SHALAT SUNNAH RAWATIB ZHUHUR
Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi:
http://almanhaj.or.id/content/3506/slash/0/shalat-sunah-rawtib-zhuhur/
Sebagaimana telah dijelaskan pada edisi terdahulu, berikut kami
lanjutkan pembahasan mengenai shalat sunnah rawâtib Zhuhur.
Mudah-mudahan bermanfaat dan memacu semangat kita untuk
mengamalkannya.
HUKUM SHALAT SUNNAH RAWÂTIB ZHUHUR
Shalat sunnah rawâtib Zhuhur termasuk shalat sunnah muakkad (sangat
ditekankan) yang dilakukan dan dianjurkan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Yang mendasarinya, yaitu keumuman hadits-hadits
yang menjelaskan shalat sunnah rawâtib, seperti hadits Ummu Habîbah
dan Ibnu 'Umar.[1]
JUMLAH RAKAAT SUNNAH RAWÂTIB ZHUHUR
Beberapa riwayat yang menjelaskan jumlah rakaat shalat sunnah rawâtib
Zhuhur, ialah sebagai berikut.
1. Dua rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana
dalam hadits Ibnu 'Umar yang berbunyi:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ
رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ
الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا
أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Aku hafal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh rakaat: dua
rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah
Maghrib, dua rakaat setelah 'Isya dan dua rakaat sebelum shalat Subuh.
Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan kepadaku bahwa bila muadzin
beradzan dan terbit fajar beliau shalat dua rakaat.[2]
2. Empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana
dalam hadits 'Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ
أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ
Sungguh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dahulu tidak pernah
meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.[3]
Hadits 'Abdullah bin Syaqîq Radhiyallahu anhu ketika bertanya kepada
'Aisyah Radhiyallahu anhuma tentang shalat sunnah yang dikerjakan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau Radhiyallahu
anhuma menjawab:
كَانَ يُصَلِّي فِي بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا ثُمَّ يَخْرُجُ
فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, shalat di rumahnya
sebelum Zhuhur empat rakaat, kemudian keluar dan shalat mengimami
manusia. Kemudian masuk (rumah lagi) dan shalat dua rakaat.[4]
3. Empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat setelahnya, sebagaimana
terdapat dalam hadits Ummu Habîbah yang berbunyi:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ
بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat
rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari neraka".[5]
Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruhnya, maka ia telah
melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat
rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah
dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin
Shalih al-'Utsaimin.[6]
KEUTAMAAN SUNNAH RAWÂTIB ZHUHUR
Shalat rawâtib Zhuhur termasuk yang tidak pernah ditinggalkan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kecuali ketika dalam keadaan bersafar.
Shalat ini memiliki keutamaan seperti keumuman shalat rawâtib lainnya.
Namun ada beberapa hadits yang menjelaskan keutamaannya, khususnya
seperti hadits Ummu Habîbah yang berbunyi:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ
بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat
rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari neraka".
Dan hadits yang berbunyi:
أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ
Empat rakaat sebelum Zhuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit
fajar).[7]
TATA CARA SUNNAH RAWÂTIB ZHUHUR
Empat rakaat sunnah rawâtib Zhuhur dapat dilakukan dengan dua cara.
1. Dilakukan dengan dua kali salam, sebagaimana dijelaskan dalam sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى
Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.[8]
2. Dilakukan dengan satu salam dan dua tasyahud, dengan dasar hadits
yang berbunyi:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ
لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
Dari Abu Ayyub dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau
bersabda: "Empat rakaat sebelum Zhuhur, tidak ada padanya salam, maka
dibukakan karenanya pintu-pintu langit".[9]
Imam Abu 'Isa at-Tirmidzi berkata: "Kebanyakan ulama dari kalangan
sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah mereka
mengamalkan hadits ini. Mereka merajihkan seorang shalat sebelum
Zhuhur empat rakaat. Inilah pendapat Sufyân ats-Tsauri, Ibnul-Mubârak,
Ishâq dan ahli Kufah. Sebagian ulama mengatakan, shalat malam dan
siang dua rakaat dua rakaat. Mereka memandang pemisahan antara setiap
dua rakaat. Demikian inilah pendapat asy-Syafi'i dan Ahmad.[10]
SESEORANG TIDAK SEMPAT MELAKUKAN SHALAT SUNNAH EMPAT RAKAAT SEBELUM ZHUHUR
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin memberikan satu kaidah tentang
mengqadha shalat sunnah ini dengan pernyataan sebagai berikut:
Seseorang yang tidak sempat melakukan shalat-shalat rawâtib ini pada
waktunya, maka disunnahkan mengqadhanya, dengan syarat karena udzur.
Dasarnya, yaitu hadits Abu Hurâirah dan Abu Qatadah dalam kisah
tidurnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat
dalam suatu perjalanan sehingga terlambat shalat Subuh, lalu beliau
melakukan shalat rawatib Subuh dahulu, baru kemudian shalat Subuh.
Demikian juga hadits Ummu Salamah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tersibukkan dari dua rakaat setelah Zhuhur dan mengqadhanya
setelah shalat 'Ashr. Ini adalah nash dalam qadha shalat sunnah
rawâtib. Begitu juga keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam (yang berbunyi):
مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا
Barang siapa yang ketiduran dari shalat atau lupa, maka hendaklah ia
shalat ketika ingat.
(Pengertian) ini mencakup shalat fardhu dan nafilah (sunnah), dan ini
bila ditinggalkan karena udzur seperti lupa, ketiduran dan sibuk
dengan yang lebih penting. Adapun bila ditinggalkannya dengan sengaja
sehingga kehilangan waktunya, maka ia tidak mengqadhanya. Kalaupun ia
mengqadhanya, maka tidak sah sebagai rawâtib darinya. Karena shalat
rawâtib merupakan ibadah dengan waktu tertentu. Ibadah yang memiliki
ketentuan waktu, bila seseorang sengaja melakukan keluar dari
waktunya, maka (ibadah itu) tidak diterima. Dasarnya, ialah sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya
perintah kami, maka ia tertolak. [HR Muslim].
Demikianlah ibadah yang memiliki ketentuan waktu; (sehingga) bila
engkau keluarkan darinya dengan sengaja, maka engkau telah melakukan
amalan yang tidak ada perintah dari Allah l dan Rasul-Nya n . Sebab
Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan untuk engkau kerjakan pada waktu
tersebut, sehingga tidak diterima (selainnya). Juga sebagaimana tidak
sah shalat sebelum waktunya, maka tidak sah pula shalat setelah keluar
waktunya, karena hakikinya tidak ada perbedaan antara engkau kerjakan
sebelum masuk waktunya, maupuan setelah keluar waktunya apabila tanpa
udzur.[11]
Dengan dasar ini, apabila seseorang tidak dapat melakukan shalat
sunnah rawatib sebelum Zhuhur karena udzur, maka ia boleh
mengqadhanya. Yaitu dilakukan setelah shalat Zhuhur, sebagaimana
dijelaskan dalam hadits 'Aisyah yang berbunyi:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ
يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلَّاهُنَّ بَعْدَهُ
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, bila tidak
shalat empat rakaat sebelum Zhuhur, maka beliau lakukan
setelahnya.[12]
SESEORANG TIDAK SEMPAT MELAKUKAN SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SETELAH DZUHUR
Demikian pula jika seseorang tidak dapat melakukan shalat sunnah
rawatib sebelum Zhuhur karena udzur, maka ia boleh mengqadhanya
setelah hilang udzurnya, walaupun setelah shalat 'Ashar. Hal ini
didasarkan pada hadits yang berbunyi:
عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
عَبَّاسٍ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَزْهَرَ وَالْمِسْوَرَ بْنَ
مَخْرَمَةَ أَرْسَلُوهُ إِلَى عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا اقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ
مِنَّا جَمِيعًا وَسَلْهَا عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ وَقُلْ
إِنَّا أُخْبِرْنَا أَنَّكِ تُصَلِّينَهُمَا وَقَدْ بَلَغَنَا أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُمَا
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أَضْرِبُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
النَّاسَ عَلَيْهَا قَالَ كُرَيْبٌ فَدَخَلْتُ عَلَيْهَا وَبَلَّغْتُهَا
مَا أَرْسَلُونِي بِهِ فَقَالَتْ سَلْ أُمَّ سَلَمَةَ فَخَرَجْتُ
إِلَيْهِمْ فَأَخْبَرْتُهُمْ بِقَوْلِهَا فَرَدُّونِي إِلَى أُمِّ
سَلَمَةَ بِمِثْلِ مَا أَرْسَلُونِي بِهِ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ
أُمُّ سَلَمَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُمَا ثُمَّ رَأَيْتُهُ يُصَلِّيهِمَا أَمَّا
حِينَ صَلَّاهُمَا فَإِنَّهُ صَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ وَعِنْدِي
نِسْوَةٌ مِنْ بَنِي حَرَامٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَصَلَّاهُمَا
فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ الْجَارِيَةَ فَقُلْتُ قُومِي بِجَنْبِهِ فَقُولِي
لَهُ تَقُولُ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُكَ
تَنْهَى عَنْ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ وَأَرَاكَ تُصَلِّيهِمَا فَإِنْ
أَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخِرِي عَنْهُ قَالَ فَفَعَلَتْ الْجَارِيَةُ
فَأَشَارَ بِيَدِهِ فَاسْتَأْخَرَتْ عَنْهُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ يَا
بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ سَأَلْتِ عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ
إِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ بِالْإِسْلَامِ مِنْ
قَوْمِهِمْ فَشَغَلُونِي عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ
الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ
Dari Kuraib Maula Ibnu 'Abbas, bahwasanya 'Abdullah bin 'Abbas,
'Abdur-Rahman bin Azhar dan al-Miswar bin Makhramah mengutusnya
menemui 'Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka
berkata: "Sampaikan kepada beliau salam dari kami semua dan tanyakan
tentang dua rakaat setelah shalat 'Ashar. Juga katakan, bahwa kami
menerima berita bahwa engkau melakukan shalat dua rakaat (setelah
'Ashar) tersebut, padahal telah sampai kapada kami bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya".
