IMAN BERTAMBAH SEMPURNA DAN BERKURANG?

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
http://almanhaj.or.id/content/3412/slash/0/iman-bertambah-sempurna-dan-berkurang/


Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang Muslim,
sebab iman menentukan nasib seorang di dunia dan akhirat. Bahkan
kebaikan dunia dan akhirat bersandar kepada iman yang benar. Dengan
iman, seorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan
akhirat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah Azza
wa Jalla . Dengan iman, seorang akan mendapatkan pahala besar yang
menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu
semua, mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Kuasa,
sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan
melihat wajah Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak. Dengan demikian,
permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita
semua. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menuturkan, “Hasil usaha jiwa
dan kalbu yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan
ketinggian (derajat mulia) di dunia dan akhirat adalah ilmu dan iman.
Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menggabung keduanya dalam
firman-Nya

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ
فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَىٰ يَوْمِ الْبَعْثِ

Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan berkata
(kepada orang-orang yang kafir), "Sesungguhnya kamu telah berdiam
(dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit."
[ar-Rûm/30:56]

Dan firman Allah Azza wa Jalla :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
[al-Mujâdilah/58:11]

Mereka inilah inti dan pilihan dari yang ada dan mereka adalah orang
yang berhak mendapatkan martabat tinggi. Namun, kebanyakan manusia
keliru dalam (memahami) hakekat ilmu dan iman ini, sehingga setiap
kelompok menganggap ilmu dan iman yang dimilikinya satu-satunya hal
yang dapat mengantarkan kepada kebahagian, padahal tidak demikian.
Kebanyakan mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan dan ilmu yang
mengangkat (kepada ketinggian derajat), bahkan mereka telah menutup
untuk diri mereka sendiri jalan ilmu dan iman yang diajarkan
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi dakwah beliau
kepada umat. Sedangkan yang berada di atas iman dan ilmu (yang benar)
adalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, serta
orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj dan petunjuk
mereka….” [Al-Fawâid hlm. 191]

Demikian pula apabila kita melihat pemahaman kaum Muslimin tentang
iman, maka kita dapatkan banyak kekeliruan dan penyimpangan. Sebagai
contoh, banyak kalangan kaum Muslimin ketika berbuat dosa dia
menyatakan: “Yang penting kan hatinya”. Ini semua tentunya membutuhkan
pelurusan dan pencerahan bagaimana sesungguhnya konsep iman yang benar
tersebut.

IMAN BERTAMBAH DAN BERKURANG
Sudah dimaklumi, banyak dalil dari nash-nash al-Qur`ân dan Sunnah yang
menjelaskan bertambah dan berkurangannya iman. Menjelaskan pemilik
iman yang bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih semurna imannya dari
yang lainnya, ada di antara mereka yang disebut as-Sâbiq bil khairât,
al-Muqtashid dan zhâlim linafsihi. Ada juga al-Muhsin, al-Mukmin dan
al-Muslim. Semua ini menunjukkan bahwa mereka tidak berada dalam satu
martabat dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Di antara dalil yang menunjukkan bertambah dan berkurangan iman adalah:
1. Firman Allah Azza wa Jalla.

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ
فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ
وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka
ada orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada
mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah
Sebaik-baik Pelindung". [Ali Imrân/ 3:173]

Para Ulama Ahlussunnah menjadikan ayat ini sebagai dasar mengenai
bertambah dan berkurangan iman, sebagaimana pernah ditanyakan kepada
Imam Sufyân bin ‘Uyainah rahimahullah, “Apakah iman itu bertambah atau
berkurang? Beliau rahimahullah menjawab, “Tidakkah kalian mendengar
firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, ‘Maka Perkataan itu menambah
keimanan mereka’”. (Ali Imrân/3:173) dan firman Allah Azza wa Jalla
yang artinya, ‘Dan Kami tambah pula untuk mereka
petunjuk’.(al-Kahfi/19:13) dan dalam beberapa ayat lainnya?”. Ada yang
bertanya, “Bagaimana bisa berkurang?”. Beliau rahimahullah menjawab,
“Tidak ada sesuatu yang bisa bertambah kecuali ia juga bisa
berkurang”.[1]

2. Firman Allah Azza wa Jalla.

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ وَالْبَاقِيَاتُ
الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat
petunjuk. Dan amal-amal shaleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di
sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. [Maryam/19:76]

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini
dengan menyatakan, “Terdapat dalil yang menunjukkan bertambah dan
berkurangannya iman, sebagaimana pendapat para Salafush-Shâlih. Hal
ini dikuatkan juga dengan firman Allah Azza wa Jalla.

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya [al-Mudatstsir/74:31]

Dan firman Allah Azza wa Jalla.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya). [al-Anfâl/8:2]

Juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa iman itu adalah perkataan kalbu
dan lisan, amalan kalbu, lisan dan anggota tubuh. Juga kaum Mukminin
sangat bertingkat-tingkat dalam hal ini.[2]

3. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ يَزْنِيْ الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ
الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ حِيْنَ
يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan Mukmin dan tidaklah
peminum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan Mukmin serta
tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan Mukmin [Muttafaq
‘alaihi]

Ishâq bin Ibrâhîm an-Naisâburi rahimahullah berkata, “Abu `Abdillâh
(Imam Ahmad rahimahullah) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya
iman. Beliau rahimahullah menjawab, “Berkurangnya iman ada pada sabda
Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Tidaklah seorang pezina
berzina dalam keadaan Mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan
Mukmin.[3]

4. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً
فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ
اْلأَذَى عَنْ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ اْلإِ يْمَانِ

Iman itu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling
utama adalah ucapan, “Lâ Ilâha Illallâh” dan yang terendah adalah
membersihkan gangguan dari jalanan. Dan rasa malu itu adalah satu
cabang dari iman. [Muttafaq ‘alaihi]

Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang,
ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini
bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam
keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Oleh karena
itu, Imam at-Tirmidzi memuat bab dalam sunannya, “Bab Penyempurnaan
Iman, bertambah dan berkurangannya”.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di raimahullah dalam menjelaskan hadits ini
menyatakan, “Ini jelas sekali menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan
berkurang sesuai dengan bertambahnya aturan syariat dan cabang-cabang
iman, serta amalan hamba tersebut atau tidak mengamalkannya. Sudah
dimaklumi bersama bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam hal ini.
Siapa yang berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang,
maka telah menyelisihi realita yang nyata di samping menyelisihi
nash-nash syariat sebagaimana telah diketahui.[4]

Sedangkan pendapat dan atsar Salafush-Shâlih sangat banyak sekali
dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, di
antaranya:

a. Dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya :
Suatu ketika Khalîfah ar-Rasyîd Umar bin al-Khathâb Radhiyallahu anhu
pernah berkata kepada para Sahabatnya:

هَلُمُّوْا نَزْدَادُ إِيْمَانًا

Marilah kita menambah iman kita.[5]

Sahabat Abu ad-Dardâ` Uwaimir al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata:

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu bertambah dan berkurang.[6]

b. Dari kalangan Tâbi’in, di antaranya:
Abu al-Hajjâj Mujâhid bin Jabr al-Makki (wafat tahun 104 H) menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.[7]

Abu Syibl ‘Alqamah bin Qais an-Nakhâ’i (wafat setelah tahun 60 H)
berkata kepada para sahabatnya:

امْشُوْا بِنَا نَزْدَدُ إِيْمَانًا

Berangkat kita menambah iman.[8]

c. Kalangan tabi’ut Tâbi’in, di antaranya:
`Abdurrahmân bin ‘Amru al-‘Auzâ’i (wafat tahun 157 H) menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ
الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ
مُبْتَدِعٌ

Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa
yang menyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, maka
berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.[9]

Beliau juga ditanya tentang iman, apakah akan bertambah? Beliau
menjawab, “Ya, hingga menjadi seperti gunung”. Beliau ditanya lagi,
“Apakah akan berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Ya hingga
tidak sisa sedikit pun darinya.”[10]

d. Imam Fikih yang empat (Aimmah arba’ah), di antaranya:
Muhammad bin Idris asy-Syâfi’i rahimahullah menyatakan:

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang[11]

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyatakan, “Iman itu sebagiannya lebih
unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambah dengan
beramal dan berkurang dengan meninggalkan beramal, karena perkataan
adalah yang mengakuinya.[12]

Demikianlah pernyataan dan pendapat para Ulama Ahlussunnah seluruhnya,
sebagaimana dijelaskan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam
pernyataan beliau, “Para Salaf telah berijmâ’ bahwa iman adalah ucapan
dan perbuatan, bertambah dan berkurang”.

Dari sini jelaslah kesalahan orang yang menganggap masalah bertambah
dan berkurangnya iman sebagai masalah khilâfiyah di antara Ulama
Ahlussunnah. Wallâhu a’lam.

SEBAB-SEBAB BERTAMBAH DAN BERKURANGNYA IMAN
Setelah mengetahui bahwa iman itu bertambah dan berkurang, maka
mengenal sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman memiliki manfaat
dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya seorang Muslim
mengenal, kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk
menjauhkan diri dari lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman,
sehingga dapat menjaga diri dan selamat di dunia dan akhirat.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa seorang
hamba yang mendapatkan taufik dari Allah Azza wa Jalla selalu berusaha
melakukan dua perkara:

a. Merealisasikan iman dan cabang-cabangnya dan menerapkannya, baik
secara ilmu dan amal secara bersama.

b. Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau
menguranginya berupa fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi,
mengobati kekurangan dari awal dan setelahnya dengan taubat nasuha
serta mengetahui satu perkara sebelum hilang.[13]

Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal
sebab-sebab bertambahnya iman kemudian melaksanakannya. Sedangkan cara
menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan
mengenal sebab-sebab berkurangnya iman serta berhati-hati dari
terjerumus padanya.

Di antara sebab-sebab bertambahnya iman yang disampaikan para Ulama adalah:
1. Belajar ilmu yang manfaat yang bersumber dari al-Qur`ân dan Sunnah.
Ini merupakan sebab bertambahnya iman yang terpenting dan bermanfaat,
karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan
mewujudkan tauhid dengan benar dan pas. Bertambahnya iman yang
didapatkan dari ilmu biasa terjadi dari beraneka ragam sisi, di
antaranya:
a. Sisi keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu
b. Duduknya mereka dalam halaqah ilmu
c. Mudzâkarah (diskusi) di antara mereka dalam masalah ilmu
d. Penambahan pengetahuan terhadap Allah Azza wa Jalla dan syariat-Nya
e. Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari
f. Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka

2. Merenungi ayat-ayat Allah Azza wa Jalla kauniyah. Merenungi dan
meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah Azza wa Jalla
yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang
sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman.

Syaikh `Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Di antara sebab
dan faktor pendorong keimanan adalah tafakur kepada alam semesta
berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhuk penghuninya dan
meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki.
Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat bagi iman”.[14]

3. Berusaha sunggug-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas,
memperbanyak dan melaksanakannya secara rutin. Hal ini karena semua
amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman,
sebab iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya
ibadah. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah pernah
menuturkan bahwa di antara sebab bertambahnya iman adalah melakukan
ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya
pelaksanaan, jenis amalan dan banyaknya. Semakin baik amalan, semakin
besar pula bertambah iman, dan bagusnya pelaksanaan diperoleh dengan
cara ikhlas dan mutâba’ah (mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam). Sedangkan jenis amalannya, maka yang wajib lebih utama dari
yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan lebih
utama dari yang lainnya. Semakin utama suatu ketaatan, maka semakin
besar juga penambahan imannya. Adapun banyak (kuantitas) amalan, maka
akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman, sehingga
pasti iman itu bertambah dengan bertambahnya amalan”[15]

Adapun sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri
manusia sendiri (intern) dan ada yang berupa faktor luar (ekstern).
Di antara faktor internal manusia sendiri yang memiliki pengaruh besar
dalam melemahkan iman adalah:

1. Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar berkurang iman, sebagaimana
ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman.

2. Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara
ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.

3. Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas, kemaksiatan dan dosa sangat
merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana
pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla bisa menambah keimanan,
demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Azza wa Jalla , bisa
mengurangi keimanan. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan
bertingkat-tingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang
ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan Ibnul-Qayyim rahimahullah
dalam ungkapan beliau, “Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan
kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman dan amal shaleh pun
berderajat-derajat”.[16]

4. Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammarat bissu’).
Inilah nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak
kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah Azza wa Jalla
jelaskan dalam menceritakan istri al-Azîz.

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi
rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. [Yûsuf/13:53]

Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman,
sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla darinya
dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.

Sedangkan di antara faktor eksternal adalah :
1. Setan, musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab eksternal
penting yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.

2. Dunia dan fitnahnya. Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya
termasuk sebab yang dapat mengurangi keimanan, sebab semakin besar
semangat manusia memiliki dunia dan keridhaannya terhadap dunia, maka
semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian
akhirat, sebagaimana dituturkan Imam Ibnul-Qayyim raimahullah.

3. Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi
sesuatu yang sangat berbahaya bagi keimanan, akhlak dan agamanya.
Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan
kita dari hal ini dalam sabda beliau:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seorang itu berada di atas agama kekasihnya, maka hendaknya salah
seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.[17]

perkara yang harus diperhatikan dalam keimanan, mudah-mudahan hal ini
dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman dan
menyempurnakannya.
Wabillâhi taufîq.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M,
Penulis Ustadz Muslim Al-Atsari. Penebit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo –Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183
Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Kisah ini Diriwayatkan oleh al-Ajûri dalam kitab Asy-Syari’at hlm. 117
[2]. Tafsir As-Sa’di 5/33
[3]. Diriwayatkan oleh al-Khalâl dalam kitab As-Sunnah no. 1045
[4]. At-Taudhîh Wal-Bayân Lis Syajarât al-Imân hlm. 14
[5]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al- Mushannaf 11/26
dengan sanad shahîh
[6]. Diriwayatkan oleh `Abdullâh bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah 1/314
[7]. Diriwayatkan oleh `Abdullâh bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah 1/335
[8]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 11/25 dan
dinilai hasan oleh al-Albâni t dalam komentar beliau terhadap kitab
Al-Imân karya Ibnu Abi Syaibah.
[9]. Diriwayatkan oleh al-Ajûri rahimahullah dalam kitab Asy-Syarî’at hlm. 117.
[10]. Diriwayatkan oleh al-Lâlikâi dalam Ushûl I’tiqâd 5/959.
[11]. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 10/115
[12]. Diriwayatkan oleh al-Khalâl dalam kitab As-Sunnah 2/678
[13]. At-Taudhîh Wal-Bayân Lis Syajarât al-Imân hlm. 38
[14]. Ibid hlm. 31
[15]. Fathu Rabbil-Bariyyah hlm. 65
[16]. Ighâtsatul-Lahafân 2/142
[17]. HR at-Tirmidzi 4/589 dan dinilai hasan oleh Iman al-Albâni rahimahullah.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke