ALIRAN DI BALIK KEKEJAMAN YANG MENIMPA MUSLIMIN AHLUS SUNNAH DI SURIAH
http://almanhaj.or.id/content/3326/slash/0/aliran-di-balik-kekejaman-yang-menimpa-muslimin-ahlus-sunnah-di-suriah/
Kekejaman Penguasa Suriah terhadap kaum Muslimin Ahli Sunnah, -disengaja atau
tidak- jarang diekspos oleh media massa. Padahal fakta menyebutkkan, telah
terjadi kebengisan yang tak terperikan yang dipraktekkan secara terang-terangan
oleh pasukan pemerintah dalam menghabisi rakyat sendiri; tua, muda dan
anak-anak. Korban pun mencapai angka yang sangat besar, lebih dari 5000 jiwa
tewas. Masjid-masjid Muslimin hancur berantakan oleh senjata berat pasukan
pemerintah. Mushaf al-Qur`an pun tak luput dari penodaan tangan-tangan mereka,
termasuk kehormatan wanita Muslimah.
Penindasan dan kebiadaban yang disebut Syaikh Musa Alu Nashr (Majalah As-Sunnah
01 Thn XVI) melebihi kekejaman dan kebrutalan bangsa Yahudi terhadap kaum
Muslimin Palestina ini jelas membekaskan tanda tanya dan pertanyaan, mengapa
mereka berani mempertontonkan aksi sangat mengerikan dan biadab terhadap kaum
Muslimin di sana, berbeda halnya saat Libia, Mesir dan Tunisia bergejolak.
Tanda tanya itu akan terjawab, sekaligus menjawab diamnya Negara Barat atas
aksi brutal di sana, dengan mengetahui ideologi yang mendominasi kalangan
pemerintah dan pasukannya, yaitu paham Syi'ah Nushairiyah.
MUNCUL PADA ABAD KE-3
Nushairiyah merupakan salah satu dari aliran kebatinan, muncul pada abad ke-3
Hijriyah, dan merupakan sempalan dari golongan Syiah Imam Dua belas. Kelompok
ini dinisbatkan kepada pimpinan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair
an-Numairi, Abu Syuaib, berasal dari Persia. Sebelumnya, ia berpaham Syi’ah
Imam Dua belas.
Dia telah mengklaim sebagai bâb , pintu penghubung manusia menuju imam ke dua
belas (yang fiktif) yang mereka anggap sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu.
Akan tetapi, para tokoh Syi’ah lainnya tidak mengakui klaimnya itu. Ia pun lalu
melepaskan diri dari Syi’ah dan membuat kelompok sendiri Nushairiyah, serta
menjadi pimpinan sampai mati pada tahun 270 H.
Firqah (aliran) ini layaknya musuh-musuh Islam lainnya, selalu mengintai
barisan kaum Muslimin dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggu
kaum Muslimin dengan berbagai cara tanpa rasa belas kasihan. Bahkan mereka
berkeyakinan, apa yang mereka lakukan akan mendapatkan pahala. Semakin besar
gangguan yang mereka munculkan, akan semakin besar pula pahala yang akan mereka
dapatkan. Fakta yang terjadi di Suriah belakangan ini menjadi bukti nyata
terbaru. Mereka membantai banyak orang yang tidak bersalah, baik pria, wanita
maupun anak-anak. Jauh sebelum itu, sejarah telah mencatat mereka juga telah
membantu pasukan Tartar dan kaum Salibis untuk menyerang kaum Muslimin dengan
cara yang sangat keji. Fakta ini sekaligus menjadi jawaban atas penindasan dan
kebrutalan mereka terhadap kaum Muslimin.
Para Ulama Ahlus Sunnah telah mencatat kekejaman Nushairiyah Batiniyah terhadap
kaum Muslimin dalam masa yang berbeda-beda. Bagaimana mereka menjelma binatang
liar yang ganas yang tidak punya rasa iba dan belas kasih sama sekali terhadap
kaum Muslimin, tua, muda, perempuan maupun anak-anak.
NAMA ALIRAN YANG PALING MEREKA SUKAI
Kelompok ini dikenal dengan beberapa nama. Yang paling populer adalah
Nushairiyah, penisbatan kepada penggagas pertama aliran ini. Akan tetapi,
mereka kurang menyukai nama ini karena ingin menghilangkan kesan eksklusif dan
menghindari permusuhan dari golongan lainnya.
Mereka lebih menyukai nama ‘Alawiyyun dan berharap dikenal dengan nama ini,
karena penisbatan kepada Ali tentu lebih baik dari penisbatan kepada Ibnu
Nushair. Sebagaimana slogan yang diusung oleh komunitas Syiah lainnya, dengan
nama ini mereka ingin disebut sebagai para penganut ‘Ali atau mencintai
keluarga Nabi guna menarik simpati orang dan menutupi kerusakan yang ada pada
aliran tersebut sekaligus.
SEBAGIAN AQIDAH RAHASIA NUSHAIRIYAH
Para pengikut Nusairiyyah ini beranggapan, agama atau kelompok mereka merupakan
suatu rahasia besar yang tidak boleh diketahui atau disebarkan selain dari
kalangan mereka sendiri. Mereka menetapkan peraturan, orang yang berani
menyebarkan sedikit saja tentang akidah mereka, maka hukumannya dibunuh dengan
cara yang paling sadis. Hukuman ini pernah ditimpakan pada orang bernama
Sulaiman al-Adhani, anak dari salah satu pimpinan Nushairiyah di wilayah Adhnah
menulis buku menelanjangi Nushairiyah yang berjudul al-Bakûrah
as-Sulaimâniyyah, yang kemudian dicetak oleh para misionaris di Beirut yang
telah berhasil mengkristenkannya. Setelah berhasil ditangkap, ia pun dibunuh
dengan cara dibakar hidup-hidup.
Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut, ialah:
Mereka meyakini ketuhanan Ali. Mereka menyakini Ali adalah imam dalam bentuk
lahirnya dan Tuhan dalam batinnya, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan.
Ali belum meninggal dan tidak terbunuh, tidak makan ataupun minum. Bahkan
mereka mengatakan, Ali telah menciptakan Muhammad dan Muhammad menciptakan
Salman al-Farisi.
Mereka memiliki kitab suci selain al-Qur‘an yang menjadi pedoman pokok.
Al-Qur‘an hanya menjadi pedoman sampingan semata.
Kerahasiaan ini juga menjadi pertanda kesesatan Nushairiyah. Kalau memang
keyakinan dan pedoman mereka baik dan bagus, mengapa takut diketahui oleh orang
lain?!.
KEBENCIAN NUSHAIRIYAH KEPADA PARA SAHABAT NABI
Sikap para penganut Nushairiyah terhadap Sahabat Nabi seperti sikap para musuh
Islam yang memusuhi Islam dan Muslimin. Satu sikap negatif yang tertanam pada
hati para penganut aliran Syiah dengan segala cabangnya, termasuk Nushairiyah.
Kebencian mereka terhadap Sahabat sampai pada titik melontarkan pernyataan ada
individu dari kalangan Sahabat Nabi yang pada dasarnya belum pernah beriman
secara mutlak. Ia hanya menampakkan keislaman dan keimanan karena takut kepada
Ali bin Abi Thalib semata.
Seperti orang Syiah lainnya, kebencian mereka terhadap Sahabat Abu Bakar
Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu sangat besar sampai enggan
menjadikan dua nama itu untuk anak keturunan mereka. Kebencian dan kedengkian
ini terlukiskan pada tindakan yang pantas disebut kedunguan, dengan sengaja
membunuhi beberapa binatang dan menyiksanya dengan cara-cara yang sadis, karena
beranggapan ruh Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ‘Umar dan ‘Aisyah berdiam di
sana. Secara khusus, Sahabat ‘Umar menjadi sosok yang paling mereka benci tiada
lain karena pada masa khilafah ‘Umar kekuatan Persia luluh lantak, dan api
Majusi padam dan digantikan dengan menyebarnya hidayah Islam dan cahayanya di
sana.
WANITA MEREKA, WANITA PALING BODOH DAN TERHINA
Para wanita Nushairiyah tidak diperbolehkan mempelajari rahasia-rahasia yang
terdapat dalam aliran Nushairiyah. Mereka menganggap, wanita memiliki pikiran,
akal dan kehendak yang sangat lemah. Di samping itu, wanita dianggap lebih
jahat dan memiliki banyak tipu muslihat. Oleh karena itu, bisa dikatakan kaum
wanita mereka tidaklah beragama, dan termasuk wanita-wanita yang sangat bodoh
di dunia ini.
Para lelaki saja yang diizinkan untuk mendalami keyakinan Nushairiyah. Bila
seorang lelaki telah berusia lebih dari 19 tahun, ia boleh mengikuti pembinaan
spiritual ala Nushairiyah melalui beberapa tahap. Banyak ritual aneh dan
merendahkan martabat manusia yang harus ia jalani. Dalam kondisi ini, ‘penuntut
ilmu’ ini harus patuh dan tunduk kepada gurunya layaknya jenazah di hadapan
orang yang memandikannya. Setelah berhasil menuntaskan ‘pendidikan’ ini, maka
sang murid telah mengetahui rahasia-rahasia aliran dan berkewajiban mengemban
dan menjaga rahasianya. Ia pun berhak menyandang gelar guru dalam aliran ini.
MEMUJA KHAMR
Mereka memuja khamr atau segala sesuatu yang memabukkan. Mereka memiliki
anggapan (sesat) bahwa Allâh k berada jelas di dalam khamr. Orang yang ingin
masuk ke aliran ini akan disuruh tokoh Nushairiyah untuk menenggak khamr.
IBADAH VERSI NUSHAIRIYAH
Cara peribadahan kaum Muslimin jauh berbeda dari ritual-ritual kaum
Nushairiyah. Dan ini wajar sekali, karena ajaran-ajaran Islam tidak akan
mungkin bersesuaian dengan ajaran Nushairiyah yang bersumber dari watsaniyah
(paganisme) Persia, meskipun para penganut Nushairiyah menampakkan diri dengan
penampilan Islam, seperti menggunakan nama Islami. Anehnya, walaupun
kadang-kadang mereka menggunakan nama-nama Nasrani, akan tetapi mereka melarang
menggunakan nama-nama para Sahabat Nabi terbaik seperti Abu Bakar Radhiyallahu
anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu
Mereka memaknai shalat, puasa, zakat dan haji dengan pengertian kebatinan yang
juga sangat jauh berbeda dari Islam. Makna menegakkan shalat menurut mereka
yaitu mengetahui dan menjunjung tinggi Amirul Mukminin. Puasa adalah larangan
bercampur dengan istri sepanjang bulan Ramadhan saja. Sementara ibadah haji
mereka maknai sebagai praktek kekufuran dan penyembahan kepada berhala.
Para penganut Nushairiyah tidak melaksanakan shalat Jum’at karena tidak
mengakui kewajiban itu. Dalam ibadah shalat versi mereka, orang-orang tidak
bersuci terlebih dahulu. Mereka mengerjakan shalat di tempat-tempat tertentu
pada waktu tertentu pula, tidak pernah mengerjakannya di masjid. Justru mereka
melawan setiap usaha pembangunan masjid.
Dalam aliran kebatinan ini, tokoh agama Nushairiyah dan orang-orang yang telah
mengetahui dan mengarungi makna-makna batin akan terbebas dari aturan syariat,
sebagaimana terdapat pada aliran-aliran kebatinan lainnya.
BUKU PANDUAN RINGKAS AJARAN NUSHAIRIYAH
DR. Abdurrahman Badawi menyampaikan fakta menarik, ditemukannya buku panduan
ringkas mengenal ajaran Nushairiyah berjudul Kitâbu Ta’lîm Diyânati
an-Nushairiyyah yang masih berbentuk manuskrip kuno di Perpustakaan Paris. Buku
panduan ini disajikan dalam bentuk soal berjawab, berisi 101 soal dan
jawabannya. Di antaranya:
Soal (S): “Siapakah yang menciptakan kita?”
Jawab (J): ‘Ali bin Abi Thâlib Amirul Mukminin
(S): “Dari mana kita tahu ia adalah Tuhan?”.
(J): “Dari penjelasannya saat berkhutbah di atas mimbar”.
(S): “Apakah al-Qur`an itu?”
(J): “Kitab yang memberi kabar gembira perihal junjungan kita (‘Ali) dalam rupa
manusia”.
(S): “Siapakah nujabâ di bumi ini?”.
(J): Pertama Abu Ayyub….dan yang terakhir ‘Abdullah bin Saba`”.
(S): “Mengapa orang Mukmin shalat menghadap matahari?”
(J): “Karena matahari adalah sumber seluruh cahaya”.
Ini sebagian keyakinan Nushairiyah yang termaktub dalam panduan tersebut yang
jelas bertentangan dengan aqidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
KEBENCIAN TERHADAP ISLAM DAN NABINYA
Pernah ada sekelompok orang penganut Nushairiyah melantunkan pernyataan,
“Ambillah senjata, ambillah senjata, agama Muhammad biar pergi dan sirna”.
Harian ats-Tsaurah juga pernah menulis, “Allah, para nabi, kitab-kitab suci
semuanya ini adalah muhannathaat yang harus dialihkan ke museum-museum
sejarah”. Maka, tidak aneh bila terdengar sebagian prajurit pemerintah Suriah
memaksa sebagian Muslimin untuk mengatakan kata-kata kekufuran.
MASJID DALAM PANDANGAN NUSHAIRIYAH
Kekeliruan dan penyimpangan Nushairiyah bukan perkara yang sepele dan ringan,
sudah merupakan kesalahan yang fundamental. Karenanya, sudah banyak pemimpin
Islam dan dai-dai Muslim seperti Sultan Shalâhuddîn al-Ayyûbi rahimahullah,
Zhâhir Baibrus rahimahullah, Sultan Sâlim al-'Utsmâni rahimahullah, Ibrâhim
Bâsya rahimahullah, Sultan 'Abdul Hamid al-'Utsmâni rahimahullah dan lainnya
yang berusaha mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar. Para
pemimpin umat Islam itu pun sudah membangunkan masjid dan mengajak mereka
mengerjakan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya.
Namun, mereka menolak ajakan baik tersebut. Bila mereka merasa terancam oleh
kekuatan Islam, maka mereka berpura-pura memperlihatkan komitmen dengan syiar
Islam yang tampak. Sebaliknya, bila kekuatan yang mereka takuti melemah, mereka
akan menampakkan batin mereka dan memerangi syiar-syiar Islam tersebut dengan
terang-terangan.
Sebagai contoh, usai mengalahkan kaum Salibis, Sultan Shalâhuddîn al-Ayyûbi
membangunkan masjid-masjid bagi Nushairiyah dan memerintahkan mereka untuk
memakmurkannya dengan ibadah shalat. Mereka mematuhi perintah ini. Akan tetapi,
setelah Shalâhuddîn al-Ayyûbi meninggal, serta merta mereka mengalihkan fungsi
masjid menjadi kandang binatang. Na’udzubillâh min dzâlik.
Demikian juga nasib masjid-masjid yang dibangun oleh Zhâhir Baibrus. Mereka
menelantarkannya. Bahkan ketika ada orang akan mengumandangkan adzan, justru
mereka berkomentar, “Jangan mengembik, pakanmu akan tiba sebentar lagi”.
Begitu pula, masjid-masjid dan madrasah yang dibangun atas perintah Sultan
‘Abdul Hamîd al-‘Utsmâni. Mereka menghancurkan madrasah-madrasah itu dan
membakar masjid-masjid.
Keyakinan kebatinan yang tertanam pada hati mereka itulah yang mendorong mereka
merusak dan menghancurkan masjid-masjid. Menurut mereka, orang yang sudah
mengenal tuhannya dan memahami makna syariat, ia menjadi orang bebas dan tidak
terkena beban menjalankan syariat lagi. Dengan demikian, keberadaan masjid
dalam pandangan mereka merupakan bukti mereka belum mengenal tuhannya dan
ketidaktahuan mereka terhadap perintah tuhannya secara lahir dan batin.
Demikianlah gambaran ringkas tentang kebusukan keyakinan Nushairiyah dan bahaya
mereka terhadap kaum Muslimin. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita orang
yang senantiasa mendapatkan petunjuk dan selamat dari tipu daya dan
pemikiran-pemikiran yang menyimpang, serta mendatangkan faraj (jalan keluar
dari masalah) segera bagi kaum Muslimin di Suriah.
(Diringkas dari kitab Firaq Mu’âshirah Tantasibu ilal Islâm wa Bayânu Mauqiful
Islâm Minha, oleh Dr. Ghâlib bin ‘Ali ‘Awaji Cet. V, 2005 M, al-Maktabah al
‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, Jeddah).
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433/2012M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]