> From: [email protected]
> Date: Mon, 8 Oct 2012 06:24:57 +0000 
> Bismillah,
> Afwan, mohon pencerahan ikhwah sekalian, bukankah pajak itu adalah maksiat 
> kepada Alloh?
> Jazakumulloh khoiron
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
 
HUKUM PAJAK DAN PEMUNGUTNYA MENURUT ISLAM
Dalam Islam telah dijelaskan keharaman pajak dengan dalil-dalil yang jelas, 
baik secara umum atau khusus masalah pajak itu sendiri.

Adapun dalil secara umum, semisal firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ 
بِالْبَاطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu 
dengan cara yang batil….”[An-NIsa : 29]

Dalam ayat diatas Allah melarang hamba-Nya saling memakan harta sesamanya 
dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang 
batil untuk memakan harta sesamanya

Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
bersabda.

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” [6]
.... dst

BAGAIMANA SIKAP KAUM MUSLIMIN TERHADAP PAJAK?
Setelah jelas bahwa pajak merupakan salah satu bentuk kezhaliman yang nyata, 
timbul pertanyaan : “Apakah seorang muslim menolak dan menghindar dari praktek 
pajak yang sedang berjalan atau sebaliknya?”

Jawabnya.
Setiap muslim wajib mentaati pemimpinnya selama pemimpin itu masih dalam 
kategori muslim dan selama pemimpinnya tidak memerintahkan suatu kemaksiatan. 
Memang, pajak termasuk kezhaliman yang nyata. Akan tetapi, kezhaliman yang 
dilakukan pemipimpin tidak membuat ketaatan rakyat kepadanya gugur/batal, 
bahkan setiap muslim tetap harus taat kepada pemimpinnya yang muslim, selama 
perintahnya bukan kepada kemaksiatan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya 
Radhiyallahu ‘anhum bahwa akan datang di akhir zaman para pemimpin yang zhalim. 
Kemudian beliau ditanya tentang sikap kaum muslimin : “Bolehkah 
melawan/memberontak?”. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab ; 
“Tidak boleh! Selagi mereka masih menjalankan shalat” [15]

Bahkan kezhaliman pemimpin terhadap rakyatnya dalam masalah harta telah 
dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana seharusnya rakyat 
menyikapinya. Dalam sebuah hadits yang shahih, setelah berwasiat kepada kaum 
muslimin agar selalu taat kepada Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam berpesan kepada kaum muslimin supaya selalu mendengar dan mentaati 
pemimpin walaupun seandainya pemimpin itu seorang hamba sahaya (selagi dia 
muslim). [16]

Dijelaskan lagi dalam satu hadits yang panjang, setelah Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam menjelaskan akan datangnya pemimin yang zahlim yang berhati 
setan dan berbadan manusia, Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu bertanya 
tentang sikap manusia ketika menjumpai pemimpin seperti ini. Lalu Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab.

اِسْمَعْ وَأطِعْ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ ؤَأَخَذَ مَالَكَ

“Dengarlah dan patuhlah (pemimpinmu)! Walaupun dia memukul punggungmu dan 
mengambil (paksa) hartamu” [HR Muslim kitab Al-Imarah : 1847]

Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah memberi alasan yang sangat 
tepat dalam masalah ini. Beliau mengatakan : “Melawan pemimpin pada saat itu 
lebih jelek akibatnya daripada sekedar sabar atas kezhaliman mereka. Bersabar 
atas kezhaliman mereka (memukul dan mengambil harta kita) memang suatu 
madharat, tetapi melawan mereka jelas lebih besar madharatnya, seperti akan 
berakibat terpecahnya persatuan kaum muslimin, dan memudahkan kaum kafir 
menguasai kaum muslimin (yang sedang berpecah dan tidak bersatu) [17]
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2437/slash/0/pajak-dalam-islam/
 
Wallahu Ta'ala A'lam                                      

Kirim email ke