From: [email protected]
Date: Mon, 15 Jul 2013 11:32:48 +0800
Bismillah.
Apakah batal menyentuh istri setelah wudhu ?
mpurba
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

Hukum suami-isteri bersentuhan apakah membatalkan wudhu? 
Tentang masalah ini, yang rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan, tidak 
batalnya wudhu` seseorang disebabkan bersentuhan dengan wanita atau lelaki.

 

Kemudian tentang hukum suami-isteri bersentuhan apakah membatalkan wudhu? 

Tentang masalah ini, yang rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan, tidak 
batalnya wudhu` seseorang disebabkan bersentuhan dengan wanita atau lelaki yang 
bukan mahram. Demikian ini pendapat madzhab Abu Hanifah, dan dirajihkan Ibnu 
Taimiyah, Ibnu 'Utsaimin [1] dan Musthafa al 'Adawi, [2] dengan dasar tafsir 
Ibnu 'Abbas terhadap firman Allah dalam surat al Maidah ayat 6 :

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ 

[pengertiannya adalah jima' (berhubungan suami istri)]. Hal ini dikuatkan 
dengan hadits berikut ini : 

1. Hadits 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata : 

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ 
الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي 
الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ 
مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا 
أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Aku kehilangan Rasulullah dari tempat tidurku. Lalu aku mencarinya, dan 
tanganku menyentuh bagian bawah telapak kaki beliau yang sedang bersujud …[3] 

2. Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ 
فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا 
مَصَابِيحُ

Aku, dulu pernah tidur di depan Rasulullah, dan kedua kakiku di bagian kiblat 
beliau. Apabila beliau sujud, maka beliau menyentuhku, lalu aku menekuk kedua 
kakiku. Dan bila beliau bangkit, maka aku luruskan lagi. Waktu itu rumah-rumah 
tidak ada lampu penerangnya. [4] (dalam riwayat an Nasaa-i disebutkan :

إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ مَسَّنِي بِرِجْلِهِ

(Apabila beliau ingin witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya). 

Demikianlah pendapat yang rajih. Wallahu a'lam.

Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/1964/slash/0/membuka-jilbab-di-depan-ahli-kitab-suami-isteri-apakah-termasuk-mahram/

 

Pertanyaan.
Bârakallâhu fîkum. Menyentuh atau tersentuh wanita, tidak membatalkan wudhu. 
Apakah ini umum pada semua wanita, baik yang muslimah atau yang kafir, mahram 
atau bukan mahram ? 0852786XXXX

Jawaban
Ya, umum mencakup semua wanita. Karena memang tidak ada dalil yang shahih dan 
sharih (yang secara gamblang menjelaskan) bahwa bersentuhan kulit antara lelaki 
dan wanita itu membatalkan wudhu’. Yang ada dalam riwayat justru yang 
mengisyaratkan bahwa bersentuhan itu tidak membatalkan wudhu', sebagaimana 
kisah 'Aisyah Radhiyallahu anuhma yang memegang tumit Rasulullah ketika beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang shalat. Seandainya bersentuhan itu 
menyebabkan batal, tentu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghentikan 
shalatnya dan berwudhu' kembali. Tetapi bukan berarti menyentuh wanita yang 
bukan mahram itu boleh. Ini permasalahan yang lain. Hukum menyentuh wanita yang 
bukan mahramnya adalah haram.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ 
مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Sungguh kepala seseorang dari kamu ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi 
lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya [1]

Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2668/slash/0/beradzan-tetapi-shalat-di-tempat-lain-pembatas-shaf-pria-dan-wanita-menyentuh-wanita/

 

Wallahu Ta'ala A'lam 








                                          

Kirim email ke