Okezone.com | Selasa, 2 Maret 2010 | Ita Susilawati yang mengalami
penuaan dini telah berpulang, Minggu 28 Februari siang. Kemarin,
menjelang dimakamkan,wajahnya berubah total seperti sebelum dia
menderita penyakit misterius ini.

Guratan kecantikan semasa hidup terlihat jelas saat jenazah perempuan
yang tutup usia pada umur 19 tahun ini dimandikan.Wajahnya yang dulu
menua dengan alis dan kelopak mata turun hingga ke pipi, terlihat
kembali seperti sedia kala. Yang lebih mengherankan, wajahnya tampak
kembali muda. Lekuk-lekuk wajahnya yang sempat rusak kembali normal
hampir sempurna. Kejadian ini sempat menjadi perhatian ratusan pelayat.

“Kami sempat terkejut. wajahnya kembali sempurna.Bahkan, kelopak
matanya yang jatuh hampir tidak terlihat lagi,” ungkap Halimah (38),
aktivis Kajian Informasi Perempuan Asahan (KIPAS) Asahan, yang ikut
melaksanakan fardu kipayah almarhumah.

Suasana duka juga terasa kuat ketika jenazah perempuan malang ini
disemayamkan di rumah orangtuanya di Dusun IX,Kampung Sido Keno, Desa
Suka Damai Barat, Asahan, hingga dimakamkan. Ayah dan ibunya,
Durrahman, 50, dan Ramlia (44), bahkan menangis di sisi jenazah. Ramlia
yang terlihat sangat terpukul sempat meraung saat jenazah putri
satu-satunya itu diberangkatkan ke Masjid Nurul Iman, tak jauh dari
rumahnya untuk disalatkan.

“Ita jangan tinggalkan Mamak,” ujarnya. Bagi Ramlia, kepergian Ita
menghadap Sang Khalik membawa duka dan kenangan yang sangat dalam. Dari
tiga anaknya, semasa hidup, Ita bukan saja anak perempuan satu-satunya,
juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ita dikenal perempuan
cekatan untuk mencari uang membantu kebutuhan keluarga. Segala macam
usaha dijalankan demi membantu orangtua. Bahkan terakhir, walau dalam
kondisi sakit, Ita masih tetap berusaha mencari nafkah. Di rumahnya,
dengan kondisi fisiknya yang mendadak tua renta seperti nenek- nenek
berusia 70-an tahun itu, dia tetap berusaha dengan membuka rental
PlayStation.

Ramlia menuturkan, semasa hidup, Ita tidak pernah bersikap manja
meskipun sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Di mata
Durrahman maupun Ramlia, Ita merupakan anak perempuan yang tangguh.

“Saya memang berbakat jadi pedagang, karena itu saya tak mau sekolah
lagi, hanya sampai kelas 6 SD, itu pun tidak tamat,” ujar almarhumah
dalam satu wawancara kepada harian Seputar Indonesia (SI) semasa
hidupnya beberapa waktu lalu. Derita perempuan kelahiran 1991 semasa
hidup menaruh simpati warga.

Sejak menderita penyakit misterius,dia tak pernah didampingi suaminya,
Hendra Effendy, yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Maka itu, ratusan warga memenuhi rumah duka untuk melepas jenazah ke
peristirahatan terakhir, termasuk sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Asahan dan anggota DPRD Asahan. Wakil Ketua DPRD Asahan Dahrun
Hutagaol turut menyampaikan rasa berduka atas berpulangnya Ita.

“Saya kemari untuk menyampaikan ungkapan belasungkawa dan rasa
keprihatinan terhadap nasib yang menimpa almarhumah,” ungkapnya. Memang
politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini tak sempat menyampaikan
ucapan belasungkawa secara resmi dalam acara prosesi pemakaman karena
datang terlambat.

Dahron tiba di rumah duka sesaat menjelang prosesi pemakaman selesai
dilaksanakan. Hal serupa disampaikan Sekretaris Kecamatan (Sekcam)
Kecamatan Pulau Bandring Ali Mughofar, yang datang mewakili Pemkab
Asahan. Seperti diberitakan, Ita meninggal tanpa diketahui penyakit
yang mendera dan mengubah jalan hidupnya selama dua tahun terakhir.
Selama delapan hari, dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) H Abdul Manan Simatupang. Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan
tim dokter yang berasal dari berbagai bidang kesehatan.

Dokter ahli paru menyimpulkan diagnosis sementara bahwa Ita mengalami
radang paru (pneumonia). Dokter ahli kandungan menilai menopause
prekoks (menopause dini) dan dokter ahli bedah menyatakan menderita
hernia. Sementara itu, ahli kulit dan kelamin menilai Ita mengalami
pruritus (gatal pada kulit) serta divonis mengalami kelainan hormon
oleh dokter ahli penyakit dalam.

Keluarga Minta Kasus Hukum Tetap Dilanjutkan

Sepeninggal Ita, keluarganya tetap mendorong agar kasus kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Hendra Effendy, tetap
dituntaskan. Keluarga telah memberikan kuasa kepada LBH Medan (Pos
Asahan-Tanjungbalai). Saat ini, kuasa hukum tengah mempelajari apakah
sepeninggal Ita, kasus itu masih bisa diproses atau tidak. Koordinator
LBH Medan (Pos Asahan-Tanjungbalai) Imam Syahtria menyatakan, somasi
terhadap Ita memang belum sempat dikirim, masih dalam proses.

Keterlambatan pengiriman somasi karena pihaknya tersita dalam mengurusi
pelayanan medis bagi Ita dan memelopori kegiatan Gerakan Seribu Cinta
Untuk Ita (Gebu Cinta untuk Ita) bersama PWI Reformasi Asahan dan KIPAS.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 3/18/2010 06:38:00 PM

Kirim email ke