Republika.Co.id | Kamis, 03 Juni 2010 | Burger memang nikmat, apalagi
dengan isi yang padat dan topping aneka saus yang kental. Namun,
sebaiknya jangan terlalu sering. Selain berisiko menyumbat saluran
arteri, sebuah penelitian membuktikan, burger dapat meningkatkan risiko
asma dan sesak nafas terutama pada anak-anak.

Sebaliknya, dalam penelitian yang sama yang dipimpin Gabriele Nagel
dari Ulm University di Jerman, diet Mediterania -- yang sarat buah,
sayuran, dan ikan -- meski berlemak, dapat membantu menghindari masalah
pernapasan terkait asma. Hasil penelitiannya dipublikasi di British
Medical Journal yang terbit hari ini.

Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum pada anak-anak.
Penyakit ini eringkali dipicu oleh debu dan alergi. Gejala meliputi
nafas berat dan biasanya berbunyi, nyeri dada, dan saluran pernapasan
mengerut. Di seluruh dunia, penyakit ini menimpa sekitar 300 juta orang
dan membunuh sekitar 250 ribu setiap tahun, menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO). Untuk alasan yang masih kurang dipahami, asma
telah mengalami peningkatan selama 25 tahun terakhir, khususnya di
negara-negara kaya.

Untuk menilai sejauh mana diet dapat menjadi faktor bagi asma, peneliti
dipimpin oleh Gabriele Nagel di Ulm University di Jerman meneliti data
kesehatan pada 50. ribu anak usia delapan sampai 12 tahun, yang
dikumpulkan antara 1995 dan 2005 dari 20 negara kaya dan miskin di
seluruh dunia. Orang tua diminta untuk menggambarkan apa yang anak-anak
mereka makan, dan apakah mereka pernah didiagnosa asma atau sesak nafas
parah.

Hampir 30 ribu dari anak-anak diuji untuk melihat apakah makanan dan
minuman punya peluang untuk mengembangkan alergi pada tubuhnya. Diet
tampaknya tidak meningkatkan kepekaan terhadap alergen umum, tapi hal
itu berkorelasi dengan prevalensi asma dan bengek.

Dan, ini dia, anak-anakyang makan tiga atau lebih hamburger seminggu
bersama dengan minuman bersoda menghadapi risiko yang lebih tinggi
secara signifikan. Tapi, kata Nagel, tak bisa menyebut burger sebagai
penyebab tunggal dan langsung penyakit itu, karena faktor gaya hidup
juga turut mendukung perkembangannya. "Hal ini akan menjelaskan mengapa
burger di negara miskin tidak berhubungan dengan tingkat risiko yang
sama," ujarnya.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 6/15/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke