HAL-HAL YANG TERLARANG KETIKA IHRAM
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
http://almanhaj.or.id/content/1066/slash/0/hal-hal-yang-terlarang-ketika-ihram/
Diharamkan bagi seseorang yang telah berihram melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Memakai pakaian yang dijahit
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنَ
الثِّيَابِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَلْبَسُ
الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيْلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ
الْخِفَافَ، إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ
ولْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ، وَلاَ تَلْبَسُوْا مِنَ الثِّيَابِ
شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ أَوْ وَرْسٌ.
“Bahwa seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pakaian apa yang boleh dipakai
oleh orang yang berihram?’ Beliau bersabda, ‘Tidak boleh memakai baju, surban,
celana, penutup kepala dan sepatu kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal,
ia boleh menggunakan sepatu, namun hendaknya ia memotong bagian yang lebih
bawah dari mata kaki. Dan hendaknya jangan memakai pakaian yang diolesi minyak
Za’faran dan Wars.’” [1]
Bagi orang yang tidak mempunyai pakaian kecuali celana dan sepatu diberi
keringanan memakai celana dan sepatu tanpa dipotong, berdasarkan hadits Ibnu
‘Abbas, ia berkata:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ بِعَرَفَاتٍ: مَنْ
لَمْ يَجِدِ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ
إِزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيْلَ لِلْمُحْرِمِ.
“Aku mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di ‘Arafah,
‘Barangsiapa yang tidak mempunyai sandal hendaknya ia memakai sepatunya dan
barangsiapa yang tidak mempunyai izar (kain ihram) hendaknya ia memakai celana,
bagi orang yang berihram.’” [2]
2. Menutup wajah dan kedua tangan bagi wanita
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسُ الْقُفَّازَيْنِ.
“Bagi wanita yang berihram tidak boleh memakai niqab (penutup muka/cadar) dan
kaos tangan.” [3]
Ia boleh menutup mukanya jika ada laki-laki yang lewat, berdasarkan hadits
Hisyam bin ‘Urwah dari Fatimah binti al-Mundzir, ia berkata, “Kami menutup muka
kami sedangkan kami tengah berihram dan bersama kami Asma’ binti Abi Bakar
ash-Shiddiq.” [4]
3. Menutup kepala bagi laki-laki baik dengan surban atau yang lainnya
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu
‘Umar:
لاَ يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ.
“Tidak boleh memakai baju dan surban.” [5]
Namun boleh berteduh dalam kemah atau yang lainnya, berdasarkan hadits Jabir
yang lalu, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk
mendirikan kemah, maka didirikan untuk beliau kemah di Namirah, kemudian beliau
mampir di kemah tersebut.”
4. Memakai minyak wangi
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu
‘Umar:
وَلاَ تَلْبَسُوْا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ أَوْ وَرْسٌ.
“Dan hendaknya jangan memakai pakaian yang diolesi minyak Za’faran dan Wars.”
[6]
Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang orang yang masih dalam
ihramnya kemudian ia terjatuh dari untanya sehingga lehernya patah:
وَلاَ تُحَنِّطُوْهُ، وَلاَ تُخَمِّرُوْا رَأْسَهُ، فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا.
“Jangan diberi minyak wangi dan kepalanya jangan ditutup, karena sesungguhnya
Allah akan membangkitkannya pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” [7]
5,6. Memotong kuku dan menghilangkan rambut, baik dengan cara mencukur atau
memendekkan atau dengan cara lainnya
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ
"... Jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai ke tempat
penyembelihannya... [Al-Baqarah: 196].
Para ulama juga sepakat akan haramnya memotong kuku bagi orang yang berihram.
Bagi orang yang terganggu dengan keberadaan rambutnya boleh mencukur rambut
tersebut dan ia wajib membayar fidyah (denda), berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِّن
صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ
“... Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepa-lanya (lalu ia
bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau
berkurban...” [Al-Baqarah: 196]
Dan hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah:
أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ بِهِ وَهُوَ بِالْحُدَيْبِيَةِ، قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ
مَكَّةَ، وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَهُوَ يُوْقِدُ تَحْتَ قِدْرٍ، وَالْقَمْلُ
يَتَهَافَتُ عَلَىٰ وَجْهِهِ. فَقَالَ: أَيُؤْذِيْكَ هَوَامُّكَ هٰذِهِ؟ قَالَ:
نَعَمْ. قَالَ: فَاحْلِقْ رَأْسَكَ، وَأَطْعِمْ فَرَقاً بَيْنَ سِتَّةِ
مَسَاكِيْنَ، (وَالْفَرَقُ ثَلاَثَةُ آصُعٍ) أَوْ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ. أَوِ
انْسُكْ نَسِيْكَةً.
“Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mampir menemuinya di Hudaibiyah
sebelum beliau memasuki kota Makkah. Ka’ab pada saat itu sedang berihram, ia
menyalakan api di bawah panci sedangkan kutunya berjatuhan di wajahnya satu
demi satu. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya
kepadanya, ‘Apakah kutu-kutu ini mengganggumu.’ ‘Benar,’ jawab Ka’ab.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Cukurlah rambutmu lalu
berilah makan sebanyak satu faraq untuk enam orang (satu faraq sama dengan tiga
sha’) atau berpuasalah tiga hari atau sembelihlah seekor hewan kurban.’”[8]
7. Berhubungan intim dan faktor-faktor yang dapat membuatnya tertarik untuk
berhubungan intim
8. Mengerjakan kemaksiatan
9. Bermusuhan dan berdebat
Dalil pengharaman tiga poin ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ
وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang-siapa yang
menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerja-kan haji, maka tidak boleh
rafats, berbuat fasiq dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”
[Al-Baqarah: 197]
10,11. Melamar dan menikah
Berdasarkan hadits ‘Utsman bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ، وَلاَ يَخْطُبُ، وَلاَ يُخْطَبُ
عَلَيْهِ.
“Orang yang sedang berihram dilarang menikah dan menikahkan serta melamar dan
dilamar.”
12. Membunuh atau menyembelih hewan buruan darat atau mengisyaratkan atau
memberi tanda untuk membunuh hewan buruan tersebut.
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا
“... Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam
ihram...” [Al-Maa-idah: 96]
Juga sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beberapa orang
Sahabat bertanya tentang keledai betina yang diburu oleh Abu Qatadah, ia pada
saat itu tidak sedang berihram sedangkan yang lainnya berihram. Kemudian
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:
أَمِنْكُمْ أَحَدٌ أَمَرَهُ أَنْ يَحْمِلَ عَلَيْهَا أَوْ أَشَارَ إِلَيْهَا؟
قَالُوْا: لاَ قَالَ: فَكُلُوْا.
“Apakah ada salah seorang di antara kalian memerintahkan agar ia memburu
keledai itu, atau memberi isyarat ke keledai itu?” “Tidak,” jawab mereka.
Beliau bersabda, “Makanlah.” [9]
13. Makan hewan buruan yang diburu untuknya atau yang ia isyaratkan untuk
diburu, atau yang diburu dengan bantuannya
Berdasarkan apa yang difahami dari sabda beliau:
أَمِنْكُمْ أَحَدٌ أَمَرَهُ أَنْ يَحْمِلَ عَلَيْهَا أَوْ أَشَارَ إِلَيْهَا؟
قَالُوْا: لاَ، قَالَ: فَكُلُوْا.
“Apakah ada salah seorang di antara kalian memerintahkan agar ia memburu
keledai itu atau memberi isyarat ke keledai itu?” “Tidak,” jawab mereka. Beliau
bersabda, “Makanlah.” [10]
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/401, no. 1542), Shahiih Muslim
(II/834, no. 1177), Sunan Abi Dawud (V/269, no. 1806), Sunan an-Nasa-i (V/129).
[2]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (IV/57, no. 1841), Sunan an-Nasa-i
(V/132), Shahiih Muslim (II/835, no. 1178), Sunan at-Tirmidzi (II/165, no.
835), Sunan Abi Dawud (V/275, no. 1812).
[3]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1022)], Shahiih al-Bukhari (IV/52, no.
1838), Sunan Abi Dawud (V/271, no. 1808), Sunan an-Nasa-i (V/133), Sunan
at-Tirmidzi (II/164, no. 834).
[4]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1023)], Muwatha' Imam Malik (224/724),
Mus-tadrak al-Hakim (I/454).
[5]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1012)].
[6]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/401, no. 1542), Shahiih Muslim
(II/ 834, no. 117), Sunan Abi Dawud (V/269, no. 1806), Sunan an-Nasa-i (V/129
[7]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (III/135, no. 1265), Shahiih Muslim
(II/865, no. 1206), Sunan Abi Dawud (IX/63, no. 3223-3222), Sunan an-Nasa-i
(V/196).
[8]. Muttafaq 'alaih: Shahiih Muslim (II/861, no. 1201 (83)) ini adalah lafazh
beliau, Shahiih al-Bukhari (IV/12, no. 1814), Sunan Abi Dawud (V/309, no.
1739), Sunan an-Nasa-i (V/194), Sunan at-Tirmidzi (II/214, no. 960), Sunan Ibni
Majah (II/1028, no. 3079).
[9]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (V/28, no. 1824), Shahiih Muslim
(II/853, no. 1196 (60)), Sunan an-Nasa-i (V/186) semisal hadits tersebut.
[10]. Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (V/28, no. 1824), Shahiih Muslim
(II/853, no. 1196 (60)), Sunan an-Nasa-i (V/186) semisal hadits tersebut.