BBC.co.uk | Selasa, 13 April 2010 | Kain yang diyakini kafan Yesus
mungkin merupakan artefak keagamaan paling kontroversial di dunia.
Kain yang memiliki sebutan Kain Kafan dari Turin yang dipercaya
membungkus jenazah Yesus setelah wafat di kayu salib mencetak wajah
Sang Juru Selamat.

Tercetaknya wajah Yesus, yang kemudian menjadi acuan berbagai lukisan
atau patung Yesus itu memicu debat soal keasliannya. Dan setelah
kembali dipamerkan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, perdebatan itu
tampaknya tengah menuju ke hasil akhir.

Berbagai referensi sejarah soal kain kafan Yesus sudah tersedia, namun
satu-satunya catatan yang paling bisa diandalkan adalah yang tersimpan
di Katedral Turin sejak abad ke-16.


Kain berpola kerangka berukuran 1,21m x 4,42m itu berlumuran bercak
darah manusia dan tampak jelas menunjukkan sosok seseorang yang baru
saja menjalani hukuman penyaliban.

Gambaran yang paling terkenal yaitu sosok wajah Yesus lengkap dengan
janggut tebalnya memang tak bisa dengan mudah dilihat mata telanjang.
Gambaran wajah itu baru terlihat pada akhir abad ke-19 dalam sebuah
foto yang diambil oleh seorang fotografer amatir.

Pada tahun 1988 kain itu tak lagi bisa dilihat dengan bebas. Para ahli
penanggalan karbon dari Universitas Oxford, Zurich dan Arizona saat
itu "membuktikan" kain kafan itu adalah buatan abad ke-14 sehingga
wajah yang tercetak di atasnya bukan wajah Yesus.

Kini, banyak kalangan yang mempertanyakan proses penelitian dan
menganggap proses penelitian kurang akurat.

Seorang sejarawan yang telah banyak menulis buku seputar masalah ini,
Ian Wilson yakin kain kafan Turin itu memang kain yang membungkus
jenazah Yesus. Apa yang mendasari keyakinan Wilson itu?

"Sampel yang diambil untuk penelitian tahun 1988 itu diambil dari
tempat yang tidak seharusnya, yaitu pojok kiri atas," kata Wilson.

"Sebab, sebelum tahun 1840 satu-satunya cara memamerkan kain itu adalah
kain itu direntangkan dan dipegang oleh sedikitnya tiga orang uskup
sehingga sangt mungkin ujung kain itu sudah terkontaminasi," papar
Wilson.

Keraguan lainnya adalah sampel yang diambil adalah bagian yang sudah
diperbaiki dengan menggunakan kain biasa.

"Masalah lain adalah kain itu nyaris terbakar tahun 1532 dan asap
kebakaran mengakibatkan banyak pengaruh. Semua faktor inilah yang
memungkinkan penelitian karbon menjadi tidak akurat," tambah Wilson.

Lubang pergelangan tangan

Ian Wilson menambahkan penggunaan kain seperti kain kafan Turin itu
jauh lebih populer pada abad-abad awal ketimbang pada abad pertengahan.
Selain itu, bukti-bukti medis juga memperkuat teori Wilson.

"Memang pada jaman Yesus hidup, ribuan orang dihukum mati dengan cara
disalib. Namun, berbeda dapam proses penyaliban Yesus adalah mahkota
duri dan di atas kain kafan itu terdapat noda luka tusukan di sekitar
kepala yang terluka," tandas Wilson.

Dan meskipun banyak lukisan yang menggambarkan Yesus dipaku pada
telapak tangannya, namun kain kafan itu menunjukkan bahwa Yesus dipaku
pada pergelangan tangannya.

Cara memaku pada pergelangan tangan, papar Wilson, adalah agar tubuh
Yesus tetap bisa tergantung di kayu salib. Tapi bagaimana menjelaskan
soal gambaran wajah yang diyakini banyak orang sebagai wajah Yesus di
atas kain itu?

"Itu memang hal yang aneh. Kain kafan ini berperan sebagai cetakan
negatif badan yang dibungkusnya. Sehingga mungkin Anda akan bertanya
benarkan ada kebangkitan Yesus?" tukas Wilson.

Gereja Katolik selalu menolak untuk mempedebatkan soal keaslian kain
kafan itu. Namun, Vatikan berharap antara 1,5 sampai 2 juta orang akan
datang melihat kain itu. Paus Benedictus XVI direncanakan akan datang
ke pameran pada 2 Mei mendatang.

Sebelum pameran digelar Uskup Turin Kardinal Severino Poletto
menegaskan arti penting obyek suci bagi Gereja Katolik itu.

"Pameran kain kafan suci adalah sebuah peristiwa rohani dan keagamaan
bukan gelaran wisata atau komersial," kata Kardinal Poletto.

Sementara itu Direktur Pusat Sindologi Internasional Turin Bruno
Barberis, menegaskan keaslian kain tersebut.

"Banyak penelitian membuktian bahwa noda di atas kain itu adalah darah
manusia bukan buatan pelukis. Gambaran yang ditinggalkan memang sebuah
citra yang diakibatkan oleh jenazah yang sesungguhnya. Sehingga saya
pikir, tingkat keaslian kain kafan ini sangat tinggi, " kata Barberis
yang lembaganya giat meneliti soal kain kafan Yesus ini.

Pandangan ilmuwan

Meski demikian, sejumlah ilmuwan tetap meragukan keaslian kain kafan
itu. Profesor Gordon Cook dari Pusat Riset Alam Universitas Skotlandia
dengan tegas mengesampingkan teori bahwa kain itu telah
banyak "terkontaminasi" tangan manusia mengganggu hasil penelitian
karbon.

"Metode pra perawatan yang kami lakukan seharusnya mampu menyingkirkan
kontaminasi itu," kata Prof Cook yang dikenal sebagai pakar penanggalan
karbon.

"Perhitungan karbon kami lakukan di tiga laboratorium berbeda sehingga
kami yakin kami telah melakukan perhitungan yang benar," tambah dia.

Satu-satunya pertanyaan saat itu, lanjut Cook, adalah apakah kain kafan
itu sudah tercampur dengan kain yang usianya jauh lebih mudah atau
tidak.

Sebagian besar ilmuwan yang melakukan penelitian tahun 1988 sudah
pensiun atau meninggal dunia. Salah satu peneliti Dr Hans Arno Synal
mengingat saat-saat penelitian saat itu dengan baik.

Hans Synal yang kini adalah kepala Laboratorium Fisika Ion Universitas
Zurich sangat yakin penelitian tahun 1988 sudah memecahkan misteri.

"Kami sudah melakukan prosedur yang benar dan ketat. Jika ada
kontaminasi manusia maka kami akan melihat perbedaan suhu saat kami
melakukan pembersihan. Namun, tak ada perbedaan itu," kata Synal.

Soal kain yang digunakan untuk memperbaiki kain kafan, Synal yakin para
ahli tekstil saat itu sudah memisahkan semua material yang akan
mengganggu penelitian.

Pendeknya, Synal yakin kain kafan Turin adalah kain buatan abad ke-14
bukan kain kafan yang membungkus jenazah Yesus. Meski demikian dia
menilai kain itu tetaplah sebuah artefak sejarah yang menarik.

"Kain itu sangat menarik, tidak masalah apakah usianya 2.000 atau 700
tahun. Jadi saya tidak akan menilai apa-apa bagi mereka yang tertarik
melihat pameran kain itu. Mungkin saya juga akan pergi melihat. Mengapa
tidak? Kain itu sebuah obyek sejarah," tandas Synal.

Soal mengapa sebagian besar orang tidak mau mengakui hasil penelitian
itu, Synal memiliki pandangan sendiri.

"Sangat jelas bahwa kain itu bukan berasal dari masa Yesus hidup dan
perdebatan soal kain kafan kemungkinan tak akan pernah berakhir. Selalu
ada kelompok orang yang percaya bahwa kain itu memang kain kafan
Yesus," kata Synal.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 4/27/2010 09:18:00 AM

Kirim email ke