AL-GHANIY (MAHA KAYA)

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
http://almanhaj.or.id/content/3396/slash/0/al-ghaniy-maha-kaya/

Al-Ghaniy merupakan salah satu nama Allah Azza wa Jalla yang sangat
indah. Keindahannya terletak pada nama dan makna-Nya. Nama ini,
sebagaimana nama-nama Allah Azza wa Jalla lainnya, juga menunjukkan
sifat kesempurnaan bagi Allah Azza wa Jalla , yaitu Kesempurnaan yang
tidak mengandung unsur kelemahan sedikitpun ditinjau dari semua
sudutnya.

Para ulama yang menghimpun nama-nama Allah Azza wa Jalla ,
mencantumkan nama ini di dalam kitab mereka.[1]

Imam al-Baihaqi (wafat th.458 H) memasukkannya ke dalam bab nama-nama
Allah Azza wa Jalla yang penekanannya meniadakan penyerupaan antara
Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya.[2] . Sebagai dalil bahwa
al-Ghaniy merupakan nama Allah Azza wa Jalla . beliau membawakan
firman Allah Azza wa Jalla :

وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang
membutuhkan(Nya). [Muhammad/ 47:38].

Selanjutnya, beliau rahimahullah membawakan perkataan al-Hulaimi
tentang makna nama al-Ghaniy, yaitu: Bahwa Allah Azza wa Jalla Maha
sempurna dengan apa yang Dia miliki dan apa yang ada disisi-Nya,
Sehingga Dia tidak butuh kepada selain-Nya. Sifat tidak membutuhkan
inilah yang menjadi sifat Allah Azza wa Jalla , dan sifat membutuhkan
adalah sifat kekurangan. Seseorang yang membutuhkan adalah seseorang
yang memerlukan apa yang dibutuhkannya hingga dapat ia capai dan ia
raih.

Sementara itu, pihak yang dibutuhkan pasti memiliki kelebihan
dibandingkan pihak yang membutuhkan. Jadi, segala sifat kurang tidak
pernah ada pada Allah Azza wa Jalla dzat Yang Maha Qadîm (Maha
terdahulu). Sifat lemah tidak pernah ada pada-Nya, dan tidak ada
siapapun yang dapat melebihi Allah Azza wa Jalla . Segala sesuatu
selain Allah Azza wa Jalla adalah makhluk yang diciptakan dan diadakan
oleh-Nya, mereka tidak memiliki kewenangan apapun atas dirinya,
kecuali menurut apa yang dikehendaki dan diatur oleh Allah Azza wa
Jalla . Oleh karena itu, tidak boleh dibayangkan bahwa selain Allah
Azza wa Jalla masih ada yang berpeluang memiliki kelebihan atas Allah
Azza wa Jalla.[3]

Di tempat lain, Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam menafsirkan ayat
di atas mengatakan: “Allah Azza wa Jalla Maha Kaya artinya, Allah Azza
wa Jalla tidak membutuhkan harta benda kalian”.[4]

Imam at-Thabari juga menyatakan tafsir yang senada dalam Kitab Tafsirnya.[5]

Di samping ayat di atas, Allah Azza wa Jalla juga berfirman :

وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla benar-benar Maha Kaya lagi Maha
Terpuji. [al-Hajj/ 22:64]

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan: " Maka Allah Azza wa Jalla
tidak membutuhkan sesuatupun dan Dia Azza wa Jalla Maha terpuji dalam
segala keadaan-Nya.[6]

Pada ayat yang lain Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Maha Kaya yang mempunyai sifat kasih sayang. [al-An’âm/ 6:133]

Imam al-Alûsi al-Baghdadi (wafat th.1270 H) menjelaskan: Arti ayat
tesebut ialah, tidak ada satupun yang kaya dalam segala sesuatu
kecuali Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla tidak membutuhkan
hamba-Nya dan tidak membutuhkan pula untuk ibadah hamba-Nya.[7]

Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Syaukani rahimahullah. Beliau
rahimahullah mengatakan: Arti ayat tersebut adalah, Allah Azza wa
Jalla Maha kaya terhadap makhluk-Nya. Dia tidak membutuhkan mereka dan
tidak pula membutuhkan ibadah mereka. Iman mereka tidak memberi
manfaat apapun kepada Allah Azza wa Jalla dan kekafiran mereka juga
tidak mendatangkan madharat apapun kepada-Nya.[8]

Ini senada dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits qudsi, bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَاعِبَادِي! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ
تَبْلُغُوْا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي. يَاعِبَادِي! لَوْ أَنَّ
أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوْا عَلَى
أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِي
شَيْئًا. يَاعِبَادِي! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ، كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِقَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ،
مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا. رواه مسلم

Artinya : " Wahai para hambaKu! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu
mencapai tingkat yang dapat membahayakanKu, dan tidak pula akan mampu
mencapai tingkat yang dapat memberi manfaat kepadaKu. Wahai para
hambaKu! Sesungguhnya jika makhluk pertama hingga makhluk terakhir
dari kalian, baik jin maupun manusia, semuanya menjadi satu hati yang
paling bertakwa di antara kalian, tidaklah yang demikian itu akan
menambahkan kekuasaanKu sedikitpun. Wahai para hambaKu! Sesungguhnya
jika makhluk pertama hingga makhluk terakhir dari kalian, baik jin
maupun manusia, semuanya menjadi satu hati yang paling jahat di antara
kalian, tidaklah yang demikian itu akan mengurangi kekuasaanKu
sedikitpun". [Hadits Qudsi Shahîh Riwayat Imam Muslim][9]

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat th. 795 H) menjelaskan
hadits Qudsi di atas sebagai berikut: [10]

Allah Azza wa Jalla :

يَاعِبَادِي! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ
تَبْلُغُوْا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي

Artinya : " Wahai para hambaKu! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu
mencapai tingkat yang dapat membahayakanKu, dan tidak pula akan mampu
mencapai tingkat yang dapat memberi manfaat kepadaKu.

Maknanya, para hamba Allah Azza wa Jalla tidak akan mampu menimpakan
madharat kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak akan mampu memberikan
manfaat kepada-Nya, sebab Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Ghaniy
(Maha kaya) dan Maha terpuji. Dia tidak membutuhkan ketaatan-ketaatan
para hamba-Nya. Ketaatan para hamba tidak bermanfaat bagi Allah Azza
wa Jalla , tetapi merekalah yang mengambil manfaat dengan ketaatannya
kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu pula, Allah tidak mengalami bahaya
apapun jika mereka durhaka kepada-Nya, tetapi merekalah yang akan
mengalami bahaya jika mereka durhaka kepada Allah Azza wa Jalla .
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَنْ
يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir;
sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada
Allah Azza wa Jalla sedikitpun. [Ali-Imrân/ 3:176]

Kemudian firman Allah Azza wa Jalla dalam hadits Qudsi di atas:

يَاعِبَادِي! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَجِنَّكُمْ، كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ،
مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِي شَيْئًا. يَاعِبَادِي! لَوْ أَنَّ
أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوْا عَلَى
أَفْجَرِقَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي
شَيْئًا

Wahai para hambaKu! Sesungguhnya jika makhluk pertama hingga makhluk
terakhir dari kalian, baik jin maupun manusia, semuanya menjadi satu
hati yang paling bertakwa di antara kalian, yang demikian itu tidaklah
menambahkan kekuasaanKu sedikitpun. Wahai para hambaKu! Sesungguhnya,
jika makhluk pertama hingga makhluk terakhir dari kalian, baik jin
maupun manusia, semuanya menjadi satu hati yang paling jahat di antara
kalian, tidaklah yang demikian itu akan mengurangi kekuasaanKu
sedikitpun.

Hadits ini merupakan isyarat bahwa kekuasaan Allah Azza wa Jalla tidak
akan bertambah dengan ketaatan para hamba-Nya, meskipun semua
berkumpul menjadi orang bertakwa.. Demikian pula, kekuasaan Allah Azza
wa Jalla akan berkurang dengan kedurhakaan para hamba-Nya meskipun
mereka semua, baik jin maupun manusia, menjadi satu untuk durhaka
kepada Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
adalah Dzat Yang Ghaniy (Maha Kaya), tidak membutuhkan apapun kepada
selain-Nya. Dia memiliki kesempurnaan yang mutlak, baik Dzat, sifat
maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Kekuasaan Allah Azza wa Jalla adalah
kekuasaan sempurna yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun, dalam
semua seginya. (Sampai di sini perkataan Ibn Rajab secara ringkas dan
bebas).

Kemudian terkait dengan perintah Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah Azza wa Jalla lah Asmâ-ul Husnâ (nama-nama yang
sangat indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut/mengingat
Asmâ-ul Husnâ itu. [al-A’râf/ 7:180]

Maka, berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dengan menyebut atau mengingat
nama al-Ghaniyu meliputi dua bentuk :

Pertama : Jika yang dimaksud berdoa adalah memohon, misalnya, ketika
seseorang hendak memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar
kebutuhan-kebutuhan moral maupun materinya dipenuhi, hendaknya ia
terlebih dahulu menyebut nama al-Ghaniy.

Kedua : Jika yang dimaksud berdoa adalah beribadah secara umum, maka
hendaknya seseorang melakukan peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla
dengan penuh kesadaran, penuh semangat, penuh rasa harap, dan dengan
cara yang benar, mengingat Allah Azza wa Jalla adalah al-Ghaniy, Rabb
yang Maha Kaya. Manusia sangat butuh beribadah kepada Allah Azza wa
Jalla agar mendapatkan kasih sayang serta ridha-Nya, sedangkan Allah
Azza wa Jalla Maha Kaya, tidak membutuhkan segala ibadah manusia.

Begitulah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-‘Utsaimin rahimahullah, bahwa berdoa kepada Allah Azza wa Jalla
meliputi dua pengertian, yaitu berdoa dalam arti memohon dan berdoa
dalam arti beribadah secara umum.[11]

Sebagai penutup, ada beberapa faidah yang secara garis besar dapat
diambil dari pengenalan terhadap nama Allah Azza wa Jalla ; al-Ghaniy.
Diantaranya:

1. Akan menjadikan seseorang semakin bergantung dan bertawakkal kepada
Allah Azza wa Jalla , sebab ia meyakini Allah Azza wa Jalla Maha Kaya.
Hal ini akan menjadikannya selalu tenteram dalam menjalani kehidupan.

2. Akan membentuknya menjadi penuh harap kepada Allah Azza wa Jalla .

3. Akan menjadikan orang bersikap tawâdhu' (rendah hati), tidak pernah
sombong apalagi terhadap Allah Azza wa Jalla , karena ia ingat bahwa
Allah Azza wa Jalla Maha Kaya, Maha tidak membutuhkan dirinya dan
tidak membutuhkan ibadah serta ketaatannya.

4. Akan menjadikan orang tersebut selalu bersyukur kepada Allah Azza
wa Jalla, karena Dia-lah yang mencukupi segala kebutuhannya.

5. Akan menjauhkan seseorang dari memohon kepada selain Allah Azza wa
Jalla, karena mereka tidak akan mungkin mampu memenuhi segala
kebutuhannya. Hanya Allah Azza wa Jalla , al-Ghaniy, yang Maha Kaya
dan memenuhi segala kebutuhannya.

Demikianlah, maka hendaknya kaum Muslimin berusaha lebih mengenal,
memahami, menghayati dan menjalankan konsekuensi dari nama al-Ghaniy
ini. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Kaya dan tidak membutuhkan
apapun. Allâhu Akbar Wa Lillâhi al-Hamdu. Wallâhu a'lam.

Marâji'
1. Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq : Khalil Ma’mun Syîha, Dâr
al-Ma’rifah, Beirut, cet. III, 1417 H/1996 M.
2. Al-Asmâ’ was Shifât, karya Imam al-Baihaqiy, tahqîq : Abdullah bin
‘Âmir, Dâr al-Hadîts, Kairo, 1426 H/2005 M.
3. Tafsir al-Qurthbi, yaitu al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr al-Kitâb
al-‘Arabi, Beirut- Libanon, tahqîq : Abdur Razzâq al-Mahdi, cet. II –
1420 H/1999 M.
4. Jâmi’ al-Bayân ‘An Ta’wîl Âyi al-Qur’ân, Dhabth wa ta’lîq: Mahmud
Syakir. Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Beirut – Libanon, cet. I – 1421
H/2001 M.
5. Rûh al-Ma’âni Fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa as-Sab’i al-Matsâni,
karya Imam al-Alusi al-Baghdâdi, tahqiiq : Muhammad Ahmad al-Amad &
Umar Abdus Salam as-Salâmi, Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Beirut,
Libanon, cet. I dari terbitan terbaru th. 1420 H/2000 M
6. Fathu al-Qadîr, karya Imam asy-Syaukani
7. Îqâzh al-Himam al-Muntaqâ min Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam oleh
al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali, karya Syaikh Abu Usâmah Sâlim bin ‘Îd
al-Hilâliy, Dâr Ibnu al-Jauzi, cet. VII, Muharam 1425 H.
8. Al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî Shifâtillah wa Asmâ’ihi al-Husnâ, karya
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin, tahqîq : Asyraf bin Abdul
Maqshûd bin Abdur Rahîm, Maktabah as-Sunnah- Kairo, cet. I, 1411
H/1990 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Mu’taqâd Ahli Sunnah wal Jama’âh Fî Asmâ'illâh al-Husna,
Dr.Muh. Khalîfah at Tamîmi, Penerbit Adhwâ' as-Salaf, Riyâdh, cet. I
th 1419 H/1999 M hal. 159.
[2]. Lihat Al-Asmâ’ was Shifât, karya Imam al-Baihaqi, tahqîq :
Abdullâh bin ‘Âmir, Dâr al-Hadîts, Kairo, th 1426 H/2005 M. Hal. 45-50
[3]. Lihat Al-Asmâ’ was Shifât hal. 49-50
[4]. Lihat Tafsir al-Qurthubi, yaitu al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr
al-Kitâb al-‘Arabi, Beirut- Libanon, tahqîq : Abdur Razzaq al-Mahdi,
cet. II – 1420 H/1999 M. Juz 16 hal. 219
[5]. Lihat Jâmi’ al-Bayân ‘An Ta’wîl al-Qur’ân, Dhabth wa ta’lîq:
Mahmûd Syâkir. Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Beirut – Libanon, cet.
I–1421 H/2001M. Juz 26, hal 77.
[6]. Lihat Tafsîr al-Qurthbiy, Juz 12, hal. 86
[7]. Rûh al-Ma’âni Fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa as-Sab’i
al-Matsâni, karya Imam al-Alusi al-Baghdadi, tahqîq : Muhammad Ahmad
al-Amad & Umar Abdus Salâm as-Salâmi, Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabî,
Beirut, Libanon, cet. I terbitan terbaru th. 1420 H/2000 M, Juz 8,
hal. 380
[8]. Lihat Fathu al-Qadîr, karya Imam asy-Syaukani, ayat 133 dari Surah al-An’âm
[9]. Lihat Shahîh Muslim Syarh Nawawi, tahqîq : Khalil Ma’mûn Syîha,
Dâr al-Ma’rifah, Beirut, cet. III, 1417 H/1996 M. Juz XVI/348 – Kitab
al-Birr wash Shilah, Bab 15, no. 6517.
[10]. Lihat Îqazh al-Himam al-Muntaqâ min Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam,
oleh al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali, karya Syaikh Abû Usâmah Salîm
bin ‘Îd al-Hilâli, Dâr Ibnu al-Jauzi, cet. VII, Muharam 1425 H, hadits
ke 24, hal. 345 dan 347-348, dinukil secara bebas dan ringkas.
[11]. Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin
rahimahullah pada al-Qawâ’id al-Mutslâ Fî Shifâtillâh wa Asmâ’ihi
al-Husnâ, tentang Makna berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan tentang
cara menyebut atau mengingat nama-nama Allah Azza wa Jalla ketika
berdoa kepada-Nya, hal. 7; halaman muqadimah


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke