ARTI PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN
http://almanhaj.or.id/content/3665/slash/0/arti-perumpamaan-dalam-al-quran/

al-Qur’anul karim sebagai kitab pedoman berisi berbagai pembahasan
bermanfaat yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam segala kondisi.
Misalnya, dalam metode pembelajaran dan cara menanamkan sebuah nilai dalam
hati seseorang. Metode yang dipakai adalah metode yang simpel dan paling
jelas. Diantara metodenya yaitu dengan membuat perumpamaan-perumpamaan.
Metode ini dipakai untuk menyampaikan masalah-masalah yang sangat urgen dan
krusial, seperti masalah tauhid dan kondisi orang-orang yang mentauhidkan
Allâh Azza wa Jalla , masalah syirik dan kondisi kaum musyrik, dan berbagai
amalan besar lainnya. Tujuannya tentu untuk memahamkan dan menanamkan
nilai-nilai luhur yang abstrak dengan cara menggambarkannya dengan sesuatu
yang kongkrit sehingga seakan-akan terlihat mata. Oleh karena itu,
merupakan suatu keharusan bagi seorang hamba untuk memperhatikannya dan
berusaha untuk memahami maksud perumpamaan-perumpamaan itu.

WAHYU DAN ILMU DIUMPAMAKAN DENGAN AIR HUJAN
Allâh Azza wa Jalla telah mengumpamakan wahyu dan ilmu yang Allâh Azza wa
Jalla turunkan kepada para rasul-Nya dengan hujan, sementara hati
diumpamakan dengan bumi dan lembah. Pengaruh ilmu dan wahyu pada hati
diumpakan dengan pengaruh hujan pada tanah bumi. Diantara tanah itu ada
yang subur yang bisa menyerap air dan menumbuhkan rerumputan, sebagaimana
hati yang bisa memahami wahyu Allâh Azza wa Jalla dan merealisasikannya
dalam kehidupan.

Diantara tanah itu juga ada tanah yang bisa menampung air akan tetapi
tanaman tidak bisa tumbuhdi atasnya. Orang bisa memanfaatkan air yang
ditampung ini untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti minum, mandi, makan
dan lain sebagainya. Ini merupakan permisalan bagi hati orang yang bisa
menghafal wahyu lalu dia juga menyampaikanya ke orang lain, cuma dia tidak
bisa memahaminya secara mendalam. Orang seperti ini masih baik, namun
derajatnya berada dibawah derajat hati orang pada golongan pertama.

Kemudian ada juga tanah yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa
menumbuhkan resumputan. Ini adalah perumpamaan bagi hati yang tidak bisa
mengambil manfaat sama sekali dari wahyu, baik secara ilmu, hafalan atau
pun praktek.

Sisi persamaan antara antara hati dan tanah atau bumi dalam perumpamaan di
atas nampak begitu jelas, begitu juga sisi persamaan antara hujan dan
wahyu. Hujan merupakan sumber kehidupan fisik manusia dan sumber rezeki,
sebagaimana wahyu dan ilmu merupakan sumber kehidupan ruhani atau hati
manusia.

KALIMAT TAUHID DIUMPAMAKAN DENGAN POHON YANG BAIK
Allâh Azza wa Jalla juga mengumpamakan kalimat tauhîd dengan pohon yang
baik yang senantiasa berbuah setiap waktu.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ﴿٢٤﴾تُؤْتِي أُكُلَهَا
كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ
لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang)
ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin
Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya
mereka selalu ingat. [Ibrahim/14 : 24-25]

Begitu juga pohon tauhîd yang tertanam dalam hati seseorang. Dia juga akan
senantiasa mendatangkan buah atau manfaat. Diantara buah tauhîd yaitu niat
yang baik, akhlaq mulia serta amal shalih. Manfaat ini tidak hanya
dirasakan oleh orang yang bertauhid, tapi juga dirasakan oleh orang lain.

KAUM MUSYRIKIN DISAMAKAN DENGAN LABA-LABA
Allâh Azza wa Jalla mengumpamakan syirik dan kaum musyrik yang mencari
perlindungan kepada selain Allâh Azza wa Jalla seperti laba-laba yang
merajut sarangnya. Karena sarang laba-laba adalah sarang yang paling lemah
[2], sehingga tindakannya membuat sarang hanya akan membuatnya semakin
lemah.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ
الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ
الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. [al-Ankabut/29
: 41]

Begitu juga kaum musyrikin yang mengambil pelindung selain Allâh Azza wa
Jalla. Tindakan itu hanya akan semakin memperlemah diri mereka sendiri,
karena hatinya sudah putus hubungan dengan Allâh Azza wa Jalla . Hati
seperti ini akan sangat rapuh dari semua sisi, ditambah dengan
ketergantungannya kepada makhluk, maka dia akan semakin rapuh. Dia mengira
makhluk bisa memberikan manfaat dan menyelamatkannya dari bahaya, padahal
sama sekali tidak.

