
1. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan besar)
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ.
“Allah tidak menerima shalat tanpa thaharah (bersuci).” [10]
Juga berdasarkan sabda beliau kepada ‘Aisyah yang haidh pada saat haji:
اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى
تَغْتَسِلِي.
“Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji, hanya saja engkau
tidak boleh thawaf di Baitullah sampai engkau mandi (bersih dari haidhmu).” [11]
2. Menutup aurat
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (me-masuki) masjid...”
[Al-A’raf: 31].
Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Abu Bakar ketika haji yang mana
dalam haji itu ia diangkat sebagai amir oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, sebelum haji Wada’, beliau mengutus Abu Hurairah bersama beberapa orang
pada hari raya kurban untuk mengumumkan kepada orang-orang. Setelah tahun ini
orang musyrik tidak boleh berhaji, dan tidak boleh thawaf di Baitullah dalam
keadaan telanjang. [12]
3. Thawaf sebanyak tujuh putaran sempurna
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf tujuh kali,
seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar, “Setelah tiba Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tha-waf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, kemudian
beliau shalat dua raka’at di belakang maqam Ibrahim dan sa’i antara Shafa dan
Marwah tujuh kali. Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada contoh yang baik
bagimu.
Amalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan penjelasan dari
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“...Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu
(Baitullah).” [Al-Hajj: 29]
Apabila ia meninggalkan sedikit saja dari tujuh putaran itu, thawafnya tidak
sah. Jika ia ragu hendaknya ia mengambil kemungkinan yang paling sedikit agar
ia menjadi yakin.
4,5. Memulai dan mengakhiri thawaf di Hajar Aswad dengan menempatkan Ka’bah di
sebelah kiri
Berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu anhua: “Ketika Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam tiba di Makkah beliau mendatangi Hajar Aswad dan mengusapnya,
kemudian beliau melangkah ke arah kanan, beliau thawaf dengan berlari-lari
kecil tiga putaran dan berjalan biasa empat putaran.”
6.Thawaf di luar Ka’bah
Hal ini karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“...Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu
(Baitullah).” [Al-Hajj: 29]
Menunjukkan thawaf harus mengitari seluruh Ka’bah. Seandainya seseorang thawaf
dan lewat di dalam Hijir Isma’il, maka thawafnya tidak sah, berdasarkan sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
اَلْحِجْرُ مِنَ الْبَيْتِ.
“Hijir Isma’il termasuk Ka’bah.”
7. Berturut-turut (tidak terputus)
Hal ini karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam thawaf berturut-turut
dan beliau bersabda:
خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ.
“Ambillah dariku manasik hajimu.”
Jika thawaf diputus untuk berwudhu atau menunaikan shalat wajib ketika iqamat
sudah dikumandangkan atau untuk istirahat sejenak, maka boleh melanjutkan
thawaf (tidak perlu mengulang). Jika diputus lama, maka thawaf diulang lagi
dari awal.
Syarat-Syarat Sa’i:
Untuk sahnya amalan sa’i disyaratkan hal-hal sebagai berikut:
1. Hendaknya dilakukan tujuh kali
2. Hendaknya dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah
3. Hendaknya sa’i dilakukan di Mas’a, yaitu jalan yang meng-hubungkan antara
Shafa dan Marwah
Berdasarkan amalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau bersabda:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُم.
“Ambillah dariku manasik hajimu.”
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Hadits ini sudah pernah dibawakan.
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2441)], Sunan at-Tirmidzi (II/188,
no. 890), Sunan an-Nasa-i (V/264), Sunan Ibni Majah (II/1003, no. 3015), Sunan
Abi Dawud (V/425, no. 1933).
[3]. Shahih:[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2442)], Sunan at-Tirmidzi (II/188,
no. 892), Sunan Abi Dawud (V/427, no. 1934), Sunan Ibnu Majah (II/1004, no.
3016), Sunan an-Nasa-i (V/263).
[4]. Shahih:[Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2442)], Sunan at-Tirmidzi (II/188,
no. 892), Sunan Abi Dawud (V/427, no. 1934), Sunan Ibnu Majah (II/1004, no.
3016), Sunan an-Nasa-i (V/263).
[5]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/567, no. 1733), Shahiih Muslim
(II/964, no. 1211), Sunan Abi Dawud (V/486, no. 1987), Sunan an-Nasa-i (I/194),
Sunan at-Tirmidzi (II/210, no. 949), Sunan Ibni Majah (II/1021, no. 3072).
[6]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1072)], Ahmad (XII/76, no. 277), Mustadrak
al-Hakim (IV/70).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2463)], Sunan Abi Dawud (V/215, no.
962), Sunan at-Tirmidzi (II/215, no. 962), Sunan Ibni Majah (II/1010, no.
3037), Sunan an-Nasa-i (V/573).
[8]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/585, no. 1755), Shahiih Muslim
(II/ 963, no. 1328).
• Fiqhus Sunnah (I/588), Manaaris Sabiil (I/263).
[9]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 121)], Sunan at-Tirmidzi (II/218, no. 967),
Shahiih Ibni Khuzaimah (IV/222, no. 2739), Shahiih Ibni Hibban (247/998), Sunan
ad-Darimi (I/374, no. 1854), Mustadrak al-Hakim (I/459), al-Baihaqi (V/58).
[10]. Hadits ini telah dibawakan sebelumnya
[11]. Muttafaq 'alaih: Shahiih Muslim (II/873, no. 1211 (119)), Shahiih
al-Bukhari (III/504, no. 1650).
[12]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (I/477, no. 369), Shahiih Muslim
(II/982, no. 1347), Sunan Abi Dawud (V/421, no. 1930), Sunan an-Nasa-i (V/234