MENINGGALKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR, SEBAB DATANGNYA ADZAB

Oleh
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian, Lc
http://almanhaj.or.id/content/3528/slash/0/meninggalkan-amar-maruf-nahi-mungkar-sebab-datangnya-adzab/

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ
خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa
orang-orang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksanya.[al-Anfâl/8l:25]

PENJELASAN AYAT
Adzab Allah Azza wa Jalla itu sangat pedih. Jika adzab itu diturunkan
pada suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat
tersebut, baik orang shaleh maupun thâlih (keji). Dalam ayat ini,
Allah Azza wa Jalla memperingatkan kaum Mukminin agar mereka
senantiasa membentengi diri mereka dari siksa tersebut dengan
melaksanakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya serta
menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.

Syaikh Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri hafizhahullâh mengatakan, “Ayat ini
sebagai peringatan lain yang amat besar bagi kaum Mukminin, agar
mereka tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan
Rasul-Nya, serta tidak meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar (menyeru
manusia kepada kebaikan dan mengajak mereka untuk menjauhi
kemungkaran). Sebab, jika mereka meninggalkannya, maka kemungkaran
akan menyebar dan kerusakan akan meluas. Bila kondisi sudah demikian,
maka adzab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat,
baik yang shaleh maupun yang thâlih, yang berbuat kebajikan maupun
yang berbuat kejelekan, baik yang adil maupun yang zhalim. Dan jika
Allah Azza wa Jalla menurunkan siksa, maka siksa-Nya sangat pedih,
tidak seorang pun yang kuat menahan siksa tersebut. Untuk itu,
hendaknya kaum Mukminin menjauhinya dengan cara melaksanakan ketaatan
kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.[1]

Imam Ibnu Jarîr rahimahullah berkata: “Dalam ayat di atas Allah Azza
wa Jalla berfirman kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Azza
wa Jalla dan Rasul-Nya (yang maknanya); “Wahai orang-orang yang
beriman peliharalah diri kalian dari siksa Allah Azza wa Jalla ,
jangan sampai siksa itu menimpa kalian, karena ulah orang-orang zhalim
yang telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak mereka lakukan,
baik berupa kezhaliman maupun perbuatan dosa (lainnya) atau karena
kalian mendatangi tempat-tempat maksiat, tempat yang pantas untuk
diturunkan adzab.[2]

HIKMAH MENEGAKKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Sesungguhnya termasuk pengertian dari nama Allah al-Hakiim (Dzat Yang
Maha Bijaksana) adalah tersimpannya banyak kebaikan bagi para hamba
dalam amalan-amalan yang dititahkan-Nya, dan adanya berbagai kerusakan
serta bahaya dibalik perkara-perkara dilarang-Nya. Maka takala
perintah untuk melaksanakan ibadah yang agung ini Allah sampaikan
kepada umat Islam, pastilah tersimpan banyak rahasia kebaikan di
dalamnya. Berikut ini di antara hikmahnya yang luhur:

1. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu bentuk
iqâmatul hujjah (penyampaian hujjah, keterangan yang jelas akan
kebenaran dari Allah Azza wa Jalla ) bagi seluruh umat manusia secara
umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Sehingga ketika turun
musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya
orang yang memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka. Mereka
juga tidak bisa beralasan dengan hal yanga sama di hadapan Allah Azza
wa Jalla kelak. Allah Azza wa Jalla berfirman :

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى
اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah
setelah rasu-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
[an-Nisâ/4:165]

2. Dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar akan terlepas
tanggungan kewajiban untuk melaksanakannya (lazim disebut barâtu
dzimmah) dari pundak orang-orang yang telah menjalankannya. Allah Azza
wa Jalla berfirman :

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَا أَنْتَ بِمَلُومٍ

maka berpalinglah engkau dari mereka, dan engkau sekali-kali tidaklah
tercela [adz-Dzâriyât/51:54]

3. Membantu saudara seiman untuk melaksanakan kebajikan, sebagai
realisasi firman Allah Azza wa Jalla :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى
الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan [al-Mâidah/5:2]

Seorang Muslim yang sejati, adalah orang yang menyukai kebaikan ada
pada saudaranya seiman, seperti dia menyukai hal itu ada pada dirinya.
Karenanya, dia bersungguh-sungguh untuk mengajak saudaranya seiman
untuk menggapai pahala dan menjauhi dosa.

4. Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu sebab terbesar untuk
mendapatkan kepemimpinan (penguasaan) di muka bumi. Allah yang telah
menciptakan bumi, maka Dia Azza wa Jalla lah yang berhak mengangkat
penguasa di muka bumi tersebut. Allah Azza wa Jalla berfirman
menyebutkan ciri-ciri para penguasa pilihan-Nya:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ
عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya,
sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang
yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka menegakkan shalat,
menunaikan zakat, memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah dari
yang munkar, dan kepada Allah lah kembali segala urusan.” [al-Hajj/22:
40-41]

GANJARAN BAGI ORANG-ORANG YANG MENEGAKKAN PILAR AMAR MA’RUF NAHI
MUNKAR SEALAMAT DARI LAKNAT.

Allah Azza wa Jalla berfirman untuk mengabarkan akan pertolongan-Nya
bagi para penegak panji nan agung ini dari laknat yang telah menimpa
Ashâb Sabt:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ
عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا
كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka
kami menyelamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan kami
timpakan kepada orang yang berbuat dzalim siksaan yang keras
disebabkan mereka selalu berbuat fasik” [al-A’raf :165]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini adalah sunnatullah (hukum
Allah Azza wa Jalla ) bagi para hamba-Nya, bahwa orang-orang yang
memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang kemungkaran
akan selamat ketika musibah menimpa. ” (Taisîrul Karîm ar-Rahmân hlm.
307)

KERUSAKAN YANG TIMBUL AKIBAT MENINGGALKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR.
Sebagaimana melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar mengandung banyak
kemaslahatan bagi umat manusia di dunia maupun di akhirat, maka begitu
pula sebaliknya, meninggalkan amalan yang agung ini akan menimbulkan
berbagai kerusakan yang dapat menghilangkan ketentraman dan kedamaian
dalam kehidupan. Dan ini merupakan salah satu tanda akan besarnya
kasih-sayang Allah Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, lantaran Dia
Azza wa Jalla senantiasa memperingatkan mereka dari hal-hal yang
membahayakan agama, dunia dan terlebih akherat mereka. Di antara
kerusakan tersebut adalah:

•Ketika amar ma’ruf nahi munkar ini ditinggalkan maka para pelaku
maksiat dan dosa akan semakin bernyali untuk terus melakukan perbuatan
nistanya, sehingga sedikit demi sedikit akan sirnalah cahaya kebenaran
dari tengah-tengah umat manusia. Sebagai gantinya, maksiat akan
merajalela, keburukan dan kekejian akan terus bertambah dan pada
akhirnya tidak mungkin lagi untuk dihilangkan.

• Sikap diam orang-orang yang mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
akan membuat perbuatan tersebut menjadi baik dan indah di mata
khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku
maksiat, dan hal ini adalah termasuk musibah dan bencana yang paling
besar.

• Sikap tidak mau mencegah hal yang mungkar merupakan salah satu sebab
hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Karena tersebarluasnya
kemungkaran tanpa adanya seorang pun dari ahli agama yang
mengingkarinya akan membentuk anggapan bahwa hal tersebut bukanlah
sebuah kemungkaran (kebatilan). Bahkan bisa jadi mereka melihatnya
sebagai perbuatan yang baik untuk dikerjakan. Pada gilirannya, akan
kian merajalela sikap menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah
Azza wa Jalla , dan mengharamkan hal-hal yamg dihalalkan oleh-Nya.
Wal’iyâdzubillâh.

PERKARA YANG MENYEBABKAN ADZAB TURUN
Di antara sebab turunnya siksa Allah Azza wa Jalla adalah

1. Adanya kemungkaran yang merajalela, baik berupa kesyirikan,
kemaksiatan, maupun kezhaliman.
Sebagaimana telah disebutkan oleh Ummul Mukminîn Zainab binti Jahsy
Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah mendatanginya dalam keadaan terkejut, seraya berkata: “Lâ ilâha
illallâh! Celakalah bangsa Arab, karena kejelekan yang telah mendekat,
hari ini telah dibuka tembok Ya’jûj dan Makjûj seperti ini – beliau
melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya - kemudian Zainab
Radhiyallahu anhuma berkata: “Apakah kita akan binasa wahai
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal di sekitar kita
ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, jika kemungkaran itu
sudah merajalela”[3]

Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata:

مَا نَزَلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍِ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah itu
tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.[4]

2. Meninggalkan Amar ma’ruf nahi mungkar.
Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits an-Nu’mân bin Basyîr
Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Perumpamaan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan
orang yang terjatuh di dalamnya adalah seperti suatu kaum yang sedang
mengundi untuk mendapatkan tempat mereka masing-masing di dalam kapal.
Sebagian mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian lainnya
mendapat di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah jika ingin
mendapatkan air minum mereka melewati orang-orang yang ada di atas.
Mereka (yang ada di bawah) berkata: “Andaikata kita melubangi perahu
ini untuk mendapatkan air minum, maka kita tidak akan mengganggu
mereka yang ada di atas”. Jika orang-orang yang ada di atas membiarkan
perbuatan dan keinginan orang-orang yang ada di bawah (yaitu melubangi
kapal), maka mereka semua akan tenggelam. [HR al-Bukhâri dan
at-Tirmidzi][5]

Dalam mengomentari hadits di atas, Syaikh Muhammad bin `Abdurrahmân
al-Mubârakfûri rahimahullah berkata: “Dan memang seperti itu maknanya,
jika manusia melarang orang yang berbuat maksiat, maka mereka semua
akan selamat dari adzab Allah Azza wa Jalla , dan sebaliknya, jika
mereka membiarkan kemaksiatan, maka mereka semua akan ditimpa adzab
dan akan binasa, dan ini adalah makna ayat (di atas).[6]

Imam al-Qurtubi rahimahullah juga berkata: “Dalam hadits ini terdapat
pelajaran yang bisa dipetik, (di antaranya), datangnya adzab tersebut
dikarenakan dosa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan juga
disebabkan oleh tidak adanya amar ma’ruf nahi mungkar (di tengah
mereka).[7]

Seperti itu pula yang telah disebutkan dalam hadits Abu Bakr
Radhiyallahu anhu . Beliau berkata: “Sungguh, kami pernah mendengar
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jika
manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak
mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka
semua. [HR Abu Dâwud, at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albâni).[8]

Ayat dan beberapa hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya peran
amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan manusia di alam semesta ini,
karena dengan ditegakkannya hal itu, kesyirikan, kezhaliman dan
kemaksiatan akan berkurang, kebaikan akan menyebar serta dengan izin
Allah Azza wa Jalla akan terhindar dari adzab Allah Azza wa Jalla di
dunia ini.

BAHAYA MENINGGALKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Selain diturunkan adzab sebagaimana yang tertera di atas, masih ada
lagi akibat-akibat lain yang ditimbulkan sikap meninggalkan amar
ma’ruf nahi mungkar, di antaranya adalah;

A. Tidak dikabulkan doa (permintaan) seorang hamba.
Hal ini berdasarkan sabda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ
يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ
يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul
melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak
melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian
siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya (agar supaya
dihindarkan dari siksa tersebut) akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak
mengabulkan do’a kalian. [HR Ahmad dan at-Tirmidzi dan dihasankan oleh
al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’] [9]

Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan amar ma’ruf
nahi mungkar permintaannya tidak dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla .

B. Mendapatkan laknat dari Allah Azza wa Jalla .
Hal tersebut telah terjadi pada umat sebelum umat ini yaitu Bani
Isra’il, sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla
:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ
دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا
يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ
لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Dâwud
dan Isa putera Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu
melampauhi batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang
tindakan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa
yang selalu mereka perbuat itu. [al-Mâidah/5:78-79]

Dalam ayat pertama Allah Azza wa Jalla menyebutkan jauhnya orang-orang
kafir bani Israil dari rahmat Allah Azza wa Jalla . Hal itu sebagai
bentuk hukuman bagi mereka dikarenakan kedurhakaan dan pelanggaran
mereka atas batasan-batasan Allah Azza wa Jalla dan hak-hak orang
lain. Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan pastilah akan ada
ganjarannya.

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Azza wa Jalla mengabarkan kepada
hamba-hamba Nya yang beriman perihal kemaksiatan yang menyebabkan
mereka (orang-orang kafir itu) tertimpa dengan hukuman tersebut. Yaitu
mereka melakukan kemungkaran dan tiadalah seorang pun dari mereka yang
mencegah saudaranya dari kemaksiatan yang dilakukan. Maka, para pelaku
kemungkaran dan orang yang membiarkannya mendapatkan hukuman yang
sama.

Imam Abu Ja’far ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya berkata:
“Dahulu Orang-orang Yahudi dilaknat Allah Azza wa Jalla karena mereka
tidak berhenti dari kemungkaran yang mereka perbuat dan sebagian
mereka juga tidak melarang sebagian lainnya (dari kemungkaran
tersebut)”[10]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ayat di atas (juga)
menunjukkan larangan duduk dengan orang-orang yang berbuat kemungkaran
dan mengandung perintah untuk meninggalkan dan menjauhi mereka”.[11]

Sehingga jelaslah dari kedua ayat di atas bahwa meninggalkan amar
ma’ruf nahi munkar merupakan hal yang akan mengundang kemurkaan dan
kemarahan Allah Azza wa Jalla . Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullâh
mengomentari ayat tersebut dengan ucapan beliau, “Ayat ini menerangkan
bahwa meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar adalah perkara yang
mendatangkan kemarahan dan laknat Allah. Nasalullâh al’âfiyah.” [12]

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla senantiasa memberikan hidayah,
inâyah serta taufik dan maghfirahnya kepada kita semua agar kita semua
selamat dari adzab dan murka-Nya di dunia dan di akhirat. Amîn

PELAJARAN DARI AYAT
1. Kemungkaran, baik kesyirikan, kedzaliman maupun kemaksiatan dapat
menyebabkan hilangnya kenikmatan dan mendatangkan kehancuran.
2. Pentingnya Amar ma’ruf nahi mungkar.
3. Di antara hikmah amar ma’ruf nahi mungkar adalah terhindar dari
siksa Allah Azza wa Jalla .
4. Di antara hikmah amar ma’ruf nahi mungkar adalah menyebarnya
kebaikan dan berkurangnya kemungkaran.
5. Menjauhi tempat-tempat kemungkaran dan pelakunya, agar selamat dari
adzab Allah Azza wa Jalla .
6. Siksa Allah Azza wa Jalla amat pedih, tak seorang mampu menolaknya
dan kuat menahannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Aisarut Tafâsir 2/ 298
[2]. Tafsir at-Thabari 13/ 473
[3]. Shahîhul-al-Bukhâri No.7059 Shahîh Muslim No. 2880
[4]. Addâ’ Wad Dawâ’ Hlm. 118
[5]. Shahîhul Bukhâri No. 2493 Sunan Tirmidzi No. 2173
[6]. Tuhfatul Ahwadzi 6/395
[7]. Tafsîrul-Qurthubi 7/ 392
[8]. Sunan Abu Dâwud No. 4338 , Sunan at-Tirmidzi No. 2168 , Silsilah
Shahîhah No. 156. Ini lafazh at-Tirmidzi, -red
[9]. Al-Musnad no. 23301, Sunan at-Tirmidzi No.2169, Shahîh Jâmi’
Shaghîr No. 7070
[10]. Tafsir ath-Thabari 10/ 496
[11]. Tafsir al-Qurthubi 6/ 254
[12]. Bahjatun Nâzhirîn 1/274


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke