PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3429/slash/0/pengertian-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

A. Definisi ‘Aqidah
‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari
kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan,
at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan
yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan
(menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang
berarti mengikat dengan kuat.[1]

Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang
teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang
meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban,
bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada
Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir,
takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih
tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang
ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush
Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah
maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan
As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[3]

B. Objek Kajian Ilmu ‘Aqidah[4]
‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep
Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam,
masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita
(tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar
hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan,
termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa
nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi
menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya,
dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan
firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Ahlus Sunnah:
Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman
‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam
Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena
‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan
dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang
masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama
Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam
kitab-kitab mereka.[5]

2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah
‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam
kitab-kitab mereka.[6]

3. Tauhid
‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar
Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan
Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang
paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu
ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.[7]

4. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para
penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah
‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga
generasi pertama.[8]

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah
yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para
ulama.[9]

6. Al-Fiqhul Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar,
yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[10]

7. Asy-Syari’ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza
wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang
paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).[11]

Itulah beberapa nama lain dari ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan
adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan ‘aqidah mereka
dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian
aliran Asyaa’irah (Asy’ariyyah), terutama para ahli hadits dari
kalangan mereka.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Firqah (Sekte) Lain:
Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah (sekte) selain
Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu ‘aqidah, dan yang paling terkenal
di antaranya adalah:

1. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mu-takallimin
(pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah[12] dan
kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai,
karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi
diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas
Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan
dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah
‘aqidah.

2. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan
mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena
dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan
pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis
serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang
tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang
baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi,
klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan
sebagai rujukan dalam ‘aqidah.

Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan
ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran
agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah
Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh
kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu
domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam
memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan
tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan
memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum
Islam.”[13]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) rahimahullah berkata
di dalam bukunya at-Tashawwuful-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita
memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan
terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui
oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang
baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara
Shufi dengan ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak
pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau Radhiyallahu
anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya,
kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta
Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta ke-zuhudan Budha, konsep
asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi,
Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilakukan oleh
orang-orang Shufi belakangan.”[14]

Syaikh ‘Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya,
Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar)
paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu
dengannya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok
Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga
kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan
ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme,
Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan
Paganisme.”[15]

4. Ilaahiyyat (Teologi)
Illahiyat adalah kajian ‘aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah
nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan
para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama
ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya
kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum mutakallimin tentang Allah
Subhanahu wa Ta’ala menurut persepsi mereka.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta
orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai,
karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan
dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip
atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu
palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) ‘aqli maupun naqli.
Sesungguhnya ‘aqidah yang mempunyai pengertian yang benar yaitu
‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Qur-an dan
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta
Ijma’ Salafush Shalih.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box
7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lisaanul ‘Arab (IX/311: عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H)
t dan Mu’jamul Wasiith (II/614: عقد).
[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat Allah.
[3]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12)
oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/
th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya
Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal
Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql.
[4]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 12-14).
[5]. Seperti Kitaabul Iimaan karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam
(wafat th. 224 H), Kitaabul Iimaan karya al-Hafizh Abu Bakar ‘Abdullah
bin Muhammad bin Abi Syaibah (wafat th. 235 H), al-Imaan karya Ibnu
Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah (wafat th. 728 H), رحمهم الله .
[6]. Seperti ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni
(wafat th. 449 H), Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah
(hal. 5-6) oleh Imam al-Lalika-i (wafat th. 418 H) dan al-I’tiqaad
oleh Imam al-Baihaqi (wafat th. 458 H), رحمهم الله.
[7]. Seperti Kitaabut Tauhiid dalam Shahiihul Bukhari karya Imam
al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitaabut Tauhiid wa Itsbaat Shifaatir
Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitaab I’tiqaadit Tauhiid
oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitaabut
Tauhiid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitaabut Tauhiid oleh
Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H), رحمهم الله.
[8]. Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th.
241 H), as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290
H), as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah
karya Imam al-Barba-hari (wafat th. 329 H), رحمهم الله.
[9]. Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H),
asy-Syarh wal Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah
al-Ukbari (wafat th. 387 H) dan al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya
Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H), رحمهم الله.
[10]. Seperti kitab al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah
rahimahullah (wafat th. 150).
[11]. Seperti kitab asy-Syarii’ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan
al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.
[12]. Seperti Syarhul Maqaashid fii ‘Ilmil Kalaam karya at-Taftazani
(wafat th. 791 H).
[13]. Ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari
Haqiiqatuth Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah
al-Fauzan (hal. 18-19).
[14]. At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir (hal. 50), cet. I/ Idaarah
Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th. 1406 H.
[15]. Mashra’ut Tashawwuf (hal. 10), cet. I/ Riyaasah Idaaratil
Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’, th. 1414 H.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke