MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra
http://almanhaj.or.id/content/3405/slash/0/mimpi-bertemu-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

Sebagai seorang Muslim sudah pasti ada pada dirinya perasaan cinta
kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam,

Namun kadar rasa cinta tersebut berbeda antara satu dengan yang lain.
Kata cinta bukan hanya hiasan kata-kata di bibir, tetapi harus
dibuktikan dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari. Rasa cinta kepada
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam wajib dimiliki oleh setiap
Muslim, bahkan melebihi cinta kepada orang tua, anak dan isteri.

Allah berfirman:

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi (itu) lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka
sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. [al-Ahzab/33:6]

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah bersabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam:: "Tidaklah
beriman salah seorang kalian sampai aku lebih dicintainya dari orang
tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya." [Muttafaq `alaihi]

Para Ulama menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam terbagi kepada dua tingkatan:

Tingkat Pertama : Cinta yang wajib terdapat pada setiap pribadi
Muslim. Ia merupakan dasar keimanan seseorang. Yaitu keridhaan
menerima dengan sepenuh hati ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu
’alaihi wa sallam dengan disertai rasa cinta dan pengagungan, serta
tidak mencari petunjuk di luar petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi
wa sallam . Kemudian menta'ati perintahnya, meninggalkan larangannya,
mempercayai segala beritanya dan membela agamanya sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya.

Tingkat Kedua : Cinta yang melebihi dari tingkat sebelumnya. Yaitu
cinta yang membawa kepada sikap yang menjadikan Rasulullah Shallallahu
’alaihi wa sallam sebagai satu-satunya figur atau qudwah dalam segala
segi kehidupan. Mulai dari menghidupkan sunnah-sunnah beliau, baik
dalam bentuk kualitas maupun kuantitas. Demikian pula, dalam berakhlak
dan budi pekerti terhadap keluarga, karib-kerabat, tetangga dan
masyarakat. Sampai dalam hal adab-adab sehari-hari lainnya seperti
dalam berpakaian, makanan-minum, buang hajat dan tidur. [1]

Sifat-sifat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu hadir dalam
benaknya dan senantiasa ia jadikan sebagai teladan dalam kehidupannya
sehari-hari, hingga cinta tersebut membuatnya benar-benar rindu ingin
bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan bersedia menebus
perjumpaannya dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dengan
keluarga dan hartanya.

Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ « مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِيْ لِيْ
حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِيْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِى
بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: "Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah
manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan
seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga
dan hartanya".

Salah seorang mengungkapkan perasaannya di hadapan al-Miqdâd bin
al-Aswad, sebagaimana terdapat dalam kisah berikut:

عَنْ جُبَيْرٍ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ قاَلَ جَلَسْنَا إِلَى
الْمِقْدَادِ بْنِ اْلأَسْوَدِ يَوْماً فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ:
طُوْبَىْ لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتاَرَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللهِ لَوَدَدْناَ أَناَّ رَأَيْناَ
مَا رَأَيْتَ وَشَهِدْناَ مَا شَهِدْتَ

Jubair bin Nufair meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: " Pada suatu
hari, kami duduk di dekat Miqdâd bin al-Aswad. Lalu seseorang lewat
sambil berkata (kepada al-Miqdâd): "Kebaikanlah bagi dua mata ini yang
melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam." (Jubair menanggapi):
“Demi Allah, kami berkeinginan melihat apa yang engkau lihat, dan
menyaksikan apa yang engkau saksikan". [HR Bukhâri dalam Adâbul Mufrad
dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Barangkali perasaan seperti di atas banyak orang yang mengaku
memilikinya, tetapi sikap dan tingkah lakunya sendiri sangat jauh
berseberangan dengan apa yang diakuinya. Atau amalan-amalannya jauh
dari sunnah, bahkan amat nyata bertolak belakang dengan ajaran yang
dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, penuh dengan
kesyirikan dan bid'ah. Tentu hal yang demikian sudah pasti menodai
cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Karena rasa
cinta harus diiringi dengan amalan yang sesuai dengan tata cara yang
dicontohkan dan diajarakan serta dilakukan Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam.

Jika tidak demikian, tentu cintanya akan ditolak Rasulullah
Shallallahu ’alaihi wa sallam, sebagaimana beliau nyatakan dalam sabda
beliau:

عن عَائِشَةُ –رضي الله عنها- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ». رواه البخاري ومسلم.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi
wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak
ada di atasnya perintah kami, maka amalan tersebut ditolak"[Muttafaq
`alaihi]

Maka, jika cinta kita ingin diterima dan tidak ditolak, jalan
satu-satunya adalah beramal sesuai dengan petunjuk Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa shalat, dzikir, dll.

Orang-orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam, sekalipun mata kepalanya tidak dapat
melihat sifat fisik Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam secara
nyata waktu di dunia, namun sifat-sifat, tuntunan dan ajaran beliau
selalu hadir dalam pandangan mata hatinya; maka Allah k akan
mengumpulkan orang tersebut bersama orang yang dicintainya.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ رَجُلٌ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ
يَلْحَقْ بِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari `Abdullâh bin Mas'ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: "Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, lalu
ia bertanya: "Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang seseorang
yang mencintai suatu kaum dan ia tidak berjumpa dengan mereka?" Jawab
Rasulullah: "Seorang manusia (akan dikumpulkan) bersama orang yang
dicintainya" [Muttafaq `alaihi]

Kadangkala seorang Mukmin yang memiliki rasa cinta dan rindu bertemu
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Allah memberi karunia
kepadanya mimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam waktu
di dunia. Namun, bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa
sallam sering disalah-gunakan oleh sebagian orang dalam mencapai
maksud dan tujuan tertentu.

Berbagai warna bentuk penyimpangan dalam masalah bermimpi bertemu
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sering kita temui dalam
kehidupan kita. Seperti ada yang mengaku mimpi bertemu Nabi dengan
pengakuan dusta sebagai modal untuk mengelabui orang dan mencari
popularitas di kalangan pengikutnya. Padahal, ia sama sekali tidak
bermimpi melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm.

Sebagian lagi, ada yang mengaku menerima ajaran tertentu atau metode
baru dalam beribadah saat bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dan sebagian yang lain mengaku mendapat do'a atau dzikir dan
salawatan tertentu dalam mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dan ada pula yang bermimpi sekedar melihat seseorang
berpakaian serba putih dan pakai surban, sudah langsung diprediksi
bahwa ia bermimpi melihat Nabi. Dan ada lagi yang melakukan
wirid-wirid tertentu untuk bermimpi bertemu Nabi, padahal tidak pernah
ada anjuran atau tuntunannya dalam syari'at. Atau menganggap orang
yang mimpi bertemu Nabi berhak di klaim sebagai wali, serta dapat
memberi berkah. Atau setelah bermimpi, mengaku bertemu dengan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga.

Agar kita selamat dari penyimpangan-penyimpangan ini. Maka selayaknya
kita menyimak penjelasan Ulama tentang hal ini? Oleh sebab itu,
bahasan kali ini sengaja mengangkat seputar pembahasan mimpi bertemu
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

MUNGKINKAN MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM?
DAN APA HAKEKATNYA?
Mimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah suatu hal yang
mungkin dan bisa dialami oleh seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam
hadits-hadits yang shahîh. Berikut ini adalah hadits-hadits tersebut
termasuk penjelasan Ulama dalam penjabarannya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي حَقًّا
فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ
عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam
mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya
setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku
secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka". [HR
Bukhâri dan Muslim]

Dalam hadits pertama ini terdapat beberapa penjelasan, di antaranya:
a. Seseorang yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam
dalam mimpi, maka sesungguhnya ia benar-benar telah melihatnya.[2]
Apabila ciri-ciri sifat fisiknya sesuai dengan gambaran yang terdapat
dalam hadits-hadits shahîh. Jika ciri-ciri sifat fisiknya tidak
sesuai, para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian Ulama
berpendapat, bahwa makna mimpinya perlu ditakwilkan. Hal itu pertanda
tentang kekurangan yang terdapat pada diri orang yang bermimpi
tersebut dalam hal beragama. Atau sebagai pertanda terjadinya
kerusakan dalam kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat.
Sebagian Ulama lain berpendapat bahwa ia tidak melihat Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam karena ciri-ciri sifat fisiknya tidak
sesuai dengan ciri-ciri sifat fisik Rasulullah Shallallahu’alaihi wa
sallam. Tetapi setan berupaya menipunya dalam mimpi tersebut dengan
cara mengaku sebagai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun
setan tersebut tidak mampu menyerupai ciri-ciri sifat fisik Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, sebagian para Sahabat
dan tabi'în jika ada seseorang mengaku mimpi bertemu Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam mempertanyakan ciri-ciri sifat fisiknya. Hal ini
ditegaskan oleh Ibnu Sirîn dalam ungkapan beliau: "Apabila ia
melihatnya dalam bentuk rupa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam
yang sebenarnya".[3]

Sebagaimana Ibnu Hajar menyebutkan sebuah riwayat dengan sanad yang
shahîh dari Ibnu Sirîn rahimahullah : "Apabila ada seseorang
mengisahkan kepadanya bahwa ia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam (dalam mimpi), maka Ibnu Sirin rahimahullah berkata:
"Sebutkanlah padaku ciri sifat-sifat orang yang engkau lihat
tersebut?" Jika orang tersebut menyebutkan sifat yang tidak
dikenalnya, maka Ibnu Sirin rahimahullah katakan: "Sesungguhnya engkau
tidak melihatnya".

Berikutnya Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan pula riwayat dari Ibnu
Abbas Radhyallahu anhu yang dengan sanad yang Jayyid; Ibnu Kulaib
berkata: "Aku katakan pada Ibnu Abbâs: "Aku melihat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallamdalam mimpi!" Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata:
"Sebutkanlah ciri sifat-sifatnya padaku!" Ibnu Kulaib berkata : "Aku
sebutkan Hasan bin Ali, lalu aku serupakan dengannya." Ibnu Abbâs
Radhiyallahu anhu berkata : "Sungguh engkau telah melihatnya" " [4].

b. Hadits ini menunjukkan tentang kesempurnaan bentuk sifat fisik
jasmani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamyang sangat rupawan,
sehingga setan tidak mampu untuk menyerupainya.[5] Kesempurnaan
tersebut ditambah lagi dengan kemulian sifat-sifat rohani beliau.
Tentu setan akan semakin tidak mungkin untuk meniru atau
menyerupainya, karena bentuk asli jasmani setan sangat jelek. Oleh
sebab itu, Allah Azza wa Jalla jadikan sebagai perumpamaan bagi pohon
Zaqqum.[6] yang menjadi makannan penduduk Neraka. Demikian pula asli
sifat rohaninya adalah sangat buruk pula, oleh sebab itu ia diberi
nama setan, yang artinya dalam bahasa Arab: pembangkang/yang amat jauh
dari nilai-nilai kebaikan.[7]

c. Penggalan akhir dari hadits di atas terdapat larangan sekaligus
ancaman bagi orang yang berbohong atau berdusta dalam hal mimpi
bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam menutup hadits tentang mimpi tersebut
dengan sabda beliau "Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja
maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka".

PENGAKUAN BERTEMU NABI DALAM KEADAAN TERJAGA (BANGUN).
Sebagian dari orang-orang sufi menganggap bahwa mereka bisa melihat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sadar (terjaga). Dan
ikut menghadiri perayaan maulid bersama mereka. Keyakinan ini adalah
keyakinan yang batil lagi sesat, sangat bertolak belakang dengan
al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam
serta ijmâ’ para Ulama. Mereka menyandarkan pandangan mereka pada
hadits berikut:

عَنْ هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي
الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي قَالَ أَبُو عَبْد
اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: "Barangsiapa yang melihatku
dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Dan setan
tidak mampu menyerupaiku".

Imam Bukhâri setelah menyebutkan hadits ini berkata: “Ibnu Sîrîn
berkata: "Apabila ia melihatnya dalam bentuk rupa yang sebenarnya"".

Dalam hadits kedua ini terdapat tambahan penjelasan dari hadits yang
pertama, yaitu kalimat: فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ)) : "Maka ia akan
melihatku dalam keadaan terjaga".
Para Ulama menerangkan maksud dari hadits tersebut dengan beberapa penjelasan:

Pertama: Yang dimaksud adalah orang yang hidup di masa beliau tetapi
belum pernah berjumpa dengan beliau. Jika ia bermimpi bertemu Nabi ,
maka mimpi tersebut akan menjadi kenyataan.

Kedua: Yang dimaksud, ia akan berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan pertemuan yang khusus di akhirat kelak. atau ia
adalah di antara orang yang akan memperoleh syafa`at Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam di akhirat kelak.

Ketiga: Yang dimkasud, mimpi orang tersebut akan terbukti di akhirat
kelak, sesuai dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi tersebut.

Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah : "Ini adalah bagaikan kabar gembira
bagi orang yang melihatnya, bahwa dia akan berjumpa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallampada hari kiamat." [8].

Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Dalam menjelaskan maksud hadits
tersebut ada beberapa pendapat:

Pertama: Yang dimaksud adalah orang yang hidup pada masanya. Artinya,
barangsiapa yang melihatnya dalam mimpi sedangkan ia belum berhijrah;
maka Allah memberi taufik kepadanya untuk berhijrah dan bertemu
melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nyata dalam keadaan
terjaga.

Kedua: Dia akan melihat kenyataan mimpinya tersebut dalam keadaan
terjaga pada hari kiamat, karena semua umatnya akan melihatnya pada
hari kiamat.
Ketiga: Dia akan melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallampada hari
akhirat secara khusus dalam keadaan dekat dan mendapat syafa`atnya
atau yang semisalnya”.[9]

Al-Qisthallâny mengatakan : "Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi,
maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga", artinya pada hari
secara khusus dalam keadaan dekat dengannya. Atau orang yang melihatku
dalam mimpi dan ia belum berhijrah, Allah memberi taufik kepadanya
untuk berhijrah kepadaku dan mendapat kemulian menjumpaiku. Allah Azza
wa Jalla menjadikan mimpinya sebagai pertanda akan melihatku dalam
keadaan terjaga. Menurut pendapat yang pertama, di dalamnya terdapat
kabar gembira bagi orang yang bermimpi bahwa ia akan mati dalam
keadaan Muslim”.[10]

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ia benar-benar akan berjumpa
dalam keadaan terjaga waktu di dunia ini setelah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallamwafat adalah pendapat yang sangat batil lagi sesat.
Pendapat ini ditolak dan dibantah dengan tegas oleh para Ulama
Ahlussunnah.

Imam al-Qurthûbi rahimahullah berkata: "Dalam makna hadits ini
terdapat perbedaan; sebagian berpendapat sebagaimana lahirnya, yaitu
barangsiapa yang melihat dalam mimpi, maka ia telah melihat secara
hakiki sama seperti orang melihatnya di waktu terjaga. Pendapat ini
dapat diketahui kekeliruannya dengan dalil akal yang mengharuskan:

1. Bahwa, tidak seorang pun yang melihatnya melainkan dalam bentuk
saat beliau meninggal.

2. Tidak mungkin ada dua orang yang mimpi melihatnya dalam waktu yang
sama dalam dua tempat.

3. Bahwa ia hidup keluar dari kuburnya dan berjalan di pasar serta
berbicara dengan manusia.

4. Bahwa kuburnya kosong dari jasadnya, sehingga tidak tertinggal
sesuatu dalamnya, maka yang diziarahi hanya kubur semata (tanpa jasad)
dan memberi salam kepada sesuatu tidak ada.

Karena ia bisa dilihat di sepanjang waktu; pagi dan sore secara hakiki
di luar kuburnya. Pendapat ini adalah kebodohan, tidak akan berpegang
dengannya siapa saja yang memiliki sedikit akal sehat”.[11]

Abu Bakar Ibnu al-Arabi rahimahullah berkata: “Sebagian orang shaleh
berpendapat asing (ganjil), ia mengira bahwa bermimpi bertemu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallambisa terjadi dengan melihat dengan kedua
mata kepala secara nyata”.[12]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Melihat para Nabi dalam mimpi
adalah haq (benar). Adapun melihat orang yang sudah mati dalam keadaan
terjaga, maka ini adalah jin yang menjelma dalam bentuknya.
Sebagaimana setan kadangkala menjelma dalam mimpi dalam bentuk
seseorang. Bahkan, kadangkala dalam keadaan terjaga yang dapat dilihat
orang banyak; sehingga menyesatkan bagi sebagian orang yang tidak
mempunyai ilmu dan iman. Seperti terjadi di kalangan kaum musyrik
India dan lainnya. Apabila ada seseorang meninggal, maka setelah itu
mereka melihatnya membayar hutang, mengembalikan titipan dan
menceritakan tentang orang-orang mati di antara mereka. Sesungguhnya
itu adalah setan yang menjelma dalam bentuknya. Kadangkala ia datang
dalam bentuk orang shaleh yang mereka kagumi. Dan ia berkata: ”Saya
adalah si Fulan."; padahal sebenarnya ia adalah setan.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihat
dengan benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku”.

Maka melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar adanya,
adapun melihatnya dalam keadaan terjaga, maka ia tidak mungkin bisa
dilihat dengan mata. Sama adanya, baik itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri maupun orang-orang lain yang sudah mati. Sekalipun
kebanyakan dari manusia kadangkala melihat sesorang yang menurut
prasangkanya adalah Nabi di antara para nabi. Kadangkala dekat
kuburannya atau dijauh dari kuburannya”.[13]

Syaikh Abdul Muhsin al-'Abâd berkata: “Hal ini mengandung dua
kemungkinan, pertama: seseorang yang hidup pada zaman Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, namun ia belum pernah melihat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Kemudian bermimpi melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memudahkan
baginya untuk bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhijrah
kepadanya. Kemudian akan melihat apa dengan nyata apa yang dilihatnya
dalam mimpinya tersebut...”[14].

Dari penjelasan para Ulama di atas dapat kita pahami bahwa pendapat
yang mengatakan seseorang yang bermimpi bertemu Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallambenar-benar akan berjumpa dalam keadaan terjaga waktu
di dunia ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah
pendapat yang sangat batil lagi sesat.

Pendapat tersebut bertolak belakang dengan firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati
(pula).[ az-Zumar/39:30]

Dan firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ
أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ
يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا

Tiadalah Muhammad itu melainkan seorang rasul. Sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh,
kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun”.[ali Imran/3:144]

Dua ayat di atas dengan tegas menerangkan tentang kematian Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam. Seluruh umat Islam sepakat bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah wafat. Ia tidak akan
bangkit dari kuburnya kecuali setelah hari kiamat. Barangsiapa yang
mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kembali ke
dunia sebelum hari kiamat dan bertemu dengan orang-orang tertentu, ini
adalah keyakinan yang sesat sekali. Bahkan sama dengan akidah
reinkarnasi yang diyakini orang-orang Hindu.

Tatkala membacakan salah satu dari ayat di atas Abu Bakar ash-Shiddîq
Radhiyallahu anhu berkata:

فَمَنْ كَان َمِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ
مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ

Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah
wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah Maha Hidup
tidak akan mati. [HR Bukhâri]

Pendapat tersebut juga bertentangan dengan hadits Rasululllah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
-صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - « أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ
وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ »

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berkata: “Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda : “Saya adalah penghulu
anak Adam pada hari kiamat, orang yang pertama dibangkit dari kuburnya
dan orang yang pertama memberi syafaat.” [HR Muslim]

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
wa sallam tidak akan keluar dari kuburnya kecuali setelah terjadinya
hari kiamat dan seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya.

Pendapat yang mengatakan bahwa ia berjumpa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga, mengharuskan bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam hidup dan keluar dari
kuburnya, bahkan secara berkali-kali; kesesatan dan kebatilan pendapat
tersebut amat nyata bagi orang yang punya ilmu dan iman.

Sebagian orang berdalil dengan hadits:

اْلأَنْبِياَءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

Para nabi itu hidup dalam kuburan mereka, mereka shalat.[HR Abu Ya`la
dan al-Bazzâr dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Ash-Shahîhah]

Jawabannya adalah:
Pertama: Bahwa kehidupan yang dimaksud di sini adalah kehidupan alam
Barzakh yang hakikat dan bentuknya tidak ada yang mengetahui kecuali
Allah Azza wa Jalla. Mengatakan bahwa mereka hidup seperti di dunia
adalah suatu hal yang batil, sebab alam Barzakh tidak sama dengan alam
dunia dalam segala segi.

Kedua: Dalam hadits tersebut secara jelas dan tegas menyebutkan mereka
hidup dalam kubur, bukan hidup dan keluar ke dunia. Jika dipahami
mereka hidup dan keluar ke dunia, maka ini suatu penyimpangan terhadap
lafazh makna hadits tersebut.

Ketiga: Tidak pernah dinukilkan atau diriwayatkan dari seorang pun
dari Sahabat maupun para Ulama terkemuka umat ini bahwa mereka
berjumpa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga
setelah beliau wafat. Bahkan di antara mereka ada yang bermimpi dengan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi tidak pernah mereka mengaku
bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam keadaan bangun
(terjaga). Sedangkan para Sahabat adalah orang yang paling dicintai
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi yang paling cinta
kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ”Jika seandainya ada orang yang
melihatnya di waktu terjaga, tentu ia termasuk Sahabat. Berarti
penilaian sebagai Sahabat tetap berlangsung sampai hari kiamat. Hal
ini menjadi terbukti keliru sekali, ketika banyak yang mimpi bertemu
tetapi tidak seorang pun mengaku berjumpa dalam keadaan sadar
(bangun)”.[15]

APAKAH ADA KIAT-KIAT TERTENTU AGAR BERMIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD?
Di antara sebagian orang ada yang melakukan dzikir-dzikir tertentu
agar bisa bermimpi dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal
tuntunan tersebut tidak ada diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Perbuatan tersebut adalah termasuk membuat perkara yang baru
dalam agama. Para Ulama salaf yang pernah mimpi bertemu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak pernah melakukan dzikir ataupun
ibadah-ibadah tertentu.

APAKAH MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD PERTANDA ORANG TERSEBUT SHALIH?
Bentuk lain dari kesalah-pahaman dalam masalah mimpi bertemu Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menganggap setiap orang yang
bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memiliki
keistimewaan yang luar biasa. Bahkan kadangkala meyakini orang
tersebut sebagai wali, yang bisa mengobati dan memberi berkah. Namun,
bila melihat penjelasan Ulama sebagaimana telah diuraikan di atas,
maka bermimpi bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilki dua
bentuk yaitu adakala sebagai bisyârah (harapan baik); dan adakalanya
sebagai peringatan (indzâr), sehingga tidak mutlak senantiasa sebagai
bisyârah.

Al-Mu’allimi berkata: “Sesungguhnya para Ulama bersepakat bahwa
sesungguhnya mimpi tidak bisa dijadikan hujjah. Tetapi ia hanya
sebatas sebagai harapan baik (bisyârah), dan peringatan (tanbîh). Dan
juga bisa sebagai dalil pendukung jika bersesuaian dengan hujjah
syar’iyah (agama)”[16].

Demikian, pembahasan sekilas tentang mimpi bertemu Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa hal yang berkaitan
dengannya. Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat "Huqûqun Nabi Bainal Ijlâl Wal Ikhlâl", Faishal al 'Abdâny: 67
[2]. Ditegaskan dalam riwayat lain:

قَالَ أَبُوْ قَتاَدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( مَنْ رَآنِيْ فَقَدْ رَأَى الْحَقَّ )
رَوَاهُ الْبُخَارِيْ وَمُسْلِمٌ

Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda : "Barangsiapa yang melihatku (mimpi), maka sungguh ia
benar-benar telah melihat".
[3]. Lihat Shahîhul-Bukhâri: 6/2567.
[4]. Lihat, Fathul Bâri: 12/384.
[5]. Penegasan bahwa setan tidak mampu menyerupai Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam disebutkan dengan lafazh yang berbeda-beda, akan
tetapi maknanya saling berdekatan:

(فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَكَوَّنُنِيْ)، (فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ
يَتَخَيَّلُ بِيْ)، (وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانَ بِيْ )، (وَإِنَّ
الشَّيْطَانَ لاَ يَتَرَاءَىْ بِيْ)، (فَإِنَّهُ لاَ يَنْبَغِى
لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِيْ) وَهِيَ فِيْ صَحِيْحَيْنِ أَوْ
فِيْ أَحَدِهِمَا

[6]. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ
Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.[ash-Shaffat/37:65]
[7]. Lihat Mu'jam Maqâyîsil Lughah 3/184. dan Al-Mu'jamul Wasîth 1/483.
[8]. Lihat Kasyful al-Musykil 1/912.
[9]. Lihat Syarah Imam Nawawi:15/26.
[10]. Di nukil dalam kitab `Aunul Ma’bûd:13/249.
[11]. Disebutkan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bâri:12/384.
[12]. Disebutkan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bâri:12/384.
[13]. Lihat Al-Jawâbus Shahîh 4/15.
[14]. Lihat Syarah Sunah Abu Dâwud 28/426.
[15]. Lihat Fathul Bâri:12/285.
[16]. Lihat At-Tankîl:2/243.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke