AL-QUR'AN MENURUT PANDANGAN LIMA FIRQAH

Oleh
Dr. 'Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar
http://almanhaj.or.id/content/3523/slash/0/al-quran-menurut-pandangan-lima-firqah/

Al Qur`an, adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa salllam sebagai mukjizat bagi beliau,
yang dibaca untuk ibadah. Setelah munculnya ahli bid'ah dengan segala
sepak-terjangnya yang keliru dalam memandang al Qur`an, maka Ahli
Sunnah wal Jama'ah merasa perlu mendefiniskan al Qur`an, sehingga
'aqidah mereka tentang al Qur`an berbeda dengan pandangan ahli bid'ah.

Ahli Sunnah wal Jama'ah meyakini, al Qur`an adalah Kalamullah. Berasal
dari Allah, berupa perkataan tanpa dapat diketahui caranya. Al Qur`an
diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Sebagai Kalamullah, maka al
Qur`an bukan makhluk, tidak seperti halnya ucapan manusia. Barangsiapa
mendengar al Qur`an dan menyangkanya sebagai perkataan manusia,
sungguh ia telah kafir. [1]

Ahli Sunnah wal Jama'ah menjadikan Kitabullah dan wahyu dari-Nya
sebagai landasan utama dalam menetapkan 'aqidah dan dalam pengambilan
dalil. Tidak ada masalah 'aqidah atau masalah lain yang mempunyai
dalil dari Kitabullah, kecuali mereka menyampaikannya, mengutamakan di
atas segalanya, dengan mengagungkan Kalamullah dan bergantung
kepadanya. Tidak bertumpu kepada manusia yang lemah. Sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata. [al Ahzab/33:36].

Aspek lain yang membuat mereka memberi perhatian sangat besar kepada
al Qur`an, karena Allah telah memudahkan al Qur`an untuk dipahami.
Tidak ada ayat-ayat yang sulit dipahami. Juga tidak ada ungkapan yang
janggal di dalamnya. Al Qur`an tidak memuat sesuatu yang ditolak oleh
akal dan pikiran yang sehat. Tidaklah mustahil siapa pun dapat
menguasainya, karena kandungan al Qur`an dapat dijangkau kemampuan
akal manusia. Tidak menjadi monopoli segelintir orang, atau strata
tertentu saja. Di dalam al Qur`an tidak ada kata-kata yang mengandung
teka-teki atau rahasia. Setiap orang dapat menguasai sesuai dengan
kemampuannya.

Ini berbeda dengan kebohongan yang digulirkan ahli bid'ah. Mereka
beranggapan, adanya kontradiksi antara akal dengan naql. Berkaitan
dengan kedudukan al Qur`an ini, berikut kami paparkan pandangan
beberapa firqah dalam menempatkan al Qur`an pada diri mereka. Tulisan
ini bersumber dari Tanaqudhi Ahlil-Ahwa wal-Bida'i fil 'Aqidah, karya
Dr. 'Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar, Cetakan I, Th. 1421H/
2000M, Penerbit Maktabah Rusyd, Riyadh.

GOLONGAN KHAWARIJ
Firqah Khawarij, sesungguhnya mengagungkan al Qur`an dan berkeinginan
mengikuti kandungannya. Akan tetapi, jika melihat keberadaan mereka,
ternyata sangat jauh dari angan-angan. Mereka tidak
mengaplikasikannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, dasar pemikiran mereka
adalah mengagungkan al Qur`an dan ingin mengikutinya. Hanya saja,
mereka keluar dari lingkaran Ahli Sunnah wal-Jama'ah. Mereka tidak
mengikuti Sunnah yang dianggap menyelisihi al Qur`an. Misalnya,
seperti hukum rajam dan nishab pencurian".

Mereka mengakui keberadaan al Qur`an dan hujjahnya, tetapi tidak
memahami layaknya generasi Salafush-Shalih. Dari sinilah kesesatan
mereka bermula. Mereka, seperti diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, mengikuti ayat-ayat mutasyabih dan mentakwilkannya, padahal
tidak mengerti maknanya, tidak memiliki ilmu yang luas, tidak
mengikuti Sunnah, dan juga tidak mengikuti pemahaman Salafush-Shalih
dalam memahami al Qur`an.

Sangat jelaslah pendirian mereka, yaitu tidak menjadikan al Qur`an
sebagai hujjah sebagaimana menurut cara yang shahih (dibenarkan). Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan tentang keberadaan
mereka: "(Mereka) membaca al Qur`an, tetapi tidak melewati
kerongkongan mereka. Keluar dari Islam, seperti melesatnya anak panah
(menembus) sasaran".

Hadits ini menjelaskan, mereka membaca al Qur`an, namun tidak
mengamalkan ajaran-ajarannya.

GOLONGAN SYI'AH
Pendirian Syi'ah terhadap al Qur`an sudah diketahui, yaitu meyakini
bahwa al Qur`an telah mengalami tahrif (perubahan), baik dengan
penambahan ataupun pengurangan. Oleh karenanya, mereka tidak memandang
al Qur`an sebagai hujjah.

Bukit-bukti yang menunjukkan pandangan mereka seperti itu, dapat
disaksikan dalam kitab-kitab karangan para ulama penganut Syi'ah.
Misal, coretan dalam kitab al Kafi, yang mereka angkat selevel dengan
Shahih Bukhari.

Kaum Syi'ah menukil pernyataan yang dinisbatkan kepada Ja'far ash
Shadiq:[2] "Kami mempunyai Mush-haf Fathimah[3] . Apa yang mereka
ketahui tentang Mush-haf Fathimah? Mush-haf Fathimah, (besarnya)
seperti al Qur`an kalian tiga kali lipat. Tidak ada satu huruf pun
dari al Qur`an kalian yang ada di sana".[4]

Jadi menurut Syi'ah, al Qur`an yang berada di tangan kaum Muslimin
saat ini, sudah tidak otentik lagi, kecuali yang berasal dari riwayat
imam-imam mereka. Bahkan untuk menguatkan klaim, mereka pun membuat
periwayatan untuk menyokong kedustaan yang mereka buat.

Misalnya, diriwayatkan dari Jabir,[5] ia berkata: Aku mendengar Abu
Ja'far al Baqir 'alaihis salam berkata: "Tidak ada seorang pun yang
mengaku telah menghimpun al Qur`an secara keseluruhan sebagaimana
diturunkan, selain ia seorang pendusta. Tidak ada seorang yang
berhasil menghimpun dan memeliharanya sebagaimana diturunkan oleh
Allah, kecuali Ali bin Abi Thalib 'alaihis salam dan para imam
sepeninggalnya".[6]

KALANGAN QADARIYAH (MU'TAZILAH)
Secara global, kalangan Qadariyah memasukkan al Qur`an sebagai bagian
dari dalil-dalil prinsip mereka. Hanya saja, mereka memandang
kepastian hukum dan petunjuk yang akurat, lebih menggunakan akal.
Menurut pemikiran Qadariyah, akal sajalah yang mengantarkan seseorang
menjadi memiliki keyakinan dan hasil yang shahih.

Salah seorang tokoh Qadariyah, yaitu al Jahizh[7] berkata: "Tidak ada
hukum yang pasti, melainkan milik akal. Dan tidak ada penjelasan yang
shahih, selain milik akal."[8]

Oleh karena itu, mereka mempunyai empat jenis pegangan, yaitu akal, al
Qur`an, Sunnah dan Ijma'. Dalam hal ini, mereka lebih mendahulukan
nalar (akal) ketimbang al Qur`an dan Sunnah. Ini merupakan bukti
kepuasaan mereka dengan kaidah yang mengatakan, bergantung kepada akal
pikiran lebih kuat dan utama daripada berlandaskan syari'at, yang
nash-nashnya tidak menghasilkan keyakinan dan ilmu yang pasti. Mereka
mendewakan akal pikiran dan meyakini, bahwa manusia dapat mengenal
Allah dan hikmah-Nya melalui akal semata. Bahkan Ibrahim Nazhzham,
salah seorang pentolan Mu'tazilah berkata: "Sesungguhnya kekuatan
hujjah akal terkadang dapat menghapuskan nash-nash (hukum)".[9]

Dengan demikian, dapat diketahui apresiasi mereka dalam menempatkan al
Qur`an. Yaitu, mereka mendahulukan akal sebagai rujukan utama, setelah
itu menempatkan al Qur`an sebagai sumber berikutnya.