Kondisi jelas sangat berbeda dengan kondisi hati kaum Muslimin yang hanya
bergantung kepada Allâh Azza wa Jalla. Hatinya tangguh sesuai dengan
kekuatan imannya, tauhidnya dan ketergantungannya kepada Allâh Azza wa
Jalla yang mengatur segala sesuatu. Seperti hati kaum Muslimin yang
istiqâmah di atas aturan agamanya. Perkataan dan perbuatannya tetap baik,
terbebas dari perbudakan makhluk, tidak bergantung dengan mereka sama
sekali.

Ini berbeda dengan kaum musyrikin yang diibaratkan dengan orang bisu lagi
tuli, yang hanya menjadi beban. Dia tidak bisa mendatangkan kebaikan,
meskipun diberi berbagai pengarahan. Hatinya akan sentiasa bergantung
dengan makhluk, sehingga secara tidak langsung telah diperbudak dan tidak
memiliki kebebasan. Juga diperumpamakan oleh Allâh Azza wa Jalla dengan
orang yang terjatuh dari ketinggian lalu disambar burung dan selanjut
dicabik-dicabik sampai tidak berbentuk.

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ
فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ
الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia
seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan
angin ke tempat yang jauh. [al-Hajj/22 : 31]

Seandainya semua yang mereka anggap tuhan itu berkumpul untuk membuat
makluk yang paling kecil yaitu lalat mereka tidak akan bisa melakukannya.
Lalu bagaimana kalau mereka seorang diri ? Jangankan menciptakan lalat,
mengembalikan dan merebut kembali makanan yang diambil lalat pun mereka
tidak bisa. Adakah kelemahan yang lebih parah dari ini ? Adakah kedunguan
yang lebih buruk dibandingkan kedunguan kaum musyrikin ? Kondisi ini
diperparah lagi dengan banyaknya tuhan sesembahan mereka yang menyebabkan
mereka tidak mungkin meraih ridha dari semuanya. Orang seperti ini
senantiasa dirundung nestapa dan diterpa penderitaan yang bertubi-tubi.

Seandainya kaum musyrikin menyadari sebagian dari keburukan ini, tentu dia
akan berupaya menyelamatkan dirinya dari berbagai keburukan itu. Dia juga
akan menyadari bahwa selama ini dia telah menyia-nyiakan akal pikiran
mereka setelah tidak peduli dengan agama mereka. Ini sangat bertolak
belakang dengan kaum Muslimin yang hanya menghambakan diri kepada Allâh
Azza wa Jalla . Hati mereka tenang di atas agama yang haq. Mereka juga
menyadari bahwa buah yang akan didapatkannya jauh lebih baik yaitu
kebahagian abadi dalam kehidupan yang juga abadi.

AMAL SEORANG HAMBA IBARAT KEBUN
Dalam perumpamaan lain, Allâh Azza wa Jalla mengumpamakan amal perbuatan
seperti kebun.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا
وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ
ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang
terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya,
maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
perbuat. [al-Baqarah/2 : 265]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan suatu amalan yang dilakukan dengan ikhlas,
bersih dari segala yang bisa merusaknya ibarat kebun yang berlokasi
ditempat terbaik, cukup angin dan sinar matahari serta tidak kekuarangan
pasokan air. Tanah seperti ini meskipun tidak terkena hujan lebat, misalnya
hanya gerimis maka itu sudah cukup untuk menjadikannya media tanam yang
subur. Kalau unsur-unsur ini sudah terpenuhi, maka tentu buah yang
dihasilkannya akan sangat memuaskan, daunnya lebat dan rindang serta
udaranya sejuk. Sang pemilik akan senantiasa memetik hasilnya tanpa merasa
khawatir.

Namun jika mereka ditimpa musibah atau tertimpa kekeringan lalu terbakar.

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ
وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ
فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ
لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan
anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun
itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu
sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu
ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.
[al-Baqarah/2 : 266]

Maka itu merupakan perumpamaan orang yang melakukan suatu amalan lalu dia
melakukan sesuatu yang merusak dan menghancurkan apa yang telah
diperbuatnya, seperti kesyirikan, nifâq atau perbuatan maksiat lainnya yang
bisa melenyapkan pahala. Alangkah ruginya !

Dari perumpamaan ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang yang tidak
memiliki iman sama sekali ibarat orang yang tidak memiliki kebun sama
sekali.

Sisi persamaan antara amal dan kebun yaitu kwalitas sebuah lahan sangat
dipengaruhi oleh kecukupan air, kesuburan lahan dan kebaikan tempat. Begitu
juga dengan amal perbuatan. Amal perbuatan itu sangat dipengaruhi wahyu
yang diturunkan sebagai nutrisi hati. Kemudian si pelaku juga sudah
melengkapi semua syarat diterimanya amal sehingga membuahkan hasil yang
memuaskan.

Dan masih banyak sekali perumpaman yang dibawakan oleh Allâh Azza wa Jalla
dalam al-Qur'an. Berbagai perumpamaan ini hanya bisa dipahami oleh
orang-orang yang berakal. Ketika perumpamaan-perumpamaan ini diterapkan
pada suatu yang diperumpamakan, maka semuanya akan nampak jelas maksudnya.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir
as-Sa`di, Kaidah ke-22)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kirim email ke