VIVANEWS.com | Selasa, 4 Mei 2010 | Masalah kesehatan mendera keluarga
Charles Darwin akibat perkawinan dengan keluarga dekatnya. Temuan ini
berdasarkan studi terbaru yang mengungkap ironi kehidupan pencetus
teori evolusi itu.

Darwin yang menemukan teori sifat genetik mempengaruhi kelangsungan
hidup organisme, baik individual maupun spesies, seumur hidupnya
mempertanyakan, apakah perkawinannya dengan sepupu pertamanya, Emma
Wedgewood memiliki 'efek jahat perkawinan sedarah', yang dia pelajari
dari tumbuhan maupun hewan.

Tiga anaknya Darwin meninggal sebelum berusia 10 tahun, dua diantaranya
terserang penyakit menular. Sedangkan yang selamat sakit-sakitan.

Menurut peneliti Ohio State University dan Universidad de Santiago de
Compestela Spanyol, keluarga Darwin diduga menderita masalah reproduksi.

Perkawinan sedarah bisa menyebabkan masalah kesehatan. Gen pembawa
sifat yang buruk lebih besar muncul pada anak dari perkawinan sedarah
dibanding anak dari perkawinan tidak sedarah.

Sebaliknya, jika gen kedua orang tua memiliki juga gen pembawa sifat
yang baik, maka kemungkinan gen sia anak memiliki sifat yang baik juga
lebih besar.

Studi terbaru ini dimuat secara rinci dalam jurnal Bioscience,
memasukan data silsilah keluarga Darwin-Wedgwood ke dalam program
komputer khusus yang menghasilkan "koefisien pernikahan sedarah" --
yang menunjukan kemungkinan satu individu mendapatkan dua salinan gen
yang dihasilkan dari pernikahan antarkerabat.

Hasilnya, mengungkapkan pernikahan sedarah adalah faktor yang mungkin
jadi penyebab lemahnya kesehatan anak-anak hasil perkawinan sedarah.

Anak-anak Darwin menderita dampak buruk pernikahan sedarah dalah
derajat yang 'moderat'. Jika praktek perkawinan antarkerabat
diteruskan, analisa menunjukan keterkaitan antara kematian anak usia
dini dan perkawinan sedarah makin kuat,

Penelitian juga mengungkap bahwa pernikahan antar kerabat adalah
praktek yang biasa di keluarga Darwin.

Ibu Darwin dan kakeknya juga bernama belakang Wedgwoods -- nama yang
sama dengan istrinya. Kakek dan nenek Darwin masih keluarga dekat,
sepupu ketiga.

Dari penelitian yang didasarkan catatan kelahiran dan kematian
ditemukan, pada akhir abad ke 19 perkawinan sedarah adalah hal yang
biasa di keluarga kaya dan terpandang. Mereka berharap perkawinan untuk
bisa menghasilkan keturunan yang baik.

Selain meneliti silsilah, para peneliti juga mengkaji DNA dan analisa
radiologi tulang untuk meneliti warisan genetik. Jenis penelitian ini
juga dilakukan terhadap mumi.

Pada Februari 2010, sebuah tim peneliti internasional mengumumkan
temuannya, bahwa koefisien perkawinan sedarah yang derajat tinggi
diduga kuat menyebabkan kematian diri anak firaun, Raja Tutankamun.

Akibat negatif perkawinan sedarah juga diduga mengakhiri Dinasti
Habsburg -- yang pernah memerintah Spanyol selama hampir 200 tahun.
(mt) (LiveScience)

Saksikan pada tayangan video berikut:









www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/20/2010 01:00:00 AM

Kirim email ke