From: [email protected]
Date: Mon, 26 Aug 2013 16:15:51 +0700
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Bagaimanakah cara yang benar dan utama, kita sebagai anak untuk bisa berbakti 
kepada orangtua yang telah wafat?
Amal apa yang bisa kita (yg masih hidup) lakukan sehingga pahalanya terus 
diterima oleh yang sudah wafat?
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
FM
>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih 
hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada 
sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Ia bertanya: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ 
بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ 
لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا 
تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا 

"Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku 
setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab,"Ya, dengan mendoakannya, 
memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung 
silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan 
memuliakan teman-temannya". [HR Abu Dawud]. 

Allâhu Akbar! betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan 
termasuk di dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada 
teman kerabat.

Disebutkan dalam kitab Shahîh Muslim, dari 'Abdullâh bin 'Umar bin Khatthâb 
Radhiyallahu 'anhu : "Suatu hari beliau Radhiyallahu 'anhu berjalan di kota 
Makkah dengan mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu 'anhu gunakan 
bersantai jika bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang 
Arab Badui. Lantas 'Abdullah bin 'Umar pun bertanya kepadanya:”Benarkah engkau 
Fulan bin Fulan?” Ia menjawab,”Ya,” kemudian 'Abdullah bin 'Umar memberikan 
keledainya kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga 
memberikan sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah kepalamu 
dengan sorban ini,” maka sebagian sahabatnya berkata,”Semoga Allah 
mengampunimu. Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban 
ikat kepalamu kepada orang itu?” Maka 'Ibnu 'Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu 
adalah teman 'Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah 
berkata,'Sesungguhnya bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan 
keluarga ayahnya".
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2647/slash/0/kewajiban-berbakti-kepada-orang-tua/
 
Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus 
berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali 
kepada Tauhid dan Sunnah. Bagaimana pun, syirik dan bid’ah adalah sebesar-besar 
kemungkaran, maka kita harus mencegahnya semampu kita dengan dasar ilmu, lemah 
lembut dan kesabaran. Sambil terus berdo’a siang dan malam agar orang tua kita 
diberi petunjuk ke jalan yang benar.

APABILA KEDUA ORANG TUA TELAH MENINGGAL
Maka yang harus kita lakukan adalah:
1. Meminta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (jujur) bila 
kita pernah berbuat dur-haka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup.
2. Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
3. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
4. Membayarkan hutang-hutangnya.
5. Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
6. Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/2123/slash/0/menggapai-ridha-allah-dengan-berbakti-kepada-orang-tua/
http://almanhaj.or.id/content/1810/slash/0/lima-perkara-termasuk-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-setelah-meninggal/
 
Apabila kedua orang tua telah meninggal maka : 
Yang pertama : Kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta'ala dengan 
taubat yang nasuh (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang 
tua sewaktu mereka masih hidup.

Yang kedua : Adalah mendo'akan kedua orang tua kita.
Dalam sebuah hadits dla'if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu 
Hibban, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam.
"Apakah ada suatu kebaikan yang harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku 
sesudah wafat keduanya ?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya, 
kamu shalat atas keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu memenuhi janji 
keduanya, kamu silaturahmi kepada orang yang pernah dia pernah silaturahmi 
kepadanya dan memuliakan teman-temannya" [Hadits ini dilemahkan oleh beberapa 
imam ahli hadits karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah dan 
Syaikh Albani Rahimahullah melemahkan hadits ini dalam kitabnya Misykatul 
Mashabiih dan juga dalam Tahqiq Riyadush Shalihin (Bahajtun Nazhirin Syarah 
Riyadush Shalihin Juz I hal.413 hadits No. 343)]

Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat 
untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah : 
1. Mendo'akannya
2. Menshalatkan ketika orang tua meninggal
3. Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
4. Membayarkan hutang-hutangnya
5. Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari'at.
6. Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah 
menyambungnya. [Diringkas dari beberapa hadits yang shahih]

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin 
Umar Radhiyallahu 'anhuma. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda.

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ اَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ 
أَنْ يُوَلِّيَ 

"Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi 
kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal" [Hadits Riwayat Muslim 
No. 12, 13, 2552]

Dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma menemui seorang 
badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian 
Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke 
atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, 
kemudian Abdullah bin Umar berkata, "Semoga Allah membereskan urusanmu". 
Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhumua berkata, "Sesungguhnya 
bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar 
sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ اَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ 

"Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi 
kepada teman-teman ayahnya" [Hadits Riwayat Muslim 2552 (13)]

Berkaitan dengan masalah shalat dan puasa yang ditinggalkan oleh orang tua, 
maka menurut syari'at tidak dibenarkan mengqadha shalat atau puasa kecuali 
puasa nadzar [Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah hal. 427-428, cet. III Darul 
Rayah 1409H, lihat Ahkamul Janaiz oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 
hal 213-216, cet. Darul Ma'arif 1424H]
Selengkapnya baca di 
http://almanhaj.or.id/content/689/slash/0/bentuk-bentuk-berbakti-kepada-orang-tua/
 
Wallahu Ta'ala A'lam






                                          

Kirim email ke