SYARAH NAMA ALLAH, ASY-SYAKUR
Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra
http://almanhaj.or.id/content/3395/slash/0/syarah-nama-allah-asy-syakr/
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam untuk
nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, yaitu
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Juga, semoga shalawat
dan salam terlimpahkan kepada keuarga dan para sahabatnya, serta
orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai
hari kiamat.
Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan seputar
makna dari nama-nama Allah yang indah lagi mulia. Kemudian kita
mencoba memetik berbagai pelajaran dari nama-nama Allah tersebut.
Di antara nama-nama Allah kita pilih kali ini, yaitu nama Allah,
"asy-Syakûr". Landasannya, ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
... Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. [asy-Syûra/42:23].
Nama Allah yang mulia ini terulang dalam dalam Al-Qur'an sebanyak
empat kali.[1] Secara etimologi, kata Asy-Syakûr, dalam bahasa Arab
berarti:
Kata asy-Syakûr berbentuk mubâlghah (menunjukan kebersangatan). Maka
Allah adalah Dzat Yang Maha Mensyukuri (yang memiliki kesempurnaan
mutlak dalam membalas amal kebaikan). Dan bila dinisbatkan kepada
manusia, maka ia adalah seseorang yang teramat sangat
bersungguh-sungguh dalam mensyukuri Rabbnya dengan ketaatan, dan
melakukan apa yang ditugaskan Rabb tersebut kepadanya dari berbagai
bentuk ibadah.[2] Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi
Nuh Alaihissallam.
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
... Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
[al-Isrâ`/17:3].
Dari ayat di atas, kita dapat melihat bahwa nama asy-Syakûr juga
diberikan Allah kepada makhluk yang paling banyak bersyukur.[3] Lalu,
bagaimanakah perbedaan di antara keduanya?
Oleh karena itu, berikut ini terlebih dahulu perlunya penjelasan untuk
menjawab pertanyaan di atas. Setelah itu, penjabaran secara luas makna
"asy-Syakûr" sebagai salah satu dari nama Allah yang mulia.
PERBEDAAN ANTARA SIFAT ALLAH DENGAN SIFAT MAKHLUK KETIKA SAMA DALAM
PENYEBUTAN NAMA
Asy-Syakûr sebagai salah satu dari nama Allah adalah Dzat Yang Maha
Sempurna dalam membalas amalan hamba-Nya dan menumbuhkembangkan amalan
para hamba meskipun amalan tersebut sedikit, lalu Dia melipatgandakan
pahala bagi mereka. [4]
Walaupun ada kesamaan dari segi lafazh nama antara sifat hamba dengan
sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala , akan tetapi hakikat makna dari
masing-masing nama tersebut sangat jauh berbeda, sebagaimana perbedaan
antara Allah itu sendiri dengan makhluk-Nya. Kesamaan disini hanya
dalam bentuk nama atau lafazh kata saja, dan tidak dalam segi makna
secara keseluruhan. Sebagaimana terdapat dalam sifat-sifat yang
lainnya ada kesamaan dalam bentuk lafazh nama, namun tidak sama dalam
segi hakikat makna secara keseluruhan.
Sebagaimana Allah bersifat hidup (al-Hayyu), maka demikian pula
makhluk juga bersifat hidup, tetapi hidup Allah tidak sama dengan
hidup makhluk. Hidup Allah tidak membutuhkan makan dan minum. Adapun
sifat hidup makhluk membutuhkan makan dan minum serta memiliki
berbagai kekurangan, seperti sakit, capek, letih, haus, lapar dan
seterusnya. Hidup Allah Azza wa Jalla tidak diawali dengan ketiadaan
('adam), dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al-fanâ`). Adapun
hidup makhluk, ia diawali dengan ketiadaan dan diakhiri oleh kematian.
Sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ
يَمُوتُونَ (متفق عليه).
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallamberdoa: "Aku berlindung dengan
keperkasaan Engkau yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Dzat
yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati. [HR
Bukhâri dan Muslim]
Dalam sabda yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru:
(اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ
الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ) رواه مسلم.
Ya, Allah. Engkaulah Yang pertama, tiada sesuatupun sebelum Engkau.
Dan Engkaulah yang terakhir, tiada sesuatupun setelah Engkau. [HR
Muslim].
Hidup Allah sangat sempurna dari segala segi, adapun hidup makhluk
penuh dengan berbagai kekurangan. Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup
Sempurna, sebagaimana Allah menyebutkan dalam firman-Nya:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ
سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha
Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak pernah
ditimpa rasa ngantuk dan tidak pula tidur. [al-Baqarah/2:255].
Demikianlah, kita mengimani seluruh sifat-sifat Allah. Kita tidak
boleh menyerupakan Allah dengan makhluk. Kita juga tidak boleh
mengingkari nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla , yang Dia
tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau, dengan berlandaskan pada
perkataan Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah
yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. [asy-Syûrâ/42:11].
Dalam ayat di atas ditegaskan, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Allah. Sebagian orang memahami ayat tersebut bahwa Allah tidak memilki
sifat-sifat lantaran ada kesamaan dalam penamaan dengan sifat-sifat
makhluk. Anggapan tersebut bertentangan dengan penggalan akhir dari
ayat. Dalam hal ini Allah mengatakan "Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat", sedangkan manusia juga mendengar dan melihat sebagaimana
Allah sebutkan dalan firman-Nya:
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ
فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur, Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), maka
Kami jadikan dia mendengar dan melihat. [al-Insân/76:2].
Dari sini, kita dapat memahami bahwa Allah Azza wa Jalla memilki
sifat-sifat sempurna sekalipun sifat-sifat tersebut terdapat pada
sebahagian mahkluk, namun maknanya tidak sama dengan makna sifat-sifat
Allah. Seandainya yang dimaksud dalam ayat yang lalu menafikan sifat,
tentu konteksnya tidak sebagaimana tersebut di atas. Pasti Allah
langsung menafikan bahwa Dia tidak memiliki sifat. Jadi, yang
dinafikan ialah kesamaan makna sifat, bukan sifatnya; meskipun dalam
penamaan sifat tersebut ada kesamaan dengan sifat makhluk.
Hal ini dapat terima oleh akal, fakta dan agama. Sesuatu yang sama
dalam penyebutan nama, namun kualitas dan kuantitas bisa berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, sanyat banyak nama yang sama namun
berbeda bentuk dan kualitasnya.
Sebagai contoh, manusia memiliki sifat melihat, kucing pun memiliki
sifat melihat. Tetapi penglihatan manusia dengan penglihatan kucing
tidak sama. Manusia tidak bisa melihat pada waktu malam tanpa cahaya.
Adapun kucing bisa berjalan pada malam hari meskipun tanpa cahaya.
Jika sifat sesama makhluk saja tidak sama dalam hakikat kualitas
makna, meskipun sama dalam segi penamaan, yaitu penglihatan. Maka
kepastian perbedaan antara sifat Allah Yang Maha Sempurna dengan sifat
makhluk, tentu jauh lebih pasti, meskipun sama dari segi lafazh nama.
Yang membedakan makna adalah, kemana sifat tersebut disandarkan, maka
sifat tersebut memiliki makna dan bentuk sesuai dengat dzat tempat
disandarkannya (digabungkan). Sehingga jangan dipahami, ketika
menyebut tetang sifat Allah digambarkan seperti sifat makhluk.
Sebagaimana kita tidak memahami tentang telinga gajah seperti telinga
kodok atau telinga manusia, meskipun sama-sama disebut telinga.
Sifat-sifat akan berbeda sesuai dengan dzat masing-masing sifat
tersebut. Bahkan pada dzat yang sama, ternyata sifat yang dimilikinya
bisa berbeda. Seperti sifat pendengaran manusian, tidak sama antara
satu dengan yang lainnya. Ada yang dapat mendengar dengan jarak cukup
jauh, dan sebaliknya ada yang tidak bisa mendengar kecuali dengan alat
bantu. Namanyapun tetap disebut pendengaran. Bahkan sifat bisa
berubah-rubah kualitas dan frekuwensinya pada satu dzat. Misalnya,
pendengaran seseorang ketika berumur lima tahun, tidak sama ketika ia
telah berumur lima puluh tahun.
Demikian halnya dalam mengimani segala sifat-sifat Allah yang terdapat
dalam Al-Qur`ân dan hadits-hadits yang shahîh. Allah Azza wa Jalla
memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagungan dan
kebesaran Allah itu sendiri tidak seperti sifat-sifat makhluk.
Setelah memahami adanya perbedaan antara sifat yang disandarkan kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat yang disandarkan kepada makhluk
meskipun ada kesamaan dalam segi lafazh penamaannya, maka berikut ini
adalah penjelasan makna nama Allah "asy-Syakûr" yang menjadi topik
bahasan kali ini.
PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH "ASY-SYAKÛR"
Jika kita memperhatikan konteks ayat-ayat yang menyebutkan tentang
nama Allah "asy-Syakûr", penyebutannya selalu berada setelah
menyebutkan tentang anjuran untuk melakukan amal-amal shalih dan
balasannya. Oleh karena itu, nama tersebut sangat erat hubungannya
dengan amal shalih dan balasannya.
Untuk lebih jelasnya, kita simak ayat-ayat tersebut pada berikut ini.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ
وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ
تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ
فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dalam bentuk tersembunyi dan
terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah
merugi. Allah akan menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan
menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Mensyukuri. [Fâthir35/:29-30].
Dalam ayat di atas, nama Allah "Asy-Syakûr" disebutkan setelah
menyebutkan tentang balasan bagi orang-orang yang beramal shalih,
seperti membaca Al-Qur`ân, mendirikan shalat dan berinfaq; baik dalam
keadaan tersembunyai maupun secara terang-terangan. Allah Subhanahu wa
Ta’ala memberikan kepada mereka balasan yang sempurna. Bahkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala menambah karunia-Nya kepada mereka sebagai
tambahan atas pahala amalan mereka tersebut. Lalu ayat yang mulia
tersebut ditutup dengan nama Allah "asy-Syakûr". Dari sini, dapat kita
pahami bahwa balasan yang diberikan kepada mereka merupakan aplikasi
dan pembuktian tentang makna dari nama Allah "asy-Syakûr" (Maha
Sempurna dalam membalas budi).
Bentuk-bentuk dari kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
membalas amal shalih yang dikerjakan hamba tergambar dalam berbagai
bentuk.
• Di antara makna "asy-Syakûr", yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala
menerima amalan sedikit yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan tidak
menyia-nyiakannya walau sekecil apapun.
Sebagai bukti bahwa Allah Maha Sempurna dalam membalas amalan
hamba-Nya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah
menyiakan-nyiakan amalan hamba-Nya, walau sekecil apapun amalan
tersebut. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً
يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi (seseorang) walaupun sebesar
dzarrah, dan jika ada satu kebajikan, niscaya Allah akan melipat
gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
[an-Nisâ`/4:40].
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ
... Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan. [Ali
'Imran/3:195].
Dan masih banyak ayat lain yang senada dengan kandungan ayat-ayat di
atas.[5] Oleh sebab itu, kita jangan merasa malu untuk melakukan
amal-amal shalih meski hanya sedikit menurut pandangan manusia.
Demikian pula, tidak boleh meremehkan amalan seseorang walau sedikit,
karena di sisi Allah tetap memiliki nilai sebagai amal shalih yang
mungkin pahalanya bisa berlipat ganda. Sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ
شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ رواه مسلم.
Berkata Abu Dzar Radhiyallahu anhu : berkata kepadaku Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam: "Janganlah engkau meremehkan sedikitpun dari
kebaikan, sekalipun ketika engkau berjumpa saudarmu dengan wajah
berseri". HR Muslim]
Dalam sabda yang lain beliau n menyatakan pula:
عَنْ عَدِي بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ
اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : اتَّقُوا النَّارَ
وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ شِقَّ تَمْرَةٍ فَبِكَلِمَةٍ
طَيِّبَةٍ رواه البخاري ومسلم.
Dari 'Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu , ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Takutlah kamu
dengan api neraka walau (bersedekah) dengan sebelah buah kurma. Jika
kamu tidak mendapati sebelah buah kurma, maka dengan perkataan yang
baik". [HR Bukhâri dan Muslim].
Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah Subhanahu wa Ta’ala
pasti akan memperlihatkan balasan-Nya kepada kita, sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. [al-Zalzalah/99:7].
• Di antara makna "Asy Syakûr" pula, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala
memuji hamba yang taat dan beramal shalih kepada-Nya.
Sebagai bukti atas kesempurnaan Allah dalam membalas amalan para
hamba-Nya, yaitu Allah memuji hamba-hamba yang tunduk dan patuh
kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan kepada makhluk
tentang ibadah dan perjuangan mereka.
Dalam Al-Qur`ân banyak ayat-ayat yang memuji makhluk yang taat dan
tunduk kepada Allah, baik dari golongan para malaikat, jin, maupun
manusia dari para nabi dan rasul serta pengikut-pengikut mereka.
Berikut ini adalah pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para
malaikat. Mereka adalah makhluk yang tidak pernah melanggar perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala . Mereka mengerjakan segala apa yang
diperintahkan kepada mereka:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
... Mereka dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan kepada mereka. [at-Tahrîm/66:6]
بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ
بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
... Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang
dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan
mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. [al-Anbiyâ`/21:26-27].
karuBegitu pula pujian Allah kepada para nabi dan rasul, mereka adalah
orang-orang yang telah diberi petunjuk dan dipilih Allah. Apabila
dibacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, maka mereka tersungkur
bersujud dan menangis. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam
firman-Nya, yang artinya: Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada
mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur`an. Sesungguhnya
ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul
dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk (menegakkan) shalat dan
menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang
tersebut) di dalam Al-Qur`an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang
sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke
martabat yang tinggi. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi
nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari
orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim
dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan
telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah
kepada mereka, maka mereka tersungkur bersujud dan menangis.
[Maryam/:54-58].
Demikian pula pujian Allah terhadap para sahabat, bahwa mereka
bersikap keras tarhadap musuh-musuh Allah, tetapi berkasih sayang
terhadap sesama muslim. Mereka orang-orang yang banyak ruku' dan sujud
dalam mencari nia dan keridhaan Allah, sehingga memberi bekas pada
wajah mereka. Mereka bagaikan pohon yang berdaun rindang, akarnya
menghujam ke bumi dan dahannya menjulang ke langit. Allah menjanjikan
untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan
hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [al-Fath/:29].
• Di antara makna "asy-Syakûr" pula, bahwasanya amalan yang sedikit
akan senantiasa bertambah dan berkembang di sisi Allah.
Di antara bentuk kesempurnaan Allah dalam membalas amal baik dari
makhluk, yaitu senantiasa berkembang dan bertambahnya pahala amalan
tersebut di sisi Allah. Disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam ayat berikut:
وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ
غَفُورٌ شَكُورٌ
Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya
kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri. [asy-Syûrâ/42: 23].
Demikian pula disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ
طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ إِلَّا أَخَذَهَا
الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِي كَفِّ
الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنَ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّي
أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ
رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam: "Tidak seorangpun bersedekah dari yang baik -dan
Allah tidak menerima kecuali yang bailk- melainkan Allah ambil dengan
tangan kanan-Nya, sekalipun sebiji kurma, maka ia akan semakin
membesar di tangan Allah. Sehingga ia akan menjadi lebih besar dari
gunung, sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kuda atau
anak onta. [HR Muslim].
• Begitu juga di antara makana "asy-Syakûr", yaitu Allah memberi
balasan pahala terhadap sebuah amalan dengan pahala yang berlipat
ganda, sampai tujuh ratus kali lipat dan bahkan berkali-kali lipat
lagi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah
melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah
Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. [at-Taghâbun/64:17].
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
أَضْعَافًا كَثِيرَةً
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan
(pahala) kepadanya dengan lipat ganda yang banyak….
[al-Baqarah/2:245].
Hal ini juga disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam sabdanya:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله
عليه وسلم فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ قَالَ إِنَّ
اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ
فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ
عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا
كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ
ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ
متفق عليه.
Ibnu 'Abbas Radhiyallahu nnhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallamtentang apa yang diriwayatkan Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallamdari Robbnya: "Sesungguhnya Allah telah menulis
segala kebaikan dan kejelekan. Kemudian Allah menjelaskan yang
demikian. Barang siapa yang berencana melakukan sebuah kebaikan lalu
ia tidak melakukannya, maka Allah telah menuliskan baginya satu
kebaikan di sisi Allah. Jika ia berencana melakukan sebuah kebaika
lalu dikerjakannya, maka Allah menuliskan di sisi-Nya untuk orang
tersebut sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, hingga
berkali-kali lipat yang banyak". [HR Bukhâri dan Muslim].
• Demikian pula di antara makna "asy-Syakûr", yaitu Allah Subhanahu wa
Ta’ala menambah pahala secara berlipat-lipat tersebut dengan karunia
yang berlipat ganda pula.
Allah Yang Maha Mesyukuri perbuatan amal shalih hamba yang sedikit
dengan balasan berlipat-lipat. Amalan yang dilakukan beberapa hari
saja ketika di dunia dibalas oleh Allah Azza wa Jalla dengan
kenikmatan yang kekal abadi, yaitu surga dengan segala nikmat yang
terdapat di dalamnya. Jika kita bandingkan nikmat yang diberikan Allah
kepada kita dengan amal shalih yang kita lakukan, tentu tidak ada
perbandingannya sama sekali. Bahkan amal shalih itu sendiri dapat kita
lakukan juga karena berkat rahmat Allah. Semua alat dan fasilitas yang
kita gunakan adalah milik Allah.
Karena itulah para penghuni surga memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala
ketika mereka menikmati balasan amalan mereka serta karunia yang
diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana terdapat
dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ
ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَقَالُوا الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ
شَكُورٌ
(Bagi mereka) surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka
diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara,
dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata:
"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.
Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha
Mensyukuri". [al-Fâthir/35:33-34].
Bahkan nikmat yang terdapat dalam surga tersebut senantiasa bertambah
setiap saat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi
Kami ada tambahannya. [Qâf/50:35].
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya .... [Yunus/10:26].
Maka nikmat yang mereka terima ketika di surga tersebut, jika
dibandingkan dengan amalan mereka, sungguh tidak ada bandingannya sama
sekali. Jangankan untuk membeli surga dengan amalan mereka. Fasilitas
dan rizki yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai sarana
beramal kepada Allah, semua itu tidak akan pernah bisa ditebus dengan
amalan mereka. Maka surga semata-mata karunia Allah Azza wa Jalla
kepada para hamba-Nya. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ
أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ
وَرَحْمَةٍ (متفق عليه)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ia mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Seseorang tidak
akan masuk surga karena amalannya (semata)". Sahabat bertanya:
"Termasuk engkau, ya Rasulullah?" Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam
menjawab: "Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepadaku". [HR Bukhâri dan Muslim].
Jadi, surga tidak dapat dibeli atau tukar dengan amalan kita, tetapi
surga semata rahmat dan karunia dari Allah kepada orang-orang beramal
sholeh. Kita mendapat rahmat karena kita mau beramal sholeh. Jika
tidak, maka kita termasuk orang yang tidak berhak mendapat rahmat
Allah.
• Makna nama Allah "asy-Syakûr" menunjukkan kesempurnaan yang mutlak
bagi Allah dalam membalas amal shalih para hamba-Nya.
Hal tersebut menjadi semakin jelas, ketika nama "asy-Syakûr"
berpaparan dalam satu ayat dengan nama-nama Allah yang lain. Seperti
nama Allah "asy-Syakûr" bergandengan dalam satu ayat dengan nama Allah
"al-Ghafûr". Sebagaimana dalam firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.... [asy-Syûrâ/42:23].
Hal ini terdapat dalam tiga tempat dalam Al-Qur`an, yang lainnya dalam
surat Faathir/ ayat 30 dan 34. Dan pada kali yang lain, nama Allah
"asy-Syakûr" bergandengan dalam satu ayat dengan nama Allah
"al-Halîm". Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah
melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah
Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. [at-Taghâbun/64:17].
Para ulama menjelaskan penggandengan kedua nama tersebut memiliki
hubungan makna dari kedua nama yang bergandengan tersebut. Dalam hal
ini, makna tersebut tidak diperoleh saat nama-nama itu disebutkan
secara tersendiri. Maka di antara penjabaran makna "asy-Syakûr" ketika
berdampingan dengan nama Allah "al-Ghafûr", bahwasanya di antara
bentuk balasan amal shalih ialah pengampunan terhadap dosa-dosa dan
kesalahan pelakunya. Sehingga amal baik akan menghapus amalan jelek.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
... Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. [Hûd/11:114].
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebajikan. [al-Furqân/25:70].
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ
سَيِّئَاتِكُمْ
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang
kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil)… . [an-Nisâ`/4:31].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ
وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي وقال: "حديث حسن صحيح)
Berkata Abu Dzar Radhiyallahu anhu : Telah bersabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Bertakwalah kepada Allah dimanpun kamu
berada dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya ia
akan menghapus (dosa) perbuatan jelek tersebut, serta pergaulilah
manusia dengan akhlak yang baik". [HR Tirmidzi, dan ia berkata:
"Hadits ini hasan shahîh"].
BEBERAPA PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI NAMA ALLAH "ASY-SYAKÛR"
Berikut ini beberapa faidah atau pelajaran yang bisa diambil dari
makna nama Allah "asy-Syakûr". Dan inilah tujuan sesungguhnya bagi
seorang muslim dalam mengetahui nama-nama Allah tersebut. Pengetahuan
dan pemahaman tersebut memberikan bekas dan pengaruh kepada iman dan
ibadah serta akhlak dalam kehidupannya sehari-hari.
Dengan memahami makna nama Allah "asy-Syakûr" akan menumbuhkan
sifat-sifat yang mulia dalam diri seorang muslim, di antaranya:
1. Mewajibkan kita agar menyerahkan segala bentuk ibadah semata-mata
hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , jika kita mengharapkan
balasan yang berlipat ganda dari Allah. Adapun ibadah kepada selain
Allah, baik kepada para malaikat, para nabi dan wali; merekapun
mengharapkan pahala dari Allah. Jadi, sedikitpun tidak sepantasnya
kita memberikan ibadah kepada mereka. Mereka tidak memiliki kemampuan
sedikitpun untuk memberi balasan pahala kepada sesama makhluk. Ibadah
dan perbuatan baik yang akan diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala hanyalah ibadah yang semamta-mata ditujukan kepada Allah saja,
serta ibadah yang tidak dicampuri sedikitpun oleh noda-noda
kesyirikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya
: Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu. "Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Qs.
az-Zumar/39:65).
Sebagaimana juga dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ
عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: "Allah berkata: 'Aku, sedikitpun tidak
membutuhkan kepada sekutu. Barang siapa yang beramal mempersekutukan
Aku di dalamnya dengan selain-Ku, (maka) Aku tinggalkan dia dan
kesyirikannya". [HR Muslim].
2. Memotivasi kita agar semangat dalam berbuat baik, sekalipun menurut
pandangan manusia kebaikan itu hanya sedikit. Karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala akan menerima amal baik walau hanya sebesar biji dzarrah
sekalipun. Jika amal sedikit tetap mendapat pahala, tentu amalan yang
besar akan semakin besar pula pahalanya. Balasan amal baik yang
diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala amat beragam bentuknya,
sebagaimana telah kita simak dalam penjelasan makna nama Allah
"asy-Syakûr". Banyak amalan yang ringan, tetapi memiliki nilai yang
berat di sisi Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى
اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
متفق عليه.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: "Dua kalimat amat ringan diucapkan, amat
berat dalam timbangan, amat dicintai oleh Allah, yaitu
'Subhânallahil-'Azhîm, Subhânallahi wa bi-Hamdih". [HR Bukhâri dan
Muslim].
3. Menumbuhkan rasa syukur yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala atas segala limpahan rahmat-Nya yang tidak terhingga. Syukur
seorang hamba terdiri atas tiga hal, dan ia belum bersyukur secara
sempurna kecuali dengan ketiga hal itu. Pertama, pengakuan bahwa
seluruh nikmat datang dari Allah semata. Kedua, memuji Allah atas
segala nikmat yang diberikan-Nya. Ketiga, memanfaatkan kenikmatan itu
untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Demikian juga,
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah nikmat-nikmat yang lain serta
menjaga nikmat yang telah diberikan kepada kita bila senantiasa
bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
mencabut berbagai nikmat yang kita terima, jika kita kufur terhadap
nikmat-nikmat Allah. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan ingatlah ketika Rabbmu memberitahukan: "Jika kamu besyukur,
sungguh Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan tetapi jika kamu
mengkufuri (nikmat tersebut) sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. [
Ibrâhîm/14:7].
4. Menumbuhkan sifat hormat dan taat kepada orang tua, karena hal
tersebut termasuk dalam bentuk syukur kepada Allah. Sebagaimana Allah
memerintahkan dalam firman-Nya:...
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
…Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. [Lukman/31:14].
Dalam beberapa ayat Al-Qur`ân, perintah berbuat baik kepada kedua
orang tua selalu dinyatakan setelah hak Allah. Ini menunjukkan betapa
besar hak orang tua atas anak-anak mereka. Orang yang tidak berterima
kasih kepada kedua orang tuanya, seakan-akan ia belum bersyukur kepada
Allah. Betapa besar jasa orang tua, jika kita merenungkan sejenak
tentang pengorbanan dan kesusahan mereka dalam mendidik anak-anaknya.
Jalan terbaik untuk membalas jasa mereka, ialah menjadi anak yang
shalih, dan senantiasa mendoakan mereka.
5. Menumbuhkan sikap suka berterima kasih dan membalas budi dalam diri
kita kepada orang yang berbuat kebaikan kepada kita, sekalipun hanya
berupa doa. Hal tersebut termasuk dalam bentuk syukur kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ " لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ
يَشْكُرُ النَّاسَ ".
رواه أبو داود والترمذي. وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. وقال الشيخ
الألباني : صحيح
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwasanya Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang
tidak berterima kasih kepada manusia". [HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Dan
Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahîh". Juga dishahîhkan oleh
Syaikh al-Albâni].
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا
فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَ بِهِ فَادْعُوا لَهُ
حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ رواه أبو داود والنسائي.
وقال الشيخ الألباني : صحيح
Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma , bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang berbuat
baik kepadamu, maka hendaklah kamu membalasnya. Jika kamu tidak
mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia, sampai kamu
melihat bahwa kamu sudah membalasnya". [HR Abu Dawud dan Nasâ`i,
dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni]
Demikianlah, pembahasan tentang nama Allah "asy-Syakûr". Semoga Allah
menjadikan kita sebagai orang-orang yang senang bersyukur, berbuat
baik kepada kedua orang tua, dan terbiasa berterima kasih dan membalas
budi kepada orang yang berbuat baik kepada kita. Wallahu a'lam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429H/2008M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Qs. Fâthir" ayat 30 dan 34, dan at-Taghâbun ayat 17.
[2]. Lisanul-'Arab, 4/424, 425.
[3]. Hal ini terdapat dalam banyak ayat. Lihat Qs. Ibrâhîm ayat 5,
Lukman ayat 31, Saba` ayat 19, dan lain-lain.
[4]. An-Nihayah fi Gharîbil-Hadits (2/493) dan 'Uddatush-Shâbirîn (240).
[5]. Lihat Qs. Ali 'Imrân/3 ayat 171, at-Taubah/9 ayat 120, dan lain-lain.
------------------------------------
Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/