AL 'ULUW, APA ARTI ALLAH MAHA TINGGI?

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
http://almanhaj.or.id/content/3389/slash/0/al-uluw-apa-arti-allah-maha-tinggi/

Salah satu di antara nama Allah yang sangat indah adalah al 'Aliyy.
Makna yang terkandung dalam nama ini merupakan sifat-Nya, yaitu Maha
Tinggi. Sifat Maha Tinggi Allah merupakan salah satu di antara sifat
sempurna-Nya yang jumlahnya tanpa batas. Namun apa yang dimaksud Allah
bernama al 'Aliyy dan bersifat Maha Tinggi?

Sebelum memaparkan jawaban dari pertanyaan di atas, sebaiknya terlebih
dahulu dikemukakan dalil-dalil tentang nama Allah al 'Aliyy dan sifat
Maha Tinggi-Nya.

DALIL DARI KITABULLAH
Berikut ini adalah beberapa dalil tersebut:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ
حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat
memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [al
Baqarah/2:255]

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Maka putusan (sekarang ini) hanyalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi
Maha Besar. [Ghafir/40 :12).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan nama Allah 'Aliyy, 'Azhim dan Kabir,
yang maknanya Maha Tinggi, Maha Agung dan Maha Besar. Makna ini
sekaligus menunjukkan sifat-Nya.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. [al A'la/87:1]

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. [an-Nahl/16:60]

Dari penggalan empat ayat di atas, dua di antaranya menunjukkan sifat
Maha Tinggi Allah melalui tadhammun al ismi laha (penjelasan sifat
yang terkandung dalam nama-Nya). Dan dua berikutnya melalui tashrih
bish-shifah (penegasan langsung dengan sifat). Maksudnya, sifat Maha
Tinggi Allah pada penggalan dua ayat pertama dapat diketahui melalui
makna yang terkandung dalam nama-Nya. Dan pada penggalan dua ayat
berikutnya dapat diketahui dengan lafazh yang langsung menunjukkan
sifat-Nya.

Jadi beberapa ayat di atas menjelaskan dua metode di antara tiga
metode al Qur`an dan Sunnah di dalam menetapkan sifat Allah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah , ada
tiga cara al Qur`an dan Sunnah di dalam memberikan pembuktian mengenai
penetapan sifat Allah Azza wa Jalla, [1] yaitu:

Pertama, tashrih bish sfifah (penegasan langsung dengan lafazh yang
menunjukkan sifat Allah). Misalnya, sifat al 'Izzah (perkasa), al
Quwwah (kuat), ar-Rahmah (kasih sayang), al Bath-syu (sifat menyiksa),
al Wajhu (wajah), al Yadain (dua tangan) dan sifat-sifat lainnya.

Kedua, tadhammun al ismi laha (sifat Allah yang dikandung dalam
nama-Nya). Contohnya, nama Allah al-Ghafur mengandung sifat Maha
Pengampun, as-Sami' mengandung sifat Maha Mendengar dan seterusnya.

Ketiga, tashrih bil fi'li aw al washfi dallin 'alaihima (penegasan
sifat melalui kata kerja atau kata yang menunjukkan sifat). Contohnya,
Allah bersemayam di atas 'Arsy. Sifat bersemayam ini disebutkan dalam
ayat dengan bentuk fi'il (kata kerja). Misalnya kata istawa dalam
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Allah Yang Maha Penyayang bersemayam di atas 'Arsy. [Thaha/20 : 5]

Contoh lainnya, sifat memberikan balasan siksa yang keras. Sifat ini
tersebut dalam al Qur`an dengan bentuk kata yang menunjukkan sifat,
yaitu berbentuk isim fa'il. Misalnya kata muntaqimun dalam firman
Allah Ta'ala:

إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan siksa kepada orang-orang
yang berdosa. [As-Sajdah/32 : 22]

Demikianlah beberapa dalil yang menunjukkan sifat Maha Tingginya Allah
Subhanahu wa Ta’ala di atas segenap makhluk-Nya.

Sesungguhnya, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
al ‘Utsaimin rahimahullah,[2] dalil tentang sifat Maha Tinggi Allah
sangat banyak; dari al Qur`an, Sunnah, Ijma', akal dan fithrah.
Sementara itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al
'Aqidah al Wasithiyah [3] mengelompokkan dalal-dalil itu secara
terpisah, kelompok dalil dari al Qur`an sendiri dan kelompok dalil
dari Sunnah Nabawiyah sendiri.

Adapun dalil dari al Qur`an dan Sunnah, hampir tidak bisa dibatasi.
Disamping ayat yang sudah dipaparkan di atas, juga beberapa ayat
berikut ini:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

Dan Dialah yang berkuasa, berada di atas sekalian hamba-hamba-Nya. [al
An'am/6:18]

Kata fauqa menunjukkan, Allah Maha Tinggi berada di atas seluruh makhluk.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ
فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ
عَلَيْكُمْ حَاصِبًا

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di atas langit bahwa
Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba
bumi itu bergoncang. Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang
ada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. [al
Mulk/67:16-17].

Kata man fis-sama` pada ayat di atas memiliki makna Allah yang di atas
langit. Fis-sama`, artinya 'alas-sama` (di atas langit), ini bila yang
dimaksud dengan sama` (langit) adalah langit dalam bentuk bangunan
fisik. Namun bila yang dimaksud dengan sama` adalah segala yang
bersifat atas, maka fi, artinya untuk menunjukkan tempat. Maksudnya
Allah Maha berada di atas.[4]

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shalih
menaikkan perkataan yang baik tersebut kepada-Nya. [Fathir/35:10].

Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan menjelaskan, di dalam ayat ini
terdapat penetapan sifat Maha Tingginya Allah di atas segenap
makhluk-Nya, karena sebutan naik dan diangkat, menunjukkan ke arah
atas.[5]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ
الْأَسْبَابَأَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ
وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan
yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu
langit, supaya aku dapat melihat Ilahnya Musa, dan sesungguhnya aku
memandangnya seorang pendusta". [al Mu'min/40:36-37].

Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan menjelaskan, di dalam ayat ini
terdapat penetapan sifat Maha Tinggi Allah di atas segenap makhlukNya,
sebab Nabi Musa Alaihissallam telah mengkhabarkan kepada Fir'aun
tentang itu, namun Fir'aun berupaya mendustakannya.[6] Dan masih
sangat banyak dalil dari al Qur`an yang menunjukkan sifat Maha Tinggi
Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Intinya, dalil-dalil dari al Qur`an memiliki beragam pembuktian.
Kadang-kadang dengan sebutan 'uluw, fauqiyah, istiwa' 'ala al Arsy
atau sebutan fis-sama`, yang semuanya menunjukkan Allah Maha Tinggi,
Maha di atas, bersemayam di atas Arsy, dan Maha di atas langit.

Atau Kadang-kadang dengan sebutan shu'ud al asy-ya`, 'uruj al asy-ya`
dan raf'uha ilaihi, yang artinya, naiknya pelbagai perkara atau
makhluk kepada Allah. Misalnya firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik. –Fathir/35 ayat 10-
dengan sebutan shu'ud (naik)nya perkataan-perkataan yang baik kepada
Allah.

Juga firman Allah:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb. -al
Ma'arij/70 ayat 4- dengan sebutan 'uruj (naik)nya para malaikat kepada
Allah.

Demikian pula firmanNya:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan
menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku. –Ali Imran/3 ayat 55- dengan
sebutan raf'u (mengangkat) Isa naik kepada Allah.

Dan kadang-kadang dengan sebutan nuzul al asy-ya` minhu (turunnya
pelbagai hal dari Allah) atau sebutan sejenisnya. Hal yang menunjukkan
bahwa Allah berada di atas, sebab kata turun dari sisi-Nya hanya
terjadi dari atas. Misalnya firman Allah Ta'ala:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ

Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al Qur`an itu dari
Rabbmu". –an-Nahl/16 ayat 102- dengan sebutan menurunkan al Qur`an
dari sisi Allah.

Demikian juga firman-Nya:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi. [as-Sajdah/32:5][7].

DALIL DARI SUNNAH NABAWIYAH
Adapun dalil-dalil dari Sunnah Nabawiyah, jumlahnyapun sangat banyak
dan mencapai tingkatan mutawatir, serta dengan pendalilan yang juga
beragam.[8] Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam :

أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ .متفق عليه

Apakah kalian tidak memberikan kepercayaan kepadaku, sedangkan aku
adalah orang kepercayaan Allah, Dzat yang ada di atas langit? [9]

Begitu juga hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ
طَيِّبٍ وَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلَّا الطَّيِّبُ فَإِنَّ اللَّهَ
يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا
يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ. رواه
البخاري

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: "Barangsiapa yang bersodaqoh senilai satu biji korma
dari hasil usaha yang baik (halal) –sedangkan tidak akan ada yang naik
kepada Allah kecuali yang baik saja-, niscaya Allah akan menerimanya
dengan Tangan kananNya, kemudian Allah memeliharanya untuk pemiliknya
sebagaimana seseorang di antara kamu memelihara anak kudanya yang
masih kecil. Sehingga sodaqoh tadi akan menjadi besar laksana
gunung".[10]

Juga jawaban seorang budak perempuan milik Mu'awiyah bin al Hakam
as-Sulami yang dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika beliau bertanya kepada budak tersebut tentang di mana
Allah. Beliau bersabda:

أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ
رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ .رواه مسلم

"Di mana Allah?" Budak wanita itu menjawab: "Di atas langit," Beliau
bertanya lagi: "Siapa aku?" Ia menjawab,"Engkau adalah Rasul Allah,"
maka Beliaupun bersabda: "Merdekakan ia, karena ia seorang wanita
mu'minah!" [11]

Dalam hadits ini, budak wanita milik Mu'awiyah bin al Hakam menjawab
bahwa Allah ada di atas langit. Dan jawabannya dibenarkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataan beliau,
bahwa ia merupakan wanita mu'minah.

Hadits yang lain ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam doa sujudnya:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى .رواه مسلم

Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.[12]

Demikian pula hadits yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabatnya
pada hari Arafah, yaitu saat beliau meminta kesaksian kepada mereka;
apakah beliau sudah menyampaikan risalah Allah? Lalu mereka menjawab:
"Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan
telah memberikan nasihat," maka beliau mengangkat tangannya memberikan
isyarat ke arah atas, lalu tangan yang mulia itu di turunkan menunjuk
ke arah para sahabatnya seraya bersabda:

اللَّهُمَّ اشْهَدْ! اللَّهُمَّ اشْهَدْ! ثلاث مرات.رواه مسلم

Ya Allah saksikanlah (mereka), saksikanlah (mereka)! Beliau
mengucapkannya tiga kali.[13]

Hadits ini menegaskan bahwa Allah ada di atas segenap makhluk-Nya,
karena Nabi mengangkat tangan beliau ke arah atas ketika meminta
kesaksian mereka tentang risalah yang diembannya. Dan masih banyak
hadits lain, yang seluruhnya menunjukkan bahwa Allah berada di atas
dan Maha Tinggi.

DALIL AKAL
Akal yang sehat menunjukkan kepastian, bahwa Allah memiliki sifat
sempurna dan tidak mungkin Allah memiliki sifat-sifat kurang. Sifat
Maha Tinggi dan Maha di atas adalah sifat sempurna, sedangkan sifat
rendah dan sifat bawah adalah sifat kurang. Dengan demikian, secara
akal, pasti Allah bersifat Maha Tinggi dan Dia Maha Suci dari sifat
sebaliknya.

DALIL FITHRAH
Secara fithrah, tidak ada seorangpun yang berdoa kepada Allah atau
meminta pertolongan kepada-Nya dari segala yang menakutkannya, kecuali
pasti hatinya mengarah ke atas. Tidak mungkin ketika ia memohon kepada
Allah, hatinya tertuju ke arah samping kanan atau kiri, tetapi ke
atas.

DALIL IJMA'
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,
sesungguhnya para ulama telah menyebutkan adanya Ijma' (kesepakatan)
para sahabat, tabi'in dan para imam Islam, bahwa Allah berada di atas
seluruh langit milik-Nya, Dia bersemayam di atas Arsy. Perkataan
mereka tentang ini sudah sangat masyhur.

Imam al Auza'i mengatakan: "Kami dahulu, ketika jumlah para tabi'in
sangat banyak, mengatakan bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada di atas
Arsy-Nya. Kami mengimani berita tentang sifat Allah apa saja yang
datang di dalam Sunnah".[14]

Imam adz-Dzahabi (673-748 H) bahkan menyusun kitab khusus tentang
Sifat Maha Tingginya Allah dengan judul al 'Uluwwu lil 'Aliyyi al
Ghaffar, yang kemudian di-mukhtashar (diringkas) oleh Syaikh al Albani
rahimahullah. Isinya menegaskan semua pemaparan di atas, termasuk
menyebutkan banyak sekali riwayat dari para salaf tentang itu.

Intinya, merupakan hal yang pasti, bahwa di antara nama Allah adalah
al 'Aliyy, dan di antara sifat-Nya adalah Maha Tinggi berada di atas
segenap makhluk-Nya. Mengingkari sifat ini adalah kufur.

Namun Apa Arti Nama Allah; Al 'Aliyy Dan Sifat Maha TinggiNya?
Setiap nama Allah pasti menunjukkan maknanya. Makna dari setiap nama
Allah adalah sifat-Nya. Jadi nama-nama Allah bukanlah sekedar
nama-nama kosong tanpa makna sebagaimana anggapan orang-orang
Jahmiyah. Maka nama al 'Aliyy adalah nama bagi Dzat Allah Azza wa
Jalla , dan sekaligus merupakan pensifatan bagi-Nya. Sebab semua
nama-Nya merupakan a'lam wa aushaf (nama-nama dan pensifatan bagi
Dzat-Nya).[15]

Berbeda dengan manusia, maka setiap nama manusia kecuali Nabi, hanya
sekedar nama belaka sebagai panggilan bagi dirinya dan tidak
menunjukkan sifatnya. Dengan demikian, nama al 'Aliyy benar-benar
menunjukkan sifat Maha Tinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak
dan hakiki. Dan sifat Maha Tinggi Allah meliputi:

1. Maha Tinggi Dzat-Nya, karena Dia berada di atas semua makhluk-Nya.
2. Maha Tinggi kedudukan-Nya, sebab hanya kepunyaan Dia saja segala
sifat sempurna.
3. Dan Maha Tinggi kekuasaan-Nya, sesab Dia Maha berkuasa atas segala
sesuatu.[16]

Kemudian, harus pula difahami bahwa Maha Tinggi dan Maha di atas ini
tidak bertentangan dengan Maha dekatnya Allah yang senantiasa
menyertai makhluk-Nya. Allah Maha dekat, tetapi Dia tetap Maha di atas
Arsy. Maha di atas segenap makhluk-Nya, tetapi Dia Maha dekat.[17] Dan
ini tidak sulit dimengerti oleh akal sehat.

Demikianlah, dengan memahami sifat-sifat Allah secara benar seperti
yang ada di dalam al Qur`an dan Sunnah berdasarkan pemahaman
Salafush-Shalih, niscaya orang akan semakin mengagungkan Allah,
semakin cinta kepada-Nya, semakin bersemangat beribadah hanya
kepada-Nya dan takut akan siksaanNya. Sebab ia tahu bahwa Allah Maha
Sempurna dalam segala nama dan sifat-Nya. Allah Maha Tinggi secara
mutlak, dan Dia bersemayam di atas Arsy, namun Dia Maha dekat dan
selalu menyertai setiap makhluk dengan pengawasan, ilmu, pendengaran,
penglihatan, kekuasaan dan kadang dengan pertolongan-Nya kepada hamba
yang dikasihi. WAllahu waliyyu at-Taufiq.

Maraji':
1. Al Qowa'idul Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, karya Syaikh
Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Tahqiq & Takhrij: Asyraf bin Abdul
Maqshud bin Abdur-Rahim, Cetakan I – 1411 H/1990 M, Maktabah
as-Sunnah.
2. Fat-hul Bari Syarh Shahih al Bukhari, Tarqim wa tabwib Muhammad
Fu'ad Abdul Baqi. Tash-sih wa tahqiq wa isyraf wa muqobalah Syaikh
Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Jami'atul Imam Muhammad bin Saud al
Islamiyah, Riyadh
3. Mukhtashor al 'Uluw li al 'Aliyyi al Ghoffar, Imam adz-Dzahabi,
diringkas dan ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani,
Cetakan II (copy), Tahun 1412 H/1991 M, al Maktab al Islami,
4. Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma'mun Syiha, Dar al Ma'rifah.
5. Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan,
Cetakan VI, Tahun 1413 H/1993 M, Maktabah al Ma'arif, Riyadh.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Al Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, Syaikh
Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah , Tahqiq & Takhrij
Asyraf bin Abdul Maqshud bin 'Abdur-Rahim, Cetakan I–1411H/1990M,
Maktabah as-Sunnah, hlm. 38, Kaidah Ketujuh (Qawa'id fi Shifatillah).
[2]. Al Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, hlm. 66-68
dan hlm. 97-98.
[3]. Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al
Fauzan, Cetakan VI, Th. 1413H/1993M, Maktabah al Ma'arif, Riyadh, di
bawah sub judul itsbat Istiwa'i Allah 'ala 'Arsyihi & itsbat 'Uluwwi
Allah 'ala Makhluqotihi pada kelompok penetapan Asma' dan Sifat
berdasarkan al Qur`anul-Karim, serta itsbat 'Uluwwi Allah 'ala
Kholqihi wa istiwa'ihi 'ala 'Arsyihi pada kelompok penetapan Asma' wa
Sifat berdasarkan dalil Sunnah Nabawiyah.
[4]. Lihat keterangan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam Syarh
al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, di bawah
sub judul Itsbat 'Uluwwi Allah 'ala Makhluqotihi, hlm. 80.
[5]. Lihat Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al
Fauzan, hlm. 80.
[6]. Lihat Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al
Fauzan, hlm. 80.
[7]. Lihat Al Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, hlm. 66.
[8]. Lihat Al Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, hlm. 66.
[9]. HR Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al Maghazi, Bab Ba'tsu 'Aliy
bin Abi Thalib 'alaihis-Salam wa Khalid ibni al Walid ila al Yaman
qabla Hajjati al Wada', hadits no. 4351 – Fat-hul Bari (VIII/67)
–Jami'atul Imam Muhammad bin Saud al Islamiyah, Riyadh, Tarqim wa
Tabwib Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Tash-sih wa Tahqiq wa Isyraf wa
Muqabalah Syaikh Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz. Dan Muslim dalam
Kitab az Zakah, Bab Dzikri al Khawarij wa Shifatihim – Syarh Nawawi
(VII/161-162)- Tahqiq Kholil Ma'mun Syiha, Cetakan II, 1415 H/1995 M,
Dar al Ma'rifah, no. hadits 2449.
[10]. HR Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at Tauhid, no. hadits 7430 –
Fat-hul Bari (XIII/415), Jami'atul Imam Muhammad bin Saud al
Islamiyah, Riyadh, Tarqim wa Tabwib Muhammad Fu'ad Abdul-Baqi.
Tash-sih wa Tahqiq wa Isyraf wa Muqabalah Syaikh Abdul 'Aziz bin
'Abdillah bin Baz.
[11]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil
Ma'mun Syiha (V/23-26) dalam sebuah hadits panjang no. 1199, Kitab al
Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab Tahrim al Kalam fi ash-Shalah wa
Naskhu Ma Kana min Ibahatihi, Cetakan III, Tahun 1417 H/1996 M, Dar al
Ma'rifah.
[12]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Kholil
Ma'mun Syiha (VI/303-304) dalam sebuah hadits panjang no. 1811, Kitab
Shalatul-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Tathwil al Qira'ah fi
Shalati al Lail, Cetakan III, Tahun 1417 H/1996 M, Dar al Ma'rifah.
[13]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil
Ma'mun Syiha (VIII/413) dalam sebuah hadits yang sangat panjang no.
2941, Kitab al Hajj, Bab Hajjati an-Nabiyyi Shallallohu 'alaihi wa
sallam, Cetakan II, Tahun 1415 H/1995 M, Dar al Ma'rifah.
[14]. Lihat dalil-dalil semacam ini, misalnya dalam Kitab al
Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna, hlm. 66-67.
[15]. Lihat al Qowa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna,
hlm. 11 tentang qaidah kedua dari Qawa'id fi Asma'illah.
[16]. Lihat keterangan Syaikh Shalih al Fauzan ketika menerangkan nama
al 'Aliyy pada ayat Kursi dalam kitab Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah,
hal. 26.
[17]. Lihat Syarh al 'Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Sholih bin Fauzan
al Fauzan, di bawah sub judul Itsbat Ma'iyyati Alloh Ta'ala li
Kholqihi wa annaha La Tunafi 'Uluwwahu fauqa Arsyihi, hlm. 119.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke