ASY-SYAAFI, YANG MAHA PENYEMBUH

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
http://almanhaj.or.id/content/3679/slash/0/asy-syaafi-yang-maha-penyembuh/

DASAR PENETAPAN
Nama Allâh Azza wa Jalla yang maha agung ini disebutkan oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahîh. Yakni, dari Ummul
Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam selalu membacakan doa perlindungan kepada salah seorang (anggota)
keluarga beliau (dengan) mengusapkan tangan kanan beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam seraya membaca (doa):

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى ،
لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allâh, Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah
penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syâfi (Yang Maha
Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan
yang tidak meninggalkan penyakit (lain)[1]

Juga dalam hadits shahîh yang lain, dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu
tentang ruqyah (doa/zikir perlindungan) yang dibaca oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anas Radhiyallahu anhu menyebutkan doa
yang mirip dengan doa di atas.

Berdasarkan hadits-hadits ini, para Ulama menetapkan nama asy-Syâfi (Yang
Maha Penyembuh) sebagai salah satu dari nama-nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala
yang maha indah. Di antara Ulama yang menetapkannya, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah[2] , Imam Ibnul Qayyim rahimahullah[3] , Syaikh
Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn [4] , Syaikh 'Abdur Razzâq al-Badr [5] dan
lain-lain.

MAKNA ASY-SYAFI
Imam Ibnul Atsîr rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini secara
bahasa berarti lepas (sembuh) dari penyakit [6] .

Sedangkan Imam Fairûz Abâdi rahimahullah mengatakan bahwa arti asal kata
nama ini (asy-syifa’) adalah obat penyembuh [7] .

Sementara al-Halîmi rahimahullah menjelaskan bahwa maknanya secara bahasa
adalah menghilangkan sesuatu yang menyakiti atau merusak pada badan manusia
[8] .

Maka, nama Allâh Azza wa Jalla asy-Syâfi berarti Yang Maha Menyembuhkan
segala penyakit lahir maupun batin. Dia Azza wa Jalla lah yang menyembuhkan
hati manusia dari berbagai syubhat (kerancuan/kesalahpahaman dalam memahami
Islam), ketidakyakinan, iri, dengki dan penyakit-penyakit hati lainnya,
serta menyembuhkan badan manusia dari berbagai macam penyakit dan
kerusakan. Tidak ada satu pun yang mampu melakukan semua itu kecuali Allâh
Azza wa Jalla semata, maka tidak ada kesembuhan penyakit selain kesembuhan
dari-Nya dan tidak ada asy-Syâfi (Yang Maha Penyembuh) kecuali Dia Azza wa
Jalla, sebagaimana ucapan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam yang dinukil dalam
al-Qur`ân:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit Dialah Yang menyembuhkan aku [asy-Syu’arâ/26:80]

Maksudnya, jika aku ditimpa suatu penyakit, maka tidak ada satu pun yang
sanggup menyembuhkanku selain Allâh Azza wa Jalla , dengan sebab-sebab yang
ditetapkan-Nya dapat mendatangkan kesembuhan bagiku[9] .

Makna inilah yang diisyaratkan dalam doa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di atas: “Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu” [10] .

PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH ASY-SYAFI
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menjelaskan makna doa Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, dengan berkata: “Dalam ruqyah
(doa/zikir perlindungan) ini (terdapat) tawassul (usaha/sebab untuk
mendekatkan diri) kepada Allâh Azza wa Jalla dengan kesempurnaan (sifat)
rububiyah-Nya (pengaturan-Nya atas semua urusan makhluk-Nya) dan rahmat-Nya
dalam menyembuhkan (penyakit manusia), dan bahwa Dialah satu-satunya
asy-Syâfi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan
(dari)-Nya. Maka, ruqyah (doa/zikir perlindungan) ini mengandung tawassul
(usaha/sebab untuk mendekatkan diri) kepada Allâh Azza wa Jalla dengan
mentauhidkan-Nya (mengesakan-Nya alam beribadah), (sifat) ihsân (kebaikan)
dan rububiyah-Nya”[11] .

Al-Halîmi rahimahullah berkata: “Dalam berdoa, diperbolehkan mengucapkan:
“Wahai asy-Syâfi (Yang Maha Penyembuh), wahai al-Kâfi (Yang Maha Pemberi
kecukupan), karena Allâh Azza wa Jalla Dialah yang menyembuhkan dada (hati)
manusia dari syubhat (kerancuan/kesalahpahaman dalam memahami Islam) dan
keragu-raguan, juga dari (sifat) dengki dan khianat, serta menyembuhkan
badan manusia dari berbagai macam penyakit dan kerusakan. Tidak ada yang
mampu melakukan semua itu selain-Nya dan tidak ada yang (pantas) diseru
dengan nama ini (asy-Syâfi) kecuali Dia”[12] .

Allâh Azza wa Jalla Dialah Yang Maha Menyembuhkan segala macam penyakit
manusia, dan tidak ada kesembuhan bagi mereka kecuali kesembuhan (dari)-Nya.

Kesembuhan dari Allâh Azza wa Jalla ada dua macam:
1. Kesembuhan yang bersifat maknawi dan rohani, yaitu kesembuhan dari
penyakit-penyakit hati manusia
2. Kesembuhan fisik, yaitu kesembuhan dari penyakit-penyakit fisik [13] .

Kedua macam penyembuhan ini tercakup dalam keumuman sabda Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah Allâh menurunkan suatu penyakit
kecuali Dia (juga) menurunkan obat (penyembuh) bagi penyakit tersebut”[14] .

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan dua macam kesembuhan ini dalam al-Qur`ân
dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Tentang penyembuhan yang pertama, yaitu penyembuhan penyakit hati manusia,
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ
لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Rabbmu
(al-Qur`ân) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia),
dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yûnus/10:57]

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah : “Allâh Azza wa Jalla menjadikan
al-Qur`ân bagi kaum Mukminin sebagai penyembuh, (dengan) mereka mengambil
pengobatan dari nasehat-nasehat (yang terkandung dalam) al-Qur’an untuk
(menyembuhkan) penyakit-penyakit yang merasuk ke dalam dada (hati) mereka,
(juga penyakit yang berupa) bisikan dan godaan setan (yang akan merusak
hati dan keimanan manusia), maka Allâh mencukupi orang-orang yang beriman
(melalui nasehat) dengan penjelasan ayat-ayat-Nya sehingga mereka tidak
butuh lagi kepada nasehat yang lain”[15] .

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ
وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan pada al-Qur`ân suatu yang merupakan penyembuh dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'ân itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zhalim selain kerugian [al-Isrâ/17:82]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menuturkan: “Arti ‘al-Qur`ân sebagai
penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman’: al-Qur`ân akan
menghilangkan penyakit-penyakit yang ada di hati mereka, yang berupa
keraguan (ketidakyakinan), kemunafikan, kesyirikan, penyelewengan dan
penyimpangan, maka al-Qur`ân akan menyembuhkan semua (penyakit)
tersebut…”[16] .

Akan tetapi perlu diingatkan di sini, bahwa fungsi al-Qur’ân sebagai
petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla untuk menyembuhkan penyakit hati,
hanyalah bisa diambil oleh orang-orang yang mengimani kebenaran al-Qur’an
serta memahami kandungan makna dan artinya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “al-Qur`ân adalah penyembuh yang
hakiki dari berbagai syubhat (kerancuan/kesalahpahaman dalam memahami
Islam) dan keragu-raguan (dalam keimanan), akan tetapi semua (manfaat
al-Qur`ân) itu tergantung dari (sejauh mana) kita memahami (kandungan)
artinya dan mengetahui maksud (penafsiran yang benar) darinya”[17] .

Adapun tentang penyembuhan yang kedua, yaitu penyembuhan pada fisik dan
badan manusia, ini ditunjukkan dalam beberapa hadits yang shahih.

Misalnya, hadits riwayat Abu Sa'îd al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang
beberapa orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang melakukan safar
(perjalanan), lalu mereka singgah di sebuah perkampungan Arab, kemudian
kepala suku perkampungan tersebut sakit karena disengat binatang buas.
Salah seorang Sahabat Radhiyallahu anhu mengobatinya dengan membaca surat
al-Fâtihah, maka serta merta orang tersebut sembuh total, Lalu mereka
diberi hadiah beberapa ekor kambing. Sepulang dari perjalanan tersebut,
mereka menceritakan kejadian tersebut kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan beliau pun membenarkan perbuatan mereka seraya bersabda:
"Dari mana kamu mengetahui bahwa surat al-Fâtihah adalah ruqyah (doa/zikir
untuk penyembuhan)?", bahkan kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam meminta bagian dari hadiah kambing tersebut"[18] .

Juga hadits riwayat 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, jika ditimpa sakit,
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-mu'awwidzât (surat
al-Falaq dan an-Nâs) untuk diri beliau sendiri dan meludah sedikit. Lalu,
ketika sakit beliau sudah parah, akulah yang membacakannya untuk beliau dan
aku mengusap dengan tangan beliau karena mengharap keberkahannya"[19] .

PENGARUH POSITIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH ASY-SYAFI
Keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menjadikan
seorang hamba selalu menghadapkan diri dan berdoa kepada-Nya semata-mata
agar Dia memudahkan kesembuhan segala penyakit pada dirinya, utamanya
penyakit-penyakit hatinya yang merupakan penghalang utama bagi manusia
untuk mencapai ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Bersihnya hati manusia dari noda dan penyakit merupakan sumber utama
kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh manusia ada
segumpal daging, jika itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, tapi
jika itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa
segumpal daging itu adalah hati manusia”[20] .

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerima hamba yang datang
menghadap-Nya pada hari Kiamat nanti, kecuali yang datang dengan hati yang
bersih dari segala penyakit.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ﴿٨٨﴾إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ
بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Hari (Kiamat) yang (pada waktu itu) harta dan anak-anak tidak bermanfaat,
kecuali orang-orang yang datang menghadap Allâh dengan hati yang bersih
[asy-Syu’arâ/26: 88-89].

Artinya, hati yang bersih dari syirik (menyekutukan Allâh Azza wa Jalla),
keraguan, dan mencintai keburukan, serta lebih suka bertahan dengan
perbuatan bid’ah dan maksiat[21] .

Semua penyakit hati bersumber dari buruknya hawa nafsu manusia, sehingga
hati ini terhalang untuk mencapai kedekatan dengan Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Orang-orang yang menempuh jalan
(untuk mencari keridhaan) Allâh Azza wa Jalla , meskipun jalan dan metode
yang mereka tempuh berbeda-beda, (akan tetapi) mereka sepakat (mengatakan)
bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang (utama) bagi hatinya untuk
sampai kepada (ridha) Allâh Azza wa Jalla , (sehingga) seorang hamba tidak
(akan) mencapai (kedekatan) kepada Allâh Azza wa Jalla kecuali setelah dia
(berusaha) menentang dan menguasai nafsunya (dengan melakukan tazkiyatun
nufus/pembersihan jiwa)”[22] .

Maka Allâh Azza wa Jalla Dialah satu-satunya yang maha mampu membersihkan
hati dan mensucikan jiwa manusia dari segala penyakit tersebut, karena Dia
Azza wa Jalla adalah asy-Syâfi (Yang Maha Penyembuh), dan tidak ada
kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Nya, sebagaimana sabda Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.

Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau
yang terkenal, mengisyaratkan bahwa kebersihan hati dan kesucian jiwa
hanyalah semata-mata berasal dari Allâh Azza wa Jalla , yaitu doa beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللََّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَاوَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allâh, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah jiwaku
(dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan)
Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya [23]

PENUTUP
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza
wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna, agar Dia Azza wa Jalla berkenan memberikan kesembuhan dari
penyakit lahir dan batin bagi kita sehingga dapat mencapai kesempurnaan
iman dan keridhaan-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. al-Bukhâri no. 5311 dan Muslim no. 2191
[2]. Majmuu’ul Fatâwâ 2/380
[3]. Zâdul Ma’âd 4/172
[4]. Al-Qawâ’idul Mutslâ hlm. 42
[5]. Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 287
[6]. An-Nihâyah fi Ghariibil Hadits wal Atsar" (2/1189).
[7]. Al-Qâmuusul Muhiith” (hal. 1677).
[8]. Al-Minhâju fî Syu’abil Imân 1/209
[9]. Tafsir Ibnu Katsir” (3/450).
[10]. Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 287
[11]. Zâdul Ma’âd 4/172
[12]. Al-Minhâj fî Syu’abil Imân 1/209
[13]. Syarhu Asmâillâhil Husnâ hlm. 115
[14]. HR. al-Bukhâri no. 5354
[15]. Tafsîr ath-Thabari 1/67
[16]. Tafsir Ibnu Katsir 3/83
[17]. Ighâtsatul Lahfân min Mashâyidisy Syaithân 1/44
[18]. HR. al-Bukhâri no. 2156 dan Muslim no. 2201
[19]. HR. al-Bukhâri no. 4728 dan Muslim no. 2192
[20]. HR. al-Bukhâri no. 52 dan Muslim no. 1599
[21]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 593
[22]. Ighâtsatul Lahfân hlm. 132 - Mawâridul Amân
[23]. HR. Muslim no. 2722

Kirim email ke