Mengikuti Islam Yang Murni
http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4339-mengikuti-islam-yang-murni.html

Satu-satunya Islam yang hakiki adalah Islam yang mengikuti Al Qur’an dan
Hadits berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi *radhiyallahu ‘anhum*.
Inilah pemahaman Islam yang masih murni yang mesti diikuti.

Dalil untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an dan hadits disebutkan
dalam *Muwatho’
Imam Malik*,

إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه الحديث

“*Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat
selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam*” (HR. Al Hakim, sanadnya *shahih* kata
Al Hakim).

Islam yang hakiki bukan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Hadits, namun
juga mesti ditambah dengan mengikuti para sahabat dalam beragama. Karena
para sahabatlah yang mengetahui bagaimana wahyu itu turun. Dan mereka yang
lebih tahu maksud Nabi daripada umat sesudahnya. Oleh karenanya mereka
dipuji dalam ayat,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“*Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
(kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha
kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang besar*.” (QS. At Taubah: 100)

Dalam ayat lain, Allah *Ta’ala* memuji keimanan para sahabat *radhiyallahu
‘anhum* dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

“*Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka
telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar)*.” (QS. Al Baqarah: 137)

Yang mengikuti para sahabat dalam beragama, itulah yang selamat (*firqotun
najiyah*). Sebagaimana disebutkan dalam hadits perpecahan umat. Dari
‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa
sallam* bersabda,

وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى
النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“*Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku
terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para
sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku*.”
(HR. Tirmidzi no. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini *hasan*).
Jadi, yang mengikuti pemahaman para sahabat, itulah yang selamat.

Mengapa kita mesti mengambil pemahaman salaf atau sahabat dalam beragama?
Karena kalau memakai pikiran masing-masing dalam memahami Al Qur’an dan
Hadits, maka tafsirannya bisa macam-macam, bahkan bisa rusak. Sehingga
tidak cukup kita mengamalkan Al Qur’an dan Hadits saja, namun juga ditambah
harus mengikuti pemahaman para sahabat.

---

@ Pesantren Darush Sholihin <http://darushsholihin.com/>,
Panggang-Gunungkidul, 15 Jumadal Akhiroh 1434 H

www.rumaysho.com

Kirim email ke