KOMPAS.com | Jumat, 23 April 2010 | Dalam waktu 10 tahun, para insinyur
dan pelaku industri di Jepang berambisi menciptakan jenis perangkat
elektronika generasi baru yang dilengkapi mesin pembaca pikiran. Alat
semacam itu memungkinkan panggunanya bermain game atau mengendalikan
perangkat miliknya dengan pikirannya.

Teknologi pembaca pikiran sebenarnya bukan hal baru. Namun, tantangan
paling besar untuk menghadirkannya ke konsumen adalah kepraktisan user
interface yang menjadi perantara sinyal otak dengan sistem komputer.

Perangkat seperti yang banyak muncul di film-film fiksi ilmiah tersebut
akan memanfaatkan teknologi penerjemah sinyal otak ke mesin. Teknologi
tersebut sanggup menganalisis gelombang otak manusia dan pola aliran
darah yang dideteksi dari sensor-sensor yang dipasang pada kepala dan
anggota tubuh lainnya.

Bentuk akhir perangkat yang dikembangkan antara lain sebuah televisi
yang bisa dioperasikan tanpa menggunakan tombol atau ponsel yang bisa
mengirim SMS tanpa harus diketik. Aplikasi lainnya mungkin digunakan
pada sistem navigasi mobil yang akan mencari restoran terdekat jika
penggunanya lapar dan AC yang akan beradaptasi dengan suhu tubuh
pengguna yang ada di ruangan secara otomatis. Bisa juga robot asisten
yang tahu kebutuhan pengguan manula dan membantu membawakan
kebutuhannya.

Inisiatif penelitian bersama untuk mengembangkan produk yang siap
dipasarkan pada 2020 itu telah dimulai awal tahun ini atas dukungan
pemerintah dan swasta. Seperti dilansir suratkabar Nikkei, Jepang,
beberapa perusahaan besar yang terlibat antara lain Toyota, Honda, dan
Hitachi. Sementara lembaga riset yang mendukung antara lain National
Institute of Information and Communications Technology, Universitas
Osaka, dan the Advanced Telecommunications Research Institute
International.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 4/26/2010 01:04:00 AM

Kirim email ke