ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA JADIKAN SEBAB/PRANTARA SEBAGAI KABAR GEMBIRA
http://almanhaj.or.id/content/3653/slash/0/allah-subhanahu-wa-taala-jadikan-sebabprantara-sebagai-kabar-gembira/

جَعَلَ اللهُ الأَسْبَابَ لِلْمَطَالِبِ الْعَالِيَةِ مُبَشِّرَاتٍ
لِتَطْمِيْنِ الْقُلُوْبِ وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ

Allâh menjadikan prantara bagi semua tujuan yang tinggi sebagai mubassyirat
(pembawa kabar gembira) agar hati menjadi tenang dan iman bertambah

Allâh Azza wa Jalla Mahakuasa untuk mewujudkan semua tujuan dan maksud yang
diinginkan oleh para hamba-Nya tanpa melalui sebab atau prantara. Namun
Allâh Azza wa Jalla sengaja menjadikan dan menetapkan prantara atau sebab
bagi sebuah tujuan agar menjadi mubassyirat (pembawa kabar gembira),
sehingga dengan demikian hati akan menjadi tenang dan keimanan akan
bertambah.

Ini bisa ditemukan di banyak tempat, misalnya, ketika Allâh Azza wa Jalla
menerangkan tentang pengiriman bala bantuan dalam perang Badr. Pengiriman
bala bantun ini menjadi prantara atau penyebab kemenangan yang diinginkan
oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin. Allâh Azza
wa Jalla berfirman :

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ

Dan Allâh tidak menjadikannya (maksudnya pengiriman bala bantuan itu),
melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya
[al-Anfâl/8:10]

Allâh Azza wa Jalla mampu untuk memberikan kemenangan tanpa harus
mengirimkan bala bantuan. Namun supaya ini menjadi isyarat kemenangan, maka
bala bantuan dikirimkan. Jadi, pengiriman bala bantuan sebagai mubassyirat
(pembawa kabar gembira) bahwa kemanangan akan segera tiba, sehingga hati
kaum Muslimin menjadi tenang dan keimanan mereka bertambah.

Dalam ayat lain, ketika menjelaskan tentang penyebab dan prantara datangnya
rizki dan turunnya hujan, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ
رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ

Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin
sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari
rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga)
supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; [ar-Rûm/30:46]

Rizki dan hujan termasuk tujuan yang diinginkan oleh manusia. Allâh Azza wa
Jalla Yang Mahakuasa mampu mendatangkan itu semua tanpa prantara dan sebab.
Namun Allâh Azza wa Jalla menjadikan sebab dan prantara bagi tujuan ini
yaitu berupa tiupan angin. Allâh Azza wa Jalla meniupkan angin pertanda
akan turun hujan itu sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) bahwa
hujan akan segera turun dan tumbuh-tumbuhan akan menghijau, sehingga hati
orang yang berharap mendapatkan rizki bisa tenang dan imannya akan
bertambah.

Makna yang lebih umum dari dua ayat diatas yaitu busyra [1] yang ada dalam
firman Allâh Azza wa Jalla:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ﴿٦٢﴾الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ﴿٦٣﴾لَهُمُ الْبُشْرَىٰ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ
اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang
beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan
bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allâh. yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar. [Yûnus/10:62-64]

Busyra maksudnya semua isyarat yang menunjukkan kepada mereka bahwa Allâh
Azza wa Jalla menginginkan kebaikan buat mereka atau isyarat yang
menunjukkan bahwa mereka adalah wali-wali Allâh Azza wa Jalla . Dengan
demikian, pujian yang baik, mimpi yang bagus, kelembutan Allâh Azza wa
Jalla yang bisa mereka saksikan, juga taufiq, kemudahan yang Allâh berikan
serta terhindarkan dari berbagai kesulitan dan lain sebagainya, ini semua
merupakan busyra atau mubassyirat (pembawa kabar gembira) sebelum mereka
mendapatkan tujuan akhir yaitu surga dengan beragam kenikmatannya.

Termasuk prantara dari sebuah tujuan yang Allâh Azza wa Jalla jadikan
sebagai isyarat kabar gembira namun jarang diketahui orang yaitu Allâh Azza
wa Jalla menjadikan kesusahan atau kesulitan sebagai isyarat datangnya
jalan keluar atau solusi. Jika kita perhatikan dan merenungi kisah para
nabi dan kesulitan mereka, yang Allâh Azza wa Jalla ceritakan dalam
al-Qur'ân, maka tentu akan mendapatkan suatu yang sangat memukau.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ
الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ
وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ
نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allâh?" Ingatlah,
Sesungguhnya pertolongan Allâh itu amat dekat. [al-Baqarah/2:214]

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴿٥﴾إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [as-Syarh/94:5-6]

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Allâh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [ath-Thalâq/65:7]

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ
وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan bersama kesabaran, dan sesungguhnya
solusi itu bersama keusahan dan sesunggunya kemudahan it bersama
kesulitan.[2]

Dan masih banyak contoh dari penerapan kaidah ini dalam al-Qur'an. Semoga
ini bermanfaat.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir
as-Sa`di, halaman. )

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Karena ma'mulnya (apa yang menjadi obyeknya) tidak disebutkan,
sehingga maknanya menjadi lebih umum
[2]. Riwayat Ahmad, 1/307; Abdun bin Hamid, al-Muntakhab 1/546-547; Ibnu
Abi Ashim dalam as-sunnah, 1/137-139; al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, no.
1043 dan al-Asma' was Shifaat, hlm. 97 serta dalam al'I'tiqâd, hlm. 58-59;
ath-Thabrani dalam al-Kabîr, no. 11243; al-Hâkim, 3/541-542; Ibnu 'Adi
dalam al-Kâmil, 7/2524-2525; al-Uqaili dalam ad-Dhu'afâ, 3/397-398; Abu
Nu'aim dalam al-Hilyah, 1/314; al-Lalikaai dalam Syarh Ushûl I'tiqâd
Ahlissunnah, 2/614; hadits ini juga dibawakan oleh al-Haitsami dalam
al-Majma', 7/189-190. syaikh al-Albâni rahimahullah menilai hadits ini
shahih. Lafazh diatas adalah potongan hadits yang berisi wasiat kepada Ibnu
Abbâs Radhiyallahu anhuma sebagaimana dalam sebagian riwayat.

Kirim email ke