KEBAHAGIAAN MANA YANG INGIN ANDA RAIH?

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
http://almanhaj.or.id/content/3593/slash/0/kebahagiaan-mana-yang-ingin-anda-raih/


Sebagian orang berkata, 'Hidup itu yang penting happy'. Dari situ kemudian
mereka berbuat semaunya. Mereka tidak peduli dengan segala macam aturan.
Mereka ingin hidup bahagia, tapi melakukan perbuatan maksiat yang
membahayakan dirinya di akherat. Mereka tertipu dengan kebahagiaan sesaat
yang mereka rasakan di dunia ini, sehingga mereka tetap berani dan tetap
nekad melakukan perbuatan yang dilarang agama. Memang, hidup bahagia
merupakan dambaan setiap makhluk. Namun banyak orang yang tidak tahu atau
tidak mau tahu bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akherat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ
الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui [al-‘Ankabût/29: 64]

Ketika menjelaskan maksud ayat ini, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah
mengatakan, "Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam rangka) memberitakan
betapa dunia itu hina, akan hancur dan akan sirna (pada saat yang telah
ditentukan). Dan dunia ini tidak kekal, dan sekedar mendatangkan kelalaian
dan bersifat permainan. Dia berfirman, “dan sesungguhnya akherat itulah
yang sebenarnya kehidupan”, maksudnya (akherat itu) adalah kehidupan yang
kekal, yang haq, yang tidak akan binasa dan tidak sirna. Kehidupan akherat
berlangsung terus-menerus selama-lamanya. Firman-Nya (yang artinya,) “kalau
mereka mengetahui”, maksudnya, jika manusia tahu, maka sungguh mereka akan
lebih mengutamakan sesuatu yang bersifat baqa’ (kekal) daripada yang fana
(akan binasa).” [1]

Oleh karena itu, agar tidak salah langkah, tujuan dan prioritas dalam
mengejar kebahagiaan yang kita inginkan, di sini akan kami sampaikan
beberapa hal terkait kebahagiaan di dunia dan akherat.

1. BAHAGIA DI DUNIA, BAHAGIA DI AKHIRAT
Inilah puncak kebahagiaan. Inilah yang selalu dimohon oleh hamba-hamba
Allâh Azza wa Jallayang shalih, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya :

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿٢٠١﴾ أُولَٰئِكَ لَهُمْ
نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a, "Ya Rabb kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa
neraka". Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang
mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya [al-Baqarah/2:
201-202]

Ini juga merupakan do'a dan permohonan Nabi Musa Alaihissallam dan kaumnya
yang shalih, sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla beritakan dalam kitab-Nya
:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا
هُدْنَا إِلَيْكَ

(Mereka juga berdo'a), “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini
dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada-Mu
[al-A’râf/7: 156]

Derajat tertinggi ini akan diraih oleh orang-orang yang bertaqwa dan
berbuat ihsan, sebagaimana kita ketahui bahwa ihsân adalah derajat agama
yang tertinggi, berdasarkan kandungan hadits Jibrîl Alaihissallam. Allâh
Azza wa Jalla berfirman:

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ
الْآخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah
diturunkan oleh Rabbmu?" Mereka menjawab: "(Allâh telah menurunkan)
kebaikan". Orang-orang yang berbuat ihsân (sebaik-baiknya) di dunia ini
mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akherat adalah
lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa
[an-Nahl/16: 30]

2. SENGSARA DI DUNIA, BAHAGIA DI AKHERAT
Ada lagi orang yang meraih kebahagiaan di akherat, walaupun di dunia
mendapatkan berbagai macam musibah dan ujian, bahkan kesusahan dan
kecelakaan. Jenis manusia ini diberitakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ
النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ
يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ
فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي
الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ
فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ
شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ
وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, 'Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan
seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia
termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka,
kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan ?
Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi
Allâh, wahai Rabbku”.

Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun
dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga,
kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat
kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab,
“Tidak, demi Allâh, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan
sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali”. [HR.
Muslim,no. 2807 dan lainnya]

3. BAHAGIA DI DUNIA, CELAKA DI AKHERAT
Hadits shahîh dari Sahabat Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu di atas juga
menjelaskan adanya jenis manusia yang berbahagia –secara lahiriyah- di
dunia, namun di akherat akan mengalami kesengsaraan yang sangat berat. Kita
lihat bahwa kebanyakan tokoh masyarakat yang berharta dan berpangkat adalah
penentang dakwah para rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا
إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ ﴿٣٤﴾ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ
أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿٣٥﴾قُلْ إِنَّ رَبِّي
يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun,
melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya
kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Dan mereka
berkata, "Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami
sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: "Sesungguhnya Rabbku melapangkan
rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang
dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui"
[Saba’/34: 34-36]

Cobalah perhatikan, orang kafir di bawah ini, bagaimana dia bergembira dan
berbahagia di dunia, namun di akherat dia mendapatkan penderitaan yang
tidak akan tertahan. Allâh Azza wa Jallaberfirman :

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ﴿١٠﴾ فَسَوْفَ يَدْعُو
ثُبُورًا ﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ﴿١٢﴾ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا
﴿١٣﴾ إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan
berteriak: "Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di
kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa
dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian),
yang benar, sesungguhnya Rabbnya selalu melihatnya. [al-Insyiqâq/84:10-15]

Lihatlah tokoh-tokoh kafir zaman dahulu dan sekarang. Lihatlah Fir’aun,
Hâmân, Qorun, dan lainnya. Janganlah kita tidak silau dengan kebahagiaan
mereka yang bersifat sementara, tidak terperangah dengan limpahan harta
yang mereka miliki, karena tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka.

Oleh karena itu, jangan sampai seseorang bercita-cita meraih kebahagiaan di
dunia saja. Karena dunia itu bersifat sementara, akan hancur dan sangat
hina di sisi Allâh Azza wa Jalla. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jallamencela
orang-orang yang berdo'a dan memohon kepada-Nya hanya untuk mendapatkan
kebaikan dunia. Allâh Azza wa Jallaberfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي
الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang berdo'a, "Ya Rabb kami, berilah kami
(kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di
akherat [al-Baqarah/2:200]

4. CELAKA DI DUNIA, CELAKA DI AKHIRAT
Jenis manusia terakhir, adalah orang yang celaka di dunia dan akherat.
Nas`alullâh as-salâmah wal 'âfiyah. Orang yang tidak memahami dan jauh dari
ajaran Islam yang benar dan jauh dari kemudahan rezeki di dunia, hidup
sengsara, namun anehnya ia memiliki cita-cita dan keinginan yang sangat
buruk (seperti berbuat maksiat atau merusak bila memiliki kekayaan).

Sesungguhnya keempat jenis manusia ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau sebagai berikut:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا
لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ
يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ
حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا
وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي
مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ
فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ
رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ
الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ
يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ
بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah!
Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang
halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada
rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan
rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Hamba ini berada pada
kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh).

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allâh)
tidak memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia
mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti
perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia
(dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan
kedua) sama.

• Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allâh)
tidak memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat
sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada
Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya,
dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Jadilah hamba ini berada
pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh).

• Hamba yang Allâh tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu,
kemudian dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat
seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan
itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.[2]

Inilah berbagai jenis kebahagiaan yang ada, jangan sampai kita salah
langkah dalam memilih dan menggapai hakekat kebahagiaan. Karena
sesungguhnya orang yang berakal akan lebih mengutamakan akherat yang kekal
abadi ketimbang kenikmatan duniawi yang fana. Hanya Allâh yang memberikan
taufik. Wallâhu a'lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
________
Footenote
[1]. Tafsir Ibnu Katsir, surat al-‘Ankabût/29:64
[2]. HR. At-Tirmidzi, no. 2325, Ahmad 4/230-231, no. 17570; Ibnu Mâjah no.
4228, dan lainnya, dari Dahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu anhu. Di
shahîhkan Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah no.
3406

Kirim email ke