MUNGKINKAH MEMBELA NABI SALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM TAPI TIDAK MENTAATI
BELIAU SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM?

Oleh
Ustadz DR Ali Musri Semjan Putra MA.
http://almanhaj.or.id/content/3597/slash/0/mungkinkah-membela-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tapi-tidak-mentaati-beliau/

Kemarahan yang meledak dari umat Islam di bumi belahan timur dan barat
kepada orang-orang yang melecehkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
menyisakan pertanyaan, “Sejauh manakah kita taat kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Umat Islam telah berpecah-belah menjadi
sekian kelompok dan golongan. Setiap golongan merasa mantap dengan apa yang
diyakininya. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah memperingatkan
bahaya perpecahan. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Mâjah, dari Auf bin Mâlik
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ
وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي
النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya. Umatku akan benar-benar terpecah
belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Satu golongan di surga dan tujuh
puluh dua golongan di neraka.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa
mereka (yang berada di surga)?" Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “al-jamâ'ah.”[1]

Persatuan umat yang terbentuk di hadapan musuh ketika membela kehormatan
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mestinya dijadikan momen untuk mengajak
kaum Muslimin seluruh dunia agar meninggalkan perpecahan dan
silang-pendapat untuk selanjutnya bersatu di bawah naungan Kitâbullâh dan
Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan pemahaman Salaful Ummah,
serta ber’gabung’ bersama para Ulama pemegang panji tauhid dan pembela
kehormatan dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan konsekuensi
dan tuntutan dari syahadat (persaksian) kita bahwa Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah utusan Allâh Azza wa Jalla. Sebab persaksian bahwa
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allâh maknanya
adalah mentaati perintahnya, membenarkan berita yang beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam sampaikan, menjauhi larangan dan peringatannya
Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta tidak beribadah kepada Allâh kecuali
dengan syariatnya.

Demikianlah bentuk pengagungan yang sempurna kepada beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam serta penghormatan yang tertinggi. Pengagungan model
apakah yang bisa diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamoleh
orang yang meragukan atau enggan taat kepada beliau atau mengadakan bid'ah
dalam agama beliau dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara
yang tidak sesuai dengan cara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!
Karena itu, begitu keras pengingkaran Allâh kepada orang-orang yang
melakukan ibadah dengan cara-cara yang tidak pernah disyariatkan. Allâh
berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ
اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allâh yang mensyariatkan
untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh ? [as-Syûra/42:21]

Nabi bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami,
maka amalan itu tertolak [HR. Bukhari, no. 2550 dan Muslim, no. 4590]

Bukti pembelaan yang serius terhadap (kehormatan) Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah dengan mengagungkan syari'ah (risalah) yang beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa dalam al-Qur`ân dan Sunnah (Hadîts)
dengan pemahaman Salaful ummah. Yaitu dengan cara mengikuti dan berpegung
teguh dengannya secara lahir dan batin, selanjutnya dengan menjadikan
syari'ah ini sebagai hakim (penengah) dalam segenap sisi kehidupan dan
urusan-urusan yang khusus maupun umum. Sungguh mustahil, keimanan akan
sempurna tanpa itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ
فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

Dan mereka berkata, "Kami telah beriman kepada Allâh dan rasul, dan kami
mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu,
sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:47]

Sikap ini jelas merupakan bentuk pembelaan yang hakiki dan penghormatan
yang sejati. Pasalnya, standar penilaian dalam segala urusan adalah
kenyataan yang dibuktikan, bukan sekedar penampilan lahiriah atau
simbol-simbol kosong atau pernyataan hampa. Karenanya, Allâh mengedepankan
adab ini dari adab-adab lain yang mesti dilakukan bersama Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla melarang mendahului keputusan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keputusan yang tidak sejalan dengan
keputusan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau pernyataan yang tidak
sesuai dengan sabda beliau. Akan tetapi, mestinya mereka mengikuti segala
perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tunduk kepada beliau dan
menjauhi larangan beliau. Allâh berfirman di permulaan surat al-Hujurât :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ
وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasûlnya
dan bertaqwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui. [al-Hujurât/49:1]

Termasuk sikap تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ (lancang mendahului Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) yaitu sikap lebih memperioritaskan
pemakaian undang-undang dan peraturan produk manusia daripada syari'at yang
dibawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau lebih mengutamakan hukum
lain daripada hukum (ketetapan hukum) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
atau menyamakan hukum produk manusia tersebut dengan ketetapan hukum Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallamatau berkomitmen untuk tetap berpegang teguh
dengan ketentuan yang jelas-jelas bertentangan dengan petunjuk beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allâh berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ/4:65]

Orang yang paling berkomitmen dengan sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan paling besar kansnya untuk menenggak air dari telaga Rasulullah
adalah ahlus Sunnah wal Jamâ'ah. Karena mereka menghidupkan sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta mengikuti syari'at dan
petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sebagian orang ada yang menampakkan bahwa dirinya sedang melakukan
pembelaan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ironisnya, ia
justru tidak menaati perintahnya atau tidak menjauhi larangan dan tidak
menghiraukan peringatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan,
terkadang kita temukan, sebagian dari mereka bermalasan dalam menjalankan
shalat fardhu, mencukur jenggot, isbâl (memanjangkan celana sampai menutupi
mata kaki) dan berbuat berbagai macam maksiat dan kemungkaran.

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Pengagungan kepada
para utusan Allâh diwujudkan dengan cara membenarkan berita yang mereka
kabarkan dari Allâh, menaati perintah mereka, mengikuti, mencintai dan
berwala kepada mereka, bukan (sebaliknya,) malah mendustakan risalah yang
mereka emban, menomorduakan mereka atau berbuat melampaui batas dalam
mengagungkan mereka. Justru ini adalah bentuk kekufuran terhadap mereka,
pelecehan dan permusuhan terhadap mereka."

Jadi, Ittiba' (mengikuti) rasul adalah barometer untuk mengukur sejauh mana
kejujuran orang yang mengaku-aku mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Sebab, tidak masuk di akal atau tidak dapat dibayangkan, ada orang
mengklaim mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghormati
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tapi (pada saat yang sama, dia)
tidak berpegang teguh dengan perintah atau larangan beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam , tidak memberikan perhatian dan memperhitungkan apa yang
dibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allâh telah menjadikan ittibâ (mengikuti) Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagai pertanda kecintaan kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman
:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. [Ali Imrân/3:31]

Bahkan lebih dari itu, Allâh Azza wa Jalla menjadikannya sebagai syarat
keimanaan dimana pengagungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallammeupakan bagian dari keimanan itu. Allâh berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.[an-Nisâ/4:65]

Ittibâ juga merupakan sifat kaum Mukminin, sebagaiman tertuang dalam firman
Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh
dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah
ucapan, "Kami mendengar dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang
beruntung. [an-Nûr/24:51]

Juga dalam firman-Nya :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang Mukmin, apabila Allâh dan rasul-Nya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
[al-Ahzâb/33:36]

Kesimpulannya, tidak ada orang yang mengagungkan beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam kecuali hanya orang-orang yang berpegang teguh dengan petunjuk
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjalan di atasnya serta
mengikuti petunjuk beliau.[2]

Para Sahabat telah memperlihatkan praktek nyata yang sangat istimewa dan
tindakan yang sangat jujur dalam membela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallamdengan mengorbankan jiwa, harta dan anak untuk menebus beliau dalam
kondisi senang atau tidak, seperti yang disebutkan oleh Allâh dalam
firman-Nya :

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ
وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari
harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya
dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang
benar. [al-Hasyr/59:8]

Barangsiapa ingin mencintai dan membela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka hendaknya ia mengagungkan perkataan dan sunnah beliau melebihi
pengagungannya terhadap perkataan selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Manakala pengagungan kepada Nabi telah meresap di hati, terpahat
di dalamnya dalam kondisi apapun, maka pasti pengaruh positifnya akan
tampak nyata pada anggota badannya.

Saat itulah, akan terlihat lisannya terus memuji dan menyanjung beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menyebut-nyebut sisi kebaikan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sementara organ tubuh lainnya juga terlihat
mengikuti syari'at yang dibawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta
menjalankan apa yang menjadi hak Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam
yang berwujud pengagungan dan penghormatan. Dan bukti pengagungan yang
benar tulus ialah mengagungkan petunjuk yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bawa berupa syari'at yang terkandung dalam al-Qur`ân dan Sunnah
dengan pemahaman salaful ummah, yaitu dengan mengikuti dan berpegang-teguh
dengannya secara lahir dan batin serta menetapkannya sebagai hakim dalam
seluruh aspek kehidupan dan segala urusan. Tidak mungkin keimanan akan
sempurna tanpa itu. Wallahu a'lam.

(Tulisan ini dikutip dari makalah Penulis berjudul Taqwimul Mafahi
al-Khathi’ah Indal Ghulati wal Jufati fid Difa’i’anin Nabbiyyi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dipresentasikan dalam muktamar bertema Nabiyyir Rahmati
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diadakan oleh Jum’iyyah
al-Ilmiyyah as-Sa’udiyyah lis Sunnati wa Ulumiha di kota Riyadh Saudi
Arabia)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVI/1432H/2010. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. Abu Dâwud no. 1299, Ibnu Mâjah no. 3992, dishahihkan al-Albâni
rahimahullah.
[2]. Huqûqun Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam 'ala Ummatihi, 2/475

Kirim email ke