STIGHFAR DAN TAUBAT

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi
http://almanhaj.or.id/content/3631/slash/0/istighfar-dan-taubat/

Diantara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah itsighfar (memohon ampun) 
dan taubat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi (kesalahan). 
Untuk itu, pembahasan mengenai pasal ini kami bagi menjadi dua pembahasan.

1. Hakikat Istighfar dan Taubat
2. Dalil Syar'i Bahwa Istighfar Dan Taubat Termasuk Kunci Rizki.

HAKIKAT ISTIGHFAR DAN TAUBAT
Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan 
lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan.

أَسْتَغْفِرُ اللّّهَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ

"Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya".

Tetapi kalimat-kalimat diatas tidak membekas di dalam hati, juga tidak 
berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat 
jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Para ulama -semoga Allah memberi balasan yang sebaik-baiknya kepada mereka- 
telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan : "Dalam istilah syara', taubat adalah 
meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, 
berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang 
bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat 
taubatnya telah sempurna" [1] 

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menjelaskan : "Para ulama berkata, 
'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu 
antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia 
maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. 
Kedua, ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan 
untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak 
sah.

Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. 
Ketiga syarat di atas dan Keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak 
orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus 
mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia 
harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma'af kepadanya. 
Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf"[2] 

Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah " 
Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun" [Nuh/71 : 10]

Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan 
semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon 
ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah 
pekerjaan para pendusta"[3] 

DALIL SYAR’I BAHWA ISTIGHFAR DAN TAUBAT TERMASUK KUNCI RIZKI
Beberapa nash (teks) Al-Qur'an dan Al-Hadits menunjukkan bahwa istighfar dan 
taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ta'ala. Dibawah ini 
beberapa nash dimaksud :

1. Apa Yang Disebutkan Allah Subhana Wa Ta'ala Tentang Nuh Alaihis Salam Yang 
Berkata Kepada Kaumnya.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ 
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ 
جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesunguhnya 
Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan 
lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun 
dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". [Nuh/71 : 10-12]

Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut ini dengan 
istighfar.

a. Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan firman-Nya :

إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

"Sesungghuhnya Dia adalah Maha Pengampun".

b. Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma 
berkata (مِدْرَارًا) adalah (hujan) yang turun dengan deras.[4] 

c. Allah akan membanyakan harta dan anak-anak, Dalam menafsirkan ayat 
(وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ ) Atha' berkata : Niscaya Allah akan 
membanyakkan harta dan anak-anak kalian" [5] 

d. Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.

e. Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai.
Imam Al-Qurthubi berkata : "Dalam ayat ini, juga yang disebutkan dalam (surat 
Hud : 3 "Artinya : Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhamnu dan 
bertaubat kepada-Nya) adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan 
salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan".[6]

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :" Maknanya, jika kalian 
bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa 
menta'atiNya, niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian menurunkan air hujan 
serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, 
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk 
kalian, membanyakan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun 
yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan 
sungai-sungai diantara kebun-kebun itu (untuk kalian)".[7]

Demikianlah, dan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu juga 
berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon 
hujan dari Allah Ta'ala.

Mutharif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi : "Bahwasanya Umar Radhiyallahu 'anhu 
keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari 
mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka 
seseorang bertanya kepadanya, 'Aku tidak mendengar Anda memohon hujan'. Maka ia 
menjawab, 'Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih[8] langit yang 
dengannya diharapkan bakal turun hujan. Lalu beliau membaca ayat.

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ 
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

"Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya 
Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat".[Nuh/71 : 10-11]. [9]

Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada 
setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, 
sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :"Ada 
seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) 
maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain 
mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 
'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah 
(aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, 
'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang 
kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, 'Ber-istighfar-lah 
kepada Allah!".

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam 
riwayat lain disebutkan :"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak 
orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua 
untuk ber-istighfar. [10]. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak 
mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman 
dalam surat Nuh.

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ 
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ 
جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya 
Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan 
anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di 
dalamnya) untukmu sungai- sungai". [Nuh /71: 10-12] [11]

Allahu Akbar ! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar ! Ya Allah, 
jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai ber-istighfar. Dan 
karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya 
Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Mahahidup dan 
terus menerus mengurus mahluk-Nya.

2. Ayat Lain Adalah Firman Allah Yang Menceritakan Tentang Seruan Hud Alaihis 
Shalatu Was Sallam Kepada Kaumnya Agar Ber-istighfar.

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ 
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا 
تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

"Dan (Hud berkata), Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah 
kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan 
menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan 
berbuat dosa". [Hud /11: 52]

Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan : 
"Kemudian Hud Alaihis salam memerintahkan kaumnya untuk ber-istighfar yang 
dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka 
bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat 
seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan 
menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman.

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

"Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu" [12]

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan 
istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami 
serta jagalah keadan-keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha 
mengabulkan do'a. Amin, whai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.

3. Ayat Lain Adalah firman Allah.

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا 
حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ 
تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika 
kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik 
(terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia 
akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) 
keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan 
ditimpa siksa hari Kiamat". [Hud/11 : 3]

Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji-janji dari Allah Yang Mahakuasa 
dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang ber-istighfar 
dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya.

يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا

"Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu". 

Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma adalah. 'Ia 
akan menganugrahi rizki dan kelapangan kepada kalian'. [13]

Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan :"Inilah buah istighfar 
dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan 
berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak 
akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang 
dibinasakan sebelum kalian". [14]

Dan janji Tuhan Yang Mahamulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan 
sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata :"Ayat 
yang mulia tersebut menunjukkan bahwa ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah 
dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugrahkan kenikmatan yang baik 
kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentukan. Allah 
memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan 
berdasarkan syarat yang ditetapkan".[15] 

4. Dalil Lain Bahwa Istighfar Dan Taubat Adalah Diantara Kunci-Kunci Rizki 

Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan 
Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma ia berkata, Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجَا، 
وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَ جًَا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْشُ لاَ يَحْتَسِبُ

"Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah[16] niscaya Allah 
menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap 
kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah 
yang tidak disangka-sangka [17]".

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara 
berdasarkan wahyu, Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil 
yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, 
bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, Yang Memiliki kekuatan akan memberikan 
rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak 
pernah terdetik dalam hatinya.

Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah dia bersegera untuk 
memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan ucapan maupun dengan 
perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada!, sekali lagi hendaknya waspada! 
dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia 
adalah pekerjaan para pendusta.

 

Kunci Rizki lainnya silakan baca di 
http://almanhaj.or.id/category/view/104/page/1 

[Disalin dari kitab Mafatiihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah, Penulis DR 
Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, 
Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta]
_______
Footnote.
[1]. Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, dari asal kata " tauba" hal. 76
[2]. Riyadhus Shalihin, hal. 41-42
[3]. Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, dari asal kata "ghafara" hal. 362
[4]. Shahihul Bukhari, Kitabul Tafsir, surat Nuh 8/666
[5]. Tafsir Al-Bagawi, 4/398. Lihat pula, Tafsirul Khazin, 7/154
[6]. Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Lihat pula, Al-Iklil fis Tinbathil Tanzil, 
hal. 274, Fathul Qadir, 5/417
[7]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/449
[8]. Majadih bentuk tunggalnya adalah majdah yakni salah satu jenis bintang 
yang menurut bangsa Arab merupakan bintang (yang jika muncul) menunjukkan hujan 
akan turun. Maka Umar Radhiyallahu 'anhu menjadikan istighfar sama dengan 
bintang-bintang tersebut, suatu bentuk komunikasi melalui apa yang mereka 
ketahui. Dan sebelumnya mereka memang menganggap bahwa adanya bintang tersebut 
pertanda akan turun hujan, dan bukan berarti Umar berpendapat bahwa turunnya 
hujan karena bintang-bintang tersebut. (Tafsir Al-Khazin, 7/154)
[9]. Op.Cit 7/154. Lihat pula Ruh al-Ma'ani 29/72
[10]. Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma'ani, 29/73
[11]. Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123
[12]. Tafsir Ibnu Katsir, 2/492. Lihat pula, Tafsir Al-Qurthubi, 9/51
[13]. Zaadul Masiir, 4/75
[14]. Tafsir Al-Qurthubi, 9/403. Lihat pula, Tafsir Ath-Thabari, 15/229-230, 
Tafsir Al-Baghawi. 4/373, Fathul Qadir, 2/695 dan Tafsir Al-Qasimi, 9/63
[15]. Adhwa'ul Bayan, 3/9
[16]. مَنْ أَكْشَرَ الْاِسْتِغْفَارَ Dalam riwayat lain disebutkan مَنْ لَزِمَ 
الْاِسْتِغْفَارَ "Barangsiapa menetapi - dalam riwayat lain - tidak 
meninggalkan istighfar". Lihat, Sunan Abi Daud, 4/267, Sunan Ibni Majah, 2/339. 
Dan maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Ath-Thayyib Al-Azhim Abadi 
yaitu saat terjadinya maksiat atau adanya ujian atau ada orang yang penyakitnya 
terus menerus, maka sungguh dalam setiap nafas ia membutuhkan kepadanya 
(istighfar dan taubat). Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارَا كَِشِيْرًا 

"Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar 
yang banyak". (Hadist Riwayat Ibnu majah dengan sanad hasan shahih). (Aunul 
Ma'bud, 4/267)
[17]. Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi miliknya 
; Sunan Abi Daud, Abwabu Qiyamil Lail, Tafri'u Abwabil Witr, Bab Fil Istighfar, 
no. 1515, 4/267 ; Kitabus Sunan Al-Kubra, Kitabu Amalil Yaumi wal Lalilah, no 
10290/2,6/118 ; Sunan Ibni Majah, Abwabul Adab, Bab Al-Istighfar, no. 3864, 
2/339 ; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, Kitabut Taubah wal Inabah, 4/292. 

Sebagian ahli hadits menyatakan hadits ini dha'if karena salah satu 
periwayatnya (cacat). (Lihat, At-Talkhish, Al-Hafizd Adz-Dzahabi, 4/262 ; Aunul 
Ma'bud, 4/267 ; Dha'ifu Sunan Abi Daud, Syaikh Al-Albani, hal. 149) Tetapi 
sanad hadits tersebut dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (Lihat, Al-Mustadrak, 
4/262). Dan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata : "Sanad hadits ini shahih" 
(Hamisy Al-Musnad, 4/55). Demikian sebagai jawaban atas apa yang dikatakan 
tentang salah seorang perawinya. Wallahu a'lam bish shawab. 
                                          

Kirim email ke