KELOMPOK MURJI'AH
Murji'ah juga menduhulukan akal ketimbang nash (naql). Menurut mereka,
akal menjadi sumber untuk mengetahui dalam masalah 'aqidah.
Ringkasnya, mereka menggantungkan kepada apa yang dihasilkan oleh akal
pikiran, dan antipati dengan al Qur`an dan Sunnah. Atau memaksakan al
Qur`an dan Sunnah untuk tunduk dengan argumentasi yang mereka bawa.

Pandangan seperti ini, telah mendorong mereka untuk menetapkan akal
sebagai tumpuan memahami nash-nash syari'at. Padahal, mereka hanya
menerjemahkannya sebatas kemampuan yang dimiliki akal mereka, namun
tetap menjadikannya sebagai dasar hukum pada segala aspek.

Apabila terjadi kontradiksi antara dalil syar'i dengan akal, maka
mereka memenangkan akal. Akhirnya, mereka melakukan takwil yang
kemudian menjadi ciri khas kelompok Murji'ah ini.

Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan, bahwa para ahli kalam memegangi
pandangan-pandangan yang mereka yakini dengan dasar akal mereka.
Setelah itu baru membaca-baca al Qur`an. Jika (kandungan ayat)
bertentangan dengan qiyas atau bertolak belakang dengan kaidah yang
sudah mereka bakukan, maka mereka pun mencari-cari takwil yang tidak
etis, lagi sangat jauh dari maksud yang benar. [10]

KELOMPOK JAHMIYAH
Sikap Jahmiyah sama dengan kelompok Murji'ah dalam memandang al
Qur`an, yaitu lebih mendahulukan akal daripada naql. Akal dijadikan
sebagai asas dan landasan utama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, Jahmiyah dan orang-orang
yang berpikiran seperti mereka dari kalangan Asy'ariyah dan lainnya,
mengatakan tidak sah beristidlal (berdalil) dengan al Qur`an mengenai
ilmu Allah, kekuasaan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan tentang Allah
beristiwa di atas Arsy.[11]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428/2007M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Syarhul-'Aqidatith-Thahawiyah.
[2]. Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi
Thalib, adalah seorang dari kalangan Tabi'in. Kaum Rafidhah (Syi'ah)
mencatutnya sebagai salah satu dari imam dua belas mereka. Banyak
ucapan kotor dan kufur yang dialamatkan kepadanya oleh Syi'ah.
Padahal, beliau sangat murka dan membuka kedok kebusukan mereka.
Biografi ringkasnya pernah kami angkat dalam Majalah As-Sunnah, Edisi
05/Tahun IX/ Rubrik Syakhshiyah, dengan judul Imam Ja'far ash Shadiq,
Imam Ahli Sunnah, Bukan Milik Syi'ah.
[3]. Fathimah az-Zahra adalah putri Rasulullah.
[4]. Diriwayatkan al Kulaini dalam al Kafi, salah satu kitab Syi'ah.
[5]. Jabir bin Yazid al Ju'fi Abu Abdillah al Kufi dari kalangan ulama
Syi'ah Rafidhah. Dia termasuk pembohong besar. Syi'ah menganggapnya
seorang perawi terkenal di kalangan mereka. Para ulama hadits dari
Ahli Sunnah tidak menoleh kepada riwayat-riwayatnya, karena adanya
faktor kedustaan yang melekat pada dirinya. Lihat Taqribut-Tahdzib,
hlm. 137.
[6]. Al Kafi (5/360). Sudah tentu perkataan ini merupakan dusta.
[7]. Dia adalah 'Amr bin Mahmub Abu Utsman al Jahizh al Bashri al
Mu'tazili. Para pengagumnya tertipu dengan kepiawaiannya dalam sastra
Arab, sehingga kesesatannya tertutup dari pandangan mereka.
[8]. Risalah at-Tarbi' wat-Tadwir karyanya, hlm. 14.
[9]. Syarhul-Ushilil-Khamsah.
[10]. Lihat penjelasan ini di dalam kitab al Ikhtilaf fil-Lafzhi
war-Raddi 'alal-Jahmiyah wal-Musyabbihah, karya Ibnu Qutaibah, hlm.
15.
[11]. Qaidah fil-Mu'jizat wal-Karamat.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke