Inilah.com | 14 Maret 2010 | Pemerintah AS memperingatkan warganya
berhati hati menggunakan alat gendong bayi. Beberapa temuan membuktikan
terjadinya kecelakaan hingga kematian bayi meskipun dalam jumlah kecil.

The Consumer Product Safety Commision (CPSC) telah menyelidiki
setidaknya 13 kematian yang berhubungan dengan alat penggendong bayi
selama kurang lebih 20 tahun ini, termasuk 3 kematian tahun lalu. Satu
kasus lain yang cukup fatal masih ditelusuri. Sebanyak 12 kematian
termasuk bayi yang masih muda dengan umur sekitar 4 bulanan.

Ada dua cara penggunaan alat ini yang membahayakan. Pertama, selempang
kain dapat menekan hidung dan mulut bayi, kemudian mencekik pernapasan
bayi dalam satu atau 2 menit.

Kedua, kain bayi pengikat terbuat dalam posisi melengkung atau posisi C
terbalik. Sehingga dalam dekapan ibu, bayi berada di bawah dada atau di
dekat perutnya.

Posisi yang melengkung dapat menyebabkan bayi tidak memiliki kontrol
leher kuat dengan posisi kepala ke depan, dagu-ke-dada, sehingga
membatasi kemampuan bayi untuk bernapas. "Bayi tidak akan bisa menangis
minta tolong dan dapat perlahan-lahan tercekik," ungkap hasil
penelitian mereka, kemarin.

Di lain pihak, alat ini pernah dipromosikan pakar bayi sebagai cara
untuk menenangkan bayi rewel atau ibu agar bisa menyusui anak kecil
dalam gendongan.

Pada 2008, Consumer Reports sempat menyuarakan keprihatinan mengenai
kain penggendong bayi ini dengan sekitar dua lusin cedera serius,
seperti patah tulang tengkorak terutama ketika seorang anak jatuh dari
pengangkut.

Kemudian, setelah muncul kasus kematian bayi berusia satu minggu,
Derrik Fowler di Oregon, para pemerhati keselamatan memperingatkan
kembali tentang kain gendongan ini dan risiko mati lemas. Menurut
catatan pengadilan, bayi itu meninggal dalam gendongan posisional sesak
napas atau mati lemas.

Faktor keamanan menjadi kekhawatiran karena orang tua membungkus bayi
mereka di sekitar leher dan membuai anak dalam posisi melengkung,
seperti gendongan yang digunakan orang tua Fowler.

Tapi tidak semua kain yang berbahaya, kata Pat Shelly, Direktur The
Breastfeeding Center for Greater di Washington. "Bayi paling aman
dibawa sesuai dengan posisi ibunya yaitu posisi tegak. Orang tua harus
diinstruksikan menjaga dagu dari dada bayi guna mengoptimalkan saluran
udara," kata Shelly

Shelly, seorang perawat, mengajar tentang cara benar memakai gendongan.
Alat Gendong bayi yang terkenal yaitu SlingRider oleh Infantino telah
dikritik karena posisi alat mereka yang melengkung menyebabkan bayi
dapat jatuh ke bagian dalam gendongan. Menurut dokumen pengadilan,
Fowler Derrik berada dalam gendongan Infantino ketika ia meninggal dan
orang tuanya menggugat perusahaan.

Infantino mempertahankan bahwa SlingRider aman. Mereka pun mengeluarkan
pernyataan. "Kami menghargai tindakan oleh CPSC hari ini, dan
berkomitmen untuk bekerja dengan mereka serta orang tua dan pengasuh
untuk menjawab keprihatinan tentang kain bayi."

SlingRider dipanggil kembali pada 2007 terkait masalah slider plastik
pada tali selempang itu. Komisi CPSC mulai berhati-hati terhadap
pengguna kain pada alat gendong bayi ini.

Ketua CSPC Inez Tenenbaum melakukan pertemuan dengan Juvenile Products
Manufacturers Association yang direncanakan memberikan peringatan
kepada orang tua tentang alat gendong bayi ini.

JPMA, sebuah grup perdagangan industri, menyatakan 20 produk anak tidak
memiliki program sertifikasi kain. Saat ini JPMA bekerja dengan ASTM
International, sebuah organisasi yang menetapkan standar keselamatan
sukarela mengembangkan sebuah standar untuk kain.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Belum ada catatan resmi tentang
pengunaan alat gendong bayi ini. Bisa jadi karena tidak terdeteksi bayi
yang mengalami luka ataupun kecelakaan gara-gara alat bayi ini. Tapi
semua tampaknya harus lebih waspada terhadap semua peralatan yang
berhubungan dengan sang buah hati ini.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 3/15/2010 01:36:00 AM

Kirim email ke