OKEzone.com | Jum'at, 21 Mei 2010 | PROSES menjadi tua memang tidak
bisa kita elakkan. Namun, banyak cara mudah agar keriput-keriput tidak
cepat muncul di wajah.
Salah satunya dengan menjalani gaya hidup sehat.
Penuaan merupakan suatu proses alami yang tak dapat dihindarkan dan
berlangsung secara terus-menerus. Benda matipun seperti bangunan, kayu,
beton, mobil, semuanya tidak terhindar dari kerusakan akibat penuaan.
Proses kerusakan itu terjadi karena serentetan proses fisik maupun
kimia dan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama.

Pada manusia diketahui kecepatan daya kerja alat tubuh seperti otak,
jantung, ginjal, dan sebagainya akan berkurang kira-kira 1 persen sejak
seseorang itu berumur 30 tahun, yang dikenal sebagai kaidah 1 persen.
Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penuaan tubuh bisa
dihambat. Terbukti umur harapan hidup manusia sekarang ini menjadi
lebih panjang dan umur rata-rata penduduk menjadi lebih tua.

Kita juga sering melihat orang yang beranjak tua tapi masih tetap
produktif. Misalnya seseorang yang berusia 55 tahun, tetapi masih
tampak energik seperti baru berusia 40 tahun, wajah dan kulitnya bersih
bersinar. Tetapi sebaliknya, ada yang walaupun masih berusia 40 tahun,
namun sudah terkurung dalam kelelahan,wajah sayu, dan kulit keriput.

Karena itu, bila Anda cepat menjadi tua dari umur sebenarnya atau
mengalami penuaan dini, ini tidaklah wajar dan tentu tidak kita
inginkan. Untuk mengatasi hal itu, berbagai metode dan pengobatan mulai
diperkenalkan kepada masyarakat. Tentu saja ada yang benar-benar
berguna, namun ada juga yang hanya sesaat.

Meski berbagai cara untuk mencegah penuaan dini banyak dipublikasikan,
ternyata tidak berpengaruh terhadap sikap masyarakat Indonesia. Menurut
guru besar dan Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana Bali, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd
FAACS, penduduk kita masih sering mempercayai segala hal-hal yang
berbau mistis.

“Masyarakat percaya bahwa kelahiran dan kematian sudah digariskan oleh
Tuhan sehingga banyak orang yang menjadi pasrah dan tidak berusaha
untuk memperbaiki kehidupannya. Hal ini tentu saja akan memengaruhi
penuaan dini,” katanya dalam acara Simposium Nasional Perhimpunan
Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (Perkapi) ke-3 dengan tema Pencegahan
dan Penanggulangan Penuaan Dini di Hotel JW Marriot, Jakarta, belum
lama ini.

Karena pasrah terhadap takdir, lanjut Wimpie, mereka tidak berupaya
mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Ini tentu saja berpengaruh
terhadap harapan hidupnya yang semakin kecil. Tidak heran, dibandingkan
dengan negara Asia lainnya, angka harapan hidup Indonesia termasuk
rendah.

Berdasarkan penelitian pada 2007 diketahui, harapan hidup masyarakat
Indonesia hanya sampai 66,7 tahun. Sedangkan Malaysia 70 tahun, Jepang
80 tahun, dan Amerika Serikat usianya 90 tahun. “Pola hidup sehat
dengan berolahraga, tidak merokok, dan mengonsumsi makanan bergizi
tinggi, seharusnya dijalankan segera agar harapan hidup kita makin
tinggi,” tutur Ketua Pusat Studi Anti-Aging Medicine dan Ketua Program
Magister kekhususan Anti-Aging Medicine ini.

Dalam teorinya, proses penuaan terbagi menjadi dua, yaitu penuaan
akibat kecelakaan (accidental) dan penuaan karena sesuatu yang memang
sudah terprogram. “Hingga saat ini proses penuaan masih menjadi misteri
dan perdebatan. Para ahli sedang mencari tahu teori mana yang paling
benar,” papar Ketua Perkapi Prof Dr Jahja Kisjanto PhD SpPD-KKV.

Dia menuturkan, proses penuaan ini sebenarnya dapat diundur atau
ditunggu hingga 10–20 tahun lagi. Meski demikian, sebenarnya sejak 1993
sudah dikenal obat antipenuaan (antiaging). “Pengobatan ini harus
dilakukan dengan benar dan ada dasar buktinya (evidence base) sehingga
seseorang yang menggunakannya tidak menderita atau merasa kekurangan
sesuatu. Tapi justru membuatnya menjadi lebih bugar dan juga
meningkatkan usia (lifespan) seseorang,” ujar Jahja.

Pengobatan anti-penuaan, terang Jahja, harus didasarkan pada teori
keilmuan dan teknologi medis yang berguna untuk deteksi dini. Sebab,
seseorang sebaiknya tidak menunggu hingga menjadi sakit baru diobati.
Terapi ini juga dilakukan untuk pencegahan, pengobatan, dan tentu saja
segala perubahan yang berhubungan dengan penuaan dan penyakit sehingga
bisa memperpanjang usia seseorang dan hidup dengan sehat.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, masyarakat sebaiknya lebih
teliti dalam memilih pengobatan untuk anti-penuaan. Karena tidak semua
orang yang mengaku ahli dalam hal anti-aging benar-benar memiliki
pendidikan atau latar belakang keilmuan antiaging. Banyak ditemukan,
orang yang baru mengikuti seminar atau workshop tetapi sudah mengaku
sebagai spesialis anti-aging.

Sementara itu, guru besar bidang gizi klinik di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr Walujo Soerjodibroto MSc PhD
SpGK(K), menekankan pentingnya menghilangkan atau mengurangi faktor
risiko penuaan dini. Salah satu di antaranya adalah kelebihan (terutama
obesitas) ataupun kekurangan berat badan.
Obesitas, terang dia, merupakan penyakit berbahaya akibat adanya
perilaku makan yang keliru. Mengubah perilaku penderita obesitas dengan
mengonsumsi makanan sehat memang sangat sukar dan hampir tidak mungkin
berhasil tanpa adanya upaya-upaya khusus.

“Salah satu upayanya adalah dengan mengubah mindset pasien menuju
perilaku makan yang sehat dengan sistem behavior modification. Namun,
upaya ini sangat tidak mudah karena memerlukan kesabaran, ketelitian,
dan kemauan yang kuat dari si pasien maupun dokternya,” ujar Walujo.

Walujo mengatakan, pendidikan atau penyuluhan kepada penderita obesitas
harus dipaksakan yang pada gilirannya akan memperbaiki sudut pandang
yang berbeda soal makanan sehat dan baru setelah itu terjadi perbaikan
hidup. Agar progam ini berhasil, memang perlu ada reward dan punishment.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 5/25/2010 10:23:00 PM

Kirim email ke