AL-'AFUW, MAHA PEMAAF

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA
http://almanhaj.or.id/content/3397/slash/0/al-afuw-maha-pemaaf/

MAKNA AL-‘AFUW SECARA BAHASA
Ibnu Fâris rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini
menunjukkan dua makna, salah satunya adalah meninggalkan sesuatu.[1]

Ibnul Atsîr rahimahullah berkata: "Nama Allah "al-'Afuw" adalah wazan
fa'ûl dari kata al-'afwu (memaafkan) yang berarti memaafkan perbuatan
dosa dan tidak menghukumnya, asal maknanya: menghapus dan
menghilangkan.[2]

Al-Fairuz Abadi rahimahullah berkata: "al-'Afwu adalah permaafan dan
pengampunan Allah k atas (dosa-dosa) makhluk-Nya, serta tidak
memberikan siksaan kepada orang yang pantas (mendapatkannya).[3]

PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH AL-‘AFUW
Al-'Afuw adalah zat yang maha menghapuskan dosa-dosa dan memaafkan
perbuatan-perbuatan maksiat.[4]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah ketika menafsirkan firman
Allah Azza wa Jalla :

إنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun [al-Hajj/22:60]

Beliau berkata: "Artinya: Dia maha memaafkan orang-orang yang berbuat
dosa dengan tidak menyegerakan sikasaan bagi mereka, serta mengampuni
dosa-dosa mereka. Maka Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan
bekas-bekasnya dari diri mereka. Inilah sifat Allah Azza wa Jalla yang
tetap dan terus ada pada zat-Nya (yang Maha Mulia), dan inilah
perlakuan-Nya kepada hamba-hamba-Nya di setiap waktu, (yaitu) dengan
permaafan dan pengampunan…"[5] .

Makna inilah yang dimaksud dalam doa yang diajarkan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dibaca pada malam lailatul qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan
(hamba-Mu), maka maafkanlah aku [6].[7]

Dalam beberapa ayat al-Qur'ân Allah Azza wa Jalla menggandengkan nama
ini dengan nama-Nya yang lain yaitu "al-Ghafûr" (Maha Pengampun),
seperti dalam ayat di atas, demikian pula dalam surat an-Nisâ':43 dan
99. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكَانَ الله ُعَفُوًّا غَفُوْرًا

Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun [an-Nisâ'/4:99]

Kedua nama Allah Azza wa Jalla yang Maha Indah ini memang memiliki
makna yang hampir sama, meskipun nama Allah 'al-Afuw memiliki makna
yang lebih mendalam. Karena "pengampunan" mengisyaratkan arti as-sitru
(menutupi), sedangkan "pemaafan" mengisyaratkan arti al-mahwu
(menghapuskan) yang artinya lebih mendalam dalam penghapusan dosa.
Meskipun demikian, kedua nama Allah Azza wa Jalla ini jika disebutkan
sendirian maknanya mencakup keseluruhan arti tersebut.[8]

Sifat "memaafkan" dan "mengampuni" ini adalah sifat-sifat yang tetap
dan terus-menerus ada pada zat Allah yang Maha Mulia. Dan pengaruh
baik sifat-sifat ini senantiasa meliputi semua makhluk-Nya di siang
dan malam hari. Karena sifat "memaafkan" dan "mengampuni" (yang
dimiliki)-Nya meliputi semua makhluk, dosa dan perbuatan maksiat.

Padahal, mestinya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia
menjadikan mereka ditimpa berbagai macam siksaan, akan tetapi pemaafan
dan pengampunan-Nya menghalangi turunnya siksaan tersebut. Allah Azza
wa Jalla berfirman:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ
ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa)
mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi
suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan
(penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang
ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan)
hamba-hamba-Nya. [Fâthir/35:45]

Inilah kesempurnaan permaafan-Nya dan kalau bukan karena itu niscaya
Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang
melatapun.[9]

Senada dengan ayat di atas, dalam sebuah hadits yang shahîh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada satupun yang lebih
bersabar menghadapi gangguan (celaan) yang didengarnya melebihi Allah
Azza wa Jalla , sungguh orang-orang (kafir) menyekutukan-Nya dan
mengatakan (bahwa) Dia mempunyai anak, (tapi bersamaan dengan itu) Dia
tetap memaafkan (menangguhkan siksaan) dan memberi rezki bagi
mereka"[10] .

PEMBAGIAN SIFAT AL-AFUW (MEMAAFKAN) DARI ALLAH AZZA WA JALLA.
Sifat al-afw (memaafkan) ini ada dua macam:

1. Pertama: Permaafan Allah Azza wa Jalla yang bersifat umum bagi
semua orang yang berbuat maksiat, dari kalangan orang-orang kafir
maupun yang selain mereka. Yaitu dengan tidak menimpakan siksaan yang
telah ada sebab-sebabnya, yang seharusnya menjadikan mereka terhalangi
dari kenikmatan duniawi yang mereka rasakan, padahal mereka
menentang-Nya dengan mencela-Nya (menisbatkan sifat-sifat yang tidak
layak bagi-Nya), menyekutukan-Nya dan melakukan berbagai macam
penyimpangan lainnya. Meskipun demikian, Allah Azza wa Jalla tetap
memaafkan (menangguhkan siksaan-Nya), memberi rezki dan
menganugerahkan berbagai macam kenikmatan kepada mereka, yang lahir
maupun batin.

2. Kedua: Permaafan dan pengampunan-Nya yang bersifat khusus bagi
orang-orang yang bertobat, meminta ampun, berdoa dan menghambakan diri
kepada-Nya, demikian pula bagi orang-orang yang mengharapkan
rahmat-Nya dengan musibah-musibah yang menimpa mereka. Maka, semua
orang yang bertobat kepada-Nya dengan tobat yang nashûh [11], Allah
akan mengampuni dosa apapun yang dilakukannya, baik berupa kekafiran,
kefasikan maupun kemaksiatan lainnya. Semua dosa tersebut termasuk
dalam keumuman firman Allah Azza wa Jalla :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا
تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah,
sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [az-Zumar/39:53][12]

PENGARUH POSITIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH "AL-AFUW"
Memahami nama Allah Azza wa Jalla yang Maha Agung ini merupakan pintu
utama untuk mencapai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya, khususnya jika
setelah memahaminya dengan baik, kita berusaha merealisasikan
kandungan dan konsekuensi yang terkandung di dalamnya, yaitu melakukan
istighfâr (meminta ampun kepada Allah Azza wa Jalla ) secara kontinyu,
meminta permaafan, selalu bertobat, mengharapkan pengampunan dan tidak
berputus asa (dari rahmat-Nya). Hal itu, karena Allah Azza wa Jalla
Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun, sangat mudah bagi-Nya untuk
mengampuni dosa (hamba-hamba-Nya) bagaimanapun besarnya dosa dan
maksiat tersebut. Maka seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan
yang agung selama dia selalu meminta permaafan dan mengharapkan
pengampunan dari Allah. [13]

Renungkan makna yang agung ini dalam hadits qudsi berikut:
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman: "Seorang hamba melakukan
perbuatan dosa, kemudian dia berdoa: "Ya Allah ampunilah dosaku". Maka
Allah Azza wa Jalla berfirman: "Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang
dia meyakini bahwa dia mempunyai rabb yang (Maha) Mengampuni dan
membalas perbuatan dosa". (Maka Allah Azza wa Jalla pun mengampuni
dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa: "Ya rabbku
ampunilah dosaku". Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: "Hamba-Ku telah
berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai rabb yang (Maha)
Mengampuni dan membalas perbuatan dosa". (Maka Allah Azza wa Jalla pun
mengampuni dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa:
"Ya Tuhanku ampunilah dosaku". Maka Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai
rabb yang (Maha) Mengampuni dan membalas perbuatan dosa, berbuatlah
sesukamu wahai hamba-Ku, maka sungguh Aku telah mengampunimu" . Yaitu:
"selama kamu terus bertobat, memohon dan kembali kepada-Ku".[14]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah ketika menafsirkan firman
Allah Azza wa Jalla :

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. [an-Nisâ'/4:43]

Beliau berkata: "Artinya: Allah memiliki banyak pemaafan dan
pengampunan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan memudahkan dan
meringankan syariat-Nya bagi mereka, sehingga mudah bagi mereka untuk
menunaikannya dan tidak menyusahkan.

DIANTARA BENTUK PEMAAFAN ALLAH AZZA WA JALLA
Di antara bentuk permaafan dan pengampunan-Nya adalah Rahmat-Nya bagi
umat ini dengan mensyariatkan bersuci dengan tanah (debu) sebagai
pengganti air ketika tidak mampu menggunakan air.

Dan di antara permaafan dan pengampunan-Nya adalah Dia membukakan
pintu tobat dan kembali kepada-Nya bagi orang-orang yang berbuat dosa,
bahkan dia menyeru mereka untuk bertobat dan menjanjikan pengampunan
bagi dosa-dosa mereka.

Di antara permaafan dan pengampunan-Nya adalah bahwa seandainya
seorang Mukmin datang menghadap-Nya di akhirat nanti dengan membawa
dosa sepenuh bumi, tapi dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu,
maka Dia akan memberikan pada hamba-Nya itu pengampunan yang sepenuh
bumi (pula) [16].[17]

Di antara bentuk permaafan-Nya adalah bahwa perbuatan baik dan amalan
shaleh bisa menghapuskan perbuatan buruk dan dosa. Allah Azza wa Jalla
berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan buruk [Hûd/11:114]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ikutkanlah
perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka niscaya perbuatan baik itu
akan menghapuskan perbuatan buruk tersebut. [18]

Demikian juga di antara bentuk permaafan-Nya adalah bahwa semua
musibah yang menimpa pada diri seorang hamba, anak maupun hartanya,
itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya, khususnya jika hamba itu
mengharapkan pahala dari musibah tersebut dan bersikap bersabar serta
ridha (dengan takdir Allah Azza wa Jalla terhadap dirinya).

Dan di antara bentuk permaafan-Nya yang agung adalah bahwa hamba-Nya
yang selalu menentang perintah-Nya dengan melakukan berbagai macam
maksiat dan dosa besar, tapi Dia selalu berlaku lembut dan memberikan
maaf-Nya kepadanya, kemudian dia melapangkan dada hamba-Nya itu untuk
bertobat kepada-Nya, dan Dia pun menerima taubatnya. Bahkan Allah Azza
wa Jalla bergembira dengan taubat hamba-Nya, padahal Allah Azza wa
Jalla Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tidak akan memberi manfaat bagi-Nya
ketaatan orang-orang yang taat, sebagaimana tidak akan merugikan-Nya
kemaksiatan orang-orang yang berbuat maksiat . [19]

PENUTUP
Sesungguhnya pintu-pintu permaafan dan pengampunan Allah Azza wa Jalla
senantiasa terbuka lebar. Allah Azza wa Jalla senantiasa bersifat Maha
Pemaaf dan Pengampun. Sungguh, Allah Azza wa Jalla telah menjanjikan
pengampunan dan permaafan bagi orang-orang yang mengerjakan
sebab-sebabnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang
bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar
[Thâhâ/20:82][20]

Demikianlah, semoga Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita
permaafan-Nya dan memuliakan kita dengan pengampunan-Nya, sesungguhnya
Dia Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Mu'jamu maqâyîsil lughah 4/45
[2]. An-Nihâyah fî gharîbil hadîts wal atsar 3/524
[3]. Al-Qamûs al-Muhîth hlm. 1693
[4]. Kitab Fiqhul asmâ-il husna hlm. 142
[5]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 388
[6]. HR at-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Mâjah (no. 3850), dinyatakan
shahîh oleh Syaikh al-Albâni.
[7]. Lihat kitab Faidhul Qadîr 2/239
[8]. Lihat kitab Fiqhul asmâ-il husnâ hlm. 142
[9]. Ibid hlm. 143
[10]. HSR al-Bukhâri no. 5748 dan Muslim 2804 dari Abu Mûsâ al-Asy'ari
Radhiyallahu anhu.
[11]. Artinya: tobat yang murni untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa
Jalla semata-mata, yang mencakup semua dosa, yang tidak disertai
keragu-raguan dan sikap bersikeras pada perbuatan dosa tersebut.
[12]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 143
[13]. Ibid hlm. 145
[14]. HSR al-Bukhâri no. 7068 dan Muslim no. 2758
[15]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 145
[16]. Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR Muslim no. 2687,
at-Tirmidzi no. 3540 dll.
[17]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 103
[18]. HR at-Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153, dinyatakan hasan oleh
Syaikh al-Albâni.
[19]. Lihat kitab Fiqhul asmâil husnâ hlm. 144
[20]. Ibid hlm. 145


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke