MENYIKAPI REZEKI YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc
http://almanhaj.or.id/content/3676/slash/0/menyikapi-rezeki-yang-diberikan-oleh-allah-subhanahu-wa-taala/

Ketahuilah ! Rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan,
terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau
sebaliknya; Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya
dan begitu seterusnya.

Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita.
Ingatlah ketika Allâh Azza wa Jalla menenggelamkan kaum Nabi Nûh
Alaihissallam yang membangkang! Dengan apa Allâh Subhanahu wa Ta’ala
membinasakan mereka? Dengan hujan yang menyebabkan banjir dahsyat.

Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum ! Allâh Subhanahu wa Ta’ala
tidak membagikannya merata kepada setiap orang. Ada yang kaya, ada yang
miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba,
terkadang harta bisa menyeretnya kelembah nista yang berujung derita.

Jika kita semua sudah mengetahui dan menyadari bahwa rezeki telah diatur
oleh Allâh Azza wa Jalla , semua telah dibagi oleh Allâh Azza wa Jalla ,
lalu apa yang harus kita lakukan ? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki
yang sedikit ? Buat apa kita iri dengan orang lain ? Buat apa merasa hina ?
Apakah harta bisa menjamin pemiliknya akan masuk surga ? Apakah dunia bisa
menjamin untuk mendapatkan keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?

Kepada orang-orang yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan, kita
katakan, ‘Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian ? Karena Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ
...وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata sebagian besar yang masuk ke
dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu
neraka, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita
[HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Hadits diatas adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan.
Dengan sangat jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan
bahwa penghuni surga kebanyakan berasal dari orang-orang miskin. Lalu
bagaimana dengan orang-orang kaya ? Oleh karena itu, kita memperhatikan
harta-harta kita dengan lebih seksama lagi, dari mana diperoleh dan
bagaimana pergunaannya ?

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ
يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ

Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya
selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun
(di dunia). [HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan]

Suatu ketika, sesaat setelah membaca ayat :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [At-Takâtsur/102:1]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ : مَالِى مَالِى - قَالَ - : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ
مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ,
أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allâh pun) berfirman,
“Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu
kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang serta apa-apa yang
engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau
sedekahkan kemudian engkau lupakan

Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi
atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu
waktu ? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal
sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai
semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak.

Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula ?
Tidak ! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang
sebenarnya yang dicari di dunia ini ?

Apakah ketenaran ? Apakah pujian ? Apakah kedudukan di dunia ?

Subhânallâh! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal
tersebut.

Bersedekahlah! Ber-infaq-lah di jalan Allâh! Bukakanlah pintu-pintu
kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi
harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang
halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh
Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ
تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ
فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

Demi Allâh! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi
yang saya takutkan pada kalian adalah dunia dilimpahkan kepada kalian
sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, Sehingga
kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba
mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah
menghancurkan mereka. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Dengan gamblang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu
mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah
keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan
mereka dari akhirat.

Setelah kita mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini,
mestinya kita mau mengaca diri dan menilai diri kita sejujurnya. Adakah
kita termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh keindahan dunia yang menipu
ini ?

Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki ?

Coba perhatikan hadits dibawah ini.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi
kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati

Hadits ini menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang
dimiliki oleh seorang Mukmin, yaitu rasa puas, ridha dan bersyukur atas apa
yang telah diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Inilah yang dinamakan
dengan qanâ’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan rasa
qanâ’ah yang sangat tinggi.

Jika kita menginginkan dunia maka dunia tidak akan pernah ada habisnya.
Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua
gunung emas atau lebih banyak lagi.

Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas ? Mereka tidak akan
pernah puas kecuali kalau mulut-mulut mereka sudah dipenuhi dengan tanah,
maksudhnya kematian telah menjemput.

Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri
kita untuk benar-benar beribadah kepada Allâh dan mengisi sisa-sisa hari
kita ini dengan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIV/1432/2011M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kirim email ke