POKOK-POKOK KESESATAN AQIDAH SYIAH

http://almanhaj.or.id/content/3630/slash/0/pokok-pokok-kesesatan-aqidah-syiah/

Syiah dikenal dengan sebutan Rafidhah karena mereka menolak mengakui
khilafah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan 'Umar Radhiyallahu anhu bin
Khaththab dan penolakan mereka atas sanjungan Zaid bin 'Ali bin Husain
terhadap dua orang terbaik umat itu. Mereka menyikapi jawaban Zaid bin Ali
bin Husain dengan , "Rafadhnaka" yang artinya kami menolak jawabanmu.
Akhirnya mereka dikenal dengan nama Rafidhah.

Rafidhah adalah salah satu sekte Syiah, dan memiliki banyak nama
diantaranya al-Itsna 'Asyariyah, Ja'fariyyah, Imamiyyah dan nama yang
lainnya, akan tetapi hakikatnya sama. Apabila pada zaman ini disebutkan
kata Syiah secara mutlak, maka tidak lain yang dimaksudkan adalah Rafidhah

Rafidhah memiliki keyakinan-keyakinan yang sangat bertentangan dengan Islam
yang mereka jadikan sebagai dasar agama mereka. Di antara kerusakan
keyakinan mereka adalah:

1. Al-Qur`ân yang dijamin keutuhan dan keasliannya oleh Allâh Azza wa Jalla
telah banyak berkurang dan mengalami banyak perubahan. Bahkan menurut
mereka, al-Qur`ân hanya sepertiga dari al-Qur`ân yang dipegang 'Ali bin Abi
Thâlib Radhiyallahu anhu yang mereka sebut dengan Mushaf Fâthimah yang
turun temurun dibawa oleh para imam dan sekarang dibawa oleh Imam
al-Muntazhar (imam yang mereka tunggu kedatangannya)?!!

2. Al-Qur`ân tidak bisa dipahami kecuali dengan penafsiran para imam dua
belas.

3. Mereka melakukan ta'thîl (meniadakan) nama-nama dan sifat-sifat Allâh
Azza wa Jalla sehingga dalam konteks ini mereka termasuk kaum Jahmiyyah.

4. Iman dalam pandangan mereka adalah mengenal dan mencintai para imam.

5. Mereka menafikan takdir sehingga mereka termasuk golongan Qadariyyah
(kelompok yang tidak mengimani takdir).

6. Mereka meyakini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat
kepada 'Ali untuk menggantikannya sebagai khalifah sepeninggalnya.

7. Pengkafiran terhadap para Sahabat Nabi dan keyakinan bahwa para Sahabat
Nabi telah murtad kecuali hanya beberapa orang saja dari mereka.

Tentang keyakinan ini, Imam Abu Zur'ah rahimahullah berkomentar untuk
mendudukkan tujuan utama yang mereka bidik melalui pengkafiran umum
terhadap Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum : “Sesungguhnya tujuan mereka
mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah untuk mendongkel al-Qur`ân
dan Sunnah. Kalau pembawa dan penyampai agama ini adalah orang-orang yang
murtad, bagaimana kita menerima apa yang mereka sampaikan. (Inilah tujuan
mereka, red). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ
نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang
kafir benci [ash-Shaff/61:8]

Barangsiapa memiliki anggapan bahwa para Sahabat Radhiyallahu anhum telah
murtad kecuali hanya beberapa yang hanya mencapai belasan orang saja atau
kebanyakan merupakan orang-orang fasik setelah meninggalnya Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya
karena telah mendustakan ayat-ayat al-Qur`ân yang menjelaskan keridhaan dan
pujian Allâh Azza wa Jalla terhadap para Sahabat. Siapakah yang meragukan
kekufuran keyakinan seperti ini?! Kekufuran orang yang meyakininya sudah
pasti. Sesungguhnya anggapan ini juga mengharuskan bahwa penyampai
al-Qur`ân dan Sunnah adalah orang-orang kafir dan fasik. (Berdasarkan
keyakinan mereka yang rusak itu), firman Allâh berikut :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia [Ali
'Imrân/3:110]

Memberikan makna bahwa umat yang terbaik dan generasi pertama umat adalah
orang-orang kafir dan fasik yang berarti bahwa umat ini adalah
sejelek-jelek umat dan yang terjelek adalah generasi awalnya. Kekufuran
keyakinan seperti ini sangat nyata dalam Islam".[1]

8. Para imam dua belas mendapatkan wahyu dari Allâh Azza wa Jalla ,
sehingga kaum Syiah mendefinisikan Sunnah dengan istilah segala yang
berasal dari orang ma'shûm (yang terjaga dari dosa dan kesalahan) baik
berupa perkataan, perbuatan, ataupun taqrîr (pembenaran). Menurut mereka,
hanya 'Ali bin Abi Thâlib yang menguasai Sunnah-sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

9. Imâmah (kepemimpinan) kaum Muslimin hanya dipegang oleh Imam Dua Belas.
Mereka mencela dan tidak mengakui khilafah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan
'Umar Radhiyallahu anhu

Tentang keyakinan ini, Imam Syafi'i berkata, "Barangsiapa tidak mengakui
khilafah (kepemimpinan) Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan 'Umar Radhiyallahu
anhu , dia adalah seorang rafidhi".

10. Para imam memiliki sifat ma'shûm, terjaga dari kesalahan mereka, tidak
pernah lupa dan selalu mengetahui apa yang terjadi dan yang akan terjadi.

11. Para imam tidak akan mati kecuali dengan keinginan mereka.

12. Para imam akan bangkit dari kubur apabila mereka menghendaki, untuk
menjumpai sebagian manusia. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah zhuhûr

13. Para imam dan wali lebih mulia daripada para nabi dan rasul.

14. Para imam akan kembali ke dunia setelah kematian mereka demikian pula
Ahlussunnah. Mereka kemudian akan membalas para Sahabat, menyalib Abu Bakar
Radhiyallahu anhu dan 'Umar Radhiyallahu anhu dan menegakkan hukuman zina
terhadap 'Aisyah Radhiyallahu anhuma - semoga Allâh Azza wa Jalla
menghancurkan mereka-. Keyakinan ini mereka sebut dengan akidah ar-raj'ah

15. Kuburan para imam adalah tempat-tempat suci.

16. Keyakinan bada' yaitu terkuaknya sesuatu bagi Allâh Azza wa Jalla
setelah sebelumnya tersembunyi sehingga menyebabkan Allâh Azza wa Jalla
menarik perkataan yang telah difirmankan atau perbuatan yang dilakukan.
Maha suci Allâh Azza wa Jalla atas apa yang mereka katakan

17. Mereka berkeyakinan orang-orang di luar mereka adalah kafir, sama
sekali tidak berhak untuk masuk surga

18. Mereka berkeyakinan bahwa seluruh kebaikan yang dilakukan oleh
Ahlussunah akan diberikan untuk Syiah dan dosa-dosa Syiah akan dibebankan
kepada Ahlussunnah. Ini yang mereka sebut dengan istilah ath-thînah

19. Kewajiban melakukan taqiyah, yaitu seorang penganut agama Syiah berkata
dengan perkataan yang berbeda dengan apa yang dia yakini, atau menampakkan
sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada pada hatinya. Keyakinan taqiyah
ini merupakan satu kewajiban bagi para penganut Syiah. Oleh karena itu,
penganut Syiah mengerjakan shalat di belakang Ahlussunnah dalam rangka
taqiyah (melindungi diri) dan pujian-pujian para imam mereka terhadap para
Sahabat dilakukan dalam rangka menjalankan taqiyah

20. Imam yang kedua belas, Muhammad bin Hasan al-'Asykari telah memasuki
salah satu gua di daerah Samira tahun 260 H pada saat masih kecil. Ia telah
menjadi seorang imam sejak kematian ayahnya sampai hari ini. Padahal fakta
menyatakan bahwa Hasan al-Askari meninggal dalam keadaan mandul, tidak
memiliki anak.

21. Halalnya darah dan kehormatan Ahlussunnah. Menurut mereka, boleh
menggunjing, mencela bahkan melaknat Ahlussunnah.

22. Menghalalkan nikah mut'ah (kawin kontrak). Bahkan menurut mereka nikah
mut'ah lebih utama daripada menjalankan shalat, puasa, dan haji

RENUNGAN
Setelah penyampaian keyakinan Syiah secara global ini, Syaikh Dr. Muhammad
Musa Alu Nashr hafizhahullâh mengatakan: "Setelah pemaparan semua ini,
bolehkan kita katakan bahwa Syiah adalah saudara-saudara kita atau
mengatakan bahwa mereka adalah ahli tauhid?![2] . Mustahil, kalau
keyakinan-keyakinan ini hanya sebuah aliran saja. Akan tetapi, itu
merupakan sebuah agama tersendiri (Syiah). Syiah adalah sebuah agama. Dan
agama Ahlussunnah adalah risalah yang dibawa oleh utusan Penguasa alam
semesta, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aqidah mereka yang sesat ini tertulis di dalam kitab-kitab para agamawan
mereka dan tidak perlu kita nukilkan omongan-omongan mereka karena hanya
akan menyesakkan dada dan mengeruhkan pikiran. Orang-orang yang masih
memiliki akal sehat dan pikiran yang lurus akan enggan mendengarkannya,
apalagi sampai mau mengikuti mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah mendatangkan dari kalangan Ahlussunnah,
orang-orang (ulama) yang mematahkan syubhat mereka, menguliti kegelapan
akidah mereka, menguak kesesatan dan kebodohan mereka, membantah kedustaan
mereka, menjelaskan pengkaburan dan penipuan yang mereka lakukan, membuka
kedok kepalsuan dan penyimpangan mereka, membersikan nama para Sahabat
Rasulullah dari kedustaan dan celaan- celaan yang mereka lancarkan…

'Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata:

لِيُحِبُّنِيْ رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِحُبِّيْ النَّارَ وَيُبْغِضُنِيْ
رِجَالٌ يُدْخِلُهُمُ اللهُ بِبُغْضِيْ النَّارَ

Sungguh akan ada orang-orang yang dimasukan oleh Allâh ke dalam neraka
karena kecintaan mereka kepadaku. Dan sungguh akan ada orang-orang yang
dimasukkan oleh Allâh ke dalam neraka karena kebencian mereka kepadaku [3]

(Diringkas dari al-Intishâr bi Syarhi 'Aqîdati Aimmatil Amshâr, disyarah
oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Musâ Alu Nashr, ad-Darul Atsariyyah, Aman,
Yordania, Cet. I Th. 2008, hlm. 341-348)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Ash-Shârimul Maslûl hlm. 586-587
[2]. Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr mengatakan, "Akan tetapi, kita
tidak boleh mengkafirkan kalangan awam mereka. Vonis pengkafiran ini
terarah kepada para pemakai imamah (agamawan mereka), tokoh-tokoh yang
menggiring orang-orang yang buta. Mereka ini lebih sesat dan lebih celaka.
Sebab mengetahui (kebenaran), namun menyelewengkannya". al-Intishâr bi
Syarhi 'Aqîdati Aimmatil Amshâr, hlm. 344
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi 'Ashim no 983, 'Abdullâh no. 1344,
al-Ajurri no. 2087

Kirim email ke