Ibnu 'Abbas berkata: "Aku, dahulu bersama 'Umar bin al-Khaththab
memukul orang yang melakukannya".
Kuraib berkata: "Lalu aku menemui beliau ('Aisyah) dan menyampaikan
semua pesan mereka," lalu beliau berkata: 'Tanyakanlah kepada Ummu
Salamah,' lantas aku berangkat kepada mereka dan memberitahukan mereka
tentang jawaban beliau. Kemudian mereka menyuruhku pergi ke Ummu
Salamah dengan pesan-pesan yang dibawa kepada 'Aisyah".
Kemudian Ummu Salamah menjawab: "Aku telah mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keduanya, kemudian aku
melihat beliau mengerjakannya. Adapun waktu beliau melakukannya, yaitu
setelah shalat 'Ashar kemudian masuk, dan bersamaku ada beberapa orang
wanita kalangan Anshar dari Bani Harâm, lalu beliau melakukan shalat
dua rakaat tersebut. Maka aku menyuruh seorang anak perempuan menemui
beliau (dan) aku katakan, 'Berdirilah engkau disamping beliau dan
katakan kepadanya bahwa Ummu Salamah bertanya: 'Wahai Rasulullah! Aku
telah mendengar engkau melarang dari dua rakaat tersebut dan melihatmu
melakukannya'. Apabila beliau memberi isyarat dengan tangannya, maka
mundurlah (engkau) darinya".
Kuraib berkata: "Anak perempuan itupun melakukannya, dan Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya, maka
iapun mundur dari beliau".
Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai, maka berkata:
"Wahai, bintu Abi Umayyah! Engkau telah bertanya tentang dua rakaat
setelah shalat 'Ashr?! Sesungguhnya telah menemuiku beberapa orang
dari 'Abdul-Qais masuk Islam dari kaum mereka, sehingga menyibukkanku
dari melakukan dua rakaat (shalat rawatib) setelah Zhuhur. Maka,
inilah dua rakaat itu".[13]
Demikianlah beberapa permasalahan seputar shalat sunnah rawatib Zhuhur
yang dapat kami jelaskan. Semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun
XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[2]. HR al- Bukhâri kitab Tahajjud, Bab: ar-Rakatain Qabla Zhuhur
no.1180, dan Muslim kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab:
Fadhlus-Sunan ar-Râtibah, 729.
[3]. HR al-Bukhâri dalam kitab al-Jum'at, Bab: ar-Rak'atain
Qablal-Zhuhri, no. 1110.
[4]. HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Jawâz
an-Nâfilah Qâiman wa Qa'idan, no. 730.
[5]. HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab
ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba'
Qablal-Zhuhri wa Ba'daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat
was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ`a fîman Shalla Qablal-Zhuhri Arba'an wa
Ba'daha Arba'an, no. 1160. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh
Sunan Ibnu Majah, 1/191.
[6]. Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun
XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52.
[7]. HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan
Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahîhah no. 1431. Lihat
Silsilah (3/416).
[8]. HR an-Nasâ`i dalam kitab Qiyâmul-Lail wa Tathawu' an-Nahâr, Bab:
Kaifa Shalatul-Lail (3/227), Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat
was-Sunnah fîha, Bab: Mâ Jâ fî Shalatul-Lail wan-Nahâr Matsna Matsna,
no. 1322. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Ibnu Majah
(1/221).
[9]. HR Abu Dawud 1269, dan Dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam
Shahîhut-Targhib wat-Tarhîb no. 585 dan Shahîh Abu Dawud.
[10]. Sunan at-Tirmidzi (2/289-290).
[11]. Syarhul-Mumti' (4/101-103).
[12]. HR at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Minhu Aakhar, no.
426, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab:
Man Fâtathu al-Arba' Qablal-Zhuhur, no. 1158; dan dishahîhkan Syaikh
al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/134). Lihat pula
Tamamul-Minnah, 241.
[13]. HR al- Bukhâri, kitab as-Sahwu, Bab: Idza Kallama wahuwa
Yushalli fa 'Asyara biyadihi wastama`, no. 1233, dan Muslim, kitab
Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Ma'rifatur-Rak'atain allataini
Kâna Yushalîhumâ an-Nabi n Ba'dal-'Ashr, no. 834.
------------------------------------
Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/