METODE AL QUR’AN DALAM MENYERU KAUM MUKMININ KEPADA HUKUM-HUKUM SYARIAT
http://almanhaj.or.id/content/3647/slash/0/metode-al-qurn-dalam-menyeru-kaum-mukminin-kepada-hukum-hukum-syariat/

Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan untuk berdakwah di jalan-Nya dengan
cara paling baik yang mengantarkan kepada maksud dan tujuan yang
diharapkan.Tidak diragukan lagi, bahwa metode Allah Azza wa Jalla dalam hal
ini adalah yang paling baik dan paling tepat.

• Sering kali Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin untuk melakukan
kebaikan atau melarang dari keburukan dengan menggunakan gelar iman yang
Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka. Misalnya, Allah Azza wa
Jalla berfirman : ” Wahai orang-orang yang beriman, lakukanlah hal ini atau
tinggalkanlah perkara ini...”

Seruan gaya ini berisi dua seruan sekaligus yaitu :
Pertama : seruan agar mereka melaksanakan apa yang menjadi konsekuensi
keimanan, syarat-syarat dan hal-hal yang dapat menyempurnakan keimanan
mereka, berupa seluruh syariat agama. Oleh karena itu itu para ulama salaf
sepakat bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang dan seluruh syari’at
agama ini merupakan bagian dari iman. Salah satu buktinya yaitu Allah Azza
wa Jalla memulai perintah-Nya kepada kaum Mukminin dengan mengggunakan
kata-kata iman. Misalnya, `Wahai orang-orang yang beriman…`.

Kedua : seruan agar mereka mensyukuri karunia keimanan yang Allah Azza wa
Jalla anugerahkan, dengan menjelaskan cara bersyukur secara terperinci
yaitu tunduk secara mutlak terhadap segala perintah dan larangan-Nya.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin kepada kebaikan dan
melarang mereka dari keburukan dengan menjelaskan pengaruh dan balasan di
dunia maupun di akherat dari perbuatan mereka.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin dengan menyebutkan
karunia-Nya yang bermacam-macam, yang menuntut mereka agar bersyukur dengan
cara melaksanakan konsekuensi keimanan.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin dengan memberikan
dorongan ataupun ancaman, dengan menyebutkan apa yang Allah Azza wa Jalla
sediakan bagi kaum Mukminin yang taat yaitu ganjaran; dan bagi selain
mereka berupa hukuman.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin dengan menyebutkan
nama-nama Allah Azza wa Jalla yang indah (asmâul husnâ), dan hak-hak Allah
Azza wa Jalla yang agung atas hamba-Nya. Sesungguhnya hak Allah Azza wa
Jalla atas para hamba adalah agar mereka benar-benar beribadah kepada-Nya
secara lahir maupun batin, beribadah dan berdoa kepada-Nya dengan menyebut
nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang suci.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla menyeru kaum Mukminin agar mereka hanya
menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai wali, tempat berlindung, tempat
menyerahkan segala urusan dan menjadikan-Nya tempat kembali. Allah Azza wa
Jalla memberitahu mereka bahwa inilah sumber kebahagiaan dan kesuksesan
hamba. Sekiranya mereka tidak menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai tempat
berlindung, mereka akan dikuasai oleh setan yang memberikan angan-angan
semu dan tipu muslihat, sehingga lenyaplah berbagai kebaikan dari mereka
serta akan menjerumuskan ke lembah kebinasaan.

• Terkadang Allah Azza wa Jalla mendorong kaum Mukminin kepada kebaikan dan
memperingatkan mereka agar tidak bertasyabuh dengan orang-orang yang lalai,
enggan dan penganut agama selain Islam, agar kaum Mukminin tidak tertimpa
celaan atau lainnya yang menimpa orang-orang itu. Sebagaimana firman-Nya

فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Nanti kamu termasuk orang-orang yang merugi [Yunus/10:95]

فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Sehingga engkau termasuk orang-orang yang zhalim [al-An'am/6:52]

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ
مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk
mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada
mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah
menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang
sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi
orang-orang fasik [al-Hadid/57:16]


METODE AL QUR’AN DALAM MENDAKWAHI ORANG-ORANG KAFIR

Al-Qur’ân mengajak mereka untuk masuk Islam dan beriman kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyebutkan keindahan syariat
dan agamanya. Al-Qur’ân juga menyebutkan bukti-bukti kenabian Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam guna memberi petunjuk bagi orang-orang yang
menginginkan kebenaran dan keadilan, serta menegakkan hujjah bagi
orang-orang yang menentang. Ini merupakan metode paling agung yang
diserukan kepada semua orang yang menyelisihi agama Islam.

Sesungguhnya keindahan agama Islam dan kelebihan Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam , tanda-tanda dan bukti-bukti beliau di dalamnya terdapat
kesempurnaan dakwah, yaitu dengan cara berpaling dari kebathilan syubhat
dan hujjah orang-orang yang menyelisihinya. Sesungguhnya apabila kebenaran
telah jelas, maka dapat diketahui bahwa semua yang menyelisinya adalah
kebathilan dan kesesatan.

Al-Qur’ân menyeru mereka dengan menyebutkan hal-hal yang menakutkan bagi
mereka, berupa siksaan dunia dan akherat (yang menimpa) umat-umat
terdahulu. Juga dengan menyebutkan berbagai kejelekan dan akibat buruk yang
terdapat pada agama-agama bathil tersebut serta hukuman-hukuman yang hina.
Al-Qur’ân memperingatkan mereka supaya tidak mentaati pemimpin-pemimpin
sesat dan dai-dai penyeru kepada api neraka. Mereka harus meninggalkan
ketaatan terhadap tokoh-tokoh tersebut. Sesungguhnya kelak di akherat
mereka akan berandai-andai, sekiranya mereka dahulu di dunia mentaati Rasul
n dan tidak mentaati pemimpin mereka yang sesat. Kelak kecintaan dan
persahabatan dengan para pemimpin itu akan berubah menjadi kebencian dan
permusuhan.

Sebagaimana seruan al-Qur’ân terhadap kaum Mukminin, al-Qur’ân juga menyeru
mereka dengan menyebutkan karunia dan nikmat yang telah Allah Azza wa Jalla
berikan kepada mereka. Sesungguhnya Dzat yang di-Esakan dalam hal mencipta,
mengatur dan memberi nikmat lahir dan bathin, Dia-lah yang wajib ditaati
dan dilaksanakan perintahnya dan dijauhi larangannya oleh segenap makhluk.

Al-Qur’ân juga menyeru mereka dengan menjelaskan kebathilan dan keburukan
yang ada pada agama mereka, kemudian membandingkannya dengan agama Islam.
Supaya jelas bagi mereka mana yang wajib diutamakan dan dipilih.

Al-Qur’ân menyeru mereka dengan cara yang paling baik. Apabila mereka
semakin sombong dan menentang, maka al-Qur’ân mengancam mereka dengan siksa
yang keras. Al-Qur’ân menjelaskan kepada manusia jalan yang telah mereka
tempuh. Mereka tidak menyelisihi agama karena ketidak-tahuan atau karena
syubhat yang menyebabkan mereka berhenti dari syariat. Akan tetapi,
dikarenakan pengingkaran dan penentangan mereka.

Al-Qur’ân juga menjelaskan sebab-sebab yang menghalangi mereka dari
mengikuti petunjuk, yaitu hawa nafsu. Tatkala mereka memilih kebatilan
daripada kebenaran, hati mereka terkunci, jalan kebenaran pun tertutup,
kemudian setan menguasai diri mereka hingga mereka tidak lagi memperoleh
perlindungan dari Allah Azza wa Jalla .

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan memalingkan mereka jika mereka
berpaling (dari kebenaran) karena mengikuti hawa nafsu mereka. Makna-makna
ini banyak disebutkan dalam al-Qur’ân di berbagai tempat. Renungilah
al-Qur’ân, agar engkau mendapatkan kejelasan dan keagungan.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir
as-Sa`di, Hal 30-31, 33-34)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01-02/Tahun XII/1430H/2009.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kirim email ke