KAUM SYIAH, GOLONGAN PEMALSU HADITS TERDEPAN

Oleh
Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra

http://almanhaj.or.id/content/3674/slash/0/kaum-syiah-golongan-pemalsu-hadits-terdepan/

Kemunculan orang-orang yang berkepentingan duniawi dan dengki terhadap
Islam, dan manusia-manusia yang masuk Islam dengan membawa kepentingan
untuk merusaknya dari dalam menjadi penyebab tersulutnya fitnah besar di
tengah umat Islam yang berujung pada terbunuhnya Khalifah ‘Utsmân
Radhiyallahu anhu dan berkobarnya peperangan-peperangan yang memecah
kesatuan umat. Selanjutnya, timbullah golongan-golongan (sesat) dalam
Islam. Masing-masing golongan berupaya membenarkan pendapat (ideologi)nya
dengan memalsukan hadits-hadits atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Dari situlah, hadits-hadits palsu berkembang. Tema-temanya pun
beragam, di antaranya berisi keutamaan seseorang, madzhab, wilayah tertentu
atau sebaliknya menyerang orang-orang maupun kelompok tertentu.

SEBAB PEMALSUAN HADITS
Usaha-usaha pemalsuan hadits atas nama Rasûlullâh n didorong oleh berbagai
motivasi dan kepentingan. Di antaranya, bertujuan merusak aqidah Islam,
mencari popularitas, fanatisme madzhab, mengais penghidupan seperti yang
dilakukan oleh qushshâsh (para tukang cerita).

“Pemalsuan hadits yang terjadi, bukanlah fenomena kebetulan yang muncul
tanpa direncanakan. Akan tetapi, merupakan gerakan dengan orientasi
tertentu dan perencanaan yang komprehensif. Gerakan ini memiliki bahaya dan
dampak buruk besar. Di antara dampak buruknya yang langsung mengenai sekian
banyak generasi Islam di banyak negeri, tersebarnya pendapat-pendapat yang
aneh, kaedah-kaedah fiqih yang syadz, dan keyakinan menyimpang serta
pandangan-pandangan yang lucu. Hal-hal yang menyimpang ini didukung dan
dipropagandakan oleh golongan-golongan sesat dan kelompok-kelompok
tertentu…Sering kali hadits-hadits palsu ini bertentangan dengan akhlak dan
akal yang lurus, dan apalagi dengan Kitabullâh dan petunjuk Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[1]

KAUM SYIAH, GOLONGAN TERDEPAN YANG MEMALSUKAN HADITS
Salah satu langkah yang ditempuh golongan batil untuk mencari pengikut,
yaitu melalui pengadaan hadits-hadits palsu dan menyebarluaskannya di
tengah manusia. Pasalnya, mereka tahu benar bahwa kaum Muslimin sangat
mencintai sunnah (hadits-hadits) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ingin mengetahui lebih mendalam. Selanjutnya, mereka ini (golongan batil)
mereka-reka hadits-hadits (palsu) dan menisbatkannya kepada Rasûlullâh
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika kaum Muslimin
mendengarkannya, umat akan memahami itu merupakan perkataan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menganggapnya sebagai kebenaran.
Padahal sejatinya itu adalah hadits palsu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak pernah mengucapkan atau melakukannya sama sekali. !

Golongan batil ini tidak hanya berdusta atas Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam, akan tetapi juga memalsukan riwayat-riwayat dengan
mencatut nama-nama Ulama Islam yang menjadi teladan bagi umat agar
kebatilan mereka lebih dikenal khalayak.

Kaum Syiah, inilah golongan terdepan yang memalsukan hadits-hadits atas
nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang paling nekat
dalam usaha ini. Mereka sudah terbiasa berdusta dan berbohong. Orang yang
sudah terbiasa berdusta, tidak akan berpikir panjang saat akan berdusta
atas nama Allâh Azza wa Jalla , Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
apalagi atas nama manusia biasa. Kedustaan-kedustaan itu sama saja dalam
pandangan mereka. Terutama bila tujuan mereka ialah untuk menyesatkan dan
mendangkalkan keyakinan orang di luar kaum Syiah. Apapun dipandang boleh,
demi mencapai tujuan yang diinginkan. Persoalan moral tidak diperhatikan
selama bertujuan mewujudkan langkah yang telah direncanakan. !!? Kaidah
yang mereka tempuh ialah ‘tujuan menghalalkan segala cara’. Setiap cara
apapun –paling buruk sekalipun- akan dipandang boleh jika merealisasikan
tujuan dan mengantarkan mereka menuju target yang diinginkan.

USHUL KAFI, KITAB RUJUKAN TERPENTING KAUM SYIAH, BERISI RIBUAN HADITS PALSU
Cukuplah Anda tahu bahwa kitab terpenting kaum Syiah, yaitu Ushûl Kâfi
sebagai bukti kedustaan kaum Syiah. Mereka katakan sendiri bahwa kitab ini
memuat ribuan hadits palsu. Seorang Ulama kontemporer kaum Syiah, at-Tijâni
,mengakuinya sendiri dalam buku yang ia tulis dengan judul Fas alû Ahladz
Dzkir.[2]

Bila sedemikian banyak hadits palsu dalam satu kitab saja, berapa banyak
lagi hadits-hadits yang mereka palsukan di dalam kitab-kitab mereka yang
lain? Bagaimana mungkin buku-buku yang berisi kedustaan seperti ini
dipercaya?

KEUTAMAAN HADITS ZIARAH KUBUR WALI, BUATAN KAUM SYIAH
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyampaikan bahwa orang terdepan
yang memalsukan hadits tentang disyariatkannya safar (bepergian jauh) untuk
mengunjungi kubur-kubur wali adalah kaum Syiah. Mereka telah menyebabkan
masjid-masjid kosong, dan sebaliknya meramaikan kompleks makam. Mereka
tinggalkan rumah-rumah Allâh Azza wa Jalla (masjid-masjid) yang menjadi
tempat dzikrullâh, sementara makam-makam wali yang sering kali menjadi
tempat praktek perbuatan syirik mereka agung-agungkan. Padahal al-Qur`an
dan Hadits memerintahkan untuk mengagungkan masjid-masjid, bukan kuburan[3]

ANDIL KAUM SYIAH DALAM MENCORENG SEJARAH ISLAM
Kaum Syiah berkepentingan untuk menyuguhkan sejarah Islam yang buruk di
mata umatnya dan memalsukan hadits. Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam terkemuka, Abu Bakar Radhyallahu anhu, ‘Umar Radhiyallahu
anhu dan ‘Utsmân Radhiyallahu anhu, mereka bidik dengan berbagai cacian dan
cercaan.

Apabila kita menelaah buku-buku sejarah yang berbicara tentang fitnah,
ternyata riwayat-riwayat yang membekaskan keraguan-keraguan mendalam itu
berpangkal dari empat orang saja: Abu Mikhnaf Lûth bin Yahya, al-Wâqidi,
Muhammad bin Sâib al-Kalbi, putranya Hisyâm bin Muhammad bin Sâib al-Kalbi.
Empat orang ini merupakan tokoh-tokoh yang berjasa dalam pandangan kaum
Syiah. Kitab-kitab kaum Syiah sarat dengan pujian bagi mereka berempat
tersebut.

Dengan ini, dapat diketahui bahwa kaum Syiah termasuk golongan paling
berbahaya bagi Islam. Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XV/1433H/2012. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Muqoddimah muhaqqiq kitab al-Maudhû’ât karya Ibnul Jauzi
[2]. Hlm. 34
[3]. Iqtidhâ Shirâthal Mustaqîm hlm. 391

Kirim email ke