MALAM LAILATUL QADAR
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://almanhaj.or.id/content/1142/slash/0/malam-lailatul-qadar/
Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur'an
Al-Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan
kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang
mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula
menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka
berloma-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap
pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur'aniyah dan hadits-hadits nabawiyah
yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui
bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman.
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ
الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ
الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ
هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an pada malam Lailatul Qadar, tahukah
engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik
dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan
izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu
hingga terbit fajar" [Al-Qadar : 1-5]
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا
مُرْسِلِينَ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala
urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.
Sesungguhnya Kami adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui" [Ad-Dukhan : 3-6]
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa malam tersebut
terjadi pada tanggal malam 21,23,25,27,29 dan akhir malam bulan Ramadhan. [1]
Imam Syafi'i berkata : "Menurut pemahamanku. wallahu 'alam, Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada
beliau : "Apakah kami mencarinya di malam ini?", beliau menjawab : "Carilah di
malam tersebut" [2]
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam
terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia
berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari
terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda.
تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ
الْعَشْرِ
"Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan
Ramadhan" [3]
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari
tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ
عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
"Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput
tujuh hari sisanya" [4]
Ini menafsirkan sabdanya.
أَرَى رُؤْيَا كُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّ
هَا فيْ السَّبْعِ الأَوَاخِِرِ
"Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah
pada tujuh hari terakhir" [5]
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para
sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ke luar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang
sahabat berdebat, beliau bersabda : "Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada
kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak
bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di
malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)" [6]
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada
sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan, di malam ganjil sepuluh hari
terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum sedang hadits kedua adalah khusus,
maka riwayat yang khusus lebih diutamakan dari pada yang umum, dan telah banyak
hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh
hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah,
tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling
bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.
Kesimpulannya.
Jika seorang muslim mencari malam lailatul Qadar carilah pada malam ganjil
sepuluh hari terakhir : 21, 23,25,27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu
mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari
terakhir yaitu 25,27 dan 29. Wallahu 'alam
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar.?
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk
mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan
tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk
mendapatkannya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat
dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar
dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar, jika (telah)
berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan
dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"
[7]
Disunnahkan untuk memperbanyak do'a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan
dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'anha, (dia) berkata : "Aku bertanya, "Ya
Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi),
apa yang harus aku ucapkan ?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka
ampunilah aku" [8]
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk
mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar
(dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam
terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada
isterimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anhuma.
كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ وَ أَحْيَ لَيْلَهُ، وَ اَيْقَظَ أَهْلَهُ
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh
hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan kainnya [9] menghidupkan
malamnya dan membangunkan keluarganya" [10]
Juga dari Aisyah, (dia berkata) :
كَانَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ
مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيغَيْرِهَا
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah
apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau
lakukan pada malam-malam lainnya" [11]
4. Tanda-Tandanya
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu degan ruh dari-Nya
dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang
muslim mengetahuinya.
Dari 'Ubay Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
صَبِيْحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَمسُ لاَ شعاع لَهَا، كَاَنَهَا طَشْتٌ
حَتَّى تَرْتَفَعُ
"Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti
bejana hingga meninggi" [12]
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda.
أَيُكُم يَذْكُرُ حِيْنَ طَلَعَ الْقَمَرُ، وَهُوَ مِشْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ
"Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah"
[13]
Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda : "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah,
cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar
mataharinya melemah kemerah-merahan" [14]
[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka
Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
_______
Footnote
[1]. Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-neda, Imam Al-Iraqi
telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr Bidzikri Lailatul
Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini, lihatlah.
[2]. Sebagaimana dinukil Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/386
[3]. Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169
[4]. Hadits Riwayat Bukhari 4/221 dan Muslim 1165
[5]. Lihat Maraji' tadi
[6]. Hadits Riwayat Bukhari 4/232
[7]. Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759
[8]. Hadits Riwayat Tirmidzi 3760, Ibnu Majah 3850 dari Aisyah, sanadnya
Shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan hal. 55-57 karya
Ibnu Rajab Al-Hambali.
[9]. Menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah, menyingisngkan badan
untuk mencarinya
[10]. Hadits Riwayat Bukhari 4/233 dan Muslim 1174
[11]. Hadits Riwayat Muslim 1174
[12]. Hadits Riwayat Muslim 762
[13]. Muslim 1170. Perkataan : "Syiqi jafnah" syiq artinya setengah, jafnah
artinya bejana. Al-Qadhi 'Iyadh berkata : "Dalam hadits ini ada isyarat bahwa
malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan
seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan".
[14]. Tahayalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/231, Bazzar 1/486, sanadnya Hasan