SYARAH NAMA ALLAH AL-FATTAH

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra
http://almanhaj.or.id/content/3393/slash/0/syarah-nama-allah-al-fatth/

ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MEMPUNYAI NAMA-NAMA YANG INDAH
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang sangat mulia dan
indah. Kemuliaan dan keindahan tersebut ditinjau dari dua segi, yaitu
segi lafazh dan segi maknanya. Makna dari nama-nama Allah Subhanahu wa
Ta’ala tersebut menunjukkan sifat Allah yang Maha Sempurna. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا
الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ

Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepadanya
dengan nama-nama-Nya tersebut. Dan jauhilah orang-orang yang
menyimpang dalam (memahami) nama-nama-Nya. Mereka akan dibalasi
terhadap apa yang mereka lakukan. [al-A'râf/07:180]

Tentang nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , ada beberapa hal yang
harus kita pahami sebagaimana terdapat pada ayat di atas.

Pertama : Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama
yang sangat mulia lagi indah. Barang siapa yang tidak meyakini
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka orang tersebut tidak
beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara utuh dan benar. Bila
kita perhatikan, begitu banyak ayat Al-Qur`ân yang ditutup dengan
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan makna nama-nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala tersebut sangat erat hubungannya dengan konteks
ayat itu sendiri.

Kedua : Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut menggandung makna
yang sangat sempurna yang disebut sifat. Orang yang tidak meyakini
tentang sifat yang terkandumg dalam nama-nama Allah berarti ia telah
melakukan penyimpangan dalam beriman kepada Allah.

Ketiga : Berdoa dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
nama-nama mulia itu. Untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , ialah dengan memahami makna
nama-mana Allah tersebut. Sehingga menghadirkan rasa khusyu' dalam
beribadah, karena saat beribadah seolah-olah kita melihat Allah
Subhanahu wa Ta’ala atau kita merasa sedang dilihat oleh-Nya.

KEUTAMAAN MENGHAFAL 99 NAMA-NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG INDAH
Setelah memperhatikan perihal di atas, semakin jelaslah bagi kita
betapa penting mempelajari makna nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan
pula dalam sabdanya:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ
أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ (متفق عليه).

Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus
kecuali satu, barang siapa yang menghafalnya akan masuk surga. [HR
al-Bukhâri Muslim]

Kata الإِحْصَاء (menghafal) dijelaskan oleh para ulama, memiliki
beberapa tingkatan. Pertama, menghafalnya dengan lisan. Kedua,
memahami makna yang terkandung di dalam nama-mana Allah tersebut.
Ketiga, mengaplikasikan makna nama-nama Allah dalam doa dan ibadah,
atau dengan kata lain menghafalnya dalam bentuk amalan.[1]

Hadits di atas tidak menunjukkan pembatasan jumlah keseluruhan
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tetapi, membatasi jumlah
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti dihafalkan untuk
memperoleh keutamaan seperti disebutkan dalam hadits, yaitu masuk
surga. Sebab, telah dijelaskan dalam hadits lain, bahwa jumlah
keseluruhan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Allah semata. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pun tidak mengetahuinya secara pasti, seperti tersurat pada
doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ
عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ
اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ رواه أحمد وغيره.

Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki, yang
Engkau beri nama dengannya diri-Mu, atau Engkau beritahukan kepada
salah seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu,
atau Engkau simpan di sisi-Mu di alam ghaib. [HR Ahmad dan lainnya,
dishahîhkan oleh Ibnul Qayyim dan Syaikh al-Albâni].[2]

Dalam hadits ini disebutkan tiga bagian dari nama-nama Allah Subhanahu
wa Ta’ala .
1. Bagian pertama, nama yang Allah beritahukan kepada sebahagian
makhluk-Nya, baik dari kalangan malaikat atau lainnya, tetapi tidak
menyebutkannya di dalam kitab suci Allah.

