AJARAN TASAWUF MERUSAK AQIDAH ISLAM

Oleh
‘Abdul Azîz bin ‘Abdullâh al-Husaini
http://almanhaj.or.id/content/3681/slash/0/ajaran-tasawuf-merusak-aqidah-islam/

Imam Syafi'i rahimahullah : "Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf)
di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati
dirinya, kecuali menjadi orang bodoh". (al-Manâqib lil Baihaqi 2/207)


Wihdatul mashdar menjadi salah satu ciri Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam
penetapan masaail aqidah, Mereka hanya berlandaskan misykâtun nubuwwah,
wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , tidak memandang akal, qiyas dan kasyf
sebagai bagian sandaran aqidah. Justru tiga hal tersebut akan bertentangan
banyak dengan nash al-Kitab dan Sunnah. Sehingga amat aneh bila ada orang
yang mendahulukannya di atas hujjah-hujjah al-Qur`an dan Hadits. Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja pernah menegur ‘Umar bin
Khaththâb Radhiyallahu anhu dari sekedar melihat-lihat lembar Taurat [1]
yang sebelumnya merupakan kitab yang diturunkan dari langit meski tidak
telah dimasuki oleh tahrif-tahrif hasil penyelewengan tangan para pemuka
agama mereka. Dan tentunya Taurat dalam konteks ini lebih afdhal daripada
hasil qiyas akal manusia dan kayalan kalangan Sufi.[2]

Seiring dengan perjalanan waktu, semakin jauh umat dari masa kenabian,
muncullah berbagai keyakinan dan ideologi dari luar al-Qur`ân dan Sunnah
yang mengintervensi aqidah Islamiyyah. Sufi dengan ajaran tasawufnya pun
ikut menodai kejernihan dan keutuhan aqidah Islamiyyah. Masuknya ideologi
ini di tengah masyarakat menyebabkan terjadinya kegoncangan akidah pada
akidah kebanyakan umat Islam, pemikiran dan pandangan-pandangan mereka dan
secara otomatis menjauhkan mereka dari aqidah yang dibawa oleh Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Inilah salah satu dampak buruk yang harus dirasakan bila kekeliruan dan
penyimpangan sangat dominan di masyarakat, akhirnya khalayak menganggapnya
sebagai kebenaran. Pihak yang menentangnya dipandang keluar dari al-haq.
Dan lebih menarik lagi, bangsa Barat memberikan atensi besar pada
pengkajian khazanah ‘ilmiah’ Sufi, mencetak dan menyebarluaskannya serta
menterjemahkannya ke berbagai bahasa. Tiada lain karena mereka sudah
mengetahui bahaya Tasawuf bagi Islam dan umat Islam, bukan dalam rangka
mendukung Islam. Wallâhul musta’ân.

DIBANGUN DI ATAS KEDUSTAAN
Kerusakan aqidah bila ditampakkan dengan terang-terangan, pasti akan
ditolak oleh manusia-manusia yang berfitrah lurus dan berakal sehat. Maka,
sebagian tokoh (tarekat Sufi) ajaran ini memperkenalkan tasawuf dengan
slogan-slogan, visi dan misi yang menarik agar mudah menggandeng manusia
sebanyak mungkin, menegaskan bahwa dakwah mereka sesuai dengan ajaran Islam
, misi mereka untuk mensucikan kalbu, membina akhlak dst slogan-slogan
menarik guna mengelabuhi umat.

Seorang pemuka tarekat di Mesir, Mahmûd as-Sathûhî menjelaskan bahwa
Tasawuf merupakan inti sari pengamalan ajaran Islam, mengamalkan al-Qur`ân
dan Sunnah, berjihad melawan musuh dan hawa nafsu. (!!). Sebagian pemuka
aliran Tasawuf bahkan memandang bahwa seluruh Sahabat Nabi, generasi
Tâbi’în dan Tâbi’ît Tâbi’în adalah pioner aliran Tasawuf karena sikap zuhud
dan semangat berjihad mereka. (!?).

Ungkapan-ungkapan di atas hanyalah klaim kosong dan pernyataan yang tidak
mendasar. Seorang Muslim yang berilmu akan merasa keheranan dengan
klaim-klaim (kosong tanpa bukti). Bagaimana mungkin mereka disebut mengikut
al-Qur’ân dan Sunnah, serta menjadi para pengikut dan penerus generasi
terbaik umat?. Karena dari sisi aqidah terjadi perbedaan tajam antara
aqidah para Sahabat dan kalangan Tasawuf, apalagi dengan aqidah tokoh besar
Sufi, semisal Ibnu Arabi.

Namun keheranan ini akan segera sirna begitu mengetahui bahwa klaim-klaim
palsu dan tuduhan-tuduhan asal-asalan merupakan salah satu uslub (metode)
memasarkan ajaran mereka dan menjauhkan umat dari kebenaran.

BENAR-BENAR MERUSAK AQIDAH ISLAMIYAH
Kekhawatiran terhadap ideologi Sufi tidak hanya lantaran kandungan
penyelewengan akidah yang ada padanya,. Akan tetapi, juga karena
penyebarannya yang begitu luas di dunia Islam. Akibatnya, terbentuk semacam
opini bahwa kebenaran adalah apa yang ada pada kaum Sufi (?!).

Seperti pepatah Arab, wabil mitsâl yattadhihul maqâl, dengan contoh,
pernyataan akan bertambah jelas, maka di sini akan disebutkan beberapa
contoh bagaimana ajaran tasawuf merubah kemurnian aqidah Islam:

1. Aqidah Islam telah menetapkan Allâh Azza wa Jalla menciptakan
makhluk-makhluk-Nya dari 'adam (tidak ada sebelumnya), tidak dari Dzat-Nya
dan bahwa semesta alam ini bukan khaliq (pencipta). Inilah aqidah yang
dibawa al-Qur`an dan Hadits-hadits Nabi.

Sementara dalam kamus Sufi, diyakini bahwa segala yang ada di alam ini
merupakan perwujudan Dzat Allâh Azza wa Jalla dengan aqidahnya yang dikenal
dengan wihdatul wujud, kesatuan wujud.

2. Aqidah Islam berdasarkan nash-nash al-Qur`ân dan Hadits telah menentukan
abahwa Allâh Azza wa Jalla berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy
sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

(Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas 'Arsy [Thâhâ/20:5]

Sementara dalam ilmu Tasawuf diajarkan bahwa Allâh Azza wa Jalla berada
dimana-mana.

3. Aqidah Islam menyatakan bahwa kenabian mutlak merupakan keutamaan yang
Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada insan yang Allâh kehendaki. Kenabian
dan kerasulan tidak datang melalui keinginan nabi dan rasul yang
bersangkutan atau atas permintaan mereka kepada Allah. Allâh Azza wa Jalla
berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ
اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.
Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat [al-Hajj/22:75]

Dalam hal ini, tokoh Sufi memandang kenabian dapat diraih melalui ketekunan
melakukan riyadhah, sampai seorang tokoh Sufi, Ibnu Sab'in[3] mengatakan,
"Ibnu Aminah (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah membatasi
sesuatu yang lingkupnya luas ketika mengatakan, "Tidak ada nabi
sepeninggalku".

4. Aqidah Islam menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan nabi serta rasul yang lain juga manusia-manusia seperti
orang-orang yang lain dan masih berkewajiban menjalankan syariat. Akan
tetapi, Allâh Azza wa Jalla memilih mereka dan mengutamakan mereka di atas
kebanyakan orang sebagai utusan-utusan-Nya.

Adapun golongan Sufi berpandangan bahwa Nabi Muhammad sumber terciptanya
makhluk-makhluk yang lain (keyakinan ini dikenal dengan aqidah Nur
Muhammadi). Mereka pun membawakan hadits-hadits palsu yang menyatakan jika
tidak ada Muhammad maka alam semesta ini tidak akan pernah ada . Mereka pun
memandang manusia bila sudah mencapai derajat tertentu tidak terkena
kewajiban menjalankan syariat Islam.

5. Sumber hukum aqidah Islam hanya dua: al-Qur`ân dan Hadits shahih, tidak
ada sumber ketiga atau keempat dan seterusnya…Sementara itu, kaum Sufi
memiliki sumber aqidah yang lain yang dikenal dengan istilah al-kasyf dan
al-faidh. Mereka secara nyata meyakininya sebagai landasan keyakinan.

6. Aqidah Islam menjunjung tinggi tauhîdullâh dan datang untuk memberantas
syirik dengan seluruh jenisnya dan praktek penyembahan kepada selain Allâh
Azza wa Jalla . Sedangkan pada ajaran Tasawuf, praktek syirik sangat
kentara dalam bentuk meminta kepada penghuni kubur, istighotsah kepada
orang-orang yang telah mati, pengagungan kuburan dan lain-lain.

7. Aqidah Islam telah menetapkah hanya Allâh saja yang mengetahui alam
gaib. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا
اللَّهُ

Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka
akan dibangkitkan [an-Naml/27:65]

Dalam hal ini, kaum Sufi menyatakan bahwa syaikh-syaikh tarekat memiliki
kemampuan meneropong dan mengetahui alam gaib melalui jalan kasyf, dan
menurut mereka lagi, mereka meemperoleh ilmu itu dari Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Masih banyak keyakinan mereka lainnya yang jelas-jelas berseberangan dengan
aqidah yang dibawa oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Pendek kata, ajaran Tasawuf berdiri di atas landasan-landasan berikut:
• Membagi agama menjadi lahir yang diketahui oleh orang-orang awam dan
batin yang hanya dimengerti oleh kaum khos (orang-orang khusus saja)
• Memegangi kasyf dan dzauq dalam penetapan masalah-masalah aqidah dan
ibadah
• Melegalkan praktek syirik dan bahkan melakukan pembelaan untuknya
• Menshahihkan hadits melalui jalan kasyf
• Beramal berdasarkan hasil mimpi
• Beribadah dengan dasar dzauq dan wajd
• Menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu dan mengamalkannya.
• Membiasakan dzikir jama'i dan beribadah dengan menari-nari diiringi oleh
suara-suara alunan bunyi seruling dan alat-alat musik lainnya. Bahkan
penulis kitab Ihya Ulumuddin menulis satu bab di dalamnya dukungannya
terhadap ‘ibadah’ dengan tarian dan musik disertai penjelasan tentang
adab-adab dan menetapkan bahwa musik lebih menggelorakan hati daripada
al-Qur`ân dari tujuh aspek. [al-Ihyâ:2/325-328].

Demikian point-point prinsip aqidah yang diajarkan dalam ilmu Tasawuf dan
diyakini kalangan Sufi. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjauhkan kita dari
segala kerusakan dalam keyakinan kita. Wallâhu a’lam.

Dikutip dari at-Tauhîd fî Masîratil ‘Amalil Islami bainal Wâqi wal Ma`mûl,
‘Abdul Azîz bin ‘Abdullâh al-Husaini, pengantar Nashir bin ‘Abdul Karîm
al-‘Aql, Cet I, Th. 1419H, Darul Qasim. hlm. 25-33.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432H/2011.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. Ahmad, al-Baihaqi, Ibnu Abi Ashim. Hadits hasan dengan berbagai
jalur periwayatannya.
[2]. Lihat Manhajul Istidlâl ‘alâ Masâil al-I’tiqâd ‘Inda Ahlis Sunnah wal
Jamaa’ah 1/41-42
[3]. Dia adalah ‘Abdul Haqq bin Ibrâhîm bin Muhammad bin Nashr bin Sab’în
(613-668H), seorang pemuka golongan Sufi dan termasuk berkeyakinan wihdatul
wujud.

Kirim email ke