From: [email protected]
Date: Thu, 1 Aug 2013 08:16:33 +0700 




Asalamualaikum,
Mau tanya, apakah guru mengaji berhak medapatkan zakat fitrah ? karena 

ditempat ana banyak yang memberikan zakat fitrahnya kepada guru mengajinya
syukron

>>>>>>>>>>>>>

 

Apakah guru mengajinya termasuk orang miskin ?

 

1. Termasuk sunnah, menyerahkan zakat fithri kepada orang-orang yang mengurus 
zakat fithri (Panitia Zakat Fithri)

Termasuk Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu adanya orang-orang 
yang mengurusi zakat fithri. Berikut adalah penjelasan di antara keterangan 
yang menunjukkan hal ini.[30]

a. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewakilkan Abu Hurairah menjaga 
zakat fithri. [HR Bukhari, no. 3275].

b. Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhu biasa memberikan zakat fithri kepada 
orang-orang yang menerimanya [HR Bukhari, no. 1511; Muslim, no. 986]. Mereka 
adalah para pegawai yang ditunjuk oleh imam atau pemimpin. Tetapi mereka tidak 
mendapatkan bagian zakat fithri dengan sebab mengurus ini, kecuali sebagai 
orang miskin, sebagaimana telah kami jelaskan di atas.

 

2. Yang berhak menerima zakat fithri hanyalah orang miskin.

Malikiyah berpendapat, shadaqah fithri diberikan kepada orang merdeka, muslim, 
yang faqir. Adapun selainnya, (seperti) orang yang mengurusinya, atau 
menjaganya, maka tidak diberi. Juga tidak diberikan kepada mujahid (orang yang 
berperang), tidak dibelikan alat (perang) untuknya, tidak diberikan kepada para 
mu’allaf, tidak diberikan kepada ibnu sabil, kecuali jika dia miskin di 
tempatnya, maka ia diberi karena sifatnya miskin, tetapi dia tidak diberi apa 
yang menyampaikannya menuju kotanya, tidak dibelikan budak dari zakat fithri 
itu, dan tidak diberikan kepada orang gharim.[27]

Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah 
sebagaimana tersebut dalam Majmu Fatawa (25/71-78), Ibnul Qayyim dalam Zadul 
Ma’ad (2/44), Syaikh Abdul 'Azhim bin Badawi dalam al Wajiz (halaman 231), dan 
Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali serta Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari 
di dalam Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam fi Ramadhan [halaman 
105-106].

Yang rajih (kuat), insya Allah pendapat yang terakhir ini, dengan alasan-alasan 
sebagai berikut:

a. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang zakat fithri:

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

"Dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin". [HR Abu Dawud, no. 1609; Ibnu 
Majah, no. 1827; dan lain-lain].

b. Zakat fithri termasuk jenis kaffarah (penebus kesalahan, dosa), sehingga 
wujudnya makanan yang diberikan kepada orang yang berhak, yaitu orang miskin, 
wallahu a’lam

Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/3147/slash/0/tuntunan-zakat-fithri/

 

Kemana Disalurkannya
Zakat tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya, 
mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 
'anhuma. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam zakat fithri sebagai 
pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor 
dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin"[15] Pendapat inilah yang dipilih 
oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu' Fatawa 2/71-78 serta murid beliau Ibnul 
Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma'ad 2/44.

Sebagian Ahlul ilmi berpedapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan 
golongan, tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dan Syaikhul Islam telah 
membantahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja, maka lihatlah ia, 
karena hal tersebut sangat penting.

Termasuk amalan sunnah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat 
tersebut (untuk dibagikan kepada yang berhak, -pent). Sungguh Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam telah mewakilkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia 
berkata : Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan" 
[16] 

Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar radhiyallahu 'anuma mengeluarkan zakat 
kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk 
oleh Imam (pemerintah, -pent) untuk mengumpulkannya. Beliau (Ibnu Umar) 
mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum Idul fithri, dikeluarkan 
oleh Ibnu Khuzaimah 4/83 dari jalan Abdul Warits dari Ayyub, aku katakan : 
"Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu gantang ?" Berkata Ayyub : "Apabila 
petugas telah duduk (bertugas)". Aku katakan : 'Kapankah petugas itu mulai 
bertugas?" Beliau menjawab : "Satu hari atau dua hari sebelum Idul Fithri".

Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/1155/slash/0/zakat-fithri/

 

Wallahu Ta'ala A'lam 




                                          

Kirim email ke