TEMPOInteraktif.com | Selasa, 10 April 2007 | Sekitar 20an orang tampak
mengulur tali yang memanjang ke dalam sebuah ceruk menurun. Dalam irama
ritmis mereka menjaga agar posisi kaki tak berubah dan tali yang
berbeban batu besar di dalam ceruk turun tanpa hambatan.

Dari belakang barisan orang itu tampak sebuah batu besar naik, seiring
uluran tangan mereka. Ternyata batu itu tertarik oleh batu besar yang
bertumpu pada tangan-tangan kekar tersebut.

Begitu tiba di permukaan, pada permukaan yang licin batu besar di
belakang itu meluncur pelan sampai tiba di sebuah liang. Batu itu lalu
digeser untuk menutup liang. Demikian beberapa kali sampai liang itu
tertutup sempurna.

Kejadian itu terekam pada semua animasi tiga dimensi yang dirancang
seorang arsitek Prancis, Jean-Pierre Houdin. Barisan orang-orang itu
adalah gambaran pekerja yang sedang membangun piramid di Mesir.

Ya! Sang arsitek mengaku telah memecahkan teka-teki selama 4500 tahun
tentang bagaimana piramida Mesir dibangun. Animasi tiga dimensi itu
dikerjakannya selama dua tahun dengan 14 insinyur dan perusahaan
Dassault Systemes, sebuah perusahaan perancang desain mobil dan pesawat
terbang tiga dimensi.

Sebelum bekerja sama dengan Dassault, Houdin telah berusaha mengungkap
rahasia pembangunan piramid selama enam tahun. Pada suatu waktu dia
menyatakan bahwa piramid sesungguhnya dibangun dari bagian dalam keluar.

Houdin membuktikan teorinya dengan lerengan landai yang mengelilingi
piramid di sisi-sisinya sampai ke puncak. Bila diperhatikan, lerengan
ini berbentuk spiral dan seakan membentuk bangun piramid di dalam
piramid.

Dengan teori inilah, menurut Houdin, piramid Khufu di dataran tinggi
Giza di Mesir itu dibangun. Piramid itu didirikan dengan sekitar 3 juta
balok batu antara 1,5 sampai 2,5 ton beratnya.

Para pekerja, seperti yang disaksikan Tempo di tayangan tiga dimensi
itu pada akhir pekan lalu, pada bagian awal mendirikan bagian dasar
sambil membuat semacam lerengan menanjak yang melubangi bagian tepi
piramid.

Pada saat yang sama, pekerja juga membuat dua lerengan di luar piramid.
Satu lerengan panjang sekali. Sedangkan lerengan kedua lebih kecil dan
bermuara di mulut lerengan di dasar piramid.

Setelah tumpukan batu mencapai 43 meter, para pekerja mulai mengerjakan
langit-langit atau langit-langit Ruang Raja, tempat mumi raja Firaun
akan disemayamkan. Pengerjaan bagian ini memerlukan trik khusus karena
langit-langit ruang itu terbuat dari balok-balok batu granit raksasa
seberat 65 ton.

Adegan penyusunan langit-langit yang bertingkat-tingkat inilah yang
telah dipaparkan pada bagian awal tadi. Ceruk menurun itu kini disebut
oleh para ahli sebagai Serambi Besar (Grand Gallery).

Adegan ini, menurut Hoduin, sekaligus memecahkan teka-teki tentang
fungsi Serambi Besar yang berukuran panjang 49 meter, lebar 3 meter,
dan tinggi 11 meter itu. Bentuk semacam ini juga ada di Piramid Merah
di Dashur, 40 kilometer di selatan Kairo.

Setelah seluruh langit-langit tersusun, barulah pembangunan keseluruhan
bagian piramid sampai ke puncak disempurnakan. Di sinilah peran
lerengan, baik yang di luar, maupun yang di dalam. Batu-batu masih
dipasok dari lerengan panjang tadi sampai lerengan habis karena batunya
juga dipakai untuk mendirikan piramid.

Batu-batu lainnya diseret ke atas melalui lerengan bagian dalam lalu di
bagian sudut diputar 90 derajat dengan sebuah pengungkit-yang juga
dikendalikan tenaga manusia-untuk dinaikkan ke level selanjutnya.

Lerengan panjang di luar itu juga dibongkar bersamaan dengan
penyempurnaan piramid. Lantaran bebatuannya dipakai, proyek itu tak
banyak menyisakan bebatuan. "Karakteristik orang Mesir adalah rasa
kesempurnaan dan ekonomis. Mereka tidak menyisakan satu batu pun,
sungguh kepintaran alami," kata Houdin.

Dengan teori itu, menurut Houdin, proyek itu tak membutuhkan terlalu
banyak pekerja. Berdasarkan teori sebelumnya, diperkirakan pendirian
piramid setinggi 137 meter itu dikerjakan oleh sekitar 100 ribu sampai
300 ribu orang. Namun Houdin menyatakan piramid hanya dibangun dengan
tenaga sekitar 4000 orang saja.

"Ini akan bertentangan dengan teori yang ada. Saya sendiri sudah
mengajarkan teori lama itu selama 20 tahun tapi di dalam sanubari saya
tahu bahwa mereka salah," kata ahli Mesir, Bob Brier.

Brier mengakui bahwa teori Houdin lebih masuk akal dibandingkan dengan
yang lain. Tapi dia meminta Houdin membuktikannya lebih lanjut, tak
hanya sebuah model tiga dimensi.

Untuk itulah, sebuah tim yang terdiri dari para ahli dari berbagai
bangsa sedang dibentuk. Tim ini akan "menguliti" piramid yang asli
dengan radar dan kamera pelacak panas milik perusahaan pertahanan
Prancis. Kabarnya pemerintah Mesir sudah memberi lampu hijau proyek
tersebut.

Houdin tak mengacuhkan soal kutukan bagi mereka yang menembus rahasia
piramid. Kutukan ini pernah disebut-sebut menimpa sejumlah orang yang
masuk ke makam Raja Tutankhamun, firaun dari dinasti ke delapan Mesir
(Memerintah antara tahun 1333 SM sampai 1324 SM).

"Kenapa harus takut? Saya hanya menjelaskan bahwa orang-orang saat itu
adalah arsitek yang jenius dan Khufu juga jenius karena memerintahkan
konstruksi piramid itu. Apa yang bisa terjadi pada saya selain bahwa
Khufu akan berterima kasih," katanya seraya terkekeh.

Saksikan pada tayangan kedua video berikut ini:

















www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/11/2010 11:21:00 AM

Kirim email ke