2. Bagian kedua, nama yang Allah turunkan dan menyebutkannya di dalam
kitab suci-Nya.

3. Bagian ketiga, nama yang Allah sembunyikan di sisi-Nya di alam ghaib.

Dari penjelasan ini, maka nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya
dapat kita ketahui melalui kitab Al-Qur`ân dan hadits-hadits yang
shahîh. Dalam hal ini, menurut pendapat ulama yang telah melakukan
penelitian, mereka menyatakan bahwa nama-nama Allah yang terdapat di
dalam Al-Qur`ân dan hadits-hadits shahîh jumlahnya lebih dari sembilan
puluh sembilan nama.[3]

Lalu, bagaimana memahami kedua hadits di atas? Kedua hadits tersebut
tidak saling bertentangan. Hal tersebut bisa dipahami dengan contoh
berikut.

Umpamanya, jika seseorang mengatakan "saya memiliki uang sejumlah
99.000 rupiah untuk saya infakkan". Tentu, perkataan ini tidak akan
dipahami bahwa ia tidak memiliki uang yang lain. Boleh jadi, ia
memiliki 200.000 rupiah, tetapi yang diinfakkan hanya 99.000 rupiah.
Dengan demikian, kedua hadits tersebut sangat mudah untuk ditemukan.
Yang penting, ialah menghafal 99 nama Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebagai tebusan untuk mendapatkan surga. Nama-nama yang dihafal
mungkin saja berbeda lafazhnya, tetapi jumlahnya sama. Karena
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih dari 99.

PENJELASAN TENTANG MAKNA-MAKNA AL FATTAH
Secara etimologi (bahasa) makna kata (الفتّاح) dalam bahasa Arab
berarti "al-Hâkim" (yang memutuskan perkara dengan adil), sebagaimana
yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ
خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak
(adil)[4], dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.
[al-A'râf/07: 89].

Kata "al-Fath" (الْفَتْحُ), juga berarti kemenangan atau pertolongan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ

Jika kalian meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan itu
kepada kalian. [al-Anfâl/08: 19]

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata: "Asal kata al-Fattâh dalam
bahasa Arab berarti النَّصْرُ (kemenangan, pertolongan), الْقَضَاءُ
(keputusan) dan الْحُكْمُ (hukum). Bila ada orang mengatakan "ya
Allah, bukakanlah antara aku dan si Fulan," itu maknanya "berilah
keputusan antara aku dan dia"[5].

Adapun makna al-Fattâh (الفتّاح) secara syar'i, ialah sesuai dengan
pengertian yang terkandung dalam Al-Qur`ân dan Hadits disertai dengan
penjelasan para ulama. Nama ini terdapat dalam surat Saba' ayat 26 :

وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Menetapkan Keputusan
Para ulama menjelaskan, nama Allah al-Fattâh memiliki makna yang
sangat sempurna dari segala segi. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi
keputusan dengan adil dalam segala perkara yang terjadi antara sesama
makhluk, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak membutuhkan saksi-saksi dalam menetapkan keputusan hukum.
Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir (tampak)
maupun yang tersembunyi. Karena itu, nama "al-Fattâh" dalam ayat di
atas digandengkan dengan nama Allah "al-'Alîm" (Yang Maha Mengetahui).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata dalam menjelaskan maksud ayat di
atas: "Katakanlah kepada mereka: Rabb akan mengumpulkan kita pada hari
Kiamat di hadapan-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
mengeluarkan keputusan antara kita secara adil. Sehingga akan jelas
ketika itu siapa yang mendapat petunjuk diantara kita dan siapa yang
sesat. Dia Maha Pemberi keputusan dan Maha Mengetahui, Yang Maha Tahu
dengan keputusan diantara makhluk-Nya, Yang tidak tersembunyi bagi-Nya
sekecil apa pun. Dan Dia l tidak membutuhkan saksi-saksi untuk memberi
tahu siapa yang benar dan siapa yang salah".[6]

Allah-lah yang memberi keputusan antara ahlul-haq dan ahlul-batil,
antara para rasul dan musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang
beriman dan orang-orang kafir, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Di antara keputusan Allah terhadap antara ahlul-haq dan ahlul-batil,
antara para rasul dan musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang
beriman dan orang-orang kafir ketika di dunia, ialah membela dan
menolong para ahlul haq, para rasul dan orang-orang beriman dalam
menghadapi tantangan dan perlawanan dari musuh-musuh mereka. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kemenangan yang dibukakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala untuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
orang-orang beriman ketika perang Badr.[7]

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ

Jika kalian meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan itu
kepada kalian. [al-Anfâl/08:19].

Allah Subhanahu wa Ta’ala Menolong Kaum Mukminin yang Berjuang
Menaklukkan Negeri-Negeri Kaum Kuffar
Pengertian al-Fattâh yang lain, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala
menolong orang-orang beriman dalam berjuang membuka (menaklukkan)
negeri-negeri kaum kuffâr. Seperti dibukanya negeri Khaibar melalui
Khalifah 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ
الرَّايَةَ رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ (متفق عليه)

dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu anhu, dia mendengar Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu perang Khaibar: "Saya akan
berikan bendera perang kepada seseorang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
akan membuka kemenangan melalui tangannya". [HR Bukhâri dan Muslim].

Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan janji kepada kaum
mukminin dengan penaklukan kota Makkah dalam beberapa firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ
الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ
عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika
mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui
apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka
dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat
(waktunya) .[al-Fath/48: 18]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala membuktikan janji kemenangan yang
tersebut pada ayat di atas dengan dibukanya kota Makkah. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.
[al-Fath/48:1].

Menurut pendapat sebagian ulama tafsir, ayat ini mengisahkan tentang
penaklukan kota Makkah [8], setelah sebelumnya kaum kuffar Quraisy
mengusir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin dari
kota Makkah. Karena itu, para nabi dan rasul berdoa agar Allah
Subhanahu wa Ta’ala menolong mereka dan memberi keputusan terhadap
kaum mereka yang menentang. Nabi Syu'aib Alaiissallam memanjatkan doa
berikut :

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ
خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak
(adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.
[al-A'râf/07: 89]

Begitu pula Nabi Nuh Alaihissallam berdoa:

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ
فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَنْ مَعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Nuh berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku;
maka adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan
selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin yang bersamaku.
[Asy-Syu'arâ`/26: 116-118].

Keputusan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap kaum Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallamuh Alaihissallam, ialah dengan dibukanya
pintu adzab untuk mereka dari langit sebagaimana yang terdapat dalam
kalam Allah:

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah. [al-Qamar/54:11].

Demikian, keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap setiap kaum
yang menentang kebenaran dan melupakan peringatan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, yaitu dengan mendatangkan adzab yang sangat pedih untuk
mereka. Seketika itu, mereka berputus-asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ
كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ
بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka;
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika
itu mereka terdiam berputus asa.[al-An'âm/06: 44].

Di antara keputusan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap
Rasul n dan kaum mukminin, ialah Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka
rahasia kemunafikan yang tersembunyi dalam diri orang-orang munafik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ
يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ
يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا
أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka, kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya
(orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani),
seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan
Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu
keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal
terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
[al-Mâ`idah/05:52].

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain disebutkan (artinya):
(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi
pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu
kemenangan dari Allah, mereka berkata: "Bukankah kami (turut
berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat
keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut
memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah
akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat, dan Allah
sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
memusnahkan orang-orang yang beriman. [an-Nisâ`/04:141]
.
Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi keputusan dengan
seadil-adilnya terhadap hamba-Nya yang berbantah-bantah di hadapan-Nya
di akhirat kelak. Disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ
وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: "Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia
memberi keputusan antara kita dengan benar (adil). Dan Dia-lah Maha
Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". [Saba/34:26].

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain dinyatakan, yang
artinya: Kemudian, sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan
berbantah-bantah di hadapan Rabbmu. [az-Zumar/39:31].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Maksud ayat ini; sesungguhnya
kalian pasti akan berpindah dari dunia ini. Kalian akan berkumpul di
hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat. Kemudian kalian
berbantah-bantah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang perkara
tauhid dan syirik waktu di dunia. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
memberi keputusan dengan haq (adil). Dia Maha Pemberi keputusan lagi
Maha Mengetahui. Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan
orang-orang mukmin, orang-orang yang bertauhid serta orang-orang yang
ikhlas. Dan mengadzab orang-orang kafir, orang-orang yang mengingkari
(ayat-ayat Allah), dan orang-orang musyrik serta orang-orang yang
mendustakan (kebenaran)"[9].

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pembuka Segala Kunci Kebaikan
Al Fattâh (الفتّاح), juga berarti Maha Pembuka segala kunci kebaikan
atas seluruh hamba-Nya. Baik berupa iman, ilmu dan hidayah. Barang
siapa dibukakan baginya kebaikan, maka tidak seorang pun yang dapat
menghalanginya. Demikian pula, barang siapa yang ditutup dan dikunci
hatinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka tidak seorang pun dapat
membuka dan menunjukinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ
وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ

Apa yang dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada
seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh
Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu.
Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [Fâthir/35:2].

Syaikh Hâfizh al-Hakami rahimahullah berkata: "Al Fattâh, adalah Dzat
Yang Membuka bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya, untuk memperoleh
karunia-karunia-Nya yang luas sesuai yang diinginkan-Nya pula.
Seseorang dibukakan kekayaan baginya. Sementara orang lainnya
dibukakan kekuasaan. Dan orang satu lagi dibukakan ilmu dan hikmah.
Demikianlah, karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala diberikan kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki karunia yang
besar. (Allah berfirman, yang artinya), 'apa yang dibukakan Allah
kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat
menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun
yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana'." [10]

Oleh sebab itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan kepada kita sebuah doa ketika akan memasuki masjid:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ (رواه مسلم)

Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu [HR Muslim].

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pembuka Pintu-Pintu Rejeki dan Rahmat
Bagi Hamba-Nya Yang Bertakwa
Al-Fattâh (الفتّاح), juga berarti Maha Pembuka pintu-pintu rizki dan
rahmat untuk para hamba-Nya yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan membukakan untuk mereka berkah dari langit dan
bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya [al-A'râf/07:96].

Segala kunci yang ghaib hanya berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
. Tidak ada yang dapat membuka dan mengetahuinya kecuali Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri... [al-An'âm/6:59].

Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka sebagian dari hal yang ghaib bagi
hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dari kalangan rasul. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman, yang artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan
memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah
memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. [Ali
'Imrân/03:179].

Allah Subhanahu wa Ta’ala Mengajarkan Puji-Pujian Kepada Rasulullah
Untuk Memuji-Nya
Di padang mahsyar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan
(mengajarkan) kalimat-kalimat pujian kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk memuji kepada-Nya. Hingga membuka pintu
syafa'at untuk seluruh umat manusia saat menjalani hisab (perhitungan
amal). Kalimat-kalimat pujian tersebut belum pernah diketahui
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya ketika di dunia.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Apabila
hari Kiamat telah terjadi, (saat itu) manusia akan saling
berdesak-desakan. Mereka mendatangi Adam Alaihissallam seraya berkata:
'Mintakanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami'. Adam menjawab: 'Saya
tidak berhak untuk itu. Coba datangilah Ibraahiim. Sesungguhnya dia
adalah Khaliilullah,' maka mereka mendatangi Ibraahiim. (Dan)
Ibraahiim pun menjawab: 'Saya tidak berhak untuk itu. Coba datangilah
Musa, sesungguhnya dia adalah Kaliimullah,' kemudian Musa menjawab:
'Saya tidak berhak untuk itu. Cobalah datangi Isa, sesungguhnya dia
Ruhullah,' maka, Isa pun menjawab: 'Saya tidak berhak untuk itu. Coba
datangilah Muhammad,' kemudian mereka datang kepadaku. Aku pun
menjawab: 'Saya yang berhak untuk itu,' lantas saya memohon izin
kepada Rabbku, lalu aku diberi idzin. Dan Allah mengilhamkan kepadaku
puji-pujian sebagai pujianku pada-Nya yang tidak aku ketahui sekarang.
Selanjutnya aku memuji-Nya dengan puji-pujian tersebut". [HR Bukhâri
dan Muslim].

BEBERAPA PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI NAMA ALLAH "AL FATTAH"
Sebetulnya, inilah tujuan sesungguhnya bagi seorang muslim dalam
mengetahui nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Pengenalan
terhadap nama Allah al-Fattâh beserta makna-maknanya, memberikan
pengaruh positif pada iman dan ibadah serta akhlak seorang muslim
dalam kehidupannya sehari-hari.
Dengan memahami makna nama Allah al-Fattâh, akan menumbuhkan
sifat-sifat mulia dalam diri seorang muslim. di antaranya sebagai
berikut.

1. Menumbuhkan sifat tawakkal dalam diri seorang mukmin, terutama bagi
seorang da'i dalam menghadapi tantangan di medan dakwah. Sebagaimana
dahulu para nabi dan rasul bertawakal dalam dakwah mereka. Dengan
keyakinan, bahwa Allah Maha Pemberi keputusan dengan adil terhadap
hamba-hamba-Nya. Ibnul Qayyim t menerangkan, sikap tawakkal sangat
erat hubungannya dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
mulia, di antaranya nama "al-Fattâh".[11]

2. Menumbuhkan sifat ikhlas dalam meminta petunjuk dan rizki kepada
Allah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa membuka hati
seseorang untuk menerima petunjuk. Allah jugalah yang berkuasa
membukakan pintu rizki bagi seorang hamba. Bila hal ini dapat
ditanamkan dalam diri kita, tentu kita tidak akan meminta sekalipun
kepada sang kiyai atau wali yang sudah mati. Kita tidak meminta
kecuali hanya kepada Allah semata.

3. Menumbuhkan sikap rajâ` (berharap-harap akan rahmat dan pertolongan
Allah) dalam diri seorang muslim. Karena segala kunci rahmat dan
kebaikan berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak ada yang
mampu membuka pintu-pintu rahmat tersebut kecuali Allah Subhanahu wa
Ta’ala . Pintu-pintu rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan terbuka di
dunia ini bagi hamba-hamba yang bertakwa. Rahmat di sini dalam arti
luas, yakni bisa berupa iman, ilmu, petunjuk, rizki, kesehatan,
kesuksesan dan lain-lain. Adapun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala di
akhirat kelak, tentunya jauh lebih luas dan lebih besar bila
dibandingkan dengan yang ada di dunia.

4. Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah membuka hati kita untuk beriman,
bertauhid dan beribadah kepada-Nya. Demikian pula, Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah membuka pintu-pintu nikmat lainnya untuk kita. Mulai dari
nikmat sewaktu kita dalam rahim ibu, terlahir dengan selamat tanpa
cacat, kemudian pintu nikmat dan rahmat senantiasa dibukakan Allah di
hadapan kita. Tidakkah selayaknya kita bersyukur kepada Allah?! Kita
tidak pernah terlepas dari nikmat Allah walau satu detik saja.

5. Memupuk rasa ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Karena pintu rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa
terbuka untuk orang-orang yang bertakwa. Kesulitan mendapatkan
pekerjaan, harga barang yang senantiasa melonjak naik, musibah yang
tak henti-hentinya, semua itu tidak ada yang sanggup mengeluarkan kita
dari pintu kesulitan menuju pintu yang luas penuh kebahagiaan dan
ketentraman, kecuali Allah al-Fattîh (Dzat Yang Maha Pembuka segala
kesulitan). Mari kita simak kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut
ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Jikalau sekiranya
penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya". [al-A'rîf/07:96].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Barang siapa
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya".
[ath-Thalâq/65: 2-3].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Dan barang siapa
yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan
dalam urusannya". [ath-Thalâq/65:4].

Demikianlah bahasan kita berkaitan dengan nama Allah, al-Fattâh.
Semoga Allah senantiasa membuka pintu hati kita dengan iman, ilmu dan
amal, serta membuka pintu-pintu rizki untuk kita, anak kita dan
saudara-saudara kita seiman. Wallahu a'lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1429H/2008M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Fâ`idah al-Jalîlah fi Qawâid al-Husnâ min Badaai' al-Fawâ`id,
Tahqîq: Syaikh 'Abdurrazzâq al-Badr.
[2]. Syifâ`ul-'Alîl", hlm. 274, dan ash-Shahîhah, 1/336.
[3]. Al-Fatâwâ al-Kubra, 1/217. Majmû' al-Fatâwâ, 22/482. Mausû'ah
Asma wash-Shifât, 1/18-25.
[4]. An-Nihâyah fi Gharîbil-Hadits, 3/406. Lisânul-'Arab, 2/539.
[5]. Tafsir ath-Thabari, 2/254.
[6]. Tafsir ath-Thabari, 22/95.
[7]. Tafsir al-Qurthubi, 7/386 dan Tafsir Ibnu Katsîr, 2/297.
[8]. Tafsir al-Qurthubi, 7/387.
[9]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/53.
[10]. Ma'ârijul-Qabûl, 1/48.
[11]. Madârijus-Sâlikîn, 2/125.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke