SHALAWAT PARA MALAIKAT BAGI ORANG YANG MAKAN SAHUR
Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi
http://almanhaj.or.id/content/3308/slash/0/shalawat-para-malaikat-bagi-orang-yang-makan-sahur/


Di antara orang-orang yang berbahagia dengan shalawat para Malaikat adalah 
orang yang makan sahur, dan di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut 
adalah:

1. Dua Imam, yaitu Imam Ibnu Hibban dan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari 
Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

‘Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang 
makan sahur.’” [1]

Imam Ibnu Hibban memberikan bab untuk hadits ini dengan judul: “Ampunan Allah 
Subhanahu wa Ta’ala dan Permohonan Ampun Para Malaikat Bagi Orang-Orang yang 
Makan Sahur.” [2]

2. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau 
berkata: “Rasulullah Shallallahu bersabda:

"اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ 
أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ, فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى 
الْمُتَسَحِّرِيْنَ."

‘Makan sahur adalah makanan yang penuh dengan keberkahan, maka janganlah engkau 
meninggalkannya, walaupun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk 
air, karena sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada 
orang-orang yang makan sahur.’” [3]

Dalam hadits ini ada sebuah pelajaran yang sangat jelas, yaitu bahwa Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat gigih membuat umatnya gembira dengan 
shalawat Allah جَلَّ وَعَلاَ kepada mereka dan permohonan ampun bagi mereka 
dari para Malaikat dengan sebab makan sahur. Hal itu tampak dari sabda 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka janganlah kalian 
meninggalkannya walaupun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk 
air.” Maknanya: “Janganlah kalian meninggalkannya, sehingga walaupun tidak 
memungkinkan seorang dari kalian kecuali hanya meminum sedikit air (saja) 
dengan tujuan sahur, maka minumlah dengannya.” [4]

Syaikh Ahmad ‘Abdurrahman al-Banna memberikan komentar bagi hadits ini dengan 
ungkapan: “Shalawat Allah kepada mereka adalah kasih sayang-Nya kepada mereka, 
sedangkan shalawat para Ma-laikat kepada mereka adalah permohonan ampun untuk 
mereka, maka siapa saja yang tidak sahur, ia terhalang dari rahmat Allah Azza 
wa Jalla dan dari permohonan ampun para Malaikat untuk mereka pada waktu 
tersebut.” [5]

Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kami orang-orang yang terhalang dari 
kasih sayang-Mu dan orang-orang yang terhalang dari permohonan ampun para 
Malaikat untuk kami. Kabulkanlah wahai Rabb Yang Mahamendengarkan do’a.

Jika hal tersebut merupakan shalawat dari Allah Ta’ala dan para Malaikat bagi 
orang yang makan sahur saja, maka bagaimana bagi orang yang menyem-purnakan 
puasanya karena Allah Azza wa Jalla? Satu makhluk pun sama sekali tidak dapat 
memperkirakannya di dunia. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengabarkan bahwa:

"قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِيْ 
وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ."

“Allah berfirman: ‘Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena 
puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang langsung mem-balasnya.’” [6]

Dan masih banyak lagi hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam mendorong umatnya melaksanakan sahur, di antaranya adalah:

1. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, 
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ."

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah pada makan sahur.” [7]

2. Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata: 
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً."

‘Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu ada keberkahan.’” [8]

3. Al-Imam an-Nasa-i meriwayatkan dari al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu 
anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
yang sedang mengajak untuk makan sahur pada bulan Ramadhan, beliau bersabda: 
‘Marilah kita makan yang dipenuhi dengan keberkahan.’” [9]

Para ulama Salaf sangat mementingkan makan sahur, dan di antara dalil yang 
menunjukkan hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari 
Abu Qais, bekas budak ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “‘Amr 
bin al-‘Ash memerintahkan membuat makanan sahur untuknya, akan tetapi dia tidak 
menentukan makanan tersebut, lalu kami berkata: ‘Engkau memerintahkan kami 
(membuat makanan untuk sahur), akan tetapi engkau tidak menentukan makanannya.’

Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sama sekali tidak memerintahkan kalian untuk 
membuat makanan karena aku menginginkannya, akan tetapi aku mendengar 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

"فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ."

‘Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah pada makan sahur.’” 
[10]

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man Tal‘anuhum, 
Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia, 
Orang-Orang Yang Di Do'akan Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka 
Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban kitab ash-Shaum, bab as-Sahuur 
(VIII/246 no. 3467). Al-Hafizh al-Mundziri berkata: “ Hadits ini diriwayatkan 
oleh ath-Thabrani dalam kitab al-Ausath dan Ibnu Hibban di dalam Shahiihnya.” 
(At-Targhiib wat Tarhiib II/137). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, 
(Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib I/519). Syaikh Syu’aib al-Arna-uth berkata: 
“Hadits ini shahih.” (Catatan pinggir kitab al-Ihsaan VIII/246)
[2]. Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban (VIII/245).
[3]. Al-Musnad (III/12 cet. Al-Maktab al-Islami). Al-Hafizh al-Mundziri 
berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat.” 
(At-Targhiib wat Tarhiib II/139)
[4]. Lihat kitab Buluughul Amaani (X/16).
[5]. Ibid.
[6]. Lihat Shahiih al-Bukhari kitab ash-Shaum bab Hal Yaquulu Innii Shaa-im 
idzaa Syutima? (IV/118 no. 1904).
[7]. Shahiih Muslim kitab ash-Shiyaam bab Fadhlus Sahuur wa Ta'-kiidu 
Istihbaabihi. (II/770-771 no. 1096 (46)).
[8]. Muttafaq ‘alaih. Shahiih al-Bukhari kitab ash-Shaum bab Barakatus Sahuur 
min Ghairi Iijaab (IV/139 no. 1923) dan Sha-hiih Muslim bab Fadhlus Sahuur wa 
Ta'kiid Istihbaabihi (II/ 770 no. 1095 (45)).
[9]. Sunan an-Nasa-i kitab ash-Shiyaam bab Da'watus Sahuur (IV/145), hadits ini 
dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (lihat kitab Shahiih Sunan an-Nasa-i 
II/465-466).
[10]. Sunan ad-Darimi kitab ash-Shiyaam bab Fii Fadhlis Sahuur (I/338-339 no. 
1704).
                                          

Kirim email ke