SADARILAH REALITA INI!
http://almanhaj.or.id/content/3592/slash/0/sadarilah-realita-ini/

Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita
selama satu bulan ? Atau selama satu tahun ? Atau bahkan setiap hari di
seluruh penjuru bumi ini ? Ketetapan Allâh terus berjalan. Ada yang lahir
ke dunia dan sebagian lagi meninggal dunia. Suatu saat nanti, pasti kita
akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa
dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan
kematian.

Padahal dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membicarakan
tentang kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup.
Ini sangat berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang
dibuat, upaya yang dirancang untuk mengalih perhatian dari kematian.
Padahal kita sangat membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian
dan melunakkan hati yang sudah mengeras !! Kalau kita mau menjawab dengan
jujur, Siapakah yang lebih butuh terhadap pembicaraan tentang kematian,
kita ataukah para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
Jawabnya, tentu kita.

Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian kami angkat. Pembicaraan
tentang sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan
seluruh kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti
berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan
beramal, dan mengantarkan ke gerbang hisab!

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan
nasehat yang menyentuh. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ
يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ ,
وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian
itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan
bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang
senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu [1]

Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu
terhadap Allâh Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak
akan meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ
لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ
تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ
الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا
فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu
kepada Allâh!”. Kami mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami
malu (kepada Allah)”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan
begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud)
benar-benar malu kepada Allâh adalah engkau menjaga kepala dan isinya,
menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya; dan hendaklah engkau
mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia
meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia
telah benar-benar malu kepada Allâh Azza wa Jalla [2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu
begitu saja. Bila ada kesempatan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
selalu mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan
persistiwa yang akan mengiringinya.

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى
بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari al-Bara’ Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada (penguburan-red) suatu jenazah, lalu
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada tepi kubur, kemudian beliau
menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda: “Wahai
saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang seperti ini !” [3]

Dalam riwayat lain, al-Barâ’ bin ‘Azib Radhiyallahu anhu mengatakan.

بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ
بَصَرَ بِجَمَاعَةٍ فَقَالَ : عَلَامَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ هَؤُلَاءِ؟ قِيْلَ :
عَلَى قَبْرٍ يَحْفِرُوْنَهُ ، قَالَ : فَفَزِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَرَ بَيْنَ يَدَيْ أَصْحَابِهِ مُسْرِعًا حَتَّى
انْتَهَى إِلَى الْقَبْرِ فَجَثَا عَلَيْهِ ، قَالَ : فَاسْتَقْبَلْتُهُ مِنْ
بَيْنِ يَدَيْهِ لِأَنْظُرَ مَا يَصْنَعُ ، فَبَكَى حَتىَّ بَلَّ الثَّرَى
مِنْ دُمُوْعِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا قَالَ: أَيْ إِخْوَانِي ! لِمِثْلِ
الْيَوْمِ فَأَعِدُّوْا

Ketika kami bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sekelompok orang, maka beliau
bertanya, ‘Untuk apa mereka berkumpul?’ Dikatakan kepada beliau, ‘Mereka
berkumpul pada kuburan yang sedang mereka gali’. Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam terperanjat, lalu bergegas mendahului para sahabat sehingga
sampai di kuburan, lalu beliau berlutut ke arah kuburan. Bara’ berkata,
‘Maka aku menghadap di depan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
melihat apa yang akan beliau lakukan’. Kemudian beliau menangis sehingga
tanah menjadi basah karena air mata beliau. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menghadap kepada kami dan bersabda, “Wahai saudara-saudaraku!
Bersiap-siaplah untuk yang sepertil hari ini!” [4]

Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan
orang lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah
berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika
kamu tidur, kamu berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah
bangun, jadikanlah kematian itu selalu di hadapanmu.”

Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari
kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud
ditanya, “Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat
tempat orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang
tidak berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) al-Qur’ân dan kematian,
seandainya gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan
berhenti!”

Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat,
merenungkan sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan
mengekang jiwa dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan
hati.

Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan
sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.

Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishâq rahimahullah di waktu hidupnya,
selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat,
aku melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah
amalanmu, sesungguhnya ajalmu telah dekat !! Perbaguslah amalanmu,
sesungguhnya ajalmu telah dekat !!! ’.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai
akhir kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan
diri. Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun
menyesal tapi tidak terlalu.

Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata,
“Bersiaplah ! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat
tenaga memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.

Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan
jiwa dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya.

Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan
orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya.

Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan
orang tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal.
Rahim mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit.

Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan
berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat.
Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.

Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan
medan jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat
dan orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta
tak akan luput dari kematian.

Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat
kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. [ar-Rahmân/55: 26]

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. [Ali Imrân/3:185]

Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat,
namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang
bisa menjungkalkan.

• Keangkuhan orang-orang yang bersombong
• Penentangan orang-orang yang menyimpang
• Kezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus
ditaati.

Kematian merupakan hakekat yang akan dialami oleh semua yang bernyawa,
bahkan para Nabi dan Rasul. Allâh berfirman.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ
الْخَالِدُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu
(Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?
[al-Anbiyâ’/21:34]

Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap
tempat. Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang
berakal dan mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa
semua orang akan mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allâh. [Al-Qashshash/28:88]

Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allâh Subhanahu wa
Ta’ala berfirman.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ
ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allâh), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [al-Jum’ah/62: 8]

Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu...di mana saja kamu berada, kamu
akan mati,
Wahai orang-orang kuat ...
Wahai orang-orang kuat, nan muda usia ...
Wahai orang-orang cerdas dan jenius ...
Wahai pemimpin, pembesar ...
Wahai orang fakir dan rakyat jelata ...
Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga
akan membuat orang lain menangis (ketika dia mati) ...
Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya...
Semua harta simpanan akan binasa ...
Semua yang disebut-sebut akan dilupakan ...
Tidak ada yang kekal selain Allâh.
Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala lebih
tinggi.

Ketahuilah, semoga Allâh menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati ...
dan orangyang mati akan hilang (dari kehidupan) ... dan semua yang akan
datang pasti akan tiba waktunya ...

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allâh, maka sesungguhnya waktu
(yang dijanjikan) Allâh itu, pasti datang. [Al-Ankabut/29: 5]

Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu …
Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang
sebenarnya. Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allâh Azza wa Jalla.

(Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul Ablaghul
‘Izhaat, karya syaikh Khalid ar-Raasyid)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-5/Tahun XIV/1431H/2010.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
________
Footenote
[1]. HR. ath-Thabrani dan al-Hakim. Lihat Shahîh al-Jâmi’ush Shaghîr: no.
1222; Shahîhut Targhîb, no: 3333
[2]. HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662; Syaikh al-Albâni rahimahullah
menyatakan ‘Hasan lighairihi, dalam kitab Shahîhut Targhîb, 3/6, no. 2638,
penerbit. Maktabah al-Ma’ârif
[3]. HR. Ibnu Mâjah, no: 4190, di hasan kan oleh Syaikh al-Albâni
rahimahullah
[4]. Lihat Silsilatush Shahîhah, no. 1751, karya Syaikh al-Albâni
rahimahullah

Kirim email ke