CBN.net.id | Kamis, 29 Apr 2010 | Penderita insomnia di seluruh dunia
jumlahnya jutaan. Tapi dari jutaan orang itu ada yang memiliki gangguan
insomnia mematikan yang disebut dengan fatal familial insomnia (FFI).

Hingga kini para ilmuan masih bingung dengan gangguan genetik langka
yang disebut dengan fatal familial insomnia (FFI) yang saat ini
dimiliki 40 keluarga di seluruh dunia.

Kondisi ini semakin lama akan semakin buruk karena orang yang menderita
FFI sama sekali sulit untuk tidur hingga akhirnya mereka meninggal.

Kondisi ini disebabkan adanya mutasi gen yang menyebabkan kemerosotan
pusat tidur di otak atau talamus. Kebanyakan kasusnya akibat penumpukan
protein yang dapat mengganggu fungsi tubuh atau pikiran yang vital.
Sampai saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya.

"Hal ini merupakan gangguan tidur formal yang diakui keberadaannya
meskipun sangat langka ditemukan, dan hingga saat ini FFI masih seperti
misteri yang belum terpecahkan," ujar Michael Breus, PhD, psikolog
klinis yang mengkhususkan diri pada penyakit tidur, seperti dikutip
dari AOLHealth, Rabu (28/4/2010).

Seseorang yang memiliki gangguan tidur mematikan ini secara bertahap
akan kehilangan kemampuan untuk tidur hingga akhirnya orang tersebut
tidak bisa tidur sama sekali atau terjaga sepenuhnya.

Kondisi ini akan diikuti dengan kelelahan dan menyebabkan halusinasi,
kehilangan memori, gangguan kontrol otot, demensia dan terkadang
menyebabkan koma atau meninggal. Rata-rata sekitar sembilan bulan
setelah terjadinya kekacauan akan timbul kondisi yang parah.

Usia orang yang mengalami gangguan insomnia ini bervariasi, tapi
rata-rata dimulai saat berusia 49 tahun. Selain itu orang-orang ini
biasanya tidak akan memberikan respons apapun jika diberi bantuan
perawatan untuk insomnia pada umumnya.

"Gejala yang ditimbulkan dari FFI ini tidak jauh berbeda dengan
insomnia biasa, tapi lama kelamaan akan menjadi jauh lebih buruk atau
parah. Mereka akan terjaga untuk hari ini, besok dan hari-hari
berikutnya," ujar Breus.

Para ilmuwan dan dokter baru mengetahui penyakit ini setelah
mempelajari kasus Silvano yang terdapat dalam film dokumenter National
Geographic. Dalam dokumenter ini diambil gambar saat dirinya tertidur
dan setelahnya ia terjaga secara terus menerus.

Silvano berhenti untuk tidur ketika ia berusia 53 tahun, hingga
akhirnya ia meninggal setelah terkena koma pada tahun 1984. Kasus
kematiannya saat itu begitu berpengaruh hingga penulis D.T. Max menulis
buku tentang "The Family That Couldn't Sleep: A Medical Mystery".

Seseorang yang dalam keluarganya memiliki gen ini ada kemungkinan
sebesar 50 persen terkena FFI. Ada juga beberapa kaitan yang
menghubungkan kondisi ini akibat konsumsi daging dari hewan yang
memiliki penyakit sapi gila.

Namun, Breus mendesak agar penderta insomnia tidak terlalu panik karena
gangguan ini luar biasa langka. Tapi bagi orang yang memiliki insomnia
biasa yang sudah mengganggu kualitas hidup dan kerjanya, tak ada
salahnya mencari bantuan agar gangguan tersebut bisa teratasi.

Saksikan pada tayangan video berikut:









www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/18/2010 01:00:00 AM

Kirim email ke