2012/10/26 <[email protected]>

> **
>
>
> السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
> Bagaimana hukumnya jika sholat dimasjid yang diluar mihrab/kiblatnya
> terdapat kuburan,,dan kita sudah berusaha u/ mencari mesjid yang lain
> tetapi tidak didapati (jika dipaksakan juga maka akan terlewati khutbah
> jum'at)..
> شُكْرًا
> جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا
> وَعَلَيْكُمْالسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
>
>
Berikut ini adalah fatwa Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i- rahimahullahu-
tentang permasalahan di atas. Fatwa beliau ini kami jumpai di buku kumpulan
fatwa beliau yang berjudul *Tuhfah al Mujib fi As-ilah al Hadhir wa al
Gharib* terbitan Dar Haramain Kairo, halaman 88-89, cetakan pertama 1424.

أما بعد: فهذه أسئلة وردت من إخواننا في دولة إندونيسيا المسلمة إلى شيخنا أبي
عبدالرحمن مقبل بن هادي الوادعي حفظه الله.
السؤال: ما حكم الصلاة في المسجد الذي أمامه مقبرة؟

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang datang dari saudara-saudara
kita yang tinggal di sebuah negara Islam bernama Indonesia.
Pertanyaan-pertanyaan ini ditujukan kepada guru kami Abi Abdirahman Muqbil
bin Hadi al Wadi’i.
Teks pertanyaan, “*Apa hukum shalat di masjid yang di sisi kiblatnya
terdapat pemakaman?*”

الجواب: الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن
والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده
ورسوله.
أما بعد: فالصلاة في المسجد الذي أمامه مقبرة خارج جدار المسجد صحيحة، لأنّ
النهي عن الصلاة في المسجد الذي فيه مقبرة، كما جاء عن أبي سعيد الخدري رضي
الله عنه عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: ((الأرض كلّها مسجد،
إلاّ المقبرة والحمّام)).

Jawaban Syeikh Muqbil:

“*Segala puji hanyalah milik Allah. Sanjungan dan keselamatan semoga selalu
dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabatnya dan semua orang
yang loyal kepada beliau.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah
semata tiada sekutu baginya/ Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan utusannya.*

Sholat yang dikerjakan di dalam masjid yang pada sisi kiblatnya terdapat
pemakaman dan pemakaman tersebut ada di luar tembok masjid adalah *sholat
yang sah*.

Yang terlarang adalah mengerjakan sholat di masjid yang di dalamnya
terdapat makam sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Said al Khudri,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “*Semua bagian bumi itu bisa
dipergunakan untuk sholat asalkan bukan pemakaman dan bukan hammam (tempat
mandi umum)*”.

وفي “صحيح مسلم” من حديث جندب عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال:
((ألا وإنّ من كان قبلكم كانوا يتّخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا
تتّخذوا القبور مساجد، إنّي أنْهاكم عن ذلك)).

Dalam Shahih Muslim dari Jundub, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “*Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu
menjadikan kubur para nabi dan orang shalih mereka sebagai masjid
(baca:tempat ibadah). Ingatlah, janganlah kalian menjadikan makam sebagai
masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut*”.

وحديث: أنّ النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: ((لا تصلّوا إلى القبور،
ولا تجلسوا عليها)).
فهذا إذا كانت الصلاة إليها بدون حائط أو جدار. أما إذا وجد الجدار أو الحائط
وهي خارج المسجد، فالصلاة صحيحة إن شاء الله.

Sedangkan maksud hadits, “*Janganlah kalian sholat dengan menghadap makam
dan janganlah kalian menduduki makam*” adalah *larangan sholat menghadap
makam secara langsung tanpa terhalang tembok*.
Oleh karena itu, jika sudah terdapat tembok sehingga posisi makam itu di
balik tembok maka sholat yang dikerjakan di masjid semacam itu adalah sholat
yang sah, insya Allah”.

***
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kutipan fatwa di atas:

1. Syeikh Muqbil berpendapat sahnya sholat di masjid yang di sebelah
baratnya terdapat makam meski makam tersebut tidak memiliki pagar atau
tembok makam yang tersendiri. Landasan beliau dalam hal ini sangat kuat
karena yang dimaksud dengan menjadikan kubur sebagai masjid adalah masjid
yang di dalamnya terdapat makam, sedangkan dalam hal ini posisi makam ada
di luar masjid.

2. Jika ada orang yang beralasan bahwa sholat di masjid tersebut berarti
sholat dengan menghadap makam atau kubur dan hal ini dilarang Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam maka jawabannya adalah dengan kita katakan
bahwa sholat semacam itu tidak bisa disebut sholat menghadap kubur namun
sholat menghadap tembok masjid.

3. Jika ada orang yang mengatakan bahwa tembok masjid semata itu belum
cukup untuk terhindar dari larangan sholat menghadap kubur maka kita bisa
balik bertanya mengapa keberadaan tembok masjid dinilai belum cukup? Adakah
dalil atas anggapan ini? Apa dalil yang mengharuskan adanya tembok atau
pembatas tambahan selain tembok masjid? Mengapa dua tembok atau dua
pembatas dinilai cukup? Adakah dalil yang membedakan antara adanya dua
pembatas dengan satu pembatas saja yaitu tembok masjid?

4. Anggapan bahwa orang yang sholat di masjid yang di bagian kiblatnya
terdapat kuburan adalah orang yang kesalafiannya diragukan adalah anggapan
yang tidak benar. Terlebih lagi bahwa masalah ini adalah* masalah fiqh* dan
bukan masalah yang menjadi tolak ukur seorang ahli sunah ataukah bukan. *Tidak
perlu menambahkan tolak ukur ahli sunah dengan tolak ukur yang tidak
dikenal oleh para ulama ahli sunah itu sendiri*. Bahkan ada orang yang
meragukan kesalafian seorang ustad yang dikenal sebagai ustad salafy
gara-gara masalah ini. *Sungguh suatu hal yang aneh sekali.*

5. Kaedah fiqh mengatakan bahwa keluar dari perselisihan ulama adalah suatu
hal yang dianjurkan. Mengingat hal tersebut maka adanya pembatas tambahan
selain tembok masjid adalah suatu hal yang baik dalam rangka keluar dari
perselisihan di antara para ulama.
sumber: http://ustadzaris.com/bila-di-kiblat-masjid-ada-makam

Kirim email ke