MEMBAYARKAN ZAKAT FITHRI UNTUK SAUDARA PEREMPUAN

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
http://almanhaj.or.id/content/1633/slash/0/membayarkan-zakat-fithri-untuk-saudara-perempuan-dan-zakat-fithri-harus-dibagikan-di-negeri-setempat/


Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang mahasiswa 
berkebangsaan Thailand dan saya belajar di salah satu universitas di Sudan. 
Kira-kira sebulan yang lalu datang berita yang menyedihkan dari negeri saya 
bahwa ayah saya meninggal dunia, sementara masih ada adik perempuan saya yang 
belum baligh. Wajibkah saya membayar zakat fithri untuk adik saya tersebut ? 
Perlu diketahui bahwa dia tidak mempunyai saudara yang bisa menanggung 
nafkahnya kecuali saya.

Jawaban
Jika ayah anda meninggal sebelum bulan Ramadhan berakhir, sementara tidak ada 
seorang kerabatpun yang membayar zakat fithri untuk adik perempuan anda, maka 
anda wajib membayar zakat tersebut jika anda mampu. Anda juga wajib mengirimkan 
nafkah untuk mencukupi kehidupannya sesuai dengan kemampuan anda, berdasarkan 
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ 
فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا 
آتَاهَا

"Hendaklah orang yang mempunyai kelebihan (rizki) menginfakkan sebagian rizki 
yang telah Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang kecuali 
sesuai dengan apa yang ada pada dirinya".[At-Thalaq : 7]

Hal ini juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau 
Shallallahu alaihi wa sallam ditanya oleh seseorang.

مَنْ أَبَرًّ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ 
أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ 
ثُمَّ اْلأَقْرَبَ فَاْلأَقْرَبَ

"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang harus paling saya hormati (kepada siapa 
saya harus berbuat baik) ? 'Belaiu Shallallahu alaihi wa sallam menjawab : 
"Ibumu", Orang itu bertanya lagi : 'Kemudian setelah itu siapa lagi ?'. Beliau 
Shallallahu alaihi wa sallam menjawab : "Ibumu". Orang itu bertanya lagi : 
Kemudian setelah itu siapa lagi ? 'Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab 
: "Ibumu". Kemudian setelah itu siapa lagi ? Beliau Shallallahu alaihi wa 
sallam menjawab : Bapakmu, kemudian yang lebih dekat kemudian yang lebih dekat" 
[Hadits Riwayat Abu Dawud]

Disamping itu memberikan nafkah kepada adik anda termasuk perbuatan 
silaturrahim yang hukumnya wajib apabila tidak ada orang yang bisa memberikan 
nafkah kepadanya selain anda, sementara ayah anda tidak meninggalkan warisan 
yang cukup untuk biaya hidupnya.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala membimbing kalian berdua untuk 
mendapatkan kebaikan.

ZAKAT FITHRI HARUS DIBAGIKAN KEPADA FAKIR MISKIN DI NEGERI SETEMPAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Wajibkah zakat fithri 
diberikan kepada fakir miskin di negeri kita sendiri atau bolehkah diberikan 
pada orang lain ? Apabila kita sedang musafir 3 hari sebelum Ied bagaimana kita 
membeirkan zakat fithri tersebut ?

Jawaban
Menurut sunnah, memberikan zakat fithri adalah kepada fakir miskin di negeri 
kita sendiri pada pagi hari Iedul Fithri, sebelum shalat Ied. Dan dibolehkan 
juga memberikannya sehari atau dua hari sebelum shalat Ied atau diawali 
kira-kira hari ke 28 bulan Ramadhan.

Apabila seseorang pada hari-hari tersebut berada di negeri orang dia boleh 
mengeluarkan zakat fitrinya kepada fakir miskin di negeri tersebut, apabila 
negeri itu negeri muslim. Tapi apabila negeri tersebut negeri kafir, dia harus 
mencari fakir miskin yang muslim di negeri tersebut. Apabila dia masih ada di 
negerinya ketika sudah diperbolehkan mengeluarkan zakat fithri, maka (sebelum 
meninggalkan negerinya -pent) lebih baik dia memberikan zakat fithri kepada 
fakir miskin di negerinya. Karena maksud dikeluarkannya zakat fithri adalah 
memberikan keleluasaan (bantuan makanan) serta berbuat baik kepada fakir miskin 
setempat agar di hari tersebut mereka tidak usah minta-minta kepada sesama 
manusia.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, 
Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul 
Aziz, Penerbit At-Tibyan - Solo]                                         

Kirim email ke