Afwan, sekedar meneruskan broadcast semoga bermanfaat buat kita semua

Subhanalloh...beginilah akhlaq ulama yang mengikuti akhlaq 
Rosululloh Sholallohu 'alaihi wassalam dan para sahabat.Mohon maaf, 
semoga tidak ada yg merasa tersinggung, tapi ada di sekitar kita yang 
melakukan demo dan sudah merasa paling berjasa menyuarakan suara rakyat, ada yg 
secara anarkhi merusak tempat maksiat secara membabi buta dan 
merasa paling nahyi munkar, atau yang lainnya dan yang 
lainnya....mungkin termasuk saya sendiri.Mungkin sudah saatnya kita 
belajar dari ulama pewaris Nabi, yg tidak pernah gembar gembor amal. 
Dimulai dari hal kecil. Dzikir ya sendirian dengan suara lirih, merasa 
hanya berdua dgn Alloh. Mungkin sudah saatnya kita tinggalkan dzikir 
keras2 pakai speaker yg mungkin mengganggu tetangga sekampung. Dan 
ibadah2 lainnya...dan amal2 lainyya.[mulai copas] InsyaaAllah tidak 
mengapa menampakkan amal shalihagar dicontoh orang lain. Akan tetapi, 
salah satu ciri ikhlas adalah gemar menyembunyikan amal kebaikan, 
sebagaimana dilakukan para sahabat Nabi dan ulama salaf (generasi 
awal).Dan ini juga dilakukan sebagian ulama kita di abad ini...Ust. 
Firanda Andirja, MA (mahasiswadoktoral Univ Islam Madinah, pengasuh 
kajian ilmu di Masjid Nabawi) bercerita tentang Syaikh Prof DR 
Abdurrazzaaq al-Abbad (professor Aqidah Univ Islam Madinah, pengasuh 
kajian ilmu di Masjid Nabawi).Ustadz mengatakan bahwa beliau dan syaikh 
Abdurrazzaaq bersahabat sudah lama, mulai beliauS-1 di Madinah, hingga 
sebentar lagilulus S-3. Mereka berdua juga rutin mengisi kajian Live 
dari Madinah di Radio Rodja setiap pekan, dalam bahasa arab (syaikh) dan 
terjemah Indonesia (ustadz).Bersahabat sudah lama... Akan tetapi 
(seingat ustadz), tidak satu kali pun Syaikh bercerita ttg amal shalih 
yg pernah dilakukannya.Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun... kuatkah 
kita utk tidak menceritakan amal shalih kita pada sahabat dekat?Ustadz 
juga bercerita, bahwa syaikh Abdurazzaaq pernah berjihad di 
Afghanistan... beliau juga mengelola bantuan dari rakyat Saudi utk 
mujahidin dan rakyat Afghan... akan tetapi ustadz tahu hal tersebut 
bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapidari syaikh lainnya di Madinah... 
syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita...Kalau kita bersahabat 
hampir 10 tahun... kuatkah kita utk tidak berkata "saya pernah berjihad 
di sini-situ" pada sahabat dekat?Ustadz juga mengatakan syaikh jg pernah 
berdakwah ke pedalaman Afrika, jauh dari nyamannya suasanatanah suci... akan 
tetapi, sekali lagi, ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh 
Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah... syaikh Abdurrazzaaq tidak 
pernah bercerita...Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun... 
kuatkah kita utk tidak berkata "saya pernah berdakwah ke sini dan situ" 
pada sahabat dekat?Diri kita.. mungkin baru mengisi kajian sekali, di RT 
sebelah, kita sudah merasa paling berjasa di muka bumi...Syaikh 
Abdurrazzaaq pernah 2x datang ke Indonesia, mengisi kajian di Istiqlal, 
dan setiap kali datang masjid full seat, masjid Istiqlal penuhsampai 
lantai tertinggi (lt. 5 kalau gak salah), dgn peserta 100.000+ orang, 
dan divideokan (banyak di Youtube)...Dan saat ustadz bercerita ttg hal 
tersebut di Madinah, syaikh lain di Madinah terkaget-kaget mendengar 
banyaknya jumlah hadirin di masjid terbesar Asia Tenggara tersebut... 
kenapa? Karena syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah cerita juga kepada 
syaikh-syaikh lain di Madinah... yg mereka tahu hanyalah,Syaikh 
Abdurrazzaaq pergi ke Indonesia dan mungkin diselingi dakwah, titik.Kita 
ceramah sekali saja, (dipaksa) kultum tarawih, sudah merasa 
hebat,cerita sana cerita sini... kuatkah kita untuk tidak bercerita 
bahwa kita pernah ceramah 2x di hadapan 100.000+ pendengar?Ustadz juga 
bercerita, suatu ketika ada orang buta menemui syaikh di Madinah. Syaikh 
terlihat sangat menghormati orang buta tersebut, dikecupnya kening sang buta, 
lalu mereka mengobrol bersama...Setelah selesai, ustadz 
bertanya"tadi ada apa?". Lalu syaikh Abdurrazzaaq menjawab "tadi ada 
orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya". Dan 
selesailah perbincangan.Usut punya usut, ternyata orang butatersebut 
adalah Syaikh Shalih as-Suhaimi, salah seorang syaikh senior di Masjid 
Nabawi yang memang Allah takdirkan buta... beliau adalah guru syaikh 
Abdurrazzaaq, dan beliau meminta izin utk mencetak buku syaikh 
Abdurrazzaaq utk diajarkan di masjidNabawi...Dan apa penjelasan syaikh 
Abdurrazzaaq? "Tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku 
tulisan saya"...SubhaanAllah...lihatlah betapa rendah hatinya 
jawaban ini... sama sekali tidak ada nada meninggikan diri... tidak 
berbangga bahwa guru kita yang seorang syaikh sepuh di Madinah sekarang 
"berguru" pada kita... tidak berbangga bahwa buku kita dipakai mengajar 
di Masjid Nabawi...Jika kita jadi beliau, akankah kita menjawab "tadi 
ada orang buta meminta izin untuk mencetak buku saya"...??Ataukah kita 
akan menjawab, "tadi guru saya, seorang syaikh senior di Madinah, datang minta 
izin ingin mencetak buku saya untuk diajarkan di Masjid 
Nabawi"...??Adapun kita, mgkn artikel (bukan buku) tulisan kita dipajang di 
dindingmasjid rumah saja sudah bangga setengah mati, lalu cerita 
sana-sini...Sudahkah niat kita ikhlas?Sudahkah Allah menjadi tujuan 
kita?Silakan direnungkan kembali.
Semoga bermanfaat.
Disarikan dari kajian "Mengasah Keikhlasan" oleh Ust. Firanda Andirja, Masjid 
Raya Cipaganti, Bandung, 14 Juli 2013.

Kirim email ke