AL-QABIDH DAN AL-BASITH DUA DI ANTAR NAMA ALLAH YANG INDAH

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin
http://almanhaj.or.id/content/3394/slash/0/al-qbidh-dan-al-bsith-dua-di-antara-nama-allah-yang-indah/

Di antara nama Allah Azza wa Jalla yang jarang disebut dan diingat
orang adalah al-Qâbidh dan al-Bâsith. Kalaupun ada yang menyebutnya,
maka hanya dalam bentuk main-main karena disenandungkan dalam suatu
nyanyian bermusik. Padahal kedua nama itu termasuk al-Asmâ’ al-Husnâ.

Mestinya nama-nama Allah disebut dengan sungguh-sungguh, khusyu’,
tawadhu’ dan penuh penghormatan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا
الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah Asma-ul Husna (nama-nama yang sangat indah), maka
berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan
tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan. [al-A’râf/7:180]

Dalil yang membuktikan al-Qâbidh dan al-Bâsith sebagai nama Allah
ialah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu
anhu. Ia berkata:

غَلاَ السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم،
فَقَالُوْا : يَا رَسُوْلَ الله! سَعِّرْ لَنَا! فَقَالَ : إِنَّ اللهَ
هُوَ الْمُسَعِّرُ، اَلْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ (عند الترمذي:
الرَّزَّاقُ) وَإِنِّى لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ (عند الترمذي وابن
ماجه : أن أَلْقَى رَبِّي) وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي
بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ (عند الترمذي: يَطْلُبُنِي). أخرجه
أبو داود والترمذي وابن ماجه

Harga barang-barang pernah menjadi mahal pada zaman Rasulullah n ,
karenanya para sahabat berkata: Ya Rasulallah, tetapkanlah harga untuk
kami. Rasulullah n bersabda : “Sesungguhnya Allah-lah yang membuat
ketetapan harga, Dia adalah al-Qâbidh (Maha menahan/menyempitkan
rizki), al-Bâsith (Maha membentangkan/meluaskan rizki), ar-Râziq (Maha
menganugerahkan rizki) –Dalam riwayat Tirmidzi, dengan lafal :
ar-Razzâq-. Dan sesungguhnya aku berharap menjumpai Allah dalam
keadaan tiada seorangpun yang menuntut kepadaku (di hadapan Allah)
karena suatu kezaliman yang aku lakukan, baik berkaitan dengan darah
maupun harta. [HSR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah][1] .

Banyak ulama memasukkan kedua nama ini dalam himpunan nama-nama Allah
Azza wa Jalla yang mereka kumpulkan.[2]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga memasukkannya ke dalam
himpunan nama-nama Allah yang beliau kumpulkan dalam kitabnya
al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî Shifâtillâh wa Asmâ’ihi al-Husnâ.

Menurut Abu ath-Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abadiy,
pensyarah Sunan Abu Dawud, juga Mubarakfûriy- pensyarah Jâmi’
at-Tirmidzi, ma’na Al-Qâbidh dan al-Bâsith ialah : Allah Maha
Menyempitkan dan Maha meluaskan rizki serta lainnya bagi siapa yang
dikehendaki, menurut cara yang dikehendaki dan kapanpun Dia
kehendaki.[3]

Karena al-Qâbidh dan al-Bâsith merupakan nama Allah Azza wa Jalla ,
maka sepantasnya setiap muslim mengenalnya dan memahami serta
menghayati ma’nanya. Yaitu bahwa setiap rizki dan setiap kemudahan
dalam hal apa saja, hanya datang dari Allah Azza wa Jalla . Begitu
pula ketika seseorang mengalami kesulitan, krisis rizki dan tidak
mendapatkan seperti yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan
kemudahan, semua itu tidak lain hanya Allah-lah yang menetapkannya.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia
kehendaki. [ar-Ra’d/13:26]

وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan Allah menyempitkan serta melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah
kamu dikembalikan. [al-Baqarah/2:245]

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki
dan menyempitkannya. [al-Isrâ’/17:30]

Dan masih banyak ayat-ayat al-Qur’an lainnya yang menerangkan bahwa
Allah-lah yang melapangkan rizki atau menyempitkannya bagi siapa yang
Dia kehendaki.

Sepantasnya pula, setiap muslim menjaga, menghormati dan berdoa kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyebut atau mengingat nama itu
sesuai dengan tuntutan ma’nanya, baik doa dalam arti memohon maupun
doa dalam arti melakukan peribadatan-peribadatan lain. Sebab doa
memiliki dua pengertian, pertama : memohon dan kedua : melakukan
peribadatan selain memohon, seperti berdiri atau duduk dalam shalat
atau dzikir-dzikir yang tidak bersifat meminta.[4]

Artinya, ketika seseorang memohon agar Allah Azza wa Jalla memberikan
kemudahan dan kelapangan hidup yang baik, bersih dan halal serta
menjauhkannya dari kesulitan rizki, maka tidak ada salahnya kalau ia
menyebut-nyebut nama al-Qâbidh dan al-Bâsith.

Atau ketika menjalani kehidupan, baik dalam keadaan sempit maupun
dalam keadaan lapang, ia selalu tetap konsisten beribadah kepada
Allah, sebab ia selalu ingat bahwa di antara nama Allah l adalah nama
al-Qâbidh dan al-Bâsith. Di saat lapang ia ingat bahwa kelapangan yang
diperolehnya semata karena Allah yang bernama al-Bâsith. Sehingga ia
semakin bersemangat dalam beribadah, semakin bersyukur atas segala
karuniaNya dan semakin bersemangat memohon kelapangan rizki yang
halal. Pada saat yang sama iapun menyadari dan siap jika suatu ketika
Allah menyempitkan rizki baginya karena Allah adalah al-Qâbidh,
sehingga ia tidak kaget.

Maka di saat ia benar-benar dalam keadaan sempit, ia bersabar,
bertawakkal dan banyak memohon pertolongan kepada Allah. Ia tetap
yakin bahwa Allah yang bernama al-Qâbidh dan al-Bâsith, suatu ketika
akan melepaskannya dari kesempitan yang menimpanya dan dengan itu ia
juga mengharapkan pahala dari Allah.

Dan apabila selalu demikian keadaannya, berarti ia telah
merealisasikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terdapat dalam
firmanNya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah Asma-ul Husna (nama-nama yang sangat indah), maka
berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu.
[al-A’râf/7:180]

Berarti ia telah berdoa, dalam arti seluas-luasnya kepada Allah,
meliputi doa permohonan dan doa peribadatan lain, dengan menyebut atau
mengingat nama-nama Allah sesuai dengan tuntutan ma’nanya. Wallahu
A’lam.

Yang tidak kalah pentingnya, tidak mendendangkan Asmâ’ul Husnâ dalam
lagu-lagu dan main-main, apalagi dalam suasana ikhtilâth (campur)
antara laki-laki dan perempuan. Tetapi dengan sungguh-sungguh, khusyu’
dan tawadhu’. Dan tidak harus pula menyebutkan Asmâ’ul husnâ itu
secara keseluruhan sebanyak sembilan puluh sembilan nama secara
berurutan. Sebab tidak ada nash yang shahih yang menyebutkan sembilan
puluh sembilan nama itu secara berurut. Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Tidak benar adanya penentuan
urut-urutan nama-nama Allah ini dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Hadits yang diriwayatkan dari Nabi n tentang penentuan
urut-urutan ini lemah”.[5]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1429H/2008M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud, Maktabah al-Ma’arif – Riyâdh,
II/361, no. 3451, Kitab al-Buyû’, Bab fi at-Tas’îr; Shahîh Sunan
at-Tirmidzi, Maktabah al-Ma’arif – Riyâdh, II/60, no. 1314, Kitab
al-Buyû’, Bab Mâ Jâ’a fi at-Tas’îr, dan Shahîh Sunan Ibnu Majah,
Maktabah al-Ma’ârif – Riyâdh, II/222, no. 1801 – (2230), Kitab
at-Tijârât, Bab Man Kariha an Yusa’ir.
[2]. Seperti yang dinyatakan oleh SyaikhMuhammad bin Khalifah
at-Tamîmi dalam Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah fî Asmâ’i Allah
al-Husnâ. Penerbit: Adhwâ’ as-Salaf – Riyâdh, Cet. I – 1419 H/1999 M.
hal. 143 dan 160.
[3]. Lihat ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abi Dawud, ma’a Ta’lîqât
al-Hâfizh Ibnu al-Qayyim. Takhrîj al-Ahâdîts: ‘Isham ash-Shabâbithiy.
Dâr al-Hadîts, Kairo, VI/308, no. 3448, Kitab al-Buyû’, bab Fi
at-Tas’îr, dan Tuhfah al-Ahwadziy Bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidziy, wa
ma’ahu Syifâ’ul Ghalal fî Syarh Kitab al-‘Ilal, Daar al-Fikr – Beirut,
Libanon – 1424 H/2003 M, IV/448-449, no. 1314, Kitab al-Buyû’, Bab Mâ
Jâ’a fi at-Tas’îr.
[4]. Lihat pengertian ini dalam kitab al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî
Shifâtillah wa Asmâ’ihi al-Husnâ, karya Syaikh Muhammad bn Shâlih
al-Utsaimîn rahimahullah, Tahqîq wa Takhrîj Ahâditsihi: Asyraf bin
Abdul Maqshud bin Abdur Rahîm, Maktabah as-Sunnah – Kairo, cet. I-
1411 H/1990 M, hal. 7 – Muqaddimah al-Mu’allif.
[5]. Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
rahimahullah dalam kitab al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî Shifâtillah wa
Asmâ’ihi al-Husnâ, karya , Tahqîq wa Takhrîj Ahâditsihi: Asyraf bin
Abdul Maqshud bin Abdur Rahîm, Maktabah as-Sunnah – Kairo, cet. I-
1411 H/1990 M, hal. 17 - 18 – Wallahu al-Musta’aan


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke