Community.siutao.com | Selasa, 29 April 2008 | Tahukah Anda bahwa
langkah-langkah kaki peziarah yang mendaki tangga sebuah piramid bangsa
Maya akan terdengar seperti tetesan air hujan, sedangkan
tepukan-tepukan tangan akan berubah menjadi suara cericit burung?

Adalah piramid El Castillo, di reruntuhan Maya Chichén Itzá dekat
Cancún di Meksiko yang dikenal karena suara-suara unik yang
ditimbulkan. Sejak lama para peneliti bertanya-tanya apakah pembuatnya
dahulu sengaja menciptakan rancangan ini? Apa yang ada dalam pikiran
para arsiteknya saat itu? Untuk mengungkap misteri itu, tim peneliti
asal Belgia, dipimpin Nico Declercq dari Universitas Ghent, tertarik
menyelidikinya.

Mereka mengira orang-orang Maya kuno sengaja membangun piramidnya
menjadi semacam resonator (penghasil gema) raksasa yang bisa
menghasilkan gema-gema seperti suara alam. Dan itu adalah sesuatu yang
direncanakan.

Adapun efek kicauan burung yang mirip suara burung quetzal Meksiko
--hewan suci dalam budaya Maya-- pertama kali disadari oleh David
Lubman tahun 1998. Lubman adalah insinyur akustik yang menemukan bahwa
suara burung quetzal akan timbul bila orang bertepuk tangan di bagian
bawah tangga utama piramid.

Declercq sendiri terpesona saat mendengar gema yang menjadi suara
burung itu pada sebuah konferensi akustik di Cancún tahun 2002.
Kekaguman itu mengantar Declercq, Lubman, dan peneliti lain pergi ke
Chichén Itzá guna mendengar kicauan El Castillo secara
langsung. "Suaranya benar-benar mirip nyanyian burung," kata Declercq.

Namun kemudian timbul pertanyaan, apakah arsitek piramid ini secara
sadar merancang karyanya agar menghasilkan suara seperti itu?
Perhitungan Declercq menunjukkan bahwa, walau ada bukti mereka sengaja
membangun piramid agar menghasilkan suara-suara khusus, namun mereka
mungkin tidak bisa menentukan dengan tepat suara apa yang bakal muncul.

Suara hujan

Langkah-langkah kaki pada tangga piramid akan bergema seperti suara
hujan

Pada awalnya Lubman juga meyakini para perancang piramid ini sengaja
ingin menciptakan efek suara burung. Namun pendapat itu diragukan
Declercq dan rekan-rekannya. Analisa mereka terhadap akustik piramid
menunjukkan gema suara burung hanya timbul bila seseorang bertepuk
tangan. Sedangkan suara drum misalnya, akan menimbulkan efek lain.

Oleh karenanya para ilmuwan ingin melakukan penelitian akustik di El
Castillo untuk melihat gema-gema yang ditimbulkan dari berbagai jenis
suara. Mereka berharap bisa mengetahui, suara apakah yang sebenarnya
ingin dihasilkan para pembuat piramid itu.

Salah satu yang kemudian terungkap adalah suara hujan. Pada perjalanan
tahun 2002, secara tidak sengaja, ketika seorang pengunjung menaiki
tangga piramid setinggi 24 meter itu, Declercq mendengar gema yang
menyerupai suara air hujan yang jatuh ke wadah air.

Ia kemudian bertanya-tanya apakah suara hujan ini --bukannya suara
burung-- yang diinginkan para perancang El Castillo. "Ini barangkali
bukan suatu kebetulan," katanya. "Seperti kita tahu, dewa hujan
memiliki peran penting dalam budaya Maya."

Namun dugaan-dugaan itu tidak bisa dijadikan jawaban, bahkan bisa jadi
pula interprestasi-interprestasi di atas hanya khayalan semata. Yang
jelas, tim Declercq menemukan bahwa lebar dan ketinggian anak tangga
piramid berfungsi menjadi semacam filter akustik yang menguatkan
beberapa frekuensi suara namun menekan frekuensi lain. Penelitian lebih
jauh menunjukkan gema itu dipengaruhi pula oleh faktor-faktor lain yang
kompleks, seperti campuran frekuensi sumber suara.

Akhirnya, memang menjadi sangat sulit untuk membuktikan apakah bahwa
perancang piramid ingin menghasilkan suara tertentu. "Masalahnya
tinggal Anda percaya atau tidak," kata Declercq. Ia kini sendiri
meragukan teori suara burung quetzal, alasannya ia mendengar efek
serupa pada tangga-tangga berbagai bangunan religius kuno. Di
Kataragama, Sri Lanka, misalnya, suara tepukan tangan di tangga
bangunan yang menuju sungai Menik Ganga menghasilkan gema yang
menyerupai suara bebek.

Artinya, secara umum bangunan-bangunan dengan arsitektur serupa bisa
jadi menimbulkan gema-gema unik. Apakah itu disengaja, masih menjadi
pertanyaan. Menjadi teka-teki pula, bila hal itu disengaja, dapatkah
para arsitek menentukan suara yang diinginkannya? Hal yang pasti
adalah, suara-suara unik ini membuat piramid El Castillo makin menarik
untuk dikunjungi.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 6/13/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke