From: [email protected]
Date: Wed, 24 Jul 2013 08:11:04 +0800









Assalamualaikum,
Mau nanya apakah pengertian masjid dan itikaf ?

Apakah itikaf hanya sah dimasjid ?

Apakah lailatul qadar hanya untuk mereka yg dimasjid ?


Terima Kasih

>>>>>>>>>>>>>>>

 

1. Pengertian Masjid

http://almanhaj.or.id/content/2524/slash/0/pengertian-masjid/

Lafazh اَلْمَسَاجِدُ adalah jamak dari lafazh مَسْجِدٌ
Masjid (مَسْجِدٌ) dengan huruf jiim yang dikasrahkan adalah tempat khusus yang 
disediakan untuk shalat lima waktu. Sedangkan jika yang dimaksud adalah tempat 
meletakkan dahi ketika sujud, maka huruf jiim-nya di fat-hah-kan[1] مَسْجَدٌ 

 

Istilah masjid menurut syara’ adalah tempat yang disediakan untuk shalat di 
dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara [4].

 

2. Pengertian I'tikaf

http://almanhaj.or.id/content/1146/slash/0/i-t-i-k-a-f-berdiam-diri/

 

3. Defenisi I'tikak

http://almanhaj.or.id/content/3151/slash/0/itikaaf/

 

Tempatnya harus di masjid.
Hakikat i'tikaaf, ialah tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada 
Allah Ta'ala.

Mengenai tempat i'ikaaf harus di masjid berdasarkan firman Allah Ta'ala.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beri'tikaaf di 
masjid". [Al-Baqarah: 187]

Jadi, i'tikaaf itu hanya sah bila dilaksanakan di masjid.

 

4. Malam Lailatul Qadar

http://almanhaj.or.id/content/1142/slash/0/malam-lailatul-qadar/

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam 
terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia 
berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari 
terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda.

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ 
الْعَشْرِ

"Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan 
Ramadhan" [3] 

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari 
tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ 
عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

"Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput 
tujuh hari sisanya" [4] 

Ini menafsirkan sabdanya.

أَرَى رُؤْيَا كُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّ 
هَا فيْ السَّبْعِ الأَوَاخِِرِ

"Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah 
pada tujuh hari terakhir" [5] 

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para 
sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ke luar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang 
sahabat berdebat, beliau bersabda : "Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada 
kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak 
bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di 
malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)" [6]

 

Wallahu Ta'ala A'lam

 



                                          

Kirim